DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Nikah Kontrak?


"Maaf," lirih Doni di telinga Nindy.


Nindy hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, Doni benar pergi untuk bekerja.


Sesampainya di kantor, Dhev tiba lebih dulu, pria itu langsung mencari keberadaan Doni, Dhev ke ruangan Doni dan ternyata pria yang dicarinya itu berada dibelakangnya.


"Iya, Tuan. Saya," sahut Doni yang merasa tidak enak karena telat.


Seandainya pernikahan Doni adalah pernikahan yang sebagaimana mestinya, mungkin Dhev sudah meledek Doni habis-habisan. Tetapi, Dhev yakin dan sangat yakin kalau Dhoni bahkan tidak menyentuh adiknya apa lagi untuk berbuat itu.


"Maaf, Saya terlambat," kata Doni yang masih bersikap seperti biasanya, berbicara dengan menundukkan kepala.


Pria berambut klimis itu kemudian mengikuti Dhev sesuai perintahnya.


"Ikut saya," kata Dhev yang membawa Doni ke ruangannya.


Di sana keduanya membahas pekerjaan, seperti biasa, Dhev meminta Doni untuk memperkuat sistem keamanan.


"Siap," jawab Doni yang berdiri di depan Dhev.


Setelah itu, Doni memberikan jadwal dan ternyata hari ini Dhev ada pekerjaan keluar kota.


Mendengar itu, Dhev mengirim pesan untuk istri kalau nanti tidak usah menunggu karena Dhev akan telat pulang.


Baru meletakkan ponselnya, Dhev kembali mengambil ponsel itu karena Nala sudah membalas pesan itu.


"Aku ada perlu sebentar, boleh. Sahabat aku membutuhkan ku," isi pesan Nala.


Dhev menatap lama layar ponselnya. Merasa sedikit tidak rela kalau Nala bertemu dengan Ririn.


Tetapi, Kembali teringat dengan Jimin, dirinya saja bisa menerima Jimin sebagai sahabat kenapa sekarang melarang Nala.


"Ah, sudah lah!" batin Dhev yang kemudian pria itu mengiyakan permintaan istrinya.


****


Sebelum pergi menemui Nala di tempat yang sudah dijanjikan, Ririn menemui Jimin lebih dulu yang berada di depan kosnya.


Jimin menyerahkan selembar kertas perjanjian yang sudah ditandatangani oleh pihaknya dan perjanjian itu akan disahkan setelah Ririn menandatangani.


Setelah membaca dengan baik, Ririn terkekeh, Ririn menganggap dirinya akan menjadi pembantu di apartemen Jimin.


"Ok, jadi... pekerjaan rumah semua tanggung jawab gue?" tanya Ririn.


"Ya iyalah, masa makan gaji buta lo!" jawab Jimin yang masih berada di atas motornya.


"Gini, sebenernya yang lo butuhin itu asisten rumah tangga! Bukan istri!"


"Udah, lo mau enggak? Lumayan kan dari pada lo luntang-lantung nyari kerjaan, enak kerja sama gue!"


Ririn seperti memikirkan tawaran itu, tertulis, Ririn harus menjadi istri Jimin selama lima tahun dengan bayaran 30 juta perbulan.


"Ok, gue setuju!" jawab Ririn.


"Kapan lagi dapat kerjaan santai bayaran gede!" batin Ririn, gadis itu menandatangani perjanjian itu.


Tidak ada denda tertulis apabila Ririn melanggar atau berhenti sebelum waktunya membuat Ririn merasa sedikit lega.


"Ok!" kata Jimin setelah mendapat tanda tangan.


"Siapin wali nikah! Mungkin minggu ini kita menikah!" kata Jimin, setelah mengatakan itu, Jimin pergi ke kantornya untuk bekerja.


Memang, kantor Jimin tidak sebesar kantor Dhev, Jimin memulai kariernya dari nol karena tidak ingin bergantung pada orang tuanya.


Jimin sendiri memiliki perusahaan kertas yang ia kelola dan orang tuanya memiliki perkebunan teh yang sangat luas, bukan hanya perkebunan teh, tetapi, termasuk perkebunan kopi dan coklat.


****


Selesai dengan itu, Ririn mencoba menghubungi papahnya tetapi nomor itu sudah tidak dapat dihubungi.


Ririn sendiri tidak tau harus mencari kemana dan Ririn ingin mencoba mencari ke parkiran tempat papahnya bekerja.


