
Selesai dengan menidurkan Ken, Nala masuk ke kamarnya, menggosok gigi dan mencuci wajahnya.
Ragu-ragu untuk kembali ke kamar Dhev.
"Aku masih belum percaya dengan pernikahan ini, apakah ini sungguhan? Apa dia benar menginginkan ku?" batin Nala yang berbicara pada dirinya sendiri di cermin.
"Tapi... Astaga. Apa yang ku pikirkan!" batin Nala, "sudah jelas Ibu mengatakan kalau kami harus melakukan kewajiban sebagai seorang suami dan istri, kamar tidak boleh terpisah," lanjut Nala, setelah itu Nala mengelap wajahnya menggunakan handuk kecil yang tersedia di kamar mandi.
Nala kembali ke kamar dan terlihat Dhev sudah tidur. Nala mendekati ranjang, di bantalnya ada selembar kertas dan Nala membacanya.
Nala menggelengkan kepala setelah mengetahui apa saja tugasnya sebagai istri Dhev.
Setelah itu, Nala memberanikan diri untuk naik ke ranjang, tidur di samping suaminya. Keduanya saling memunggungi.
****
Di rumah Arnold.
Pria itu teringat dengan ayahnya yang mengatakan kalau Arnold harus membalas dendam pada keluarga Abraham.
"Keluarga Abraham harus hancur, tidak cukup kalau hanya Nindy saja! Sepertinya sudah cukup main-main ku dengan Dhev!" geram Arnold yang sedang menatap foto almarhum ayahnya.
Sekarang, Arnold beralih menatap foto Ken. Sepertinya, akan menjadikan Ken sebagai target selanjutnya.
"Culik dia, habisi dia! Maka Dhev akan menderita melihat darah dagingnya tiada!" batin Arnold.
"Hahahaha!" Arnold tertawa, membayangkan kalau rencananya akan berhasil. Berniat akan melarikan diri ke luar negeri setelah melakukan kejahatannya membawa Ririn bersamanya.
Tanpa Arnold sadari, sebenarnya, ada yang sedang mengintainya. Dia adalah Doni yang di perintahkan untuk mencari tau di mana alamat rumah Arnold yang baru.
****
"Untung otak ku tetap waras dengan segudang pekerjaan yang bos beri!" kata Doni yang baru saja mendapatkan alamat rumah Arnold. Pria itu melepaskan kacamatanya, tidak lupa mematikan komputernya lalu meninggalkan meja kerjanya.
Doni mengirim pesan pada Dhev. Memberitahu dimana alamat itu.
Setelahnya, Doni meminum vitamin supaya badannya tetap sehat dan bugar.
Sebelum berbaring di ranjang, Doni memilih mengirim uang bonusnya lebih dulu ke kampung halaman untuk orang tuanya.
Selesai dengan itu, barulah Doni dapat tidur dengan nyenyak.
****
Keesokan paginya, Nala membuka mata dan merasakan lengan Dhev berada di perutnya. Perlahan, Nala mengangkat lengan itu, setelahnya Nala bangun untuk menyiapkan baju kerja Dhev.
Selesai dengan baju kerja Dhev, Nala berniat untuk mengurus baju sekolah Ken. Tetapi, rupanya sudah ada Amira di kamar cucunya.
"Ibu," lirih Nala. Amira melihat ke arahnya lalu memberi tanda jangan berisik, menaruh telunjuknya di bibir.
Setelah itu, Amira keluar dari kamar Ken, membawa Nala bersamanya.
"Kamu jangan terlalu lelah, Ibu tau kamu harus mengurus suamimu! Ibu akan membantu mengurus Ken, ok!" kata Amira dan Nala merasa beruntung sekali dapat memiliki mertua sebaik Amira.
Nala memeluk Amira dan Amira membalas pelukan itu, mengusap punggung tipis Nala.
"Ya sudah, Nala mau mandi dulu," kata Nala yang kemudian masuk ke kamarnya, barang-barangnya masih berada di sana, entah kapan akan dipindahkan. Selesai mandi dan bersiap, cantik apa adanya seperti biasa, Nala segera menyiapkan sarapan.
Nala juga mengingat tugasnya yang tidak boleh lupa menyiapkan bekal.
Di bantu oleh asisten rumah tangga, semua berjalan cepat. Sekarang, Nala kembali ke kamar dan terlihat Dhev sudah bangun, sedang serius dengan ponselnya.
Dhev meminta pada Doni untuk tetap mengawasi Arnold. Bahkan Dhev melarang Doni untuk ke kantor selama urusan dengan pria brengsek itu belum selesai.
