DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Fiting Baju Pernikahan


Fai yang berderai air mata, masih sesenggukan itu berlari melewati semua orang yang duduk di ruang tengah, Fai menaiki tangga dan sekarang mengunci dirinya di kamar.


Melihat itu, Alif pun ikut merasakan kesedihan dan sakit hati Fai.


Alif hanya bisa menundukkan kepala dan setelah itu Arnold mengajaknya untuk pulang.


****


Di kamar, semua menjadi berantakan karena Fai melempar benda apapun yang ada di dekatnya. Puncaknya, Fai melemparkan bingkai foto dirinya bersama Alif ke cermin meja riasnya.


Suara berisik itu mengundang kekhawatiran bagi yang mendengar, begitu juga dengan Alif yang baru saja membuka pintu mobil, ia menatap ke kamar Fai yang sekarang sudah menjadi gelap.


Fai mematikan lampunya.


"Fai!" seru Nala dari pintu, ia takut kamu anaknya akan melakukan hal tak terduga, tapi Fai bukanlah gadis yang berpikiran pendek.


"Fai, kamu lagi ngapain? Buka pintunya!" perintah Dhev dengan suara kerasnya dan itu membuat Fai merasa takut karena ini adalah pertama kali baginya mengamuk.


"Pelan-pelan! Anaknya lagi sedih loh!" lirih Nala dan Dhev hanya mendengus.


Fai pun membukakan pintu.


Nala dan semua orang bernafas lega karena Fai baik-baik saja, tetapi kamarnya itu membuat siapa yang melihat menggelengkan kepala.


Nala pun memeluknya.


"Sabar, cuma itu yang bisa ibu katakan! Ibu bisa apa lagi? Kalau membeli barang di toko ibu bisa, tapi kalau soal ini, hati kamu lah yang harus dan mau menghadapi kenyataannya!" kata Nala seraya mengusap punggung anaknya.


****


Sesampainya di rumah, Alif dan Arnold melihat manusia yang hidupnya sampai sekarang belum berguna itu sedang duduk di depan pagar. Manusia itu adalah Andra.


Setelah melihat kedatangan Alif dan Arnold, pria lusuh itu pun bangun dari duduknya.


Lalu, seorang satpam membukakan pagar untuk Arnold.


"Ngapain dia ke sini?" tanya Arnold pada Alif.


"Biar Alif temuin dulu," kata Alif seraya membuka sabuk pengamannya lalu membuka pintu mobil.


Baru saja turun dan menutup pintu Andra sudah bersujud di kaki Alif.


"Bapak! Apa-apaan sih! Bangun!" kata Alif seraya menggeser kakinya.


"Alif, bapak lapar, enggak ada ibu kamu, bapak enggak ada yang ngurus!" ucap Andra dengan memelas.


Sementara itu, Arnold merasa kesal melihat seorang pria yang terlihat masih sehat, waras dan bugar meminta untuk selalu di urus.


"Makanya, bapak cari kerja! Udah Alif bilang dari dulu!" kata Alif yang tak mau memanjakan pria itu.


"Kerja apa, Lif? Enggak ada orang yang mau memperkerjakan bapak!" Andra mendongakkan kepala menatap Alif yang juga menatapnya.


"Kan bisa nyuci motor, nyuci mobil! Kerjaan itu banyak kalau bapak mau!"


Setelah mengatakan itu, Alif pun pergi meninggalkan Andra. Tetapi, Andra menahan lengan Alif.


"Boleh bapak kerja di tempat kamu?"


"Boleh kalau bapak enggak berulah! Kalau bikin ulah dan pusing, Alif langsung yang pecat bapak!"


Setelah itu, Alif melanjutkan langkah kakinya dan kembali tertahan saat mendengar suara perut yang kelaparan.


Alif melirik pada Andra yang mengusap perutnya. Alif terkekeh dan setelah itu ia pergi meninggalkan Andra masuk.


Benar saja, setelah beberapa menit menunggu, sekarang Alif keluar dengan membawa sepiring makan malam untuk Andra.


"Cuma ada ini! Soalnya di rumah papah enggak masak, Alif juga makan di rumah pakde tadi!" kata Alif seraya menyodorkan nasi putih beserta nugget ada saus sambal dan mayones.


Andra sangat berterimakasih karena Alif masih mau berbaik hati dengan memberikannya makan.


