DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Minta Dimanja


Tidak lain halnya dengan dua sahabatnya yang sedang sakit kepala, hanya beda perkara saja, urusan Dhev mencari pengganti Doni dan dua sahabatnya itu sedang memperebutkan satu gadis.


Satu mempertahankan istrinya dan satunya lagi ingin membuat pujaan hatinya itu bahagia bersamanya.


Sekarang, Dhev sedang di pijit oleh Nala, Nala merasakan kalau urat leher suaminya itu sangat tegang.


"Mas, kalau ku panggil tukang urut gimana? Langganannya Fai sama Fakhri?" tanyanya.


"Kamu rela aku di sentuh wanita lain?" tanya Dhev dengan mata yang terpejam.


"Astaga, dia udah mbok-mbok, masa aku cemburu sama mbok-mbok! Ya kali suamiku dipegang janda, baru aku cemburu!"


"Walau pun mbok-mbok kan tetep perempuan, sayang!" kilah Dhev.


"Sayang, udah lama kita enggak makan di luar, gimana kalau malam ini kita keluar, berdua aja, aku kangen pacaran!"


"Boleh," jawab Nala, dalam hati ia merasa senang, memang dirinya juga sangat merindukan suaminya yang belakangan ini sibuk.


Ditambah lagi, Nala tidak merasakan apa itu pacaran. Setelah menikah, dirinya segera hamil, tentu Nala ingin merasakan layaknya berduaan seperti pasangan lainnya.


Selesai dengan mandi, Nala segera bersiap, begitu juga dengan Dhev.


Nala menemui suster lebih dulu, mengatakan kalau dirinya akan pergi sebentar dengan suaminya.


Beruntung, Fai sedang bermain dengan Fakhri, kalau Fai sampai melihat ibunya pergi tanpa mengajak, Nala yakin kalau acara makan malam berdua di luar akan batal.


Dhev dan Nala pun pergi dengan diam-diam melalui pintu belakang.


"Kita kaya lagi mau kabur, ya. Pergi diam-diam gini!" kata Nala yang berada di depan Dhev.


"Memang kabur, kabur dari Fai!" Dhev yang berjalan di belakang Nala itu terkekeh. Ini adalah pengalaman pertamanya.


Sekarang, keduanya sudah duduk di bangku mobil, Dhev pun segera menancap gas.


Malam ini, Dhev dan Nala sangat romantis, berduaan dengan saling menggenggam tangan, Dhev juga menyanyikan lagu cinta untuk istrinya.


Nala tersipu dan merasa malu saat sesekali Dhev menggoda. Nala menyenderkan kepalanya di lengan suaminya.


Malam yang indah bagi Dhev dan Nala tetapi tidak bagi Ririn dan Jimin.


Ririn masih merajuk dengan Jimin.


Sekarang, Jimin sedang duduk di kursi meja makan, menatap hidangan yang tersedia di meja.


"Masakan ini dibuat oleh tangannya. Tapi gue dengan tega ngata-ngatain dia!" batin Jimin, pria itu duduk seorang diri sedangkan Ririn sedang menyendiri di kamar.


Ririn masih bersedih hati walau Jimin sudah meminta maaf.


"Rin! Makan dulu, kamu masak buat apa kalau enggak makan?" tanya Jimin dari balik pintu.


"Buat suamiku!" lirih Ririn.


"Suamimu ngajak makan bareng, ayo temenin!"


"Makan aja sendiri!"


Mendengar itu Jimin menarik nafas dan kembali ke meja makan, ia mengambil dua piring makan malam dan dibawanya ke kamar.


"Rin, makan dulu, gue enggak bisa makan sendiri!" kata Jimin seraya menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya.


"Ayo, kita makan bareng," ajak Jimin, ia menarik lengan Ririn dan akhirnya Ririn pun bangun. Ia makan dengan diam, tetapi air matanya menetes, masih mewakili kesedihan hatinya.


"Gue minta maaf!" lirih Jimin seraya menggenggam tangan Ririn.


"Gue janji enggak bakal ngungkit masa lalu," ucap Jimin dan Ririn pun menganggukkan kepala.


Jimin menyuapi Ririn yang masih bersedih dan setelah itu sesuap nasi itu masuk ke dalam mulut, Ririn pun mulai sedikit menyunggingkan senyum.


Sementara itu, di tempat romantis ada Dhev yang sedang meminta disuapi oleh istrinya.


"Enggak, gantian ah, masa aku mulu yang nyuapin! Di rumah nyuapin Fai, di sini nyuapin ayahnya, terus yang nyuapin aku siapa?" tanya Nala yang kemudian mengerucutkan bibirnya. Melipat tangannya di dada.


