DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Mencari Tau


Alif pun memaksa Mae supaya mau menerima uang itu dan Mae mengambil hanya sedikit untuk membantunya membayar biaya sewa rumah.


"Ini, ibu ambil segini aja, kamu harus kuliah, simpan uang kamu di tabungan! Jangan di rumah, ya!" kata Mae mengingatkan Alif.


"Ibu beneran enggak papa?" tanya Alif seraya menatap Mae.


"Beneran, ini hasil keringat kamu, harus kamu gunakan untuk masa depan kamu!" ucap Mae seraya membelai rambut hitam Alif.


Alif pun mengiyakan ucapan ibunya, ia keluar dari kamar dan segera mengambil handuk, Alif merasa gerah dan ingin membuang keringat yang menempel di tubuhnya.


****


Di rumah sakit, Fakhri yang tak dapat memejamkan mata itu menggenggam tangan Nindy. Ia membawa tangan Nindy yang lemas untuk membelai wajahnya, ya, Fakhri sangat merindukan belaian dari orang tuanya yang selama ini tidak ia dapatkan.


"Kenapa hidup seolah enggak adil sama Fakhri, Mah?" tanya Fakhri, pria itu masih menggenggam tangan Nindy.


Dan malam ini, Fakhri tertidur sambil duduk di kursi samping brangkar, memeluk tangan Nindy.


****


Keesokan paginya, di ATM, Alif yang akan kembali memasukkan uangnya ke nomor rekeningnya itu bertemu dengan Fai yang baru saja melakukan tarik tunai.


"Alif, lo di sini juga?" tanya Fai yang lebih dulu melihat Alif.


"Iya," jawab Alif singkat.


"Gue duluan, ya!" kata Fai yang kemudian pergi meninggalkan Alif.


Dan sampai Alif selesai melakukan setor tunai, Fai masih berada di area ATM. Alif pun menghampirinya.


"Fai, nunggu siapa?" tanya Alif yang mengendarai motor bututnya.


"Nunggu Fakhri! Tapi lama banget dia! Lo mau enggak anterin gue?"


"Gue sebenernya mau kerja, Fai. Emang anterin kemana?"


"Anterin gue balik! Mau, ya!" pinta Fai seraya tersenyum dan segera duduk di belakang Alif.


"Fai, emang lo enggak risih atau jijik naik motor butut gue?" tanya Alif seraya melihat ke belakang.


"Kenapa emang? Udah cepet, jalan, nanti lo telat kerja!" kata Fai seraya menepuk bahu Alif.


Alif pun mengendarai motor itu dengan kecepatan sedang. Sekarang, Alif tau di mana alamat rumah Fai.


Setelah itu, Alif langsung pamit pada Fai. Sebelum pergi, Fai ingin memberikan uang bensin lebih dulu tetapi Alif menolaknya.


"Enggak usah, gue ikhlas!" kata Alif seraya tersenyum lalu pergi meninggalkan Fai.


Mendapatkan senyum manisnya membuat Fai menjadi senyum-senyum sendiri.


"Alif, manis banget sih lo!" ucap Fai yang masih memperhatikan Alif, Fai memperhatikannya sampai Alif tak terlihat.


Sementara itu, Fakhri menghubungi Fai, menanyakan di mana keberadaannya.


Fai menjawab kalau dirinya sudah sampai di rumah.


"Gimana sih, minta di jemput tapi udah pulang!" kata Fakhri.


"Habisnya lo lama, terus gue ketemu sama Alif, ya udah gue balik sama Alif," jawab Fai, setelah itu Fai mematikan sambungan teleponnya.


Ia kembali terbayang oleh wajah tampan Alif membuat Fai kembali tersenyum.


"Kira-kira dia udah punya doi belum, ya?" tanya Fai dalam hati, Fai sendiri sekarang sedang berada di ranjang, memeluk bantal dengan tersenyum.


"Oh, dia kan deket sama paman, gue tanya aja sama paman!" kata Fai dengan semangatnya.


****


Di rumah Mae, Andra yang mengetahui kalau Mae menyimpan uang itu mulai mencarinya, ia mencari di bawah kasur, di lemari sampai membuat lemari itu menjadi berantakan, tetapi Andra tak menemukan uang di cari.


"Biasanya kan Alif ngasih duit ke Mae, ini kok enggak ada duitnya? Apa di simpan di kamar Alif?" tanya Andra yang sedang menatap dirinya di lemari kaca Mae.


Benar saja, Andra pun mulai mencari uang itu di kamar Alif dan sama saja tidak menemukan uang itu.


"Sial! Gimana gue mau seneng-seneng. Bosen gue hidup gini-gini aja, makan, tidur, makan lagi tidur lagi!" gerutunya seraya menutup lemari Alif.


Merasa frustasi, Andra pun memilih untuk pergi ke warung, di sana Andra minum kopi bersama dengan teman-temannya, tentu saja, rokok dan kopi Andra itu akan dibayar oleh Mae.


****


"Fai!" teriak Fakhri seraya mengetuk pintu kamar Fai.


"Ada apa, Nak?" tanya Nala yang melihat itu, Nala sedang bersiap untuk menyemprot bunga dalam vas.


"Enggak apa-apa, Bude. Tadi Fai minta di jemput tapi malah pulang duluan," jawab Fakhri.


Tidak lama kemudian, Fai pun keluar dari kamar.


"Ada apa? Tenang aja, gue balik dengan selamat, kok!" jawab Fai seraya memutar badannya dan Fakhri pun merasa lega.


Entah mengapa semakin hari Fakhri semakin tak menyukai Alif. Pertama, dia dekat dengan paman yang sangat dibanggakan dan sekarang Alif seperti mulai mendekati Fai.


Melihat itu, Nala merasa senang karena Fai banyak yang menjaga, Nala yang sedang menyemprotkan air itu hanya memperhatikan keduanya.


"Kalau kemana-mana bilang sama gue, gue siap antar dan jemput!" kata Fakhri mengikuti langkah kaki Fai yang sedang mendekati Nala.


Fai memeluk Nala dari belakang, ia merengek, meminta untuk dibelikan kendaraan pribadi pada ibunya.


"Ayah belum mengizinkan! Ibu enggak berani bantah ayah kamu!" jawab Nala dan Fai pun tak berhenti merayu.


"Bu, ayo dong, Fakhri dapat motor dari paman, Adila dapat mobil dari papahnya, cuma Fai aja yang kerjaannya ngerepotin orang!" rengek Fai seraya menghentakkan kakinya.


"Gue enggak keberatan kok, Fai!" timpal Fakhri yang memperhatikan itu.


Fakhri merasa gemas dengan sikap manja Fai.


"Tuh, ada Fakhri, ada kakak kamu, ada Mang Dadang juga, jangan banyak alesan biar dapat kendaraan!" jawab Nala dan Fai pun melepaskan pelukan itu, Fai memilih untuk duduk di sofa yang ada di samping vas itu dengan mengerucutkan bibirnya.


Dan Fakhri pun mencubit hidung Fai yang kembang kempis.


"Sakit!" gerutu Fai seraya memukuli Fakhri menggunakan bantal sofa tersebut.


Fakhri dan Fai pun kembali main kejar-kejaran.


"Awas, Fai. Nanti nabrak vas bunga ibu!" seru Nala mengingatkan.


Benar saja, baru saja Nala menutup mulutnya Fai sudah menjatuhkan guci Nala.


"Astaga, Fai. Ibu potong uang jajan kamu selama satu tahun!" ucap Nala, ia merasa sedih, guci kesayangan sudah pecah karena tersenggol oleh putrinya.


"Ah, Ibu lebih sayang guci dari pada anak!" jawab Fai yang kemudian pergi ke kamar dan Fakhri masih mengikutinya.


"Tenang, Fai. Biar nanti uang jajan lo, gue yang ganti!"


"Enggak, Enggak mau gue ambil uang dari anak yatim, dosa!" jawab Fai yang sedang berdiri di jendela, menatap taman samping rumahnya dan ternyata jawaban Fai membuat Fakhri terdiam. Ia merasa kalau Fai mengingatkan tentang Doni yang telah tiada.


"Iya, Fai. Gue lupa!" jawab Fakhri yang kemudian keluar dari kamar dan Fai tak merasa kalau ucapannya salah, ia memang tidak mau mengambil hak orang lain.


Setelah itu, Fai harus bersiap karena ada jam kuliah, gadis itu segera pergi mandi dan berganti pakaian.


Selesai dengan itu, Fai mengetuk kamar Fakhri.


"Fakhri! Lo kuliah jam berapa?" tanya Fai dari balik pintu.


"Sore, sekarang gue mau istirahat dulu! Lo sama Mang Dadang, ya!"


"Ok!" jawab Fai yang kemudian pergi dari tempatnya berdiri.


Fai pamit pada Nala yang baru saja mengantarkan teh hangat untuk Amira yang sedang merajut, duduk di kursi goyangnya.


"Omah, Fai berangkat dulu, ya!"


"Iya, belajar yang rajin!" kata Fai.


"Dah omah, dah ibu."


"Hati-hati!" ucap Nala dan Fai hanya menjawab dengan jari ok nya.


Di halaman rumah, sebelum berangkat, Fai meminta pada Mang Dadang untuk ke kantor lebih dulu, ia ingin meminta nomor ponsel Alif pada Arnold.


Bersambung.


Like dan komen ya kak semua 🤗. Difavoritkan juga, terimakasih sebelumnya.