
Keesokan pagi, Mae yang baru saja membuka pintu depan itu terkejut, pasalnya, wanita kurus tesebut melihat Fai sudah berdiri di depan pintu, gadis itu tersenyum ramah pada Mae.
"Astaga! Dia kan Fai? Mau apa di ke sini?" tanyanya pada diri sendiri, ia sudah parno, takut kalau ternyata keluarga Fai sudah mengetahui masa lalu yang dibuatnya.
"Enggak mungkin Fai yang datang kalau mereka sudah tau!" lanjutnya, Mae masih membatin.
"Permisi!" kata Fai yang sedari tadi didiamkan oleh Mae.
Fai pun melambaikan tangannya tepat di depan wajah Mae membuat wanita itu tersadar dari lamunannya.
"Ah, iya. Maaf, cari siapa?" tanya Mae yang seolah tak mengenal Fai.
"Alif, saya cari Alif, bu. Ada?"
Dan yang dicari itu baru saja selesai dengan mandinya, Alif menyusul ke depan karena mendengar ada suara perempuan yang mencarinya.
Dengan kolor dan handuk yang dikalungkan di leher Alif bertanya, "Siapa, Bu?"
Dan setelah melihat siapa yang mencari, Alif pun merasa malu, tetapi, berbeda dengan Fai yang membulatkan mata, ia semakin terpesona dengan Alif yang bertelanjang dada.
Alif pun secepatnya kembali masuk, ia segera memakai bajunya dan Fai sudah di persilahkan untuk masuk oleh Mae.
Dalam hati, Mae merasa senang dengan kedatangan Fai, ia berharap dengan Alif dan Fai saling mengenal bisa membuatnya dekat dengan Fakhri.
Tapi, Mae juga merasa penasaran, ada hubungan apa antara Fai dan Alif, Mae takut kalau keduanya nanti akan saling jatuh cinta.
"Tunggu sebentar!" kata Mae pada Fai yang duduk di kursi kayu ruang depan.
Mae membuatkan teh hangat untuk Fai.
Mae yang sedang mengaduk gelas teh itu mulai bertanya jawab dengan hatinya sendiri.
"Seandainya mereka berdua ada hubungan pun enggak akan masalah buat aku! Toh Alif bukan anak kandungku!"
"Enggak... enggak. Ingat dosa Mae! Kamu yang buat mereka seperti ini! Seandainya kamu enggak menukar Alif dan Fakhri, mereka enggak mungkin saling mengenal sebagai orang lain!"
Dan Mae sampai tidak sadar kalau sedang di perhatikan oleh Andra. Andra yang tidak tau teh itu untuk siapa segera menyeruputnya.
Barulah Mae sadar saat mendengar suara seruputan dari Andra.
"Ya ampun, Mas. Itu buat tamu!" kata Mae seraya menatap Andra.
"Suami dulu dibikinin minum pagi-pagi! Lagian siapa sih, tumbenan amat ada tamu!"
Andra pun keluar untuk melihat dan Andra memperhatikan penampilan Fai yang memakai pakaian serba mahal, terlihat juga Fai masih masih mengenakan sepatunya.
Andra menatap lama di sepatu itu membuat Fai mengerti kalau dirinya lupa melepaskan sepatunya.
Fai pun menjadi cengengesan lalu melepaskan sepatu itu.
Setelah itu, Andra pun bertanya, "Cari siapa?"
"Cari Alif, Pak."
"Oh!"
Setelahnya, Andra pun memanggil Alif dengan berteriak.
"Alif, ada yang cari lo!"
Alif yang sudah rapih itu pun keluar dari kamar.
"Iya, udah tau!" kata Alif yang kemudian ikut duduk di kursi kayu.
"Ngapain lo ke sini? Tau dari mana alamat rumah gue?" tanyanya.
"Ya dari siapa lagi!" jawab Fai, Alif pun tau kalau Fai pasti mengetahui alamatnya dari Arnold.
Setelah itu, Mae mengajak sarapan pada kedua anak muda itu, tetapi, Alif takut kalau Andra akan berbuat ulah dan dirinya akan merasa malu pada Fai, Alif pun mengajak Fai untuk sarapan di luar.
"Enggak usah, Bu. Takut dia sakit perut, kan enggak biasa makan makanan kita."
Mae pun mengerti, tetapi, Fai yang polos itu mengatakan kalau dirinya bukanlah pemilih makanan.
"Tuh, Alif. Fainya aja enggak papa," kata Mae dan semua merasa heran dari mana Mae mengetahui nama Fai.
"Mungkin tadi gue udah ngenalin diri kali ya," batin Fai.
Dan Alif pun mengira kalau Mae sudah menanyakan siapa nama Fai.
