DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Berakhir Sudah!


Alif mengikuti Fakhri yang berjalan menggunakan tongkat dan sesampainya di lantai atas Fakhri menuju ke atap gedung, Fakhri berteriak karena ia tak tau harus mengeluarkan isi hatinya (bercerita) pada siapa.


"Lebih baik gue mati! Kenapa gue masih hidup!" teriak Fakhri seraya menatap langit.


"Itu sudah takdir, Fakhri!" kata Arnold dari arah belakang.


Fakhri melihat kebelakang dan tersenyum smirk pada Alif yang sedang menatapnya.


"Lo senang, kan? Dunia kita akan berputar!"


"Gue senang karena ternyata gue punya orang tua sebaik Papah Arnold!" jawab Alif dan Fakhri yang mendengar itu merasa sakit telinganya.


Selama ini begitu menginginkan seorang ayah dan sudah menganggap Arnold seperti ayahnya.


"Pantas saja selama ini paman baik sama Fakhri, rupanya paman mengira Fakhri anak paman? Kasihan!"


"Kalian anak-anak ku! Bahkan sebelum kebenarannya terbongkar posisi kalian pun sama di dalam hati paman!" jawab Arnold, ia berusaha meyakinkan Fakhri supaya menjadi tenang dan mau ikut kembali ke kamar rawatnya.


"Bohong, buktinya Alif dikasih motor butut!" lirih Alif dan Arnold mendengar itu.


"Diam!" perintah Arnold dan Alif pun menarik nafas.


Arnold mendekati Fakhri yang semakin menjauh dan hampir ke tepian gedung.


"Fakhri! Sekarang kita bicarakan semua baik-baik! Paman yakin semua akan baik-baik saja!" kata Arnold dan Fakhri tak mendengarkannya.


Ia terus berjalan dan Arnold berhasil meraih lengan Fakhri dan menariknya kembali ke tengah.


"Lepaskan! Fakhri merasa malu untuk hidup!" kata Fakhri seraya mengibaskan tangan Arnold tetapi Arnold tak melepaskannya.


Ya, Fakhri merasa malu karena sudah mengetahuinya lebih dulu dan memilih untuk diam bahkan akan mencelakai Alif.


****


Waktu terus berlalu, sekarang Alif hidup bersama Arnold di rumah mewahnya, ia mendapatkan kehidupan yang memang seharusnya menjadi miliknya dan setelah keluar dari rumah sakit Fakhri tetap tinggal di rumah Dhev karena Dhev menjemputnya.


Walau bagaimana pun, Dhev dan keluarganya itu tidak mungkin akan membuang Fakhri yang sudah dibesarkan dari bayi. Ini semua salah Mae, bukan salah anak-anak. Dhev berpikir kalau Mae lah yang harus mendapatkan hukuman.


"Terimakasih, Pakde!" kata Fakhri dan Sekarang sepertinya Fakhri sudah kembali menjadi Fakhri yang baik, sesuai dengan didikan Nala dan Dhev.


Sampai sekarang, Fai menjadi pendiam, ia memilih untuk menyimpan segala rasa yang terpendam di hatinya.


Ia tau kalau Dhev tidak akan membiarkan cintanya kembali bersemi karena di keluarga Dhev tidak ada yang namanya sepupu tapi menikah.


Di sisi lain, ada pria yang tak berguna sedang merasa frustasi. Sekarang, hidupnya seorang diri di kontrakan.


Pria itu adalah Andra, makan tak ada yang menyiapkan, bahkan mau beli ke warung saja tak memiliki uang.


Sekarang, keberadaan Mae sangat terasa berharga di matanya.


Tetapi, walau begitu Andra masih menyalahkan Mae, seandainya Mae tidak bodoh mungkin dirinya masih ada mengurus.


Malam ini, Andra tidak makan karena kehadirannya di warung-warung terdekat sudah ditolak. Hutangnya banyak dan tidak ada lagi yang akan melunasi.


"Alif! Harapan gue satu-satunya Alif, apalagi sekarang dia hidup enak! Gue ka bapaknya selama ini! Masa enggak dapat apapun!" kata Andra dalam hati, pria itu pun menuju ke rumah Arnold dengan menggunakan motor butut Alif.


Sesampainya di sana, Andra tak menemukan yang dicari, Alif sedang makan malam bersama dengan keluarga Dhev, Dhev mengundangnya untuk mempersatukan keluarganya.


Dhev melihat Alif dan Fai yang saling diam itu merasa tak tega dan sekarang Dhev akan menjelaskan hubungan yang sebenarnya.


