
Ririn kembali menarik tangannya dan memilih masuk ke kamar. Dengan sengaja, Ririn tidak menyapa Siti Aisyah, ia merasa kalau mertuanya memang sengaja membawa wanita lain ke dalam rumah tangga anaknya.
Setelah Ririn melepaskan jaket jeansnya dan menggantungkannya di samping lemari, Jimin pun masuk ke kamar.
"Lo enggak papa, kan?" tanya Jimin seraya melepaskan jasnya.
"Gue enggak papa, tenang aja. Yang gue khawatirin malah lo!" timpal Ririn yang sekarang duduk di sofa, melepaskan kaos kaki kemudian melemparkannya ke dalam keranjang baju kotor.
"Kenapa? Emang gue kenapa?" tanya Jimin seraya duduk di samping Ririn.
"Gue tau maksud mamih bawa perempuan lain, pasti itu buat dijodohin sama lo!" Ririn pun bangun dari duduk, merasa kesal dan hatinya menjadi tidak karuan.
Jimin menahan tangan Ririn, meminta istrinya untuk kembali duduk.
"Gue udah bilang, gue enggak nikah lagi, istri gue cuma satu, itu lo!" kata Jimin.
Tetapi Ririn tetap merajuk, ia mendorong dada Jimin.
"Dasar nyebelin!" kata Ririn yang kemudian pergi ke kamar mandi dan Jimin mengikutinya.
Ririn pun berhenti di pintu kamar mandi.
"Jangan ikutin gue!" ketus Ririn.
"Gue salah apa, kenapa gue jadi nyebelin!" protes Jimin, agaknya pria itu sedikit tidak terima karena Ririn marah padanya.
"Salah lo banyak, lo yang mulai ini semua, sekarang gue udah ada perasaan sama lo tapi malah tekanan batin gini!" jawab Ririn yang kemudian benar-benar masuk ke kamar mandi.
"Pasti dia cemburu, cemburu tanda sayang," gumam Jimin dalam hati. Pria itu pun merasa senang mengetahui isi hati istrinya.
****
Di rumah Amira, Dhev yang sudah mengganti pakaian santainya itu memberitahu pada Nala kali besok malam akan ada undangan peresmian dari perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaannya.
Dhev ingin membawa istrinya dan Nala tidak menolak.
"Jadwal ku padat, sayang. Lusa juga harus keluar kota, tapi... mungkin aku enggak pergi," kata Dhev dan Nala yang sedang menimang Fai itu bertanya dengan suara lirih.
"Kenapa, Mas?"
"Aku sedikit enggak enak badan, lagi pula aku maunya kemana-mana sama kamu!" jawab Dhev yang sekarang sudah menempel pada Nala, memeluknya dari belakang, matanya terus memandangi putrinya yang cantik.
Kemudian, Nala dan Dhev melihat ke arah pintu. Datang Kenzo yang melongokkan kepalanya.
"Ada apa, Kak?" tanya Nala seraya memperhatikan Kenzo.
"Ken kangen nasi goreng buatan ibu," kata Ken.
"Iya udah, tunggu ya. bentar lagi ibu buatkan," kata Nala dan Dhev berbisik, "Biar Bibi saja yang membuatkan!"
"Beda tangan beda rasa, Mas. Lagian aku sekarang jarang masak, enggak papa, ya!"
Dhev pun pasrah, ia menjatuhkan tubuhnya di ranjang.
"Buatkan juga aku satu, jangan pedes, ya!" kata Dhev yang sedang tengkurap di ranjang.
Nala mengiyakan lalu memberikan bayinya pada suster Nia.
Setiap kali membuat nasi goreng, setiap itu juga lah Nala merasakan kehadiran Bobi. Nala menjadi sangat rindu dengan ayahnya.
Nala yang sedang membuat bumbu itu menitikkan air mata, bukan pedas karena terkena bawang merah tetapi menangis rindu.
Seandainya orang tuanya masih ada, sudah pasti lah Nala akan berbagi kebahagiaan.
"Tenang, Nala. Kamu hanya perlu mendoakan mereka supaya bahagia juga di surga," batin Nala.
Dan Nala pun menjadi semakin bersemangat.
Setelah beberapa menit, sekarang nasi goreng itu sudah siap. Nala meminta pada Winda untuk memanggil Ken dan suaminya.
Ketiganya makan malam bersama, sedangkan Amira, ia pergi untuk menjenguk temannya yang sedang sakit.
"Makasih, Bu. Nasi gorengnya enak," kata Ken dengan mulut yang penuh.
"Sedikit-sedikit, sayang!" kata Nala seraya mengusap rambut Ken.
Ken menganggukkan kepala.
"Bu, ingat nasi goreng buatan ayah?" tanya Ken dan seketika Dhev hampir tersedak oleh nasi goreng yang sedang dimakannya.
Nala pun memberikan air minum pada Dhev.
"Ingat, enak kok nasi gorengnya," jawab Nala dengan tersenyum.
"Kalau ibumu udah bilang enak berarti enak, Ken!" kata Dhev.
"Jangan bilang-bilang, Ken. Sebenernya nasi goreng itu asin, tapi karena yang buat ayah kamu, ibu tetap suka," kata Nala yang berbicara dengan sedikit berbisik di telinga Ken.
Dhev tersenyum mendengarnya dan semua orang melanjutkan kembali makan.
****
Di apartemen Doni. Pria itu baru saja selesai mandi, handuknya masih melingkar di pinggang, sekarang berdiri di belakang Nindy yang sedang memilihkan pakaian ganti di lemari.
Nindy pun berbalik badan, memberikan baju itu pada Doni.
"Terimakasih," kata Doni seraya menatap Nindy yang juga menatapnya.
Nindy tersenyum dan Doni merapikan anak rambut Nindy, membawanya kebelakang telinga.
Lalu, Doni memberanikan diri untuk mengecup kening yang tepat berada di depannya.
"Boleh ku kecup kening kamu?"
Nindy pun menganggukkan kepala.
Cup, Doni mencium dengan memejamkan mata, tidak lama kemudian terdengar suara Nindy yang memanggilnya.
"Don, Doni!" lirih Nindy seraya menepuk bahu Doni.
Doni pun membuka mata dan ternyata semua itu hanya mimpi, kenyataannya Doni baru saja tertidur di sofa, sekarang, Nindy yang sedang menggendong Fakhri membangunkan Doni untuk makan malam.
"Makan dulu, ayo. Udah ku siapkan!" kata Nindy dan merasa aneh dengan tatapan Doni yang tidak seperti biasa.
Merasa grogi di tatap lama-lama oleh Doni membuat Nindy memilih keluar dari kamar. Hatinya berdegup kencang dan sekarang mencoba menenangkan hatinya dengan menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya perlahan.
Sementara Doni, pria itu masih berbaring di sofa, membayangkan apa yang baru saja ia mimpikan.
Terasa sangat nyata kalau bibirnya berhasil mendarat mulus di kening Nindy.
"Cuma mimpi," gumam Doni seraya bangun. Pria yang belum sempat mandi itu masih berpakaian rapih dengan kemeja dan celana panjangnya.
Doni keluar dari kamar dan melihat Nindy sedang bermain bersama dengan Fakhri, terlihat, ibu dan bapak juga sangat menyayangi cucunya.
Doni tersenyum melihat rumahnya yang penuh kehangatan. Dan Ibu Doni yang melihat anaknya makan seorang diri itu meminta pada Nindy untuk menemaninya.
"Nduk.Temani suamimu makan, biar Fakhri sama nenek," kata Ibu Doni da Nindy menurut.
Mendapati menantu yang sangat menurut, membuat Ibu dan Bapak ikut merasakan bahagia.
"Pantes anak kita makin gemuk ya, pak. Bahagia dia punya istri penurut!" kata Ibu dan Bapak yang duduk di sofa itu pun tersenyum.
Di meja makan, Nindy mengambilkan minum untuk Doni.
"Kamu udah makan?" tanya Doni dan Nindy menjawab sudah.
"Aku pengen nyari cemilan, kamu mau ikut?" tanya Doni seraya memasukkan sesuap nasi beserta lauknya ke dalam mulut.
"Boleh, tapi Fakhri gimana? Kan udah malam."
"Kan ada Ibu."
"Baiklah," jawab Nindy.
Singkat cerita, sekarang Doni mengajak Nindy berkeliling di malam hari menggunakan motor lamanya.
Doni mengambil kesempatan untuk melakukan pendekatan dengan Nindy.
"Pegangan!" perintah Doni dan Nindy pun memegang jaket Doni dari samping. Nindy masih malu untuk memeluk suaminya.
Doni pun menancap gas meninggalkan area parkir, baru saja keluar dari area sudah ada pengendara yang menyerobot di depan Doni, membuat Doni harus mengerem mendadak dan dengan tidak sengaja membuat Nindy menempelkan dadanya di punggung Doni.
"Maaf," kata Nindy seraya membetulkan posisinya duduk.
Tetapi, Doni kembali menarik tangan Nindy, Doni ingin posisinya tetap seperti tadi.
Di spion, Doni melihat Nindy yang tersenyum dan mendapati Nindy yang tidak menolak saat Doni melingkarkan tangannya di pinggang.
Apakah setelah ini akan ada kemajuan diantara Doni dan Nindy?
Bersambung.
Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya. Terimakasih sudah membaca^^
Yang sudah mendukung dengan vote atau gift, terimakasih banyak... dukungan kalian sangat berarti buat aku😇