Ririn masuk ke kamar kosnya untuk mengambil tas.


Sesampainya di parkiran yang dituju, papah Ririn memang ada di sana, sedang menghisap rokoknya seraya memarkirkan kendaraan yang datang.


"Papah," Ririn memanggilnya dari seberang jalan seraya melambaikan tangan, ingin memberi tau kalau dirinya sudah mendapatkan pekerjaan yang layak yaitu sebagai asisten pribadi orang kaya.


Tetapi, hanya kecewa yang di dapat oleh Ririn, papahnya mengabaikan sebelum mendengar kabar bahagia dari anaknya yang sudah mulai ingin menata hidupnya kembali.


Tak ditanggapi oleh papahnya, Ririn memilih untuk pergi menemui Nala.


Di kafe, Ririn tiba lebih dulu dan ternyata di kafe itu Darwin yang sedang bekerja sebagai manajer.


Darwin menyapa Ririn yang sudah duduk di sofa, di sudut ruangan tersebut.


"Gue baik," jawab Ririn dan sebenarnya Ririn sangat malu untuk bertemu dengan Darwin. Apalagi kalau teringat kejadian waktu itu di kampus saat Ririn mandi sampah.


"Kayaknya, lo enggak nyaman, biar gue pergi," kata Darwin yang kemudian pergi meninggalkan Ririn, Darwin sendiri berpapasan dengan Nala yang baru datang.


"Hai... Nala," sapa Darwin seraya mempersilahkan Nala untuk masuk.


Dari tag name yang menempel di dada Darwin membuat Nala mengerti kalau Darwin bekerja di kafe tersebut.


"Hai... Darwin, kamu di sini. Kebetulan aku mau ketemu sama Ririn, kaya reunian kita," kata Nala yang masih berdiri di tengah ruang kafe itu, di depan Darwin yang sekarang terlihat rapi.


"Gue udah ketemu, dia ada di pojok," jawab Darwin seraya menunjuk keberadaan Ririn dengan sopan pada tamunya.


"Mau gabung?" tanya Nala, gadis itu merasa tidak yakin sebenarnya, karena Nala sendiri tau betul kalau Ririn dan Darwin sudah berakhir.


"Gue harus kerja, kalian nikmati aja waktu dan menu di kafe kami," kata Darwin dan Nala menjawab 'ok'.


Setelah itu, Nala meninggalkan Darwin.


"Ok, aku ke sana dulu, ya!"


Darwin pun mempersilahkan.


Ririn melambaikan tangannya saat melihat Nala dan Nala segera menghampirinya.


"Maaf ya, kemaren aku sibuk banget jadi baru bisa ketemu sekarang," kata Nala seraya duduk di sofa.


"Enggak papa, aku ngerti kok." Ririn tersenyum, pikirannya ingin membahas soal Jimin tetapi tidak yakin kalau Nala akan menyetujuinya dengan pernikahan kontrak itu.


Dan Ririn hanya perlu memberitahu soal pernikahannya saja tidak perlu sedetail mungkin.


"Begini, aku mau nikah," kata Ririn seraya menatap Nala yang memperhatikannya.


"Wah, selamat, sama siapa dan kapan?" tanya Nala sangat antusias, menggenggam tangan Ririn yang ada di depannya.


"Sama temen suami mu!" lirih Ririn. Sebenarnya sedikit malu mengatakan itu karena pernikahan itu bukan pernikahan yang semestinya, tetapi, pernikahan di atas kertas.


"Om Jim?" tanya Nala yang sedikit kaget.


"Iya." Ririn menganggukkan kepala.


"Wah, cepet banget itu si om, gercep ya, enggak boleh ada cewek cantik nganggur kayanya!" ledek Nala diiringi dengan dengan sedikit tawa.


"Tau enggak, baru beberapa hari lalu minta nomer kamu, eh tau-tau mau nikah aja, selamat, ya!" kata Nala yang kemudian memeluk Ririn dan Ririn membalas pelukan itu.


"Makasih," jawab Ririn.


"Tapi...." Ririn menggantung ujung kalimatnya, ingin menceritakan hubungan antara keluarganya tetapi enggan dan merasa tidak perlu menceritakannya pada Nala.


"Kenapa? Ada masalah? Cerita sama aku!" kata Nala dan Ririn terdiam menatap sahabatnya itu.


Bersambung.


Jangan lupa digoyang jempol setelah membaca, like dan komen, jangan lupa difavoritkan, ya. Terimakasih sudah membaca^^