Di meja makan, Sesekali Fai melihat ke arah Alif juga sebaliknya. Para orang tua pun mengerti apa yang sedang mereka rasakan.


"Fai dan Alif, kalian adalah sepupu, kakak beradik. Ayah harap kalian mengerti kalau di keluarga besar kita tidak akan pernah mengijinkan hubungan itu!"


Semua orang hanya bisa diam dan Kenzo yang duduk di samping Fai itu hanya bisa mengusap punggung adiknya yang terasa semakin tipis, ya selama ini Fai kehilangan selera makannya.


Nindy pun meminta pada Arnold untuk menasehati anaknya supaya mau tinggal bersama dengan ibunya, tetapi Arnold menggelengkan kepala.


"Wajar saja dia nyaman bersamaku! Kami saling mengenal dari Alif balita! Aku juga yang menolongnya sewaktu dia berada di tengah jalan!" jawab Arnold seraya melihat Nindy yang memelas.


"Nanti Alif akan sering datang buat jenguk tante," timpal Alif menengahi.


"Mamah, panggil aku mamah!" kata Nindy dan Fakhri seolah sedang menonton drama, ia merasa tidak diperhatikan lagi, sekarang, semua orang sedang hangat-hangatnya membahas Alif dan memperebutkannya.


Fakhri hanya menatap makan malamnya.


"Sudah, kita makan dulu! Enggak baik ribut di depan makanan!" kata Nala dan Amira membenarkan Nala.


Sekarang, semua orang kembali menikmati makan malamnya.


Setelahnya, Alif mencari-cari keberadaan Fai yang ternyata sedang duduk di bangku taman belakang rumah, menatap kolam renang yang tenang airnya.


"Fai!" lirih Alif dari belakang.


Fai yang sedang menangis itu segera menghapus air matanya lalu menoleh ke belakang.


"Alif," lirih Fai.


"Boleh gue duduk?"


Fai menjawab dengan menganggukkan kepala.


"Fai, jangan bersedih!"


"Ngomong mah gampang! Lo tau sendiri kan gimana gue ngejar-ngejar lo!" kata Fai, ia tak mau menatap Alif.


Dan Alif ingin sekali rasanya membawa Fai ke pelukan, tetapi itu tak mungkin lagi ia lakukan karena takut semakin membuat Fai nyaman.


"Gue tau, tapi di sini gue juga terluka, gue cuma bisa ikhlas menerima, Fai! Cobalah, lo juga gitu!"


"Udah gue coba, tapi susah, Lif!" jawab Fai dan kali ini Fai menatap wajah pria yang ia rindukan.


Tak tega melihat Fai masih menitikkan air matanya, Alif pun menghapus itu menggunakan ibu jarinya.


"Sabar! Gue bisa apa? Kita kakak beradik!" kata Alif dan Akhirnya keduanya memiliki kesempatan untuk saling berbicara dari hati ke hati.


"Pertahanin gue, Lif! Banyak kok orang-orang sepupu tapi menikah!" kata Fai, masih menatap Alif yang sekarang terkejut saat mendengar permintaan Fai.


Alif pun segera menurunkan tahannya dari wajah Fai dan Fai menahan tangan itu supaya tidak pergi.


"Fai, hubungan yang dipaksakan, gue takut akhirnya enggak baik! Sedangkan gue pengen yang terbaik buat lo! Karena gue sayang sama lo, Fai!"


"Bohong, kalau sayang harusnya lo pertahanin gue!" kata Fai yang kemudian membuang wajah.


"Fai, bahasan kita ini enggak bakal ada ujungnya, akan tetap menemui jalan buntu! Kita kakak dan adik, udah itu aja. Gue harap lo juga terima kenyataan!" kat Alif yang kemudian bangun dari duduknya dan saat berbalik badan, Alif melihat Fakhri dan Kenzo yang ternyata sedari tadi memperhatikannya.


"Maaf, saya permisi!" kata Alif seraya pergi meninggalkan semua orang yang ada di taman.


Ken ikut bersedih hati atas apa yang dirasakan oleh Fai tetapi dirinya tak dapat membantu apapun.


Yang Ken bisa lakukan adalah menghibur adiknya.


Ken dan Fakhri pun ikut duduk di bangku taman dengan posisi Fai di tengah. Berniat untuk menghibur, tetapi yang dihibur memilih untuk bangun dan masuk ke kamarnya.


Bersambung.


Jangan lupa goyang jempol buat like, ya. Difavoritkan juga 🤗