"Beneran enggak papa? Gue takut lo sakit perut ntar masuk rumah sakit lagi!"
"Enggak papa, lagian kan masakan ibu kamu masakan rumahan, pasti aman," jawab Fai yang kemudian bangun dari duduk.
Alif pun mengikuti Fai dan Mae. Berharap kalau Andra tidak membuat masalah pagi ini.
Alif pun mengambilkan satu centong nasi beserta goreng tempe berbalut tepung, lalu mengambilkan tumisan labu untuk Fai.
"Seadanya ya, Fai," ucap Alif dan Fai pun tersenyum, menunjukkan gigi putih rapihnya.
Melihat itu Mae merasa senang, tetapi, tetap ada rasa khawatir di hatinya, Mae takut kalau keduanya akan saling jatuh cinta.
"Mari makan, Bu," kata Fai seraya memperhatikan Mae yang terlihat melamun.
"Ah, iya. Maaf kalau masakan saya enggak seenak masakan di rumah kamu," kata Mae yang kemudian ikut sarapan menemani Alif dan Fai.
Dan disaat Mae sedang sarapan, Andra meminta untuk dibelikan lontong sayur.
"Mae, lontong sayur tuh lewat! Buruan entar keburu pergi!" kata Andra dan Mae pun segera mencuci tangan di wastafel kecil yang berada di dapur.
Mae segera berlari keluar untuk memanggil abang lontong tersebut.
****
Di kantor, Arnold memberitahu Dhev kalau Bila bukanlah gadis baik-baik, ia sering pergi ke kelam malam dan berganti-ganti pasangan.
Mendengar itu, Dhev pun menggelengkan kepala.
"Kira-kira kalau kita memberitahu Ken, apa dia akan terima?" tanya Dhev.
"Susah kalau menasehati orang yang sedang jatuh cinta. Lebih baik kita buat Ken memergoki atau mengetahuinya sendiri, mungkin itu lebih baik," usul Arnold.
"Buat anakku melihat siapa sebenarnya gadis itu!" perintah Dhev dan Arnold pun menganggukkan kepala. Setelah itu Arnold keluar dari ruangan Dhev.
****
Pagi ini, Alif mengantarkan Fai ke rumah Adila.
"Maaf ya, Fai. Sebenernya gue mau anter lo kuliah, tapi gue kerja masuk pagi terus," kata Alif yang masih duduk di motornya.
"Enggak papa, gue ngerti kok, tapi kalau jam istirahat bisa jemput gue, enggak?" tanya Fai seraya memberikan helm pada Alif.
"Bisa kalau jam istirahat, lo chat aja duluan, ya. Gue takut ganggu soalnya," kata Alif.
"Padahal mah gue cewek, Lif. Pengennya di chat duluan!" kata Fai dan Alif pun menjawab akan mengusahakan.
Fai pun tersenyum dan sekarang Alif pamit padanya.
"Hati-hati!" kata Fai dan Alif pun menjawab, "Iya, lo juga!"
Setelah itu, Fai segera masuk ke rumah Adila, Fai yang sangat ceria itu disapa oleh satpam yang sedang berjaga.
"Pagi Non Fai, ceria sekali."
"Harus dong, Fai harus ceria setiap hari!" Setelah itu Fai pun kembali melanjutkan langkah kakinya, ia masuk ke rumah mewah itu dengan berteriak memanggil Adila.
"Dil!"
Dan bukan Adila yang menyahut, tetapi Ririn yang baru saja berganti pakaian olahraga.
Ririn mengambil matras yoganya dan mengajak Fai untuk ikut bergabung.
"Enggak ah, Tan. Bosen, sama ibu zumba, sama Tante Yoga, sesekali shoping kek, Tan," jawab Fai dan Dila yang sudah rapih itu baru saja keluar dari kamar.
"Apaan sih, pagi-pagi ribut aja!"
"Lo kemana? Pagi-pagi udah ngilang aja!"
"Gue balik lah, abang lo natapnya tajam banget, ngeri gue liatnya!"
"Pasti nenek lampir itu yang bilang sama kakak kalau enggak suka ada lo di rumah. Makanya Kak Ken begitu."
Ririn yang mendengar percakapan dua remaja itu menggelengkan kepala, pasalnya, segala nenek lampir ikut terseret dalam pembicaraan mereka.
"Sejak kapan nyali lo ciut?"
"Sejak malam itu, Fai. Gue deg-degan kalau deket abang lo!" jawab Adila dalam hati.
"Ditanya malah bengong!" kata Fai seraya menjatuhkan dirinya di sofa ruang tengah.
Bersambung.
Like dan komen ya all 🤗🤗
Jangan lupa difavoritkan juga. Terimakasih sudah membaca 🤗🤗