Selesai dengan urusan dengan Doni, Dhev melihat Nala yang sedang menyiapkan sepatu kerjanya.
"Kamu," kata Dhev dengan wajah yang cemberut.
Nala menoleh kearah suaminya.
"Semalam kamu melupakan sesuatu!" kata Dhev. Pria yang rambutnya masih berantakan itu melipat tangannya di dada masih memperhatikan istrinya.
"Mencium Ken berarti harus mencium ayahnya! Memeluk Ken berarti harus memeluk ayahnya juga!" Dhev bangun dari ranjang dan sekarang berdiri di depan Nala yang masih memegangi sepatu Dhev.
Nala sendiri tidak tau apa yang dilakukan oleh suaminya, dia hanya diam seraya memalingkan wajahnya, dalam hati, Dhev berharap kalau Nala akan mencium pipinya yang sudah ia siapkan.
Tetapi, Nala masih tidak mengerti yang ia tau adalah Dhev sedang merajuk.
Nala sendiri yang belum begitu mengenal Dhev tidak tau caranya untuk membuat suaminya itu berhenti merajuk.
"Ayo, kenapa bengong?" kata Dhev masih dengan memalingkan wajahnya. Bersedekap dada.
"Ayo kemana? Lagian kalau om ngambek mulu, aku yakin, keriput di sini, di sini mulai terlihat, terus enggak ganteng lagi," kata Nala seraya jari telunjuk menunjuk bawah mata Dhev dan samping bibir Dhev.
Secepat kilat Dhev menggigit jari itu yang berada di samping bibirnya.
"Aaaaaa!" teriak Nala yang terkejut.
****
Teriakan Nala sampai terdengar oleh Amira yang sedang memperhatikan Ken memakai seragamnya.
"Apa mereka melakukan itu di pagi hari juga?" batin Amira seraya menutup telinga Ken.
"Tante Nala kenapa, Omah? Kenapa sekarang Tante lebih sering sama ayah?"
"Sudah biarkan saja yang penting Ken dan ayah bahagia, kan? Bahagia karena ada Tante Nala yang memperhatikan kalian?" tanya Amira.
Ken menganggukkan kepala.
"Tapi Ken mau diantar sama tante," kata Ken.
"Iya, nanti juga diantar sama tante, tenang aja!" kata Amira seraya membelai wajah tampan cucunya.
****
"Sakit!" Nala sudah mulai berani menyentuh Dhev, buktinya, Nala mencubit pinggang suaminya itu.
"Makanya peka sedikit dong jadi cewek!" protes Dhev yang kemudian pergi ke kamar mandi.
"Begini rasanya punya bini anak kecil!" batin Dhev.
"Tapi, bukannya anak-anak sekarang banyak yang dewasa sebelum waktunya, sepertinya, orang tuanya berhasil mendidiknya dengan baik, aku harus berterimakasih padanya," kata Dhev dalam hati.
Pria itu memilih untuk cepat mandi, urusan kantor sudah menunggu dan akan sangat sibuk karena Doni sedang mengawasi Arnold.
****
Pagi ini, Dadang yang sedang mengelap mobil itu tidak terlalu sibuk, karena yang mengantarkan Ken ke sekolah hari ini adalah Dhev dan Nala.
Nala duduk di bangku depan dan Kenzo yang ingin dipangku oleh Nala pun ikut duduk di bangku depan.
"Apa aku harus memangku ayahnya juga?" batin Nala, "Tapi... tenang aja, kan enggak ada di daftar tugas," lanjutnya.
Pagi ini menjadi pagi yang indah, Ken merasa seperti memiliki keluarga yang utuh. Ken bahagia dan akan memamerkan kebahagiaannya pada temannya.
Di perjalanan,, Ken menanyakan tentang ibu tiri pada Nala.
"Tante, kata Tante Mika, aku mau punya ibu sambung, kata temen Ken, ibu sambung itu jahat, Ken enggak mau punya ibu sambung."
"Dengar, Ken. Di dunia ini memang enggak semua orang itu baik, tapi... enggak semua jahat juga, mungkin temen Ken lihatnya ibu sambung itu jahat, padahal ada juga yang baik. Ken percaya?"
Mendengar itu Ken hanya diam.
"Kalau tante mau dipanggil ibu sama Ken, Ken mau?" tanya Nala, matanya melirik pada Dhev yang tersenyum dengan pandangan tetap lurus ke depan.
Bersambung.
Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya. Terimakasih.
Dipersilahkan untuk vote/gift juga ya 🤗🤗.