"Astaga, udah pinter ngambek ya rupanya!" kata Dhev yang kemudian menyuapi istrinya itu penuh dengan kasih sayang.


Dhev pun ikut tersenyum dan cinta diantara keduanya terasa sangat manis.


Sampai ada pasangan lain yang terlihat iri dengan kebahagiaan Nala, bagaimana tidak, gadis yang memperhatikan Nala dan Dhev di acuhkan oleh kekasihnya, kekasihnya itu minta disuapi tetapi matanya fokus pada ponsel dan game onlinenya.


Tidak lama kemudian terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring, gadis yang memperhatikan Nala dan Dhev lah yang meletakkan garpu dan sendok itu dengan kasar.


Mata Dhev dan Nala memperhatikan gadis itu yang kemudian pergi meninggalkan kekasihnya, tetapi, kekasihnya itu masih belum menyadari kalau gadisnya telah pergi dari hadapannya.


Nala dan Dhev pun kembali bermesraan, setelah makan malam, Dhev mengajak Nala untuk menonton bioskop. Di sana, Nala sangat merasa senang, karena baru kali ini ia duduk di bangku teater.


Saat keduanya duduk ada seorang mas-mas yang datang dengan menawarkan minuman dan ternyata Nala mas-mas itu adalah teman sekolah Nala waktu SMA.


Nala pun menyapanya, "Kamu Edo, kan?"


"Siapa Edo?" tanya Dhev yang seketika memasang badan.


"Kamu Nala, kan? Wah kamu gimana kabarnya? Makin cantik aja!" puji Edo seraya mengulurkan tangan tetapi justru Dhev lah yang menerima uluran tangan itu.


"Saya suaminya!" kata Dhev yang memperkenalkan diri.


Edo pun memperhatikan Dhev, terlihat dari penampilannya yang memakai pakaian serba mahal itu membuat Edo segera pergi dari tempatnya berdiri.


"Kamu cemburu?" tanya Nala seraya menatap wajah suaminya.


"Enggak, ngapain cemburu sama dia, kalau dia lebih segalanya dari aku, baru aku cemburu!" kata Dhev dengan angkuhnya, pria itu berbicara dengan pandangan tetap lurus ke depan.


"Cie, sombongnya keluar!" kata Nala yang ikut menatap lurus ke depan.


"Takut kamu berpaling dari aku!" bisik Dhev di telinga istrinya dan Nala pun memalingkan wajahnya, menatap suaminya yang ternyata sedang menatapnya tajam.


Cup! Dhev mengecup bibir istrinya dan seketika membuat Nala celingukan, melihat ke kanan dan kiri, takut ada yang melihat, perlakuan Dhev membuat Nala malu dan segera menyembunyikan wajahnya di balik lengan Dhev.


Dhev pun mengusap rambut hitam Nala. Ia tersenyum mendapati istrinya yang pemalu, sedangkan di pojok bangku teater ada yang sedang melakukan ciuman panas dengan terang-terangan.


Selesai dengan menonton, Nala mengajak Dhev untuk melihat keadaan Nindy yang belum ada perubahan.


****


Keesokan harinya, pagi sekali Serena sudah berada di depan pagar rumah Arnold. Gadis itu tak menyerah untuk membawa Arnold ke hadapan Dhev.


"Ada urusan apa?" tanya Arnold seraya membuka pagar rumahnya, ia pun segera bersiap untuk membuka steam motornya.


"Saya menawarkan pekerjaan dengan gaji yang tinggi," jawab Serena tanpa berbasa-basi lagi, gadis itu menatap Arnold yang juga menatapnya.


"Kerja apa?" tanya Arnold.


"Jadi asisten pribadi Tuan Dhev."


Bukan jawaban ia atau tidak, tetapi, Arnold justru menertawakan Serena.


"Enggak salah?" Arnold terkekeh mendengar pertanyaan itu.


"Bukan lumayan lagi, dari pada anda bekerja keras di zaman serba sulit seperti sekarang ini!"


"Apakah Dhev yang meminta mu datang kemari?"


"Tidak, Tuan tidak tau yang Tuan mau saya membawa orang yang tepat untuknya."


"Saya bukan orang yang tepat!" jawab Arnold seraya tertawa. Ia memilih duduk di kursi kerjanya, menunggu pelanggan datang untuk mencuci motor.


"Datanglah ke kantor, kalau anda berubah pikiran!" kata Serena yang kemudian pergi dari rumah Arnold.


"Ck!" decak Arnold.


Apakah Arnold akan datang?


Bersambung.


Like dan komen ya bestie, difavoritkan juga. Terimakasih sudah membaca.


Vote gratis dan giftnya dipersilahkan untuk mendukung karya ini, terimakasih ya sudah vote/gift 🤗🤗