DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Kehilangan


Doni dan Nindy baru saja selesai makan malam bersama dengan Kliennya, sekarang, Doni mengajak Nindy untuk pulang.


Doni dan Nindy pun berjabat tangan dengan sepasang suami-istri yang merupakan teman bisnis kakaknya.


"Terimakasih, Tuan pasti senang dengan kerja sama ini," ucap Doni seraya menganggukkan kepala, tersenyum ramah pada kliennya dan senyum itu dibalasnya.


Sekarang, Doni menggenggam tangan Nindy, keduanya berjalan keluar dari resto, memandang keindahan Kota Bandung di malam hari.


"Nin? Setelah ini kita kemana?" tanya Doni seraya memasang sabuk pengaman.


"Kita pulang aja ke villa, kasian Fakhri sama suster doang, besok baru kita jalan-jalan lagi," kata Nindy yang juga sedang memasang sabuk pengaman dan Doni pun mengiyakan.


"Baiklah, buat istriku! Ayo kita pulang! Kita buat adik untuk Fakhri" jawab Doni seraya memarkirkan mobilnya dan sekarang keduanya sudah berada di jalan raya. Doni menyetel lagu kesukaannya, lagu-lagu cinta dan Doni pun ikut menyanyikan dengan tangan kirinya yang masih menggenggam tangan Nindy.


"Dengarkanlah


Di sepanjang malam aku berdoa


Cintaku untukmu selalu terjaga


Dan aku pasti setia." Doni menyanyikan sepenggal lagu itu dengan sesekali melirik, tersenyum pada Nindy lalu mengecup punggung tangan Nindy.


Nindy pun menjadi malu, ia menyenderkan kepalanya di lengan Doni, memeluk lengan itu dengan erat. Senyum manis tersungging di bibirnya, baru kali ini ia merasakan cinta yang amat dalam dari seorang pria.


Namun, sayang. Kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ada mobil dari arah yang berlawanan hilang kendali dan harus menabrak mobil Doni dengan tiba-tiba, membuat mobil yang Doni kendarai itu sempat terjungkal lalu terseret dan harus tertabrak oleh kendaraan yang ada dibelakangnya.


Mendapati dirinya mengalami hal yang sulit, terseret sudah pasti Nindy berteriak, ia teringat dengan anaknya yang berada di villa, kalau sampai terjadi sesuatu padanya, siapa yang akan menjaga dan menyayangi anaknya. Hanya seorang ibu yang mampu menyayangi anaknya sepenuh hati.


Bayangan-bayangan bahagia terlintas diingatan Doni dan Nindy, sementara Doni menyadari kalau dirinya sebentar lagi akan terhimpit oleh kendaraan dari depan dan belakangnya.


Yang ada dipikiran Doni saat ini adalah Nindy, ia takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, juga ada ibu dan bapaknya yang sudah sepuh.


Karena benturan keras itu membuat darah bercucuran dari keduanya, Dengan lemas, Doni menggunakan sisa tenaganya, ia menatap istrinya yang sudah tidak sadarkan diri.


"Nin, aku cinta kamu! Selamanya!" lirih Doni dan kata cinta itu didengar oleh Nindy.


Nindy menjawabnya dalam hati.


"Aku juga cinta kamu, Don. Selamanya!"


Setelah mengatakan cintanya, Doni pun dijemput oleh malaikat untuk menemui Tuhannya.


****


Ingatan itu tak pernah hilang dan menjadi trauma bagi Nindy yang masih koma, terbaring dengan selang-selang medis yang menempel di tubuhnya.


Sesekali Nindy kesulitan bernafas membuat Amira yang berada di sisinya itu tak kuasa menahan sedih, sakit dan takut akan kehilangan putrinya.


"Ya Tuhan, aku tau anakku banyak berbuat salah, tolong maafkan anakku, Tuhan. Berilah Nindy kesempatan untuk hidup," tangis Amira seraya menggenggam tangan Nindy yang dingin.


Dalam komanya, Doni yang berpakaian serba putih itu pamit pada Nindy yang sedang duduk di bangku taman yang penuh dengan hamparan bunga mekar.


"Bangunlah, demi Fakhri, kelak kita akan berkumpul lagi di surganya Allah," ucap Doni seraya melepaskan tangan Nindy yang menggenggamnya erat.


Nindy tak bisa berkata apa-apa lagi, hanya air mata yang menetes membasahi pipinya.


Amira melihat itu dan segera menghapus air mata itu dengan lembut.


****


Seketika, Dhev merasa bersalah telah memberikan tugas pada Doni untuk keluar kota.


"Mungkin, seharusnya semalam aku yang tiada bukan Doni!" batin Dhev.


Dhev merasa kalau Doni telah menukar nyawanya dengan nyawa Dhev. Dhev pun terduduk, air matanya menetes saat melihat kepiluan di depan matanya.


Nala mengusap punggung suaminya.


"Mas. Ini sudah takdir, bukan salah kamu," lirih Nala yang menundukkan badannya, berbisik di telinga Dhev untuk selalu ingat Tuhan dan ini adalah takdir.


Nala mengerti kesedihan Dhev, Dhev sudah lama membicarakan kliennya itu, saat itu Dhev sedang tidak enak badan, setelah sembuh Dhev mempercayakan pertemuan itu pada Doni.


Dhev masih tetap merasa bersalah.


Di rumah sakit, Arnold ikut merasakan kesedihan keluarga Dhev. Ia sendiri tidak tega saat melihat semua orang menangis, menangisi kepergian Doni dan Nindy yang masih berjuang diantara hidup dan matinya.


Arnold sendiri belum bisa melihat keadaan Nindy karena keluarganya selalu menjaga, Arnold sudah berjanji pada Dhev untuk tidak dekat dengan keluarga Dhev.


Setelah semua orang sudah berkumpul, sekarang, Doni yang sudah di mandikan dan dikafani itu siap untuk di makamkan.


"Tunggu, kalau adik saya bangun dan mencari suaminya, kami harus bilang apa?" kata Dhev seraya bangun dari jongkoknya, Dhev berjalan ke arah keluarganya sedang berkumpul.


"Tetapi, Doni harus dimakamkan, Nak. Kasihan dia menunggu terlalu lama di sana," kata Bapak Doni seraya menepuk bahu Dhev.


Dhev sendiri tidak membayangkan, saat Nindy bangun dan mencari suaminya, ingin memeluk, ingin mencium untuk yang terakhir kalinya, tetapi Doni sudah tidak ada. Dhev kembali menangisi adik dan adik iparnya.


Dhev memeluk Nala yang sama-sama sedang menangis.


"Kita harus memakamkan Pak Doni, Mas!" kata Nala dan Dhev pun menganggukkan kepala.


"Doni harus dimakamkan di Jakarta," kata Dhev, ia ingin setiap kali adiknya merindu bisa segera menemui suaminya di makam, seperti yang dulu pernah ia alami saat belum bisa melepaskan kepergian Ana.


"Tapi, Nak. Bagaimana dengan kami?" tanya Ibu Doni yang berada di pelukan Amira, bertanya dengan suara bergetar.


"Bukankah tidak boleh menunggu terlalu lama? Kalau dibawa ke kampung, berapa lama lagi perjalanan Doni untuk menunggu di sana?" tanya Dhev seraya melepaskan pelukan itu.


Bapak Doni pun membenarkan apa yang diucapkan oleh Dhev. Sekarang, Dhev dan yang lain mengurus pemakaman Doni di makam keluarganya, berdekatan dengan makam Abraham, bahkan sebagian tanah di sana sudah di beli untuk keluarga Dhev, supaya keluarganya tidak berjauhan.


****


Selesai dengan mengurus makam Doni, Dhev kembali ke Bandung, Dhev meminta pada Nala untuk menjemput anak-anaknya bersama Dadang di hotel Bandung. Setibanya Dhev dari Turki, Dhev memerintahkan pada suster-suster anaknya untuk mencari hotel untuk mengajak anaknya istirahat, sementara Dhev dan Nala menemui keluarganya.


Di perjalanan, Dhev tidak akan membiarkan pengemudi yang menyeruduk mobil Doni itu lepas. Dhev akan memastikan pemuda yang mengendarai mobil dengan keadaan mabuk itu mendekam di penjara selamanya.


Dhev merasa sakit telah kehilangan tangan kanannya dan juga adik iparnya.


Bersambung.


Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya.


Terimakasih sudah membaca...