
"Apa salahnya nanya, malu bertanya tersesat di jalan!" jawab Nala seraya naik ke ranjang, menarik selimut sampai batas dada.
Dhev menyusulnya dan memeluk istrinya dari belakang.
"Sayang, aku enggak bisa melakukan itu tanpa rasa cinta, kamu harus percaya!" kata Dhev.
"Bohong! Buktinya kamu enggak pernah bilang cinta sama aku," kata Nala seraya melepaskan tangan suaminya yang melingkar di pinggang.
"Love you," bisik Dhev di telinga Nala membuat Nala kembali tersenyum, tetapi senyumnya itu masih ia sembunyikan.
Merasa senang mendapati suaminya merayu.
"Hmmm," jawab Nala yang masih membelakangi Dhev.
"Jawab dong!" protes Dhev seraya membalikkan tubuh istrinya supaya menatapnya.
Nala tersenyum, malu sendiri ingin mengungkapkan rasa yang kini ada di hatinya.
Nala menutupi wajahnya dengan selimut, merasa deg-degan untuk menjawab cinta suaminya.
Kemudian, Nala kembali berbalik badan.
"Ayo jawab, masa aku doang yang bilang cinta!" kata Dhev seraya menggelitiki pinggang Nala.
"Aaaaa, geli, geli. Ampun!" teriak Nala diiringi tawa seraya berusaha melepaskan tangan suaminya.
Karena terus menggelitiki tak terasa sampai membuat Nala jatuh dari ranjang.
"Aduh, kan... kamu, sih."
Nala segera bangun dan menepuk pelan bokongnya yang terasa sedikit linu.
"Maaf, enggak sengaja, makanya jangan terlalu di pinggir," jawab Dhev seraya meraih tangan Nala, membawanya kembali naik ke ranjang dan kali ini keduanya berada di tengah.
"Udah malam, tidur!" kata Dhev seraya mengeratkan pelukannya.
"Nite!" kata Nala seraya mendongakkan kepala, menatap wajah tampan suaminya. Terlihat, Dhev sudah memejamkan mata.
"Kenapa?" tanya Dhev yang mengerti kalau sedang diperhatikan.
"Enggak papa," jawab Nala yang kemudian menelusupkan wajahnya di dada suaminya.
"Mau main?" tanya Dhev, masih dengan mata terpejam.
"Capek, masa setiap hari main," jawab Nala.
"Aku kuat, kok!" jawab Dhev dengan tangan yang mulai aktif.
"Geli," jawab Nala seraya menahan tangan Dhev.
"Sayang, kaya ada yang beda?" tanya Dhev seraya melepaskan pelukannya.
"Ya beda lah, kan udah enggak perawan lagi," jawab Nala.
Dhev mengubah posisinya menjadi duduk dan Nala mengikutinya.
"Serius, ada yang beda, dada kamu kaya lebih padat gitu. Kamu hamil?" tanya Dhev seraya merangkum wajahnya Nala.
"Emangnya kalau makin padat dan berisi ciri-ciri orang hamil?" tanya Nala seraya menurunkan tangan Dhev.
"Dulu, waktu Ana hamil begitu, katanya semua badan juga terasa ngebet, coba kamu cerita, ada yang di rasa enggak? Perasaan, selama menikah ini kamu juga belum datang bulan, kan?"
"Aku enggak tau, cuma yang aku tau pd ku memang sedikit mengkel, terasa nyut-nyutan juga," kata Nala.
"Sini, biar aku enakin," kata Dhev seraya membuka kancing piyama Nala.
"Katanya libur, kalau udah gini enggak mungkin libur!" protes Nala yang sekarang sudah tak bisa berkutik.
Dan benar saja, keduanya kembali berolahraga malam.
Dhev yang sedang bersama istrinya itu mengabaikan ponsel yang bergetar. Pikirnya akan membuka ponsel itu setelah selesai.
****
"Susah amat di hubungi," kata Jimin seraya memperhatikan layar ponselnya.
"Ok, lo enggak mau jawab telpon gue, biar gue besok ke rumah lo!" kata Jimin. Pria itu mengirim pesan suara untuk Dhev.
Dan setelah selesai dengan olahraganya, Dhev meraih ponsel yang berada di atas nakas.
"Ada apa? Gue habis olahraga," balas Dhev. Pria itu mengirim pesan, sedangkan Nala sudah memejamkan mata, di pelukannya.
