
Waktu terus berlalu, Nala dan Dhev sudah sepakat, kalau Nala tidak bisa menemani Ken, Maka Dhev yang akan menemaninya.
Awalnya Dhev menolak karena selalu ingin di dekat Nala, tetapi, Nala mengingatkan untuk kebaikan Ken juga, lagi pula, Nala tidak sendiri, ada Amira dan asistennya.
Nala meminta pada Dhev untuk tidak terlalu khawatir berlebihan sampai melupakan Ken.
Dhev pun setuju, tersadar kalau Ken juga membutuhkan orang tuanya.
Cara berpikir Nala membuat Dhev semakin kagum padanya.
Sekarang, beberapa bulan berlalu, perut Nala sudah terlihat gendut dan Ken sangat menyayangi adiknya, terlihat Ken sering mengajak ngobrol adik yang masih ada di kandungan ibu sambungnya.
Nala dan Dhev dapat melewati hari sulitnya saat Ken menjadi sangat manja di awal kehamilan Nala dan Nala terus memberikan pengertian pada Ken supaya Ken tidak merasa khawatir atau takut tidak disayang lagi.
Tentu saja, Dhev sudah mengetahui kenapa Ken bisa seperti itu, Mika yang terus menerus menghasut Ken dan memberikan rasa takut kehilangan Nala itu ketahuan karena akhir-akhir ini Mika sering diam-diam menemui Ken.
Mika yang tak pantang menyerah itu masih menunggu kesempatan untuk kembali menghancurkan kerukunan rumah tangga Dhev dan Nala.
Belum sempat melangkah lebih jauh, sekarang, Dhev sudah menunggu Mika di butiknya, duduk di sofa panjang yang tersedia.
Dhev juga memantau pesan masuk di ponsel Nala, ingin mencari tahu apa penyebab yang membuat istrinya itu sering gelisah.
Jadi, walaupun Nala tak memberitahu Dhev, Dhev sudah mengerti dan tak bisa tinggal diam, sudah cukup lama bagi Dhev membiarkan tikus kecil itu menggerogoti kebahagiaan keluarga kecilnya.
Mika yang baru saja makan siang di luar sangat terkejut saat kembali ke butik dan melihat tamu tak diundang yang sedang duduk di sofa panjang dengan memangku majalah.
"Mas, tumben ke butik, perlu baju couple sama Mbak Nala, ya?" tanya Mika berbasa-basi.
Padahal, dalam hatinya sudah merasa was-was, takut setelah melihat wajah Dhev yang sangat tak bersahabat.
"Dengar, mau sampai kapan kamu mengusik kehidupan ku? Aku dan Ana sudah selesai karena takdir yang memisahkan! Aku tidak pernah dan tidak akan pernah melihatmu sebagai pengganti Ana, berhenti atau kamu akan menyesal!" ucap Dhev penuh dengan penekanan, pria itu masih duduk santai di sofa, berbicara tanpa melihat lawannya.
Mendengarnya saja sudah membuat Mika takut, takut dengan ancaman itu yang terdengar sangat menyeramkan.
Setelah mengatakan itu, Dhev bangun dari duduk dan pergi meninggalkan Mika yang terdiam di pintu masuk butiknya.
"Ingat, butik ini juga bukan milikmu!" ucap Dhev yang masih berdiri di pintu.
Setelah mengatakan itu, Dhev benar-benar pergi dari sana.
"Sial!" umpat Mika seraya mengepalkan tangannya.
Air matanya menetes dan Mika segera menghapus air mata itu.
****
Kehidupan rumah tangga Ririn dan Jimin berjalan sesuai dengan surat kontrak yang tertulis, Ririn sudah seperti asisten rumah tangga di sana, tetapi, setiap hari melihat wanita cantik ternyata membuat Jimin susah tidur.
Jimin pun merasa kalau Ririn selalu menggoda di depan matanya.
Seperti sekarang ini, Ririn yang sedang menyetrika baju Jimin itu di perhatikan dari pintu.
"Lo sengaja ya?" tanya Jimin dari tempatnya berdiri.
"Sengaja apa?" tanya Ririn yang memang benar-benar tidak tau maksud dari Jimin.
"Kenapa lo pakai baju seksi kalau lo enggak mau gue sentuh?"
"Eh bambang! Penampilan gue biasa aja gini dibilang seksi. Pasti otak lo aja yang ngeres, ya kan!" jawab Ririn yang ternyata lupa mengangkat setrikaan itu dari baju kemeja Jimin.