Andra pun menjadi teringat dengan masa lalunya saat memukuli Alif kecil, saat ia tidak mau sama sekali membantu Mae merawat Alif.


Andra menangis sementara itu Alif hanya memperhatikan.


Keduanya duduk di kursi teras dan Arnold merasa bangga dengan kebesaran hati yang Alif miliki.


Setelah itu, Andra pun pamit dan Alif pun mengiyakan, Alif membawa kembali piring bekas bapaknya makan, meletakkannya di wastafel lalu pergi ke kamar, di kamar, Alif kembali memikirkan Fai.


Bertanya pada foto Fai di layar ponselnya, apa yang sedang ia lakukan sekarang dan Alif tidak lagi berani mengirim pesan pada Fai, ia takut akan membuat Fai semakin sulit melupakannya.


"Fai! Siapa bilang gue enggak sakit, gue juga sakit, tapi gue harus kuat biar lo kuat, Fai! Gue yakin lama-lama kita akan terbiasa menjadi saudara, percayalah, gue cuma terlihat kuat dan seolah menerima, padahal hati ini sakit, Fai! Sakit!" kata Alif.


Dan Arnold yang menguping di balik pintu hanya bisa menarik nafas, ingin membantu tapi bagaimana caranya.


****


Beberapa hari berlalu dan perasaan Fai juga Alif masih saja sama, tetapi keduanya berusaha untuk saling menutupi perasaan yang sesungguhnya.


Seperti sekarang ini, Fai, Alif dan Fakhri sedang pergi bersama menemani Kenzo dan Adila yang sedang fiting baju pernikahan.


Di butik itu, keluarga Ken harus melihat drama saat tiba-tiba Bila datang dan melabrak seorang gadis yang juga sedang fiting baju, gadis itu terlihat seorang diri sedangkan Bila diikuti oleh Kenji yang seolah menahan langkah kaki Bila.


"Jadi karena perempuan ini lo pergi dari gue? Lo nyingkirin gue begitu aja setelah semua yang gue lakuin buat lo? Iya, hah?" bentak Bila pada Kenji yang menarik lengannya.


Sementara itu si gadis terlihat acuh tak acuh, ia kembali fokus ke gaunnya yang terlihat indah di pandangan matanya.


"Lakuin apa? Jangan lupa ya, kita enggak ada hubungan apapun! Itu karena lonya aja murahan, mau tidur sana-sini!" bentak Kenji.


Fai, Alif dan Fakhri sedang duduk di sofa panjang yang tersedia di butik seraya memperhatikan orang yang sedang bertengkar bahkan saling membuka aib.


Begitu juga dengan Adila dan Kenzo, Adila yang terlihat menawan dengan gaunnya itu menatap Ken yang sedang ikut menonton drama.


Adila ingin mengetahui perasaan Ken pada Bila, apakah Kenzo masih perduli padanya atau tidak dan terlihat kalau Kenzo acuh padanya.


"Adila, kamu cantik sekali, sangat cocok menjadi pengantin ku! Terutama, kamu cantik dari hati!" kata Kenzo dan semua orang yang tadinya memperhatikan Kenji dan Bila itu beralih menatap pada Kenzo dan Adila yang terlihat malu-malu meong.


Tersadar, Bila melihat penampilan Ken sudah kembali seperti dulu, bahkan sekarang Ken sedang fiting baju di butik mahal.


Bila merasa malu karena baru saja pertengkarannya itu dilihat oleh mantan kekasihnya.


Bila pun memilih untuk pergi dari butik itu dengan rasa kesal telah dipermainkan oleh Kenji.


Sementara, Kenji, ia kembali pada gadisnya dan si gadis itu mengatakan kalau Kenji harus mengurus Bila sampai selesai, ia tidak mau pesta pernikahannya diganggu olehnya.


Di luar butik, Bila yang sedang menunggu taksi itu merasa menyesal karena telah meninggalkan Kenzo yang bodoh dan mau melakukan apapun untuknya.


"Kenapa gue enggak bisa sabar buat lulihin hati keluarga Ken!" gerutunya dalam hati.


Dan sampai rombongan Kenzo keluar dari butik itu, Bila masih berdiri menunggu taksi, sementara Ken beserta keluarganya sudah masuk ke mobil dan melewati Bila begitu saja.


"Aaaaaaaaa!" teriak Bila setelah melihat mobil Ken yang sudah kembali.


Bersambung.


Like dan komen ya All. Dukungan kalian adalah semangat ku 🤗🤗