DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Terbongkar?


Mae pun melanjutkan langkah kakinya untuk bekerja. Seraya berjalan ia terus memikirkan Alif, ia ingin Alif berhenti berhubungan dengan keluarga Dhev.


Waktu terus berlalu, Mae tidak ingin mengekang Alif, baginya perlahan pasti bisa memisahkan keduanya tetapi yang terjadi adalah, Alif dan Fai semakin dekat.


Bahkan, sekarang Fai mengajak Alif untuk fiting baju seragam nikahan Kenzo dan Adila.


Sementara Fakhri, ia sudah ikut bersama dengan rombongan keluarganya dan setibanya Fai di sana, Fakhri menatap tak suka pada Alif.


Ia pun ingin merencanakan sesuatu untuk menyingkirkannya. Baginya, kalau Alif tetap berhubungan baik dengan keluarga yang sesungguhnya itu mengancam kesejahteraannya.


Setelah fiting baju, Fakhri mencari preman untuk diminta mencelakai Alif.


"Celakai dia! Tapi ingat, rahasia ini harus terjaga apapun yang terjadi gua enggak ada urusan karena kalian udah dapat uang yang cukup banyak!" kata Fakhri.


"Mampusin enggak, Bos?" tanya si preman tersebut.


"Mampusin! Itu yang gua mau!" kata Fakhri, setelah itu Fakhri pun pergi meninggalkan tempat si preman.


Sementara itu, di rumah Dhev, Nindy sedang berada di kamar Fakhri, ia melihat kamar Fakhri penuh dengan fotonya dari waktu dulu sampai Fakhri mengajak Nindy untuk berselfie saat terbaring di rumah sakit.


"Maafin mamah, nak! Mamah enggak ada di saat kamu butuhkan!" gumam Nindy seraya mengusap foto yang berada di album tersebut.


Kemudian, Fakhri yang baru datang itu sangat terkejut karena Nindy bisa berada di kamarnya.


Ya, Nindy sekarang sudah bisa berjalan walau seperti bayi yang masih belajar.


"Mamah, ngapain?" tanya Fakhri seraya mengambil album foto itu lalu menutupnya dan menyimpannya kembali ke laci.


"Mamah udah bisa jalan?" tanya Fakhri seraya membawa Nindy kembali duduk di kursi roda.


"Sedikit-sedikit , sayang!"


"Syukurlah," ucap Fakhri, Fakhri juga bersyukur karena bukan laci bawahnya yang Nindy buka.


Setelah Nindy keluar, Fakhri mengambil amplop yang selama ini ia sembunyikan. Fakhri memasukkannya ke kantong celana dan membawanya ke belakang rumah.


"Ini enggak boleh dibiarin! Harus dimusnahkan!" kata Fakhri dalam hati.


Fakhri pun mengeluarkan korek yang sebelumnya sudah ia siapkan.


"Fakhri, lagi ngapain?" tanya Fai yang memergoki Fakhri, Fai merasa penasaran sedang apa malam-malam begini Fakhri ke belakang rumah.


Fakhri pun segera memadamkan api dan kembali menyembunyikan amplop tersebut.


"Bukan apa-apa!" jawab Fakhri yang kemudian pergi meninggalkan Fai seorang diri.


"Hampir aja! Kalau dia tau bisa gawat!" gumam Fakhri dalam hati.


Malam ini, Alif yang baru saja mengantar Fai pulang, di perjalanan sudah dihadang oleh orang suruhan Fakhri.


Preman itu tak seorang diri, empat lawan satu.


Alif yang tak gentar itu masih berada di motornya dan ke empat preman itu memutari Fakhri.


"Kalau berani satu lawan satu!" kata Alif, ia hanya membuka kaca helmnya.


Terlihat preman itu membawa balok di tangan masing-masing.


"Sial, mereka enggak tangan kosong!" batin Alif.


Sekarang, para preman itu turun dari motor dan menantang anak yang usianya jauh lebih muda.


Alif pun turun dari motor dan memasang kuda-kuda, beruntung Alif bukanlah pria yang mudah dikalahkan dan itu tentunya karena didikan Arnold.


Namun, bukan berarti para preman itu tak dapat melumpuhkan Alif. Preman itu main keroyokan berhasil membuat Alif babak belur dan sekarang Alif yang hampir dilumpuhkan itu di tolong oleh Arnold yang menahan salah satu preman.


Preman itu hampir memukul tengkuk Alif dengan balok.


Dan seolah mendapatkan kekuatan baru, Alif sekarang membalas pukulan demi pukulan dari preman itu.


