DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Kepergian Amira


Sampai sekarang, Alif masih betah menjomblo, ia memutuskan tidak akan menikah sebelum Fai menikah.


Apakah sedalam itu cinta Alif pada Fai, sedangkan kabarnya saja lama tidak ia dengar.


Lalu, bagaimana dengan kabar Mae? Mae telah bebas dari penjara karena Alif, ia tidak tega pada Mae yang sudah merawatnya penuh dengan kasih sayang.


Sekarang, Mae dan Andra hidup rukun, Andra telah menjadi pria berguna walau gajinya hanya pas untuk makan dan membayar sewa rumah.


Lalu, Alif pun menghadiahkan rumah kecil untuk Mae dan Andra, Mae sangat bahagia memiliki Alif sedangkan Fakhri ia hanya sesekali datang untuk menemuinya.


Dan sekarang, Fakhri sudah hidup mandiri dan menolak untuk menjadi tangan kanan Kenzo di kantor, Fakhri merasa tidak pantas karena sudah ada keponakan Dhev yang sebenarnya.


Fakhri pun membuka usahanya sendiri, ia membuka usaha ekpedisi dan sekarang usahanya itu berjalan lancar.


Nindy selalu ada untuk anak-anaknya, seolah memiliki dua anak kembar dan Nindy tidak pilih kasih terhadap keduanya, begitu juga dengan Arnold.


Dan Amira, wanita itu semakin sepuh, sekarang, berjalan saja harus dibantu dengan tongkat.


Amira merasa senang dan bahagia, di usianya yang senja, kini kebahagiaan telah ia dapatkan.


Amira yang sepuh merindukan Fai, lama tak melihat cucu perempuannya, ia pun menghubungi Dhev supaya membawa Fai pulang.


Amira mengatakan hal mengerikan yaitu tentang usianya yang mungkin tidak akan lama lagi dan itu membuat Fai mau untuk kembali ke Indonesia.


Setelah beberapa hari menunggu, sekarang rombongan Dhev sudah tiba kembali di tanah air.


Alif yang tak mengetahui kalau Fai akan kembali hari ini juga sedang makan siang bersama dengan Nindy, Fakhri dan Amira.


Alif pun menghentikan makannya saat mendengar suara Fai yang berisik memanggil Omahnya.


Fai yang tidak tau ada Alif itu pun mencari kebelakang dan langkahnya terhenti saat matanya saling bertemu dengan netra Alif.


Fai tersenyum dan menyapa Alif, Alif membalas senyum dan sapaan itu.


Hatinya masih bergetar saat melihat kembali bidadarinya.


Alif beserta yang lain pun berdiri menyambut kedatangan keluarga besar itu.


Dan Meera keponakan Alif, anak dari Kenzo dan Adila yang berusia 3 tahun itu segera turun dari gendongan Kenzo, ia sangat lengket dengan Alif yang sering mengajaknya bermain.


"Uncle!" seru Meera dan Alif pun segera menangkap keponakannya yang berhambur memeluknya.


Dhev dan yang lain berkumpul di ruang tengah, terkecuali Alif, ia berada di taman samping rumah, menemani Meera untuk bermain ayunan.


Lalu, Alif mendengar suara yang mengatakan kalau dirinya sudah pantas menjadi ayah. Alif pun melihat ke belakang dan itu adalah Fai.


"Fai," sapa Alif dan Fai yang sekarang berpenampilan feminim itu berjalan mendekati Alif dan Meera.


Fai ikut duduk di ayunan itu.


"Kapan lo mau merit, jangan lupa undang gue!" kata Fai seraya tersenyum pada mantan kekasihnya itu.


Alif merasa bahagia melihat Fai yang sekarang, terlihat Fai tidak lagi murung dan pendiam. Fai telah kembali ceria seperti saat pertama bertemu.


"Lo aja dulu, kalau gue kan cowok, santai aja!" jawab Alif seraya mendorong ayunan itu dari belakang.


Meera merasa senang karena kali ini banyak yang mengajaknya bermain.


"Ok, lo tunggu aja undangannya!" kata Fai.


"Kayanya udah ada calon!"


"Calon sih belum ada, tapi dedemenan ada, cuma ya gitu lah, gue lagi-lagi ketemunya sama cowok yang enggak berani ungkapin perasaannya duluan!"


