DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Merasa Nyaman Di Dekat Arnold


Di rumah sakit, kali ini adalah pertemuan Nindy dan Arnold untuk pertama kali setelah sekian lama.


Nindy hanya menatap Arnold tanpa bertanya apapun. Kemudian Nindy segera masuk ke ruangan Fakhri.


Fakhri yang mulai sudah bisa membuka mata itu menatap Nindy, Fakhri juga menangis dan Nindy pun bertanya, "Sayang, di mana yang sakit? Biar mamah panggilkan dokter!"


Fakhri menggeleng, ia takut kalau Nindy sudah mengetahui kebenarannya tidak akan sayang lagi padanya.


Lalu, Arnold pun membuka pintu, ia meminta untuk berbicara empat mata dengannya. Fakhri semakin menangis karena kali ini semua orang akan mengetahui kebenarannya.


Nindy menatap Amira dan Amira pun menganggukkan kepala.


Arnold membantu Nindy yang masih tertatih itu, membawanya keluar ruangan.


"Hati-hati!" kata Arnold dan Nindy sama sekali tak melihat kearahnya.


Di luar, Nindy pun segera bertanya ada hal penting apa pada Arnold.


"Fakhri bukan anak kita yang sesungguhnya!"


"Kalau kamu enggak mau mengakui dia enggak papa, biar aku saja jadi ibunya dan Doni ayahnya!" kata Nindy seraya berbalik badan untuk meninggalkan Arnold.


"Mae menukar anak kita waktu bayi! Alif anak mu yang sebenarnya!" kata Arnold dan Nindy pun menghentikan langkahnya.


"Jangan bohong kamu!" kata Nindy seraya menoleh ke arah Arnold.


Nindy pun ingin menanyakan kebenarannya pada Dhev, hanya padanya Nindy percaya.


Di depan Fakhri, Nindy tak menunjukkan ekspresi apapun, walau dalam hati banyak pertanyaan yang ingin ia ketahui jawabannya, tetapi, Nindy akan bersabar menunggu untuk bertanya.


****


Anak buah Dhev berhasil menemukan Alif yang sedang duduk di pangkalan biasa bersama teman-temannya, terlihat Alif hanya bisa diam, tidak seceria biasanya.


Anak buah Dhev pun meminta pada Alif untuk ikut dengannya.


Awalnya Alif menolak bahkan sempat terjadi baku hantam, tetapi, anak buah Dhev tidak berani untuk melukai keponakan bosnya itu, mereka hanya bisa menghindari lalu melumpuhkan Alif dan memasukkannya ke mobil.


"Woi! Kalian jangan kabur!" teriak teman-teman Alif yang kemudian berteriak meminta tolong pada warga sekitar.


Sayangnya, ketika warga sudah berkumpul mobil itu sudah berhasil membawa Alif pergi.


Singkat cerita, sekarang Alif sudah berada di rumah Dhev, ia di tunggu oleh Dhev dan Nala, Fai juga ada Nindy dan Amira yang diminta Dhev untuk berkumpul.


"Lepas!" kata Alif yang dipaksa untuk masuk ke rumah itu.


"Ada apa Bapak memanggil saya ke sini?" tanya Alif seraya menatap Dhev yang duduk di ruang tengah.


"Pakde, panggil saya pakde!" kata Dhev yang menatap Alif.


Dan sekarang, pandangan mata Alif mengarah pada Fai yang terlihat sembab.


"Maksudnya apa ini?" tanya Nindy dengan suara lirihnya, ia belum bisa begitu jelas berbicara.


Dhev tidak menjawab pertanyaan Nindy.


"Kita akan melakukan tes DNA!" kata Dhev untuk meyakinkan semua orang.


"Kalau Bapak merasa ragu, saya juga tidak meminta untuk diakui!" kata Alif.


"Bukan begitu maksud saya! Supaya semua jelas! Tidak ada lagi kebohongan yang disembunyikan oleh ibumu!" kata Dhev seraya bangun dari duduknya. Berhadapan dengan Alif mengingatkan dengan keras kepalanya Arnold.


"Silahkan kalau itu mau kalian!" jawab Alif yang mendadak menjadi sedikit tidak sopan.


Perasaannya masih tak menentu, sulit untuk menerima semua kenyataan yang ada.


Setelah itu, Alif yang mendengar kalau Mae di penjara pun menjadi tak tega, ia pergi menemui Mae dan di sana rupanya ada Arnold yang juga menemui Mae.


Melihat kedatangan Alif, Arnold memberi ruang untuk keduanya berbicara, Arnold berpikir mungkin banyak pertanyaan di benak Alif.


Terdiam...


Alif hanya bisa menatap Mae yang tertunduk.


"Maafkan ibu, nak!" lirih Mae yang tak bisa menatap wajah anak yang ia besarkan.


"Maafkan ibu." Dan hanya kata maaf lagi keluar dari mulut Mae seraya menghapus air matanya.


"Kenapa ibu lakukan ini?" Alif mengulangi pertanyaan yang sama.


Sedangkan Mae tak tega untuk mengatakan yang sejujurnya, ia menginginkan kehidupan yang kayak untuk Fakhri, tak mau menyakiti hati Alif lebih jauh lagi.


"Kenapa ibu lakukan ini?" Alif kembali mengulangi pertanyaan itu sampai Mae merasa tersudutkan.


Dan dari jarak aman, Arnold memperhatikan Alif juga Mae.


Mae pun mulai membuka mulutnya yang sedari tadi bergetar.


"Ibu... ibu inginkan yang terbaik untuk Fakhri," lirihnya.


Alif yang mendengar itu merasa tersayat, ia menahan luka hatinya.


Bagaimana mungkin seorang ibu menukar anaknya dengan anak orang lain dan dirinya adalah korban dari keegoisan si ibu tersebut.


"Kenapa ibu lakukan itu? Biar apa? Biar Fakhri terjamin hidupnya? Biar Fakhri enggak ngerasain jadi Alif yang setiap hari bertengkar sama bapak? Biar Fakhri enggak ngerasain dipukuli sama bapak? Biar apa, bu?" Alif meninggikan nada di ujung pertanyaannya.


"Waktu itu, ibu enggak punya biaya, Fakhri terancam akan tinggal di rumah sakit, ibu takut Fakhri akan tinggal di panti asuhan lalu ibu kehilangannya."


Fakhri menggelengkan kepala, berpikir, kalau waktu itu ia tidak dapat keluar dari rumah sakit, kemungkinan dirinya yang akan hilang entah kemana.


"Tapi, sekarang apa yang ibu dapat? Ibu tetap kehilangan Fakhri karena Fakhri enggak mau menganggap ibu, kan? Tuhan maha adil, bu! Ibu udah pisahkan Alif dengan orang tua Alif dan sekarang ibu tidak mendapatkan apapun!" kata Alif, pria muda itu pergi dengan membawa rasa kecewanya.


Mae hanya bisa menunduk, menangisi semua penyesalannya.


****


"Alif!" panggil Arnold dari belakang.


"Iya, om!"


"Papah, panggil aku papah!" kata Arnold yang kemudian memeluk Alif.


"Apa om enggak mau usaha dulu buat tes DNA, siapa tau salah!" kata Alif seraya berusaha melepaskan pelukan itu.


"Enggak perlu! Papah yakin kalau kamu adalah darah daging papah, maafkan papah selama ini enggak mengenali kamu!" kata Arnold, pria itu merasa sedih dan berterimakasih karena kebenaran akhirnya terungkap.


Alif dan Arnold pun saling berpelukan, Alif merasa nyaman berada di pelukan Arnold yang tak meragukannya.


Sekarang Arnold mengajak Alif makan malam seperti biasa, makan nasi padang di tempat kesukaannya.


"Terimakasih, Om!" kata Alif setelah perutnya yang seharian kosong akhirnya terisi juga.


"Papah, panggil aku papah!" perintah Arnold seraya menatap Alif.


"Maafkan papah! Papah kemarin ngasih kamu motor butut!" kata Arnold dan Alif pun tersenyum.


"Perhatian papah selama ini lebih penting, papah selalu ada buat Alif walau kita enggak tau hubungan kita yang sebenarnya!"


Arnold pun merasa lega saat mendengar jawaban Alif yang begitu terasa menyejukkan.


"Setelah ini kalian harus berbaikan!" kata Arnold dan Alif tak mengerti maksud dari kata itu.


"Maksud papah?"


"Kamu dan Fakhri! Papah yakin, Fakhri juga sama terlukanya, sejahatnya dia, dia juga korban dari Mae."


Sedangkan Alif sendiri, ia merasa tidak bermusuhan dengan Fakhri. Tetapi, Arnold tau betul bagaimana Fakhri ingin menyingkirkan anak kandungnya karena takut akan terbuang.


Sekarang, Arnold mengajak Fakhri ke rumah sakit dan sesampainya di sana, Alif melihat Fakhri yang pincang itu sedang mengantri untuk masuk ke lift, tujuan ke lantai paling atas.


"Pah, itu Fakhri!" kata Alif seraya menunjuk Fakhri.


Apa yang akan Fakhri lakukan ke lantai atas?


Bersambung.


Like karya ini, ya. Dukungan kalian adalah semangatku! 😇


Maafkeun typonya, ya 🤭✌✌