
Alif hanya menjawab dengan senyuman, ia tidak berani untuk mengatakan yang sebenarnya pada Arnold. Tersadar siapa dirinya dan siapa Fai yang terlihat seperti putri raja.
Setelah itu, Alif kembali mengikuti langkah kaki Arnold menuju ke tempat yang sudah di sediakan. Sekarang, semua lampu di matikan dan terlihat yang memiliki acara sudah tiba.
Nala yang matanya tertutup itu dituntun oleh Dhev dan semua orang yang melihat itu harus diam, tidak boleh berisik.
"Mas, ada apa sih? Kenapa segala di tutup mataku?" tanyanya.
"Tunggu aja, jangan buka mata sebelum aku minta!"
Nala pun mengangguk.
Setelah sampai di depan kue ulang tahun yang tinggi itu, Dhev membuka penutup mata Nala.
"Sekarang, buka matamu!" kata Dhev dan Nala pun membuka mata.
Terlihat ruangan yang gelap dan hanya dirinya juga Dhev lah yang terlihat karena tersorot oleh lampu berbentuk love
Nala merasa bahagia dan mengira kalau di acara itu hanya ada dirinya dan Dhev.
"Uuuhh, sayang. So sweet banget!" ucap Nala seraya memeluk suaminya, setelah itu Nala mengecup bibir Dhev dan Dhev merasa kurang kalau hanya sekedar kecupan.
Dhev yang melingkarkan tangannya di pinggang ramping Nala pun mengulangi ciuman itu dan seketika lampu menyala, sorak sorai terdengar, tepuk tangan dan suara anak-anaknya yang meledek mulai didengar di telinga Nala.
Ternyata oh ternyata di depannya sudah banyak tamu undangan.
"Cuiwiiit!" Fai yang berada di kerumunan para tamu undangan itu mulai bersiul untuk menggoda ibu dan ayahnya.
Kenzo yang mendapati adiknya seperti itu segera menurunkan tangannya dari bibir.
"Anak cewek! Yang sopan apa!"
"Ummaach!" jawab Fai yang sedang bahagia dan Ken pun hanya menggelengkan kepala.
Sedangkan Nala, ia sendiri merasa malu karena ciumannya itu ternyata dilihat banyak orang. Nala menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Ikh, kamu enggak bilang-bilang! Kan di lihat anak-anak, Mas!" protes Nala seraya sedikit mencubit pinggang suaminya.
"Kalau bilang-bilang namanya bukan kejutan, sayang!" kata Dhev seraya menahan tangan Nala yang berada di pinggang.
Ucapan selamat pun mulai berdatangan.
Di sudut aula, Arnold membawa Alif ke kerumunan para anak-anak.
"Kalian, jangan meniru ya. Hanya boleh untuk yang sudah menikah!" ucap Arnold yang baru saja datang diantara kerumunan anak-anak itu.
Fai, Adila, Fakhri dan Kenzo pun mengiyakan.
"Dengerin tuh!" kata Fai seraya menunjuk kakaknya.
"Kenapa aku?"
"Kan kakak yang hobi pacaran!"
"Sudah-sudah! Oia. Perkenalkan, ini keponakan paman. Namanya Alif," ucap Arnold yang menengahi Fai dan Ken.
Fai pun baru sadar kalau lelaki yang bersama Arnold adalah lelaki yang semalam menolongnya.
"Eh, Bre! Lo di sini juga?" tanya Fai seraya mengulurkan tangannya.
"Kenalin, gue Fai!" ucap Fai seraya mengulurkan tangannya.
"Alif," jawab Alif seraya membalas uluran tangan Fai. Alif yang merasakan lembutnya tangan Fai itu merasa insecure. Bagaimana tidak, sedangkan tangannya yang terbiasa bekerja keras itu terasa kasar.
Alif pun segera menarik tangannya dan bergantian berkenalan dengan yang lain. Ada Fakhri, Kenzo dan Adila.
"Iya sudah, paman tinggal dulu, ya!" kata Arnold seraya menepuk punggung Fakhri dan Alif yang berdiri berdampingan itu.
Alif yang baru pertama kali datang ke pesta itu merasa canggung. Merasa kalau tempat itu bukanlah tempatnya.
Lalu, Kembali Fai yang tidak memandang status sosial itu mengajak Alif untuk ikut bergabung.
Tetapi, Alif hanya diam memperhatikan, pria muda itu tak ikut mengobrol dengan yang lain karena teman-teman Fai membahas soal kuliah.
"Kalau lo kuliah di mana?" tanya Fai yang ingin mengajak Alif mengobrol.