Arnold yang melawan ketua preman itu menanyakan apa salah Alif sampai mereka menghajar seorang anak kecil.


"Enggak ada urusan sama lo!" kata ketua preman seraya menendang perut Arnold yang berada di atasnya.


Arnold pun terjengkang dan para preman itu berhasil melarikan diri, tetapi, Arnold sudah mengantongi beberapa foto wajah si preman.


"Makasih, om. Untung ada om!" lirih Alif yang matanya masih terpejam.


Arnold pun mengulurkan tangannya dan Alif meraihnya.


"Kamu punya musuh?" tanya Arnold seraya mengusap punggung Alif yang kotor.


Setelah itu, Arnold pun membawa Alif ke rumah sakit.


"Ngapain ke rumah sakit?" tanya Alif dengan ekspresi kesakitan.


"Luka kamu harus diobati!" jawab Arnold dan seraya menunggu pengobatan Alif, Arnold pun mengirim gambar para preman itu ke orang suruhannya.


Sementara Fakhri, ia merasa khawatir kalau semua akan ketahuan karena Arnold ikut campur urusannya.


Fakhri memarahi preman itu yang dianggapnya tidak becus. "Kenapa enggak kalian habisi saja mereka! Kalau seperti ini gua yakin kalian pasti dicari! Sembunyi dan sama sekali jangan keluar dari persembunyian! Ingat uang yang gua kasih itu banyak, itu cukup untuk tutup mulut kalaupun kalian tertangkap polisi! Paham!" geram Fakhri dari sambungan teleponnya. Setelah itu, Fakhri pun mengakhiri pembicaraan.


Fakhri merasa frustasi dan membanting ponselnya ke ranjang dengan kesal.


****


Keesokan harinya, Mae melihat Alif yang baru keluar dari kamar itu dengan keadaan bonyok.


Mae berteriak dan bertanya apa yang terjadi.


"Semalam Alif dihadang preman, bu!" jawab Alif yang wajahnya sedang diperhatikan oleh Mae.


"Tapi kamu enggak apa-apa, kan? Ayo ikut ibu ke rumah sakit!" kata Mae seraya menarik tangan Alif.


"Enggak usah, bu! Semalam Alif udah berobat!" jawab Alif dan Mae pun sedikit merasa lega.


"Kamu punya musuh?" tanya Mae menatap mata Alif.


"Enggak, bu. Udah lama Alif enggak cari gara-gara orang!" jawab Alif yang kemudian pergi mandi.


"Ini pasti ulah Fakhri!" gumam Mae dalam hati.


****


Selesai bekerja, Mae pergi ke kampus Fakhri, Fakhri melihatnya dengan kesal dan Fakhri pun membawa ke belakang kampus, di sana sepi dan membuat Fakhri merasa aman untuk berbicara dengannya.


"Buat apa lu ke sini? Udah gua bilang berhenti temui gua!" ucap Fakhri penuh penekanan.


"Apa yang kamu lakukan ke Alif?" tanya Mae dengan menatapnya tajam.


"Kenapa? Dia bukan anak lu kenapa lu begitu perduli?"


Plak! Mae menampar Fakhri.


"Puas? Tangan lu yang enggak pernah ngurus gua tapi sekarang nampar gua?" Fakhri menatap Mae penuh kecewa.


"Lu bilang gua anak kandung lu, gimana kalau kita sama-sama singkirkan Alif? Terus kita bagi bersama harta dari yang gua dapat?"


Mendengar itu, Mae kembali menampar Fakhri.


"Ibu kira, dengan kamu tumbuh bersama mereka, berpendidikan, berwawasan akan membuat kamu jauh lebih baik!"


"Gua kaya gini karena enggak mau kehilangan semuanya!" ucap Fakhri seraya berbalik badan, betapa terkejutnya Fakhri saat melihat Fai berada di belakangnya dan merekam semua yang didengarnya.


Fai sudah menitikkan air mata, merasa kecewa dengan Fakhri yang selama ini ia kenal.


"Fai... dengerin gue! Ini enggak seperti yang lo kira!" kata Fakhri seraya berjalan mendekati Fai dan Fai memundurkan langkahnya kemudian ia berlari.


Fakhri pun mengejarnya dan sekarang Fakhri berhasil meraih lengan Fai.


"Lepas!" kata Fai dan bertepatan dengan Alif yang datang untuk menjemput Fai, Alif menahan lengan Fakhri yang berada di lengan Fai.


"Lo enggak dengar kata Fai? Lepas!" tegas Alif.


Bersambung.


Apakah kali ini akan terbongkar?


Like dan komen ya all 🤗