
Tiba-tiba, Dhev berdiri di belakang Nala. Nala yang sedang berdiri di pintu menoleh kebelakang dan Dhev mengusap lengan Nala.
"Mah, kita bicara dulu, Dhev tunggu!" kata Dhev, setelah itu Dhev meninggalkan semua orang, menunggu Amira di ruang kerja.
Tidak lama kemudian, Amira mengetuk pintu ruangan Dhev. Dhev mempersilahkan untuk masuk.
"Ada apa, Dhev?" tanya Amira seraya menutup pintu.
"Nindy harus segera menikah, sebelum aib keluarga ini tersebar!" kata Dhev dengan menatap Amira yang sekarang sudah duduk di kursi depannya.
"Tapi dengan siapa? Memangnya kamu merestui Nindy menikah dengan Arnold?"
"Ck, bukan dengan bajingan itu, Dhev sudah ada calon. Tapi Dhev tidak yakin kalau dia akan mau, tetapi, Dhev akan buat dia mau untuk menutupi aib ini!"
"Siapa dia? Mamah khawatir kalau Nindy tidak akan bahagia, walau bagaimana pun dia adik kamu, Dhev!"
"Kalau dia memikirkan kebahagiaannya, seharusnya tidak bertindak bodoh!" kata Dhev.
"Yang kita butuhkan saat ini adalah status untuk Nindy," kata Dhev. Pria itu bangun dari duduk, keluar dari ruangan dan melihat Nala sedang membantu Ken berkemas setelah belajar.
"Ibu udah janji kalau mau bacakan dongeng, ayah dilarang rusuh," kata Ken yang melihat kedatangan Dhev.
"Iya, ibu pasti bacakan dongeng, jangan lupa gosok gigi, cuci tangan dan kaki!" kata Nala dan Kenzo menganggukkan kepala.
"Ayah boleh ikut?" tanya Dhev yang masih berdiri di tempatnya dan Kenzo menatap Dhev.
Nala berbisik entah apa yang dibisikkan olehnya. Tetapi, itu membuat Ken mengiyakannya.
"Ibu, bawain, berat," rengek Ken yang tak mau membawa tasnya.
"Eh, anak cowok itu kuat, ini mah enteng, coba angkat, kuat enggak?"
Ken pun mengangkat tasnya.
"Nah, kuat kan! Ken juga udah minum susu, keluarin dong tenaga susunya," kata Nala seraya mengusap pucuk kepalanya.
"Tenaga susu, keluarlah!" kata Ken seraya menggendong tasnya. Ken berjalan dengan bersemangat mendahului ayah dan ibunya.
Dan Dhev dengan mesra melingkarkan lengannya di pinggang Nala.
"Kamu selalu bisa buat dia nurut!" kata Dhev, ia bangga pada istri kecilnya yang pandai itu.
Dhev dan Nala menyusul Ken, dan ternyata anak itu sudah siap di atas ranjang.
"Udah gosok gigi, Ken?" tanya Nala.
"Udah," jawab Ken yang kemudian menunjukkan gigi rapinya.
"Ok, sekarang siap?" tanya Nala seraya mengambil buku dongeng di rak buku Ken.
Ken menganggukkan kepala dan Dhev segera menyusul Ken ke ranjang dengan posisi Ken berada di tengah.
Malam ini Ken merasa sangat bahagia, kehangatan di tengah keluarganya kini ia dapatkan lagi.
Ken tersenyum, melihat kanan dan kirinya, sekarang sudah lengkap kebahagiaan Ken yang dulu selalu ia rindukan.
"Nah, mumpung ada ayah di sini, gimana kalau ayah yang bacakan dongeng, ayah enggak boleh nolak!" kata Nala seraya mengulurkan tangannya, memberikan buku dongeng yang dipegangnya.
"Ayah mau dengar ibumu bacakan dongeng, kenapa jadi ayah yang baca!" protes Dhev seraya menerima buku itu.
Dan malam ini, ketiganya tidur bersama di kamar Ken. Amira melihat itu merasa sangat bahagia.
"Alhamdulillah, terimakasih Ya Tuhan, telah engkau kembalikan kebahagiaan itu, tetapi di tengah kebahagiaan itu hatiku juga teriris ketika mengingat nasib Nindy!" batin Amira yang berdiri di pintu.
Setelah itu, Amira menutup pelan pintu kamar Ken. Tidak ingin membuat anak, cucu dan menantunya itu terbangun.
****
Keesokan harinya, di kantor, setelah selesai dengan pekerjaannya, Dhev memanggil Doni ke ruangan.
Tidak lama kemudian, Doni pun mengetuk pintu.
"Masuk," kata Dhev.
Doni berdiri di depannya.
Doni pun menurut.
Diam...
Dhev masih diam, merasa bingung bagaimana caranya untuk menyampaikan tujuannya pada Doni.
"Maaf... ada apa, Tuan?" tanya Doni, pria itu telah menunggu lama untuk Dhev membuka suaranya.
"Begini, saya mau meminta sesuatu dari kamu!" jawab Dhev. Matanya menatap Doni yang menundukkan kepala.
"Lihat aku, Don!" kata Dhev dan Doni pun mengangkat kepalanya.
"Iya, Tuan," jawab Doni.
"Kamu pernah bilang akan melakukan apapun untukku, kan?" tanya Dhev.
"Benar," jawab Doni. Dalam hatinya merasa penasaran dengan apa yang diinginkan oleh Dhev.
"Menikahlah dengan Nindy!" ucap Dhev yang terdengar seperti perintah.
Doni menganggap itu sebagai guyonan, bagaimana mungkin atasannya melamar bawahannya untuk menjadi adik iparnya.
"Maaf, Tuan. Saya tidak mengerti dengan lelucon anda," jawab Doni, pria itu kembali menundukkan kepala.
"Ini serius, kalau kamu tidak mencintai adik aku tidak apa, aku hanya mau status untuk Nindy dan tidak akan memaksa kamu untuk mencintai dan menjaga Nindy layaknya seorang suami!"
Dari perkataan Dhev, Doni sudah mengerti kalau dirinya akan menjadi tumbal.
"Maaf, Tuan. Kenapa anda melakukan ini pada adik anda? Maaf telah berani bertanya, karena ini juga menyangkut hidup saya," kata Doni.
"Nindy hamil, ingin rasanya aku tidak perduli, tetapi, sebagai kepala keluarga, aku harus memikirkan jalan keluar. Hanya kamu yang dapat ku percaya untuk menutupi aib ini."
"Ck, sudah ku duga, yang unboxing siapa yang menutup siapa, astaga, bagaimana dengan perjodohan ku di kampung," batin Doni. Pria itu merasa bingung untuk menjawab apa.
Di sisi lain, Doni sangat berterimakasih pada Dhev karena dirinya lah Doni juga berada di posisi saat ini, mempunyai kehidupan yang lebih baik.
Di sisi lain, ayah dan ibunya sudah mencarikan gadis dan Doni sudah menyetujuinya.
"Tidak ada penolakan!" kata Dhev. Pria itu bangun dari duduk, pergi meninggalkan Doni yang masih diam di tempatnya.
"Maafkan aku, Don. Hanya kamu yang ku percaya!" batin Dhev.
****
Dhev pergi ke restoran, di sana, dirinya sudah membuat janji dengan Nala dan Kenzo untuk makan siang bersama, terlihat Nala dan Kenzo sudah menunggu di temani oleh Dadang yang diperintahkan oleh Dhev untuk menjaga keduanya selama Dhev belum datang.
Dhev yang baru membuka pintu restoran itu melihat Ririn yang ternyata bekerja di restoran itu.
Dhev tidak menghiraukan Ririn karena Dhev tidak begitu menyukainya.
Setelah kedatangan Dhev, Dadang berdiri dan pamit untuk pulang.
Dari kejauhan, Ririn memperhatikan Nala dan keluarga kecilnya.
"Kenapa kamu selalu bernasib baik? Sedangkan gue? Blangsak! Yang ada malah jadi simpanan om-om! Kerja juga cuma buat formalitas aja!" batin Ririn, gadis itu sedang membereskan meja bekas tamu, matanya sesekali melirik Nala.
"Hah!" Decak Ririn, gadis itu melihat kalung Nala yang bersinar semakin menambahkan keiriannya.
****
Di kantor, Doni yang sedang makan siang bersama karyawan yang lain itu terdiam. Tidak bisa menolak perintah dari Dhev dan juga tidak enak untuk membatalkan perjodohannya.
"Bagaimana ini," gumam Doni yang terdengar oleh karyawan lain.
"Kenapa, Pak Doni?" tanya Serena, asisten ke dua Dhev.
"Eh, enggak papa!" jawab Doni dengan tersenyum tipis.
Bersambung.
Jangan lupa likenya, ya. Terimakasih^^