DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Baikan


Ririn tak kuasa untuk mengatakan kata putus pada pria yang sudah ia pacari sejak duduk di bangku SMA kelas 11.


Dan Darwin melihat air mata Ririn jatuh begitu saja, pria jangkung itu mengira kalau Ririn sedang dalam masalah.


"Lo kenapa?" tanya Darwin seraya menghapus air mata itu.


Ririn menjawab dengan menggelengkan kepala.


"Ayo makan, terus kita ke kampus, lo ada kuliah, kan?"


Ririn menjawab dengan menganggukkan kepala, tak mau menatap Darwin, merasa sangat bersalah dan tidak tau sampai kapan ia akan membohongi Darwin.


"Maaf," lirih Ririn yang menundukkan kepala, ia menghapus air matanya.


"Iya, enggak papa, jangan diulangi lagi! Gue enggak bisa tanpa kabar dari lo!" kata Darwin seraya mengusap punggung tangan Ririn yang ada di atas meja.


****


Siang ini, Jimin ke kantor Dhev. Berniat untuk meminta ganti rugi pada sahabatnya.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Dhev yang masih memegang pulpen, matanya menatap tajam pada Jimin yang sedang menutup pintu ruangannya.


"Lo tega lo, kenapa semalam lo pergi gitu aja?" Jimin mendarat di sofa panjang yang tersedia.


"Lagian, kalau lo mau kaya gitu ya gitu aja jangan ajak-ajak gue!" Dhev kembali fokus pada berkasnya. Menggelengkan kepala seraya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.


"Dhev, lo harus ganti rugi, gue udah pesen dua semalam, eh lo pulang tanpa ninggalin jejak di rekening gue!"


"Siapa suruh? Kan lo yang pesen, lagian enak kan, Jim? Lo bisa main bertiga," ledek Dhev dan Jimin melemparkan bantal sofa pada Dhev.


"Gara-gara lo pergi gue kewalahan, Dhev!"


Dhev menghindar dan bantal itu melayang keluar melalui jendela yang kacanya terbuka.


"Impas ya, Jim. Anggap aja bantal itu buat ganti rugi semalam," kata Dhev, pria itu menertawakan Jimin yang tidak terima, karena menurut Jim, uangnya semalam hilang lebih banyak dari pada harga bantal tersebut.


"Lo kan kaya, Dhev. Masa jendela lo biarin kebuka, sih! Nyalain AC dong, jendela ditutup!" protes Jimin.


"Terserah gue lah, lagian lo ke sini mau ngapain, buat rusuh?" tanya Dhev seraya bangun, pria itu merasa lapar dan memang sudah jam makan siang.


Jimin mengekori Dhev.


"Dhev, seandainya lo enggak bawa Nala balik, gue yakin lagi nikmatin bekel buatan Nala, kenapa sih, Dhev, gue selalu kalah sama lo!" gerutu Jimin dan seketika Dhev menyumpal mulut sahabatnya yang tidak bisa diam itu menggunakan dasi yang melingkar di leher Jim.


"Berisik banget sih, lo!"


Dhev melanjutkan langkah kakinya, begitu juga dengan Jimin yang seolah ingin mencekik sahabatnya itu dari belakang.


Teringat dengan bekal, membuat Dhev penasaran dengan bekal yang dibawa oleh Ken.


"Halah, paling juga isinya nasi goreng atau mie goreng!" batin Dhev. Pria itu terus berjalan dengan diiringi suara berisik Jimin.


"Dasar batu lo, gue kaya ngomong sama tembok dari tadi!" gerutu Jimin dan Dhev yang masih memikirkan Nala dengan bekalnya itu tidak mendengar umpatan Jimin.


****


Merasa sebal pada Nala yang mengabaikannya dari semalam itu membuat Ririn ingin menemuinya di rumah Amira.


"Apa Nala masih tinggal di rumah ibu, ya?" tanyanya pada diri sendiri.


Ririn yang sedang bersantai di teras rumah itu pun bangun untuk mengambil tasnya.


Belum sampai masuk ke rumah sudah mendengar suara Adelia yang ngedumel karena dimarahi oleh majikannya.


"Mamah, kenapa?" tanya Ririn yang membalikkan badan.


"Bukan apa-apa, seandainya keluarga kita tidak jatuh miskin, mungkin mamah enggak akan dihina!" Adelia berjalan menerobos Ririn yang masih berdiri di pintu.


"Mamah nyetrika, tapi bajunya bolong, mamah dibilang enggak becus dan dimaki-maki, mamah lebih baik berhenti dari kerja. Kamu cari uang sana yang banyak, capek mamah hidup kaya gini, setiap pulang juga papah kamu ngasihnya receeeeeh mulu!"


Ririn menghela nafas, memilih diam, ia sebenarnya memiliki banyak uang, tetapi tidak ingin memberitahu Adelia, Ririn tidak ingin orang tuanya bertanya.


Ririn masuk ke kamarnya, mengambil tas dan pergi meninggalkan Adelia yang masih cemberut, duduk di kursi plastik depan televisi.


Ririn keluar dari gang dan menyetop taksi, mengatakan kemana tujuannya.


****


Di rumah Amira, Nala sedang menyetrika baju Ken di ruang laundry, lalu datang Amira yang memberitahu kalau ada yang sedang mencarinya.


"Siapa, Bu?" tanya Nala seraya mematikan setrikaannya, lalu menggantung baju Ken di tempat yang sudah disediakan.


"Teman kamu, yang waktu itu di minimarket," jawab Amira yang berdiri di pintu.


"Ayo, temui dulu!" kata Amira seraya mengajak Nala untuk keluar.


Amira mengantarkan Nala ke depan, setelah itu Amira meninggalkan keduanya di ruang tamu.


"Kamu, ngapain ke sini?" tanya Nala yang masih berdiri di samping sofa.


"Aku mau minta maaf," lirih Ririn seraya bangun dari duduknya.


"Bukannya kamu enggak percaya sama aku? Kamu bilang aku nusuk kamu dari belakang, padahal aku enggak tau apa masalah kamu!" Nala menjawab dengan sedikit ketus.


Ririn pun mendekati Nala, meraih tangannya.


"Iya, aku salah, harusnya aku mencari tau kebenarannya sebelum nuduh kamu, ini semua salah Naomi!" Ririn menatap mata Nala dan Nala melihat ketulusan dari Ririn yang meminta maaf itu.


"Emang ada apa, sih? Sampai kamu bisa segitu marahnya?" Nala melepaskan tangan Ririn lalu duduk di sofa dan disusul oleh Ririn.


"Berarti Nala enggak tau tentang gue, lebih baik Nala enggak usah tau, nanti dia bakal ceramah ini dan itu!" batin Ririn.


"Biasalah, salah paham, udah lupain aja, lagi pula kamu udah maafin aku, kan?"


"Iya aku maafin, tapi aku boleh balas cakar kamu, enggak?" tanya Nala, gadis itu menatap Ririn dan Ririn merasa kalau Nala sudah sedikit berubah bahkan ingin membalasnya.


"Kamu yakin? Kalau mau balas silahkan!" Ririn menyodorkan lengannya pada Nala, wajannya memelas.


"Hahaa, enggak kok, aku cuma bercanda aja." Nala memeluk Ririn dan sekarang persahabatan itu kembali terjalin.


"Kita jalan, yuk?" ajak Ririn seraya melepaskan pelukan Nala.


"Sebentar, anak aku lagi tidur, nanti bangun nyariin gimana?"


"Apah? Anak?" Ririn sedikit terkejut.


Bagaimana mungkin Nala memiliki anak, beberapa waktu saat bertemu tidak dalam keadaan hamil, lalu Ririn berpikir kalau Nala sudah menikah dengan ayahnya Ken.


Ririn mencari-cari cincin nikah Nala di jarinya tetapi tak menemukannya.


Menyadari kebingungan Ririn, Nala pun menjelaskan kalau sudah menganggap Ken sebagai anaknya.


"Aku kerja di sini, sebagai pengasuh Ken, aku menganggapnya seperti anak," kata Nala yang kemudian bangun dari duduk.


"Sebentar, aku lihat dulu," kata Nala yang kemudian pergi masuk untuk melihat keadaan Kenzo.


"Beruntung sekali kamu. Sekarang punya kehidupan yang terlihat sangat baik, bahkan baju kamu sekarang terlihat bagus dan mahal," batin Ririn seraya memperhatikan Nala sampai gadis itu tak terlihat lagi.


"Gue iri sama lo! Dari dulu lo selalu dikelilingi sama orang-orang yang sayang sama lo!" Ririn masih membatin.


Bersambung.


Like, komen dan difavoritkan, ya. Terimakasih sudah membaca^^