DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Menguji Kesabaran


Dhev mendorong dada Arnold supaya sedikit menjauh darinya lalu melanjutkan menertawakan Arnold.


Dhev merasa puas sekali siang ini karena Arnold telah menjatuhkan harga dirinya dengan mendatanginya untuk melamar pekerjaan.


"Gue serius, Dhev!" ucap Arnold yang kemudian duduk di kursi kebesaran Dhev.


"Awas lo, bangun, tempat duduk gue!" Arnold pun bangun lalu berpindah duduk ke kursi depan Dhev.


"Panggil Serena untuk ke sini!" perintah Dhev seraya berdecak. Pria itu merasa puas hati bisa menertