DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Cemburu?


Baru saja Papah Ririn membuka pintu hendak keluar untuk membeli pulsa, Ririn sudah berada di depan matanya.


"Dari mana kamu? Tadi temen kerja kamu nanyain kamu, katanya kamu enggak berangkat?" tanya papahnya seraya mencari-cari keberadaan Darwin tetapi tidak ada siapapun di belakang Ririn.


"Ririn dapat kerjaan di luar kota, jadi pemandu karaoke, gajinya lebih besar dari pada kerja di toko," jawab Ririn berbohong, gadis itu berjalan masuk dengan membawa barang belanjaannya, meninggalkan papahnya yang masih berdiri di pintu, Ririn tidak ingin ditanya lebih jauh lagi.


Ririn membuka pintu kamarnya dan Adelia yang masih duduk di kursi depan televisi itu memutar kepalanya untuk bertanya.


"Dari mana kamu? Bawa apa itu?"


Adelia mulai penasaran dengan isi paper bag yang di tangan putrinya.


"Oh, ini. Belanjaan Ririn, Mah. Buat keperluan kerja, Ririn udah enggak kerja di toko lagi," jawabnya dengan datar. Gadis itu terlihat sangat lelah.


Dan sebenarnya, kalau tidak ada pekerjaan, Arnold tidak mengizinkan Ririn untuk pergi dari rumahnya.


Ririn masuk ke kamarnya tidak lupa mengunci pintu, membuka jaketnya yang sedari tadi menutupi bekas kemerahan di leher dan dadanya.


Ririn melihat itu di cermin dan kembali teringat dengan Darwin.


Ririn pun menjatuhkan dirinya di kasur busa yang tergeletak di lantai tanpa dipan.


Ririn mengambil ponselnya yang sedari siang ia silent. Banyak panggilan juga pesan tak terjawab dari Darwin.


"Besok kita bertemu, di resto siap saji ujung jalan," kata Ririn dalam pesannya.


Setelah itu, Ririn yang kelelahan memilih untuk tidur tanpa membalas pesan Darwin selanjutnya.


****


Di rumah Amira, ada gadis yang sedang tersenyum dalam tidurnya. Gadis itu adalah Nala.


Entah apa yang membuatnya tersenyum, sepertinya mimpi indah.


Ya, benar. Nala memimpikan Dhev yang sedang duduk di taman bersama Kenzo, keduanya tersenyum manis pada Nala yang sedang berjalan ke arah ayah dan anak itu.


Nala merasa kalau itu adalah mimpi indah dan seperti nyata.


Kemudian Nala yang berjalan seraya berputar riang itu seperti terperosok ke dalam lubang.


"Aaaa!" teriak Nala.


"Aduh," pekik Nala dan mimpinya itu membuat Nala terbangun dari tidur, rupanya Nala terjatuh dari ranjang bukan terperosok.


Nala mengusap bokong dan lengannya yang terasa pegal.


"Astaga, itu mimpi, tapi sangat indah melihat ayah dan anak itu berdamai," kata Nala seraya bangun dari jatuhnya.


Nala merasa ada yang lain dengan kamarnya, pasalnya, Nala ingat sekali kalau semalam lampu di kamarnya masih menyala dan ponselnya sekarang berada di atas nakas.


"Apa Bu Amira yang memindahkan juga mematikan lampu? Baik sekali Bu Amira," gumam Nala seraya tersenyum manis, merasa bahagia karena di rumah itu merasa memiliki keluarga.


Nala pun duduk di tepi ranjang, meraih ponselnya dan ternyata hari sudah pagi yaitu pukul 04.30 wib.


Hanya tidur beberapa jam dan Nala sudah terbiasa dengan itu membuat Nala tidak merasa mengantuk.


Nala pun pergi ke kamar mandi, mengambil sikat giginya, berdiri di depan wastafel dan menatap dirinya di cermin.


Terngiang ucapan Kenzo yang mengatakan kalau Dhev telah menciumnya di bibir. Nala pun mengusap lembut bibirnya seraya membayangkan Dhev.


Tersadar dengan apa yang dibayangkan membuat Nala membuka matanya lebar dan menepuk-nepuk pipinya.


"Astaga, Nala! Jangan berpikiran yang macam-macam. Dia itu ayahnya Ken, dia itu om-om!" ucapnya pada diri sendiri.


"Sepertinya aku harus keramas supaya isi kepala ku ikut segar!" kata Nala seraya memberikan odol pada sikat giginya.


****


Selesai dengan mandinya, Nala mengoleskan skincare di wajahnya, tidak lupa memakai deodorant dan sedikit parfum dengan wangi bunga Chamomile. Setelah itu turun ke dapur, ingin menyiapkan sarapan dan bekal untuk Kenzo.


Nala belajar membuat bekal dari ponsel pintarnya dan setelah beberapa menit sekarang bekal itu sudah siap dan Nala cepat-cepat ke kamar Kenzo untuk mengurusnya.



"Mau kemana?"


"Ikut kakak kerja," jawab Nindy dengan santai.


Mendengar jawaban itu membuat Dhev teringat dengan permintaan Amira kemarin. Dhev pun hanya menganggukkan kepala.


Dan setelah kejadian kemarin di kolam renang, Dhev memilih untuk tidak melihat Nala yang sedari tadi hanya diam, Nala pun merasa sangat gugup apabila melihat Dhev berada di dekatnya.


"Astaga, hati... kenapa dengan hatiku," ucap Nala dalam hati.


Begitu juga dengan Dhev.


"Jangan lihat dia, jangan lihat dia, abaikan, anggap aja enggak ada!" batin Dhev, pria itu fokus dengan sarapannya.


Selesai dengan sarapan, Dhev mengajak Kenzo dan Nindy untuk cepat.


"Ken, hari ini Ayah yang akan mengantar!" kata Dhev. Pria itu bangun dari duduknya.


Ken pun bangun dari duduknya dan meminta Nala untuk ikut mengantar tetapi tidak kata Dhev.


"Tidak, Ken. Nanti bagaimana tante kamu pulang! Kan sekalian ayah berangkat!" kata Dhev seraya berjalan meninggalkan meja makan.


"Enggak papa, sayang. Oia, tante punya bekal, jangan lupa di makan, ya!" kata Nala seraya memberikan bekal itu pada Kenzo.


"Terimakasih, tante," ucap Ken yang kemudian meminta Nala untuk sedikit membungkuk.


Nala mengira kalau Ken akan membisikkan sesuatu dan ternyata Ken mencium pipi kanan Nala. Nala sedikit terkejut karena baru pertama kali Ken melakukan itu.


Dhev melihat itu merasa gerah, mulai mengendurkan dasinya juga memprotesnya.


"Ken, apa yang kamu lakukan! Tidak boleh melakukan itu lagi!"


"Kenapa? Kan Ken sayang sama tante," jawab pria kecil itu yang kemudian masuk ke mobil Dhev.


"Jadi... sayang tante aja, sayang omah juga enggak?" kata Amira yang berdiri di samping Nala. Keduanya berdiri di depan pintu utama.


"Ken juga sayang omah, dadah," kata Ken dari dalam mobil. Amira dan Nala pun melambaikan tangannya pada Kenzo dengan senyum manis di bibirnya.


Pagi ini terasa sangat indah bagi Amira.


Dhev yang sudah duduk di bangku kemudian itu melirik pada Ken, masih kesal pada pria kecil itu karena telah mencium Nala.


"Hah, lagi pula kenapa aku ini, kenapa aku keberatan Ken mencium gadis itu, sudah dibilang anggap saja enggak ada!" batin Dhev, dan rasa cemburunya itu membuat pagi Dhev sedikit badmood.


"Kenapa yang dibikinin bekal cuma Ken! Harusnya aku juga dibawakan! Kan aku yang gaji dia!" gerutu Dhev dalam hati.


****


Waktu berlalu, sekarang pagi menjelang siang, Ririn baru saja selesai mandi dan bersiap untuk menemui Darwin yang sudah menunggu di tempat yang dijanjikan.


"Pah, Ririn ikut berangkat, sekalian ke depan," kata Ririn yang baru saja keluar dari rumah, Ririn melihat papahnya yang sudah duduk di atas motor yang dulu selalu dikendarai oleh Ririn.


Papah Ririn tidak menjawab, sekarang keduanya sedang dalam perjalanan.


"Makasih, Pah." Ririn turun dari motor setelah sampai di ujung jalan.


"Ya, jangan pulang malam lagi!" kata Papah Ririn yang kemudian pergi untuk bekerja.


Ririn mengatur nafasnya, ia berjalan ke restoran siap saji, membuka pintu dan mencari keberadaan Darwin.


Terlihat Darwin sudah memesankan makanan kesukaan Ririn. Darwin melambaikan tangan dan tersenyum pada Ririn.


"Udah gue cuekin seharian kok enggak marah, ya?" tanya Ririn dalam hati, gadis itu berjalan mendekat.


Tega kah Ririn menyudahi hubungannya dengan Darwin yang sangat mencintainya?


Bersambung.


Dukung author dengan like, komen dan difavoritkan, ya. Terimakasih.