
"Ada drama apa ini?" tanya Andra yang baru masuk ke kamar Mae. Andra yang sedang menonton televisi merasa penasaran apa yang membuat ibu dan anak itu berdebat.
Setelah mengetahui kalau Mae tidak menyetujui hubungan Alif dan Fai, justru Andra meminta Mae untuk menerima.
"Siapa tau kalau nanti mereka menikah, kita enggak perlu hidup susah lagu, Mae!"
"Diam!" kata Mae dan Alif bersamaan yang tak meminta pendapat dari Andra.
"Dengar Alif, ibu menyukai Fai, tapi bukan buat jadi pacar kamu! Ibu enggak akan merestui hubungan kalian!" kata Mae seraya membalikkan badan, Mae tak mau menatap Alif lagi yang terlihat mengiba.
Alif pun keluar dari kamar, ia akan memperjuangkan hubungannya.
"Mungkin ini adalah jalannya, gue harus berusaha lebih keras buat jaga hubungan ini!" batin Alif.
Setelah itu, Alif segera pergi dari rumah, ia menemui teman-temannya di pangkalan biasa.
Sesampainya di sana, Alif mendapatkan pertanyaan dari temannya yang sedang bermain gitar.
"Kenapa lo? Kusut amat?"
"Enggak papa!" jawab Alif seraya kepala yang menunduk, ia membuka pesan dari Fai yang mengatakan kalau dirinya ingin bercerita.
"Cerita apa, Fai? Cerita aja," balas Alif dan seraya menunggu Fai membalas pesan Alif, ia pun bertanya pada temannya yang masih pengangguran itu.
"Menurut lo gue harus nurut sama ibu enggak? Ibu enggak suka hubungan gue sama Fai!"
"Lah, kenapa enggak suka? Apa salahnya dan apa penyebabnya?"
"Entah, ibu bilang enggak suka hubungan ini, itu gitu aja!"
"Aneh, kalau menurut lo enggak salah ya udah, apa salahnya pertahanin!"
"Gitu, ya? Gue termasuk durhaka enggak?"
"Kagak, mungkin ini masalah waktu aja, Lif!"
"Bener. Mungkin ini masalah waktu, lo tau kan, Fai itu cinta pertama gue, pacar pertama gue! Eh ibu langsung bilang enggak suka," dengus Alif yang kemudian menarik nafas.
Alif pun kembali ke ponselnya, ia membaca keluh kesah Fai yang mengatakan kalau dirinya sedang sedih karena kakaknya telah dibutakan oleh cinta.
Membaca itu, Alif pun merasa kalau dirinya sama dan tengah dibutakan cinta Fai.
"Sabar, gue bisa bantu apa?" tanya Alif dan Fai pun mengatakan cukup menjadi pendengar karena Fai tidak ingin merepotkan Alif untuk urusan rumahnya.
"Iya, semoga kakak lo cepet balik, ya!" kata Alif dan Fai pun mengiyakan.
****
Kenzo yang tengah lapar itu sedang sarapan sekaligus makan siang di sebuah kafe, tak sengaja, di sana Ken melihat Adila yang juga tengah makan bersama dengan seorang pria.
Ken memperhatikan dari jauh dan Adila sepertinya tak menyadari keberadaan Ken.
Lalu, Ken melihat kalau Adila yang membayar tagihannya.
Ken yang merasa sebagai abang Adila itu tidak terima.
Ken pun menahan Adila yang akan membayar. "Kenapa kamu yang bayar?" tanya Ken seraya menahan tangan Adila, sementara seorang pelayan itu sudah siap menerima kartu dari Adila.
"Kenapa? Kan enggak papa, lagian ini urusan Dila," jawab Adila seraya berusaha melepaskan tangan Ken dari lengannya.
"Siapa sih lo? Ikut campur aja!" kata si pria itu yang bernama Rama.
Ken tak menghiraukan Rama, ia kembali fokus ke Adila.
"Jangan bodoh, di mana-mana cowok yang bayarin ceweknya! Antar dan jemput ceweknya! Bukan kebalik!"
"Abang, urus aja urusan abang, jangan ikut campur urusan Adila, lagian kalau ngatain bodoh, abang sendiri lebih bodoh!" kata Adila yang kemudian berhasil melepaskan tangan Ken.
"Dikasih tau malah ngeyel!" kata Ken yang kemudian bertanya pada pelayan berapa total tagihannya dan Ken yang membayar semua.
"Ngatain orang bodoh, sendirinya juga bodoh! Tapi ada benernya juga, sih. Kenapa gue harus traktir Rama terus? Sedangkan gue sama dia enggak cinta-cinta amat!" batin Adila seraya menatap kesal pada Rama.
"Sayang, jangan kemakan sama hasutan dia! Nanti kalau gue udah ada kerjaan kita gantian kok! Gue pasti traktir lo!" kata Rama seraya mengajak Adila untuk kembali duduk.
Di mobil, Ken sendiri merasa bingung akan menginap di mana dan ia segera menghubungi Bila, menanyakan soal kos-kosan yang terbilang cukup murah.
Bila merasa heran dengan Ken yang mencari kos-kosan dan otak kotornya itu berpikir kalau Ken mencari kos itu untuk Ken dan dirinya saat akan melakukan kuda-kudaan.
Bila pun memberitahu kalau ada info kos kosong, Bila mencari kos itu secara on-line.
Tak menunggu lama, Ken pun segera menuju ke kos Bila untuk menjemputnya.
Sesampainya di kos Bila, Ken meminta Bila untuk turun dan segera ke kos yang Bila maksud.
Sesampainya di kos tersebut, Ken merasa cocok-cocok saja, asalkan ada tempat untuknya beristirahat.
Setelah membayar sewa satu bulan, Bila pun menanyakan rasa penasarannya pada Ken.
"Ken, kenapa tiba-tiba kamu nyari kos?"
"Aku keluar dari rumah, dari perusahaan, aku merasa kalau pria asing itu adalah pria bayaran untuk menjebak kamu!" jawab Ken seraya duduk di ranjang kecil yang berada di kamar kos yang berukuran sedang.
"Apa? Terus nanti kamu kerja apa, Ken?" tanya Bila, ia merasa khawatir kalau Ken akan dibiarkan oleh ayahnya dan tidak kembali ke keluarganya lalu Ken menjadi pria biasa.
"Iya, kamu tenang aja, kita tetap tunangan dan akan menikah walau tanpa restu mereka, aku juga pasti dapat kerjaan baru! Kamu sabar, ya!" kata Ken seraya membawa Bila duduk di ranjang, Ken ingin mencium kening Bila untuk menenangkannya tetapi Bila seolah menolak.
"Kenapa? Apa karena aku udah miskin?" tanya Ken dan Bila pun segera mencari alasan.
"Bukan, Ken. Tapi, setelah kejadian semalam, aku merasa kotor dan enggak pantas buat kamu!" jawab Bila seraya menunduk.
"Jangan berpikir seperti itu, kalau itu benar ulah orang ayahku, aku harus bertanggung jawab atas diri kamu!" kata Ken dan Bila pun memaksakan senyum di bibirnya.
"Jangan pergi walau aku udah enggak punya apa-apa, kita mulai dari awal!" kata Ken dan Bila pun menganggukkan kepala.
Ken dan Bila pun saling berpelukan.
Di kos itu, Bila menemani Ken untuk beberapa saat, ia juga ikut mencarikan pekerjaan untuk Ken.
****
Sekarang, Adila baru saja mengantarkan Rama ke kosnya, sebelum turun Rama meminta ijin untuk mencium Adila.
Adila pun mengiyakan dan saat bibir Rama akan sampai di bibirnya, Adila memalingkan wajahnya, di bayangannya ada Kenzo yang membuatnya kesal.
Adila pun mulai bertanya dalam hati, kenapa Ken selalu mengganggu pikirannya.
"Kenapa?" tanya Rama yang merasa kalau Adila belum mencintainya.
"Enggak papa, kita masih cinta monyet, Ram! Jangan terlalu jauh!" kata Adila yang mencari alasan.
Cup! Rama pun mengecup kening Adila lalu mengacak pucuk rambutnya. Setelah itu, Rama turun dari mobil Adila.
"Yakin enggak mampir?" tanya Rama dan Adila menjawab dengan senyum.
Setelah itu, Adila segera memarkirkan mobilnya dan saat itu juga Adila melihat ada mobil Ken yang terparkir tidak jauh dari kos Rama.
"Kaya mobil abang," gumam Adila.
Bersambung.
Like dan komen ya all 🤗🤗.
Aku seneng banget kalau setelah baca kalian like karya ini, apalagi difavoritkan juga.
Sampai jumpa di episode selanjutnya 🤗... Maafkan typo yang bertebaran 🙏🙏🙏