Dan Alif pun merasa tersindir saat mendengar kalimat itu.


"Siapa pria beruntung itu?"


"Ada, dia temen deket kakak," jawab Fai dan Alif merasa perih saat mendengar kalau Fai sudah melupakan perasaannya yang dulu pernah ada.


"Jangan kecewa, Alif! Dia berhak bahagia!" batin Alif dan pria itu pun mengatakan kalau turut bahagia.


"Pacar sih belum ada, tapi gue yakin kalau dia punya perasaan yang sama! Kalau lo udah ada pacar?" Fai bertanya balik.


"Pacar itu apa tante?" tanya Meera yang ingin tau.


"Nanti kamu tanya sama mamah, ya!" jawab Fai seraya memeluk gemas keponakannya itu.


"Ditanya kok diem!" protes Fai dan Alif pun segera menjawab pertanyaan itu.


"Gue masih jomblo! Kecuali lo cariin calon buat gue!" kata Alif dan Fai menghentikan laju ayunan itu.


Fai turun dan menatap Alif.


"Alif, kita berhak bahagia, lupakan masa lalu!" ucap Fai dan Alif pun merasa dunianya sudah terbalik, dulu, ia yang meminta Fai untuk melupakan perasaan, cintanya dan sekarang, Fai yang mengatakan itu


Alif tersenyum dan menganggukkan kepala.


"Bukan belum bisa melupakan, tapi belum ketemu sama yang pas!" jawab Alif.


Lalu, Alif pun melihat jam yang melingkar di tangannya, rupanya ia harus kembali bekerja.


Setelah itu, Alif pun pamit pada semua orang.


"Alif, maafin gue. Ini kan yang lo mau! Kita harus sama-sama bisa lupakan rasa itu!" ucap Fai dalam hati.


Alif yang mengemudikan mobilnya itu menangis, tak terasa air mata turun begitu saja.


"Kenapa gue masih ngerasain sakit? Harusnya setelah lima tahun, perasaan itu udah hilang!" ucapnya pada diri sendiri.


Alif pun memukul setir kemudinya itu lalu menepikan mobilnya di jalanan yang sepi, Alif menundukkan kepala dan mengusap dadanya yang terasa nyeri.


Bahkan, sebenarnya ia masih sangat merindukan Fai. Tetapi, dirinya sudah harus pergi sebelum pembahasan akan berlanjut ke masa lalu.


****


Sekarang, Fai ikut berkumpul dengan keluarganya di ruang tengah, ia memeluk Amira dan Amira pun merasa senang karena akhirnya cucu perempuannya mau untuk pulang.


"Omah kira, Fai enggak sayang omah lagi!" kata Amira dengan suara lirihnya.


"Omah, jangan bicara seperti itu, Fai sayang semua keluarga Fai!" jawab Fai yang masih memeluk Amira dari samping.


"Kangen gue juga enggak?" tanya Fakhri yang memberanikan diri untuk bertanya.


"Enggak!" jawab Fai seraya membuang wajah pada Fakhri. Padahal itu hanya gurauan saja. Dan Fakhri pun merasa malu, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ya kangen lah! Lo juga kan sodara gue!" ucap Fai kemudian.


Melihat semua tertawa, Amira merasa lega dan sepertinya ia bisa pergi dengan tenang, benar saja, Fai merasakan tubuh Amira yang tiba-tiba jatuh ke pelukannya.


"Omah, omah ngantuk?" tanya Fai seraya melihat ke arah Amira.


Dhev melihat kearah anak dan ibunya itu tiba-tiba saja merasa khawatir, karena belakangan ini, Amira selalu mengatakan soal umurnya yang sudah sepuh.


Dhev pun sedikit menggoyangkan tangan Amira, berusaha membangunkannya.


"Mah, mamah!"


Dan Amira tidak merespon. Dhev pun memeriksa denyut nadi dan meletakkan jari telunjuknya di depan hidung Amira dan Dhev mengucapkan kata innalillahi.


Bersambung.


Kepergian Amira membawa kebahagiaannya tersendiri.


Semoga di ujung cerita ini akan membawa kebahagiaan juga untuk yang lainnya.


Jangan lupa like dan komen.


Difavoritkan juga ya. Vote atau Gift menambah semangat author dalam menulis, yuk dukung karya ini dan dukung author ☺