
"Sudahlah, jangan kita usik lagi Dhev! Kita bisa apa kalau memang dia jatuh cinta lagi, walau kita enggak rela tapi itu sudah jadi pilihan hatinya!" kata Nana yang menasehati Mika. Mika sendiri sedang bekerja di kamarnya, menghitung pengelolaan uang butik.
"Butik itu memang bukan milik kita, Dhev sudah berbaik hati dengan tidak mengambil butik itu! Kalau sampai dia mengambil butik itu, kita enggak punya apa-apa lagi, sudah lah, kamu minta maaf saja sana!" kata Nana yang duduk di ranjang Mika.
"Awalnya mamah dukung Mika, kenapa sekarang jadi berbalik?" Mika menatap Nana dengan wajah datarnya.
"Bukan membela Dhev, tapi sudahlah, jangan mengusik dia! Kita itu bukan apa-apa di matanya, sangat mudah bagi dia menyingkirkan kita, Mika!"
Setelah mengatakan itu, Nana keluar dari kamar anaknya.
Mika mendengus sebal, menancapkan pulpen yang di genggamnya ke meja.
****
Di apartemen Jimin, pria itu memanggil wanita bayaran. Ririn yang membukakan pintu.
"Siapa lo?" tanya Ririn yang masih berdiri di pintu.
"Gue diundang sama pemilik apartemen ini, lo pasti babu ya di sini?" jawabnya seraya memperhatikan penampilan Ririn dari atas sampai bawah.
Belum sempat Ririn menjawab sudah datang Jimin di belakangnya.
"Ayo masuk!" kata Jimin seraya mempersilahkan wanita tersebut untuk masuk.
Ririn pun memberikan jalan.
"Jim, lo mau ngapain?" tanya Ririn saat melihat keduanya masuk ke dalam kamar.
"Terserah gue mau ngapain!" jawab Jimin seraya menarik legan wanita itu untuk mengikutinya.
"Astaga, apa mereka akan melakukan itu?" tanya Ririn dalam hati.
Ririn merasa khawatir, takut mertuanya yang baru saja memberi kabar akan datang itu melihat perbuatan Jimin lalu mempertanyakan pernikahan keduanya.
Ririn mencoba mengetuk pintu kamar Jimin, belum sempat mengetuk pintu itu sudah terdengar suara ehem-ehem dari dalam sana.
Ririn pun menutup telinganya supaya tak mendengar suara itu.
Ririn memilih kembali ke kamar.
"Gilaaaa!" teriak Ririn di kamar.
"Astaga, semoga gue enggak ikutan gila!"
****
Keesokan paginya, Nala mengajak Dhev untuk jalan-jalan pagi di area komplek.
Dhev pun mengiyakan tidak tertinggal dengan Ken yang ikut.
Nala melihat toko kue tradisional dan mengajak Dhev untuk ke sana, membeli beberapa aneka kue.
"Sayang, kamu mau yang mana?" tanya Nala dan Dhev yang tak terbiasa dengan jajanan itu hanya melihat saja.
"Kok diam? Kalau kamu mau yang mana?" tanya Nala pada Kenzo.
Kenzo melihat kue yang berlapis dengan warna menarik, merah, pink dan juga hijau.
"Itu namanya kue lapis, enak, manis dan gurih!" kata Nala seraya mengambil kue itu dan membuka bungkusnya.
Nala menyuapkan kue itu ke mulut Ken dan Dhev secara bergantian.
Awalnya Dhev menolak, tetapi setelah melihat Kenzo meminta kue itu lagi, Dhev yakin kalau kue itu enak dan Dhev pun mulai sedikit mencicipinya.
"Gimana? Enak, kan?" tanya Nala seraya tersenyum.
"Lagian makanan tradisional kaya gini enggak bikin sakit perut! Percaya deh!" kata Nala.
"Iya udah, dari pada bayinya ngiler, ambil aja apa yang kamu mau!" kata Dhev.
Nala pun mulai memilih kue mana saja yang diinginkan. Tidak lupa untuk membelikan para pekerja di rumah.
Selesai dengan belanjanya, Nala, Dhev dan Ken keluar dari toko tersebut
Dan saat akan menyebrang, Dhev melihat motor yang melintas seperti disengajakan ke arahnya.
Dhev menarik lengan Nala yang berada di depannya. Beruntung, Dhev melihat itu sehingga dapat menyelamatkan istrinya yang sedang hamil.
Tetapi, karena pergerakan yang tiba-tiba itu membuat perut Nala sedikit kram.
Dhev pun menghubungi Dadang, meminta untuk segera menjemput di depan toko.
Dhev melihat ada CCTV di area sekitar, tentu saja, Dhev tidak akan tinggal diam.
Dhev akan mencari siapa yang sengaja akan melukai istrinya.
Setibanya Dadang di depan toko, Dhev segera membopong Nala dan membawa Ken masuk ke mobil.
"Mas, aku enggak papa, kok. Aku cuma kaget aja," kata Nala seraya menatap Dhev.
Sementara Dhev, pria itu meminta pada Dadang untuk lebih cepat lagi ke rumah sakit dan karena insiden itu membuat Ken tidak berangkat ke sekolah.
Bersyukur, tidak ada hal buruk yang terjadi membuat Dhev dapat bernafas lega.
Tetapi, Dhev belum tenang sebelum si pengendara motor itu tertangkap.
****
Di rumah si pengendara.
"Mika, gue gagal!" kata si pengendara motor yang ternyata adalah teman Mika, dia seorang wanita yang tomboi dan sekarang Mika beserta temannya itu segera menggantikan nopol motor tersebut.
"Gue yakin, Dhev pasti cari lo! Lo harus pergi dari Jakarta!" kata Mika yang sedang memperhatikan temannya itu mengganti nomor plat.
"Gila lo, lo ngusir gue! Lagian aman lah udah ganti nomor juga! Entar motor gue modif biar enggak ketahuan!" jawabnya.
"Serius, mending lo kabur aja! Dia bukan orang sembarangan!" kata Mika memperingatkan.
Padahal, Mika takut kalau temannya itu tertangkap dan nama Mika ikut terbawa, bisa tamat riwayat Mika.
"Maksud lo bukan orang sembarangan?" tanya teman Mika dengan geram.
"Denis, lo tau kan kalau gue udah lama suka sama dia, tapi dia enggak balas rasa suka gue! Lo bilang bakal lakuin apa aja buat gue! Sekarang buktiin dong!" kata Mika.
"Eh dodol! Gue emang sahabat lo, mau bantuin lo, tapi cuma buat neror doang lo bilang tadi! Jangan lo minta gue buat nyingkirin bininya, ya!" sergah Denis seraya mengacungkan kunci inggris ke arah wajah Mika.
"Enggak setia kawan lo!" kata Mika yang kemudian pergi dari rumah Denis.
"Denis, ada apa? Kenapa ribut-ribut?" tanya ibu Denis yang terlihat sudah tua dan sakit-sakitan.
Denis pun menjadi kembali berpikir jernih, kalau dirinya membantu Mika mencari masalah, lalu bagaimana dengan ibunya, siapa yang merawatnya.
Denis pun merasa kesal pada Mika.
"Sial! Harus apa gue sekarang!" kata Denis.
****
Selesai mengurus istrinya, sekarang, Dhev sudah duduk di kursi kebesarannya, memanggil Doni dan memberikan salinan CCTV kejadian pagi tadi.
"Urus dia, jangan biarkan lolos, dia hampir membuat istriku celaka!" kata Dhev dan Doni pun mengambil rekaman tersebut.
Baru saja Doni keluar dari ruangan Dhev sudah datang Serena yang mengatakan kalau di bawah ada seorang perempuan yang memaksa untuk masuk.
"Siapa dia?" tanya Doni, setelah itu, Doni dan Serena pun keluar untuk menemui gadis tersebut.
Gadis itu berada di pos satpam.
"Siapa kamu?" tanya Doni seraya berjalan mendekat ke arahnya.
"Kayanya bukan cowok yang tadi, lain dah, terus dia siapa? Gue maunya ketemu langsung sama orang yang tadi pagi, kakak ipar Mika!" batin Gadis tersebut yang tak lain adalah Denis.
"Saya mau bertemu dengan kakak ipar Mika, ada hal penting," kata Denis.
"Perlu apa, biar nanti ku sampaikan!" kata Doni seraya memperhatikan Denis.
"Ada apa ini?" tanya Dhev yang ternyata ikut turun ke bawah saat mendengar ada yang mencari dan memaksa untuk bertemu dengan Dhev.
Dhev sendiri melihat motor yang tadi pagi hampir mencelakai istrinya.
"Siapa pemilik motor itu?" tanya Dhev setelah melihat motor tersebut.
Bersambung.
Kali ini gimana nasib Mika, ya.
Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya. Terimakasih^^