Penampilan Ririn memang biasa saja, menggunakan kaos tanpa lengan dan celana pendek seatas lutut.
Sementara Jimin yang sudah lama berpuasa itu merasa kalau dirinya sudah tidak kuat lagi! Jimin memutuskan akan mengundang wanita bayaran untuk memuaskan hasratnya.
"Potong gaji! Gue beli kemeja itu mahal!" kata Jimin yang melihat punggung kemejanya sudah hampir berlubang.
"Siapin makan malam buat gue!" perintahnya seraya pergi dari ruang menyetrika.
Di meja makan, Jimin menanyakan sesuatu pada Ririn yang sedang mengambilkan nasi.
"Rin."
"Hm," jawab Ririn tanpa melihat Jimin.
"Lo kayanya capek banget!" kata Jimin yang melihat wajah pucat Ririn.
"Iya, gue emang capek! Lo banyak maunya! Suka main potong gaji seenaknya!" jawab Ririn berterus terang.
Ada rasa sedikit tak tega di hati Jimin melihat Ririn yang sudah berbulan-bulan melayaninya seperti asisten sungguhan.
"Ya udah, lo istirahat sana!" kata Jimin seraya mengambil piring berisi nasi dari piring Ririn.
"Beneran?" tanya Ririn seraya menatap Jimin.
"Iya, tunggu apa lagi, jangan sampai gue berubah pikiran!" kata Jimin dan Ririn pun segera pergi ke kamarnya.
****
Di apartemen Doni.
Nindy yang sedang duduk bersantai di kamar seraya membaca buku untuk anak yang masih didalam kandungan itu merasa bahagia saat merasakan pergerakan bayinya.
Nindy tersenyum seraya mengusap perutnya dan Doni berdiri di pintu memperhatikan Nindy.
"Lagi seneng kayanya?" kata Doni seraya ikut tersenyum.
"Iya, kamu sini deh!" kata Nindy seraya menepuk ranjangnya untuk Doni duduk.
Kedekatan keduanya sudah sangat dekat, tetapi, keduanya masih menganggap kalau rasa nyaman yang hadir itu karena pertemanan yang akrab.
Nindy mengambil tangan Doni dan meletakkannya di perutnya. Doni ikut senang saat merasakan bayi itu bergerak saat tangannya menyentuh perut Nindy.
"Dia ngerespon kamu!" ucap Nindy seraya menatap Doni yang tersenyum pada perut Nindy.
"Iya, kalau boleh tau, nanti dia panggil aku apa? Ayah, papah atau bapak?" tanya Doni dan Nindy menjawab, "Terserah kamu aja, senyamannya kamu."
"Panggil papah aja, ya," pinta Doni dan Nindy pun menganggukkan kepala.
Doni pun kembali mengajak bayi itu berinteraksi.
"Halo, anak papah lagi dibacain dongeng, ya? Suka?" tanya Doni dan seketika Nindy merasakan sesuatu di hatinya, matanya menahan air mata supaya tidak menetes.
Nindy pun tersenyum, menyembunyikan rasa haru, bahagia dan sedihnya menjadi satu dalam hati, Nindy hanya mencurahkan segenap perasaannya itu di sebuah buku diary rahasianya.
"Sudah malam, kalian tidur, ya!" kata Doni yang kemudian keluar dari kamar Nindy.
"Iya, terimakasih dan selamat malam," jawab Nindy.
Doni pun bangun dari duduknya tidak lupa menutup pintu kamar Nindy.
Setelah pintu itu tertutup, Nindy menumpahkan air matanya.
"Apa arti semua ini, kenapa aku merasa sangat nyaman dan mulai bergantung sama kamu, Don!" lirih Nindy seraya merebahkan tubuhnya.
Sementara Doni, pria itu duduk di sofa depan televisi, tetapi pikirannya selalu mengarah pada Nindy dan bayinya.
"Kenapa aku bisa menyebut kalau papah bayinya, kalau dia enggak suka gimana? Seharusnya biarkan dia menentukan!" gumam Doni, pria itu takut kalau Nindy tak menyukainya yang sudah menganggap bayi itu seperti anak kandungnya.
Doni yang selama ini mengurus Nindy dan bayinya itu sudah ikhlas dan menerima kehadiran mereka. Bahkan ada rasa rindu saat berjauhan walau keduanya belum menyadari arti hadirnya masing-masing.
Bersambung.
Jangan lupa like dan komen, ya. Terimakasih sudah membaca^^