"Eleh, mentang-mentang bukan duda lagi, olga mulu tiap hari!" jawab Jimin.
"Dih, gue bukan mau dikatain, Dhev. Gue mau cerita, lo inget siti?"
"Ya ampun, lo masih aja inget sama siti, kenapa? Lo udah mau dijodohin sama dia?"
"Dih, ogah. Lo tau kan gue enggak suka sama dia, gue sukanya sama cewek modelan yang tadi jambak-jambakan di butik tadi!"
"Astaga, ya udah, kalian cocok berarti! Sama-sama gila." Dhev menggelengkan kepala.
"Hahaa, menantang, bro!" jawab Jimin. Setelah itu Jimin meminta nomor ponsel Nala, guna menanyakan nomor Ririn.
"Enggak sudi gue, entar otak istri gue yang polos tercemar!" balas Dhev. Setelah itu, Dhev meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Biar makin hot, bro!" balas Jimin.
Tak kunjung mendapatkan balasan, Jimin pun akhirnya memilih untuk tidur.
****
Keesokan harinya, pagi-pagi Jimin sudah tiba di rumah Dhev.
Lelaki itu langsung mencari Nala yang berada di dapur.
"Nala," panggil Jimin yang berdiri di pintu dapur.
Nala yang sedang menutup kotak bekal Ken itu melihat kearahnya.
"Eh, ada Om Jimin, kebetulan, ayo kita sarapan bareng."
Jimin pun berjalan mendekat dan segera menanyakan siapa teman Nala yang kemarin bersamanya.
"Oh, itu. Namanya Ririn, kenapa? Om naksir dia?" tanya Nala seraya membuatkan kopi untuk Dhev.
"Mau ada perlu, boleh minta nomernya? Boleh, ya!" Jimin sekarang berdiri di depan Nala yang sedang menuang air hangat ke cangkir, membuatkan Amira teh hijau.
"Siapa tau dengan Ririn mengenal Om Jimin bisa buat dia berubah," batin Nala.
"Kok malah bengong," kata Jimin.
"Oh, tentu boleh. Nanti aku catatkan, ya."
"Suamimu posesif, sih. Masa nyimpen nomer om aja enggak boleh! Kalau boleh kan om enggak ribet sekedar nanya-nanya mah," kata Jimin.
Dan tanpa keduanya sadari, sudah ada Dhev yang berdiri di pintu dapur.
"Gue khawatir istri kecil, polos dan lugu gue jadi eror otaknya!" kata Dhev, pria itu datang dengan membawa dasi dan memberikannya pada Nala.
"Eleh, kaya anak kecil aja lo! Dasi aja dipakein!" kata Jimin seraya menarik kursi duduknya.
"Bilang aja lo ngiri, kan!" jawab Dhev.
Jimin tidak membalasnya, percuma berdebat dengan Dhev.
Tidak lama kemudian, sekarang, semua orang sudah berkumpul dan duduk di kursi masing-masing.
Dhev selalu lahap dengan masakan istrinya, selalu menghabiskan yang berada di piring, siang ini Dhev tidak membawa bekal karena ada janji temu dengan klien, makan siang bersama.
Selesai dengan sarapan, seperti biasa, Nala mengantar Dhev sampai ke depan, di sana, Dhev mengecup kening istrinya.
"Ku kerja dulu, doakan semua lancar!" kata Dhev seraya mengusap lengan Nala.
"Pasti," jawab Nala, kemudian Nala memberikan tas kerja suaminya.
Setelah itu, Nala mengantar Ken ke sekolah.
"Anak ibu sudah siap?" tanya Nala dan Ken yang berdiri di sampingnya itu menganggukkan kepala.
"Kenapa yang dicium cuma ibu? Ken enggak di cium," kata Ken dan Nala mendengarnya.
"Sayang, kamu melupakan sesuatu!" seru Nala seraya melambaikan tangannya.
Dhev yang sudah hampir masuk mobil itu kembali lagi.
"Melupakan apa?" tanya Dhev.
"Kenapa yang dicium ibu doang, Ken mau dicium juga," kata Nala dengan tersenyum manis.
"Ken udah besar, bukan bayi lagi! Udah enggak wangi," jawab Dhev seraya mengacak rambut Ken.
Mendengar itu, Ken merasa bingung, lebih besar ibu dari pada dirinya, kenapa bisa seperti itu, pikir Ken.
Bersambung.