"Gue enggak kuliah!" jawab Alif singkat seraya menatap Fai.
"Oh, maaf. Gue enggak tau," kata Fai. Setelah itu, Fai pun mengajak teman dan sepupunya itu makan.
Dan di saat ada kesempatan, Fakhri menanyakan pada Fai, dimana Fai mengenal Alif, terlihat Fai seperti sudah mengenalnya.
"Ya maaf, Fai. Kan tau sendiri gue lagi dimana!"
"Iya, iya. Ya udah sekarang kita makan!" kata Fai pada Fakhri.
"Ayo bre! Ambil makanannya!" kata Fai pada Alif yang terlihat masih sungkan.
Alif pun mulai mengikuti Fai karena hanya Fai yang terlihat sangat antusias dengan kehadirannya.
Selesai dengan makan, Fai mencari-cari keberadaan Alif dan ternyata Alif berada di balkon, memperhatikan jalanan kota yang padat merayap.
"Enaknya jadi mereka, bisa ketempat mewah setiap saat, bisa makan enak tanpa kekurangan, tanpa memikirkan besok akan makan apa, bisa kuliah, sedangkan gue!" ucap Alif dalam hati.
Lalu, Alif melihat ke arah kanannya, Fai menyusul Alif yang sedang menyendiri.
"Lo enggak suka keramaian, ya?"
"Suka, tapi gue baru pertama kali datang ke pesta, gue takut malu-maluin om," jawab Alif apa adanya.
"Oh gitu, kalau lo keponakan paman kok gue baru liat, ya?"
"Gue bukan keponakan kandung, gue kenal sama om dari kecil, terus sekarang gue kerja sama om, tapi karena om orangnya baik, dia anggap gue keponakan."
"Oh gitu, pantes gue baru liat!" ucap Fai seraya menatap Alif.
****
Setelah selesai dengan pesta, Arnold pun mengajak Alif untuk pulang, sebelum pulang ke rumahnya, Arnold mengajak Alif untuk ke rumah sakit lebih dulu, menjenguk Nindy.
Sesampainya di sana, Alif menanyakan siapa wanita yang terbaring di atas brangkar itu.
Dan tanpa Alif juga Arnold tau, Nindy menggerakkan jari telunjuk kanannya saat mendengar suara Alif.
"Dia ibunya Fakhri, sudah terbaring di sini selama belasan tahun," jawab Arnold.
"Om suka sama tante ini?" tanya Alif seraya menatap Arnold, keduanya berada di sisi kiri Nindy. Duduk di sofa yang tersedia.
"Entahlah, yang ada di hati om saat ini adalah rasa bersalah, ini semua karena om!" jawab Arnold seraya menatap Nindy.
"Om yang bikin ibunya Fakhri koma?"
"Bukan! Sudah lupakan. Itu masa lalu kelam om!" jawab Arnold seraya menatap Alif.
Alif yang sedang memperhatikan Nindy itu melihat kalau Nindy menitikkan air mata.
"Dia nangis, om!" kata Alif.
"Mungkin dia enggak suka sama kehadiran om, ayo kita pulang!" ajak Arnold seraya bangun.
Sebelum pergi, Arnold pamit lebih dulu pada Nindy.
"Nin, gue minta maaf, cepat bangun! Anak kita butuh lo!" ucap Arnold.
Alif pun memikirkan ucapan Arnold, mengira kalau Arnold adalah suaminya.
****
sekarang, Alif sudah berada di rumah. Ia membuka pintu rumahnya dan ternyata bapaknya itu sedang bermain catur dengan temannya.
"Dari mana lo?" tanya Alif.
"Dari luar!"
"Ya gue tau dari luar, btw baju lo dari mana? Enggak ada pantes-pantesnya, anak buruh cuci gosok pakai jas!" Andra menertawakan anaknya di depan teman main caturnya.
Alif tak menghiraukan ucapannya, ia berlalu begitu saja, ia masuk Ke kamar dan melepaskan pakaian barunya.
Menggantung jas itu di paku balik pintu.
"Gue kira semua orang kaya sombong, tapi Fai enggak," ucapnya seraya mengingat Fai yang mengulurkan tangannya lebih dulu, mengajaknya berkenalan.
Alif pun mendudukkan dirinya di kasur lantai. Teringat dengan Arnold yang menyebut anak kita saat menjenguk Nindy.
Alif ingin bertanya tetapi ia tahan, takut menjadi tidak sopan karena merasa ingin tau.
Bersambung, apakah Nindy merasakan kehadiran anaknya, darah dagingnya?
Like dan komen ya, gengs 🤗.
Sampai jumpa di episode selanjutnya.