
Sesampainya di kantor, Fai langsung menuju ke ruangan Arnold.
Arnold pun sedikit bertanya-tanya dengan kedatangan Fai.
"Paman," lirih Fai yang masih berdiri di pintu, Arnold menjawab sapaan itu dan Fai pun masuk ke ruangan Arnold.
"Ada apa, Fai?" tanya Arnold setelah Fai duduk di kursi depannya.
"Paman, boleh enggak Fai minta nomor ponsel Alif," tanya Fai, ia pun tersenyum karena Arnold menatapnya penuh curiga.
"Buat apa?" tanya Arnold seraya membuka ponselnya.
"Ya buat berteman dong, paman," jawab Fai.
"Yakin?"
"Iya kan awalnya kita berteman dulu, cocok ya lanjut, gitu paman. Ish gitu aja enggak ngerti!"
Arnold pun terkekeh dengan tingkah Fai, ia memberikan nomor ponsel Alif padanya, layaknya orang tua pada umumnya, Arnold hanya menganggap cinta monyet pada anak-anak seusia Fai dan Alif.
"Patah hati jangan nangis ya, Fai!" ledek Arnold seraya kembali menyimpan ponselnya.
"Tenang, Fai kan kuat! Lagian paman kok doainnya patah hati!" protes Fai.
"Makasih, paman," kata Fai yang kemudian bangun dari duduknya, gadis ceria itu tidak lupa untuk menemui ayahnya di ruangannya.
Fai yang langsung membuka pintu ruangan Dhev itu hanya menyapa.
"Ayah!" sapa Fai, setelah itu Fai pun segera kembali nutup pintu tersebut lalu pergi untuk kuliah.
Dhev hanya menggelengkan kepala dan ada sedikit pertanyaan untuk Fai.
"Buat apa dia ke sini? Tapi enggak nemuin ayahnya!"
Setelah itu, Dhev melanjutkan pekerjaannya.
****
Di kampus, Adila sedang menunggu Fai, ia duduk di sudut kantin dengan ditemani jus jeruk dan cimol kesukaannya.
Adila masih belum bisa melupakan tatapan Kenzo semalam. Bahkan aroma parfum Kenzo seolah masih menempel di indra penciumannya.
Teringat dengan Kenzo yang semalam berada tepat di belakangnya membuat Adila kembali merasa bergetar.
"Astaga! Ada apa sama gue!" batin Adila, gadis itu pun memasukkan cimol ke dalam mulutnya dan karena setengah melamun Adila sampai tersedak bumbu cimol itu.
Adila terbatuk dan segera mengambil jus lalu meminumnya.
"Astaga, gara-gara abang Ken!" batin Adila.
Tidak lama kemudian datang Fai yang menepuk bahu Adila dari belakang membuat Adila sedikit menumpahkan jus yang sedang diminumnya.
"Astaga, enggak ade enggak abang sama-sama bikin ribet!" gerutu Adila.
"Kenapa lo?" tanya Fai yang kemudian duduk di samping Adila.
"Dateng tuh nyapa dengan baik, bukan ngagetin!" protes Adila dan Fai hanya membalasnya dengan senyum.
Setelah itu, Fai memesan nasi goreng dan mie goreng.
"Fai, lo makan banyak amat, udah nasi segala mie goreng juga!"
"Gue lagi jatuh hati, Dil. jadi butuh tenaga buat tetap tersenyum!" jawab Fai dan Adila pun tersenyum, menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
"Kenapa lo ngetawain gue?" Fai menyikut lengan Adila.
"Cie yang baru ngerasain jatuh hati, butuh tenaga ekstra nih!" ledek Adila.
Mendengar itu Fai hanya tersenyum.
"Emang lo jatuh hati sama siapa?" tanya Adila yang kembali melahap cimolnya.
"Ada deh!" Fai masih ingin merahasiakannya dari sahabatnya.
****
Sepulang bekerja, Mae melihat kamarnya dan kamar Alif berantakan. Mae tau itu ulah siapa.
Dan saat Mae sedang merapikan itu datang Andra yang berdiri di pintu kamar Mae.
"Jangan lupa bayar kopi sama rokok gue!" kata Andra yang sedang memperhatikan Mae.
"Kenapa berantakan gini, Mas? Kamu nyari uang?"
"Udah tau nanya!" jawab Andra seraya pergi dari tempatnya berdiri.
"Enggak ada, uangnya udah buat bayar sewa rumah!"
Andra pun tak menghiraukannya, ia hanya kembali ongkang-ongkang kaki di depan televisi.
****
Masih dengan kebiasaannya, Dhev harus disambut saat pulang bekerja.
Dhev merasa senang saat istrinya itu tersenyum manis padanya.
Dhev dan Nala pun berjalan beriringan ke kamar, sesampainya di kamar, Nala menyampaikan keinginan anaknya yang meminta kendaraan pribadi.
"Mas, Fai kembali merengek, minta di belikan kendaraan!" ucap Nala seraya membuka dasi Dhev.
Dhev yang berdiri tepat di depannya itu menatap Nala.
"Yakin kalau anak kita enggak bakal keluyuran? Aku takut dia jadi main terus!"
"Ya kalau dia melakukan kesalahan kita sita aja! Salahnya udah di kasih kepercayaan malah disalah gunakan!" usul Nala dan Dhev pun mempertimbangkan itu.
Dhev segera melepaskan semua yang melekat di tubuhnya dan seperti biasa pria manja itu meminta Nala untuk menggosok punggungnya.
****
Singkat cerita, sekarang jam makan malam telah tiba, semua orang pun berkumpul, duduk di kursi masing-masing.
Dhev yang melihat Fai itu teringat dengan permintaannya.
"Fai, kamu mau mobil?" tanya Dhev seraya menatap Fai dan Fai pun melihat ke arah ayahnya.
Fai berpikir, kalau dirinya mempunyai kendaraan nanti tidak akan memiliki alasan untuk meminta di antar jemput oleh Alif.
Fai pun menggelengkan kepala.
"Enggak, Yah. Kan ada Mang Dadang, Fai bisa diantar Mang Dadang kemana-mana." Fai tersenyum dan Nala pun menggelengkan kepala.
"Dasar labil!" ucap Kenzo yang duduk di sebelahnya. Kenzo tau betul, setelah lulus SMA Fai sering kali merengek untuk dibelikan mobil atau motor dan entah kenapa disaat ayahnya menanyakan itu Fai sudah berubah pikiran.
Dan Fakhri, pria itu yang terbiasa hidup dengan keluarga Pakdenya tidak merasa iri melihat kebersamaan mereka, justru Fakhri merasa beruntung masih ada keluarga yang mengurusnya.
Sementara Dhev menatap Nala dan Nala pun menatap Dhev, baru saja ia berhasil membujuk suaminya tetapi anaknya sudah berubah pikiran.
"Ayo, dilanjutkan makannya!" kata Nala pada anak-anak dan keponakannya.
****
Selesai dengan makan malam, Kenzo segera kembali ke kamar, ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Bila yang sudah beberapa hari ini mengabaikannya.
"Bila. Aku harus apa? Biar kamu enggak ngambek lagi?" tanya Ken dan Bila hanya tersenyum melihat itu, ia sengaja hanya membaca pesan dari Ken.
"Kamu tau apa yang harus kamu lakukan!" ucapnya pada layar ponselnya.
Setelah itu, Bila kembali menonaktifkan nomor ponselnya. Bila sendiri sedang bersiap untuk hang out dengan teman-temannya.
Bila keluar dari kosannya dengan penampilan yang seksi, seperti biasa.
Malam ini, Bila melepaskan beban pikirannya dengan cara berjoget ria mengikuti musik yang menggema di ruangan kelab itu.
"Gue yakin kalau lo akan milih gue! Harus itu!" kata Bila yang sudah mulai meracau karena mabuk.
Bila yang sudah merasa pusing sekarang memilih untuk duduk di sudut ruangan. Seorang pria muda menghampirinya.
Pria itu terpesona oleh kecantikan dan kemontokan Bila.
"Sendirian aja?" tanya pria itu seraya duduk di sebelah Bila.
"Enggak, gue sama temen-temen!" jawab Bila seraya menunjuk teman-temannya yang masih sibuk berjoget.
"Boleh gue temenin di sini?" tanya pria itu dan Bila memperhatikan penampilannya dari ujung kaki ke ujung kepala. Terlihat lumayan dan Bila pun tak keberatan.
Bersambung.
Like dan komen ya all 🤗.
Difavoritkan juga, terimakasih sudah membaca.