
Beberapa bulan berlalu, sampai sekarang, Ririn masih belum juga dikaruniai seorang anak, tetapi, walau begitu, Jimin tidak mempermasalahkan.
Pria itu menerima Ririn apa adanya, berpikir, mungkin itu lah yang terbaik menurut Tuhan untuk keluarga kecilnya, atau juga memang belum waktunya.
Tetapi, ada yang tidak setuju dengan cara pemikiran Jimin, ia adalah mamihnya, wanita sosialita itu ingin segera mendapatkan cucu bahkan menyarankan Jimin untuk menikah lagi demi mendapatkan keturunan.
Jimin sangat kesal dengan mamihnya yang asal bicara, bahkan, Jimin juga meminta pada mamihnya untuk jangan terlalu sering datang ke apartemen.
Pria itu tak tahan lagi mendengar ocehan mamihnya membuat ia segera mematikan sambungan telepon tersebut.
Tut! Jimin tanpa permisi mematikannya begitu saja.
Ririn yang mendengar itu berpikir, mungkin hidupnya sekarang adalah karma di masa lalu.
"Apa karena aku melupakan orang tua juga? Aku lihat mereka hidup susah sekarang, mamah jadi karyawan loundry, papah jadi tukang parkir, aku harus minta maaf sama mereka, walau mereka udah buang aku, tapi aku tetap seorang anak!" batin Ririn.
****
Di apartemen Doni, pria itu baru saja pulang bekerja, Dhev memberinya banyak pekerjaan sehingga Doni harus lembur sampai malam.
Doni melihat Nindy tertidur di kamar dan bayinya berada di pelukan.
Sekarang, bayi itu sudah terbiasa dengan susu formula dan Nindy sudah dapat menerima kalau dirinya tidak dapat memberi ASI.
Doni pun mengusap lengan Nindy membuat gadis itu terbangun.
"Maaf, jadi kebangun ya," kata Doni, pria itu duduk di tepi ranjang.
Sebenarnya, Doni tidak ingin mengganggu, tetapi sedang ada orang tuanya yang datang mengunjungi cucu pertamanya membuat Doni harus tinggal satu kamar.
"Enggak papa, kamu malem banget pulangnya?" tanya Nindy seraya merubah posisinya menjadi duduk.
"Iya, kakak kamu, ngasih kerjaan enggak kira-kira," jawab Doni seraya melepaskan kancing kemejanya dan sekarang tertinggal kaos oblong polos yang melekat di tubuhnya.
"Pasti biar dia bisa pulang cepat," jawab Nindy, gadis itu bangun dari duduk. Ingin mengambil air minum untuk Doni.
Ya, begitulah kehidupan rumah tangga Doni dan Nindy, walau tanpa kata cinta tetapi keduanya saling perhatian.
Setelah mengambilkan air minum dingin, Nindy kembali ke kamar dan memberikan minuman itu untuk Doni.
Kedekatan mereka hanya kurang satu langkah yaitu untuk melakukan hubungan suami dan istri di ranjang.
Dan Doni sebenarnya sering merasakan itu dan karena rasa cinta dalam hatinya sudah tumbuh, ia ingin menyentuh istrinya, tetapi, ia sendiri takut akan di tolak.
Begitu juga dengan Nindy, ia tidak berani menggoda atau berbuat ulah di rumah suaminya yang sudah berbaik hati padanya, ia hanya bisa menurut dengan semua ucapan Doni, mengerti kalau Doni pasti akan memberikan yang terbaik.
Tetapi, tentu saja, di saat rasa cinta sudah tumbuh karena sudah terbiasa bersama, melewati masa sulit bersama, apakah akan tetap ada dinding pemisah diantara mereka?
Doni melepaskan gesper yang melingkar di pinggang dan Nindy yang melihat itu merasa malu, ingin keluar dari kamar, tetapi, Doni menahan lengan Nindy yang baru saja melewatinya.
"Mau kemana?" tanya Doni seraya menatap Nindy.
"Aku tunggu di luar, nanti setelah kamu selesai aku kembali," kata Nindy.
"Baiklah," kata Doni, pria itu kembali tidak memiliki keberanian untuk meminta haknya sebagai suami.
Sementara itu, di luar kamar, Nindy duduk di kursi meja makan seraya mengambil air meminum dingin.
"Sebenernya dia normal enggak, sih? Kok enggak pernah minta ya, kan dia cowok seharusnya dia mulai duluan, malu lah aku kalau minta duluan atau bertanya, ya beda lagi ceritanya kalau dari awal saling cinta mah," Nindy berbicara di dalam hati.
"Kamu ngapain, Nduk?" tanya ibu mertuanya yang baru saja keluar dari kamar.
"Enggak, ibu kedinginan, bisa tolong matiin AC?" tanya Ibu Doni dan Nindy pun mengiyakan lalu berjalan ke kamar Doni.
"Kalau dimatiin nanti gerah, Bu. Nindy gedein aja ya suhunya, biar kamar ibu adem," kata Nindy seraya meraih remote AC yang menempel di dinding, terlihat bapak sedang mencari jaket di tas yang belum sempat di bongkar.
"Ya sudah, Ibu manut," kata mertuanya.
Setelah itu, Nindy merasa kalau waktu sudah cukup lama, mungkin saja Doni sudah selesai bersih-bersih, Nindy pun mengetuk pintu kamarnya dan memanggil Doni dengan lirih.
"Masuk," kata Doni dari dalam dan ternyata Doni baru saja selesai mengganti pakaiannya.
Doni memberikan handuk basah yang berada di tangannya itu pada Nindy dan Nindy pun menerima lalu menyimpannya kembali ke tempat semula.
Sekarang, Nindy naik ke ranjang karena Fakhri merengek dan Doni pun menyapanya.
"Anak papah ikut kebangun, ya?" tanya Doni yang menyusul ke ranjang.
Meminta bayi itu pada Nindy dan Nindy memberikannya dengan senang hati, merasa bahagia karena Doni menganggap anak itu seperti anaknya, bahkan Doni tidak pernah mengeluh atau mengungkit sedikit kebaikannya.
"Semakin besar kamu mirip siapa? Apa mirip mamah?" tanya Doni dan Nindy pun ikut memperhatikan wajah bayi itu.
"Iya, mirip siapa ya? Mirip Arnold juga enggak," batin Nindy.
Tapi, setelah dilihat-lihat, bayi itu sedikit memiliki kemiripan dengan Nindy.
"Mirip, hidungnya dikit, sama matanya," jawab Nindy dan Doni pun memperhatikan.
Melihat bayi itu lalu melihat wajah Nindy.
"Enggak mirip, satu ganteng satu cantik!" kata Doni dan itu membuat Nindy terhibur, ibu satu anak itu tertawa, menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
Seolah mengerti kebahagiaan orang tuanya, Fakhri ikut tertawa lebar dan memperlihatkan gusi yang masih ompong itu.
Berbeda dengan bayi yang Mae ambil, bayi itu merasa lapar dan Mae membuatkan tajin untuknya sebagai MPASI.
Sepulang kerja tadi, Mae tidak sempat membelikan susu untuk bayi yang diberi nama Alif, sementara itu, ia tidak sudi meminta tolong pada suaminya yang hanya ongkang-ongkang kaki di rumah, selain tidak sudi pastilah hanya akan memancing keributan di rumah dan itu akan membuat Alif tidak nyaman.
Walau begitu, Alif terlihat gembul dan tampan, berbeda dengan Mae dan Andri, sangat jauh kemiripan dari keduanya.
"Besok, Alif ikut ibu kerja lagi, ya. Anak pintar, ya. Enggak rewel di ajak kerja," kata Mae seraya menyuapi tajin yang sudah didinginkan itu. Tajin itu bercambur gula merah agar memiliki sedikit rasa manis.
Setelah kenyang dan berganti pakaian, Mae menidurkan bayinya dan di setiap malam Mae menangis, membelai wajah Alif.
Baru saja Mae akan ikut tertidur, Andri membuka pintu kamar itu dengan kasar.
Brak!
"Mae, buatkan aku mie, aku lapar!" kata Andri yang berdiri di pintu.
Lalu, Andri merasa keberisikan dengan suara tangis Alif yang terkejut saat mendengar siapa pintu dibanting.
"Mas, kalau masuk kamar itu mbok ya pelan-pelan buka pintunya. Udah tau ada bayi!" kata Mae seraya mengangkat Alif dan membawanya ke dapur, Mae meletakkan Alif yang masih sedikit merengek itu di kereta bayi usang, kereta bayi itu ia beli di tukang rongsokan.
Bersambung.
Jangan lupa like, komen dan difavoritkan juga, ya. Terimakasih sudah membaca dan terimakasih atas dukungannya 🤗
Mohon maaf banyak typo di mana-mana 🙏