DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Salting


Beberapa hari berlalu, Arnold merasa kesepian karena tidak melihat Alif. Alif seperti menghindari Arnold, ia benar-benar bekerja tanpa mau dekat dengan pemiliknya. Masih tak terima dengan ucapan Fakhri yang mengatainya cari muka.


Sekarang, Arnold mengadakan acara makan bersama supaya semua karyawannya berkumpul.


Arnold dan anak buahnya makan di lesehan yang sudah ia sewa, Arnold memperhatikan Alif yang nampak akrab dengan teman kerjanya, tetapi seolah mengabaikannya.


Arnold pun bertanya dalam hati, mungkinkah dirinya mempunyai kesalahan pada Alif.


Arnold pun ikut bergabung diantara Alif dan temannya.


"Gimana kabar kamu? Udah lama enggak ketemu! Ibu sehat?"


"Eh, om. Iya, selesai kerja Alif langsung pulang, Ibu Baik, om," jawab Alif seraya menatap Arnold yang ikut duduk bersamanya.


"Baguslah, kerja yang rajin, biar tahun depan bisa kuliah!" kata Arnold seraya menepuk punggung Alif dan Alif pun hanya menjawab dengan mengangguk.


****


Di rumah Dhev, Fai baru saja keluar dari kamar, ia akan mengerjakan tugas bersama Adila, Fai menoleh ke arah kakaknya yang memanggil. Kenzo baru saja pulang bekerja karena Dhev menyuruhnya untuk lembur.


"Mau kemana?" tanya Ken seraya melihat jam di tangannya.


"Ke rumah Adila, Om sama Tante lagi pergi, Fai mau nemenin Adila sekalian ngerjain tugas!" jawab Fai yang kemudian melewati Kenzo.


Kenzo yang masih merasa kesal dengan anak-anak itu menahan lengan Fai.


"Udah bilang sama ibu belum?" tanya Ken.


"Udah, Ibu lagi mijit Omah di kamar," jawab Fai seraya melepaskan tangan Kenzo.


"Biar Kakak antar!"


Setelah itu, Ken menyimpan tas kerjanya lebih dulu di kamar, lalu menyusul Fai dan mengantarkannya ke rumah Adila.


Sesampainya di sana, Adila hanya di temani oleh asisten rumah tangganya sedang menonton televisi, setelah kedatangan Fai dan Kenzo, asisten rumah tangga itu permisi untuk membuatkan minuman dan mengambilkan cemilan.


Ken duduk di sofa depan televisi dan karena merasa pegal Ken memilih untuk berselonjoran ingin meluruskan pinggang dan kakinya.


Sementara itu Fai dan Adila sedang mengerjakan tugasnya di kamar.


"Gimana? Kakak lo masih ada hubungan sama itu cewek nggak?" tanya Adila seraya menatap layar laptop yang sedang dipangkunya.


"Kayanya sih masih! Lo kapan mulai pedekate?"


"Malam ini, mumpung kakak lo ada di sini!" jawab Adila seraya tersenyum pada Fai.


"Semoga sukses!" ucap Fai seraya menatap yakin pada Adila.


"Kalau sampai kakak dan Bila putus, lo adalah orang yang paling berjasa dalam hidup gue!" lanjut Fai.


"Ok! Jangan lupa siapin tiket ke Bali!"


"Gampang!" jawab Fai seraya mengedipkan mata.


Setelah itu, Adila pun keluar dari kamar dan melihat Kenzo yang ternyata sedang tertidur.


Melihat pria yang akan digodanya itu sedang tidur membuat Adila memilih untuk ke dapur, ia membuat es coklat favoritnya.


Pertama, Adila menyeduh bubuk coklat itu dengan air hangat, lalu mengaduknya dan saat Adila mengaduk itu, ia dikejutkan dengan kedatangan Kenzo yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.


Jaraknya sangat dekat sampai Adila sendiri merasa gugup dibuatnya.


"Penggemar Abang! Katanya penggemar, masa bikinnya cuma satu doang!"


Adila pun sedikit menggeser langkahnya, ia memberi jarak antara dirinya dan Kenzo yang dianggapnya bersikap aneh malam ini.


Tetapi, Kenzo yang sempat mendengar obrolan Fai dan Adila yang menjadikan dirinya sebagai bahan taruhan itu akan memutar balikan keadaan.


Berhasilkah Kenzo?


"Abang mau?" tanya Adila seraya menatap Kenzo yang kembali mendekatinya.


"Buatkan juga untukku satu!" kata Kenzo yang kemudian pergi dari dapur.


Melihat itu membuat Adila merasa sedikit tenang dan dapat bernafas dengan lega.


"Astaga, enggak biasanya gue deg-degan kaya gini!" Gumam Adila seraya mengusap dadanya.


Setelah itu, Adila membawakan minuman itu ke ruang tengah di mana Ken sedang duduk bersantai bersama dengan Fai. Terlihat Fai sedang memakan cemilan yang sudah bibi siapkan.


"Ini, Bang!" kata Adila seraya meletakkan gelas milik Kenzo di depannya.


"Astaga, kalau godain cowok cuek sih gue bisa, tapi kalau yang mau digodain malah kaya gini, kok gue takut duluan, ya!" batin Adila seraya meminum es coklatnya. Ia memilih untuk menatap layar televisi dan selama itu juga Kenzo masih memperhatikannya membuat Adila salah tingkah.


"Gue ngantuk, Fai. Yuk kita tidur!" ajak Adila dan Fai pun bangun dari duduk mengikuti Adila.


"Penggemar! Masa abang ditinggal sendirian!" kata Kenzo yang masih duduk dengan kaki yang disilangkan, tangannya kirinya berada di punggung sofa.


"Iya, terus, masa mau diajak bobo juga!" jawab Adila yang kemudian menarik lengan Fai.


"Dasar anak kecil!" gumam Kenzo seraya menggelengkan kepala.


****


Di kamar, Adila menolak tantangan Fai, ia takut akan terjebak dalam permainannya sendiri.


"Cemen lo!" kata Fai yang sudah berbaring di ranjang.


"Gue takut lo musuhin juga kalau gue jadian beneran sama abang lo!"


"Enggak akan lah!"


"Kok gitu?" tanya Adila yang sedang memakai masker wajah.


"Lebih baik abang gue sama lo!" jawab Fai yang sudah memejamkan mata.


"Gue takut, Fai!"


"Takut apa? Emangnya kakak gue serem apa?"


"Bukan itu, gue takut diajak merit! Haha! Secara kan abang lo udah dewasa, gue masih kecil! Masih cinta monyet gue mah!"


"Alesan aja lo!"


Setelah itu, Fai mematikan lampunya dan benar-benar memilih untuk tidur.


****


Di rumah sakit, Nindy masih terngiang dengan suara Alif, merasa rindu dan ingin mendengar suaranya lagi.


Di komanya, Nindy melihat Doni yang meminta pada Nindy untuk kuat dan bangun.


"Aku enggak bisa tanpa kamu!" kata Nindy yang tak mampu berpisah dari Doni.


Setelah mengatakan itu, Doni menghilang dari pandangan Nindy.


Nindy pun kembali menangis.


Sementara di sisinya ada Fakhri yang sedang menunggunya, Fakhri sedang memainkan ponselnya, ia berbalas chat dengan Arnold yang menanyakan keadaan Nindy.


Fakhri memberitahu kalau keadaan Nindy masih sama.


Arnold pun hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Nindy.


"Sekarang sudah larut, tidurlah, Nak!" kata Arnold dan Fakhri pun mengiyakan perintah itu.


"Iya, Paman juga jangan terlalu lelah, selamat istirahat, Paman," balas Fakhri.


Setelah itu, Fakhri memasukkan ponselnya ke tas gendong miliknya, lalu Fakhri pun segera menjemput mimpi, tidur di sofa panjang yang tersedia.


Sementara itu, ada Alif yang baru saja sampai di rumah.


"Kamu dari mana, le? Kok pulang malam banget? Lembur?" tanya Mae yang membukakan pintu untuk Alif.


"Enggak, Bu. Om Arnold habis ngajak anak buahnya meeting sekalian makan-makan di restoran."


Alif pun segera mencium punggung tangan Mae, pria muda itu melihat Andra sudah tertidur pulas di ruang tamu dengan mulut yang sedikit mangap.


Ingin rasanya Alif menutup mulut itu menggunakan kaos kaki, tetapi Alif berlalu, ia masuk ke kamarnya, setelah itu, Alif teringat kalau dirinya baru saja menerima gaji. Alif pun kembali keluar dari kamar, ia yang masih mengenakan seragam kerjanya itu menemui Mae di kamar.


"Bu, ini gaji Alif, Alif ambil sedikit aja buat ditabung, tahun depan Alif mau kuliah!" kata Alif seraya menyerahkan uang gajinya pada Mae.


"Buat kamu saja, ibu enggak berhak menerima ini!" kata Mae, ia menitikkan air matanya, teringat kalau Alif bukanlah anak kandungnya tetapi Alif begitu baik padanya.


Bersambung.


Jangan lupa, setelah baca like dan komen, ya 🤗.


Terimakasih atas dukungan berupa vote/giftnya ❤. Yang belum vote atau Gift, ayuk gas keun 🤭