DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Gerebek


Nala mencoba membuka pintu mobil belakang dan Dhev menguncinya dari dalam.


"Di depan, aku bukan sopir mu!" kata Dhev dan Nala pun mengiyakannya, Nala membuka pintu tersebut dan mulai duduk di bangku depan.


Bertepatan dengan Amira yang baru saja pulang, wanita tua itu melihat Dhev dan Nala keluar berdua saja.


"Mau kemana mereka?" tanya Amira pada dirinya sendiri.


"Baguslah, semoga lama-kelamaan Dhev akan menyadari perasaannya untuk Nala," kata Amira.


****


Di perjalanan, Dhev dan Nala sama-sama diam.


Merasa bosan membuat Nala mengeluarkan ponselnya yang berada di saku celananya.


Sesekali Dhev melirik pada Nala yang dianggapnya asik sendiri padahal Dhev sudah meluangkan waktu untuk mengantarkan Nala.


Dhev merebut ponsel itu dan melemparnya ke bangku belakang.


"Om, ih. Kok dilempar?" protes Nala seraya menatap dengan wajah cemberut pada Dhev.


"Jangan cemberut, udah jelek makin jelek tau!" kata Dhev seraya tetap fokus mengemudi.


"Om, makin hari makin nyebelin, tapi anehnya aku makin mikirin om," batin Nala, gadis itu masih menatap Dhev membuat Dhev merasa aneh ditatap seperti itu.


"Kenapa? aku ganteng?" tanya Dhev dengan pandangan tetap lurus ke depan.


Nala mengerjapkan mata saat mendengar pertanyaan itu.


Tidak lama kemudian, keduanya sudah sampai di minimarket 24 jam.


"Turun!" kata Dhev.


"Lupa bawa uang belanja," kata Nala yang masih duduk di bangkunya.


"Jangan lupa kamu pergi sama siapa!" kata Dhev, setelah itu Dhev turun dari mobil diikuti oleh Nala.


Dhev membukakan pintu minimarket dan Nala segera masuk lalu mengambil keranjang belanja.


"Jangan lama-lama kata Dhev!"


Nala menganggukkan kepala.


Nala segera mencari apa yang dibutuhkan begitu juga dengan Dhev yang mencari aneka camilan.


Tidak berlama-lama, sekarang keduanya sudah berdiri di kasir.


"Terimakasih," kata mbak-mbak kasir seraya menangkupkan dua telapak tangannya di dada.


Setelah mendapatkan apa yang dicari, sekarang Dhev membawa Nala ke rumah lamanya untuk mengambil foto-foto Ana yang masih terpajang, berniat untuk menyimpannya di kamar khusus. Dhev yang sedang mengambil foto yang masih tergantung itu melihat Nala masih diam saja di ruang tengah, memperhatikan Dhev.


"Jangan diam aja," kata Dhev seraya melihat Nala.


"Takut pegang barang itu, takut kena marah sama om!" kata Nala seraya berjalan kebelakang, gadis itu teringat dengan soal sepeda yang mampu membuat Dhev sangat murka, dan rupanya gadis itu sangat lapar, Nala berjalan ke belakang mencari dapur.


Ia segera menyalakan kompor dan memasak mienya.


"Astaga, suruh bantuin malah makan!" kata Dhev yang mengikuti Nala ke belakang.


Nala hanya tersenyum seraya memasak mie nya.


"Makan dulu, Om. Baru kerja," kata Nala.


"Pantesan aja baik ngajak belanja segala, ternyata ada maunya," kata Nala dalam hati.


"Sekalian buat om satu," kata Dhev yang kemudian pergi meninggalkan Nala di dapur.


Dhev kembali mengumpulkan foto-foto Ana yang masih terpajang. Kemudian Dhev mengambil foto-foto Kenzo dan dirinya di bagasi mobil.


"Maaf, Ana. Aku tidak bermaksud untuk melupakan mu, tapi aku ingin menjadi lebih baik untuk Ken dan diriku sendiri, Aku akan menyimpan rapih semua kenangan kita di hati yang terdalam," batin Dhev.


Dan dari kejauhan, Amira bersama Dadang yang mengikuti Dhev itu memiliki banyak pertanyaan.


"Untuk apa mereka malam-malam begini ke rumah kosong?" tanya Amira seraya terus memperhatikan dari luar rumah lama Dhev.


"Maaf, Nyah. Bukannya saya berpikiran jelek tentang Tuan, tapi...," Dadang menggantung ujung kalimatnya, tidak berani mengatakannya dengan terus terang.


"Kalau begitu kita laporkan saja sama pak rt, biar mereka digerebek!" kata Amira dengan sangat antusias.


"Tapi, Nyah. Apa nanti Tuan tidak malu, kalau mereka dinikahkan nanti bagaimana?" tanya Dadang yang merasa sangat aneh dengan pemikiran Amira.


Dadang menggelengkan kepala merasa majikannya itu sudah mulai sedikit tidak waras dengan caranya.


"Iya kalau kedapatan mereka lagi berbuat yang aneh-aneh, kalau enggak kan nanti kita malu sendiri, Nyah." Dadang kembali mengingatkan.


"Gini aja, kita liat mereka berdua lagi ngapain, nanti kamu matikan listriknya, supaya gelap, siapa tau mereka khilaf!"


"Astaga," jawab Dadang seraya mengusap dadanya.


Dadang baru menyadari kalau ternyata Amira dapat berpikiran yang seperti itu demi menyatukan anaknya dengan wanita pilihannya.


"Sudah, lakukan saja! Ini semua demi Dhev si gede gengsi, kalau kita enggak bertindak, saya kasian sama Nala yang seolah digantung sama Dhev!"


"Baik, Nyah," jawab Dadang.


Dadang mulai turun dan keluar dari persembunyiannya.


Sementara itu, Nala yang sudah menyiapkan mie untuk Dhev segera memanggilnya.


"Om." Nala memanggil Dhev dan memberitahu kalau mienya sudah siap, Dhev yang sedang memindahkan barang Ana ke kamar yang sudah disiapkan sebelumnya itu pun keluar dari kamar dan mengikuti Nala dari belakang.


Sekarang, keduanya sudah duduk di meja makan, menikmati mie selagi masih hangat.


"Om." Nala kembali memanggil Dhev.


Diam... Dhev hanya diam, baginya kalau mau bicara langsung saja.


"Ooom." Nala kembali memanggil.


"Apa," jawab Dhev seraya melihat Nala.


"Dipanggil kok diem aja," protes Nala seraya mengunyah.


"Mau ngomong apa, tinggal ngomong aja ribet," jawab Dhev dan pria itu secepat kilat menghabiskan mienya dan sekarang sedang meminum kuah mie tersebut.


"Ya ampun," batin Nala dalam hati.


"Ada ya cowok modelan gini." Nala masih membatin.


Nala menarik nafas dalam, mencoba memahami pria yang ada didepannya.


"Kenapa om beresin semua foto bundanya Ken?"


"Karena aku ingin melihat ke depan," jawab Dhev seraya bersedekap dada, menyenderkan punggungnya di kursi makan, menatap Nala membuat Nala merinding disko.


"Oh," jawab Nala singkat, ia kembali menyantap Mie nya.


Selesai dengan makan malam, Nala membawa mangkuk kotor itu ke wastafel dan di sana Nala di kejutkan oleh cicak yang tiba-tiba jatuh tepat masuk ke dalam mangkuk membuat sisa kuah itu mengenai mata Nala.


Nala menjatuhkan kasar begitu saja.


"Aduh," Nala merasa perih di matanya ingin membilas tetapi ada cicak, Nala tidak berani ke wastafel, Nala yang memejamkan mata itu meraba-raba mencari kamar mandi.


Dan Dhev yang mendengar suara mangkuk pecah itu kembali ke dapur dan melihat Nala.


"Kamu kenapa?" tanya Dhev seraya meraih tangan Nala yang masih meraba di dinding.


"Air, Om. Mata Nala perih."


Dhev segera membawa Nala ke kamar mandi dan menyiram air dari keran ke wajah Nala.


"Gimana, masih perih?" tanya Dhev seraya mematikan keran air.


Nala menganggukkan kepala, Dhev mengusap mata Nala, meminta Nala untuk mencoba membuka mata.


Dan saat Nala membuka mata, listrik di rumah itu padam.


Dhev pun mengeluarkan ponsel dari saku, menyalakan senter dari ponselnya.


Di tengah kegelapan, Dhev yang melihat wajah basah Nala itu teringat dengan nafas buatan di tepi kolam tempo hari lalu, membuat Dhev ingin mengulanginya dan benar saja, Dhev memajukan wajahnya dan mengecup bibir Nala.


Nala membulatkan mata, hatinya seolah berhenti berdetak, tidak tau mengapa dirinya tidak dapat menolak itu.


Bersambung.


Wah digerebek enggak ini?


Jangan lupa like dan komen. Difavoritkan juga, ya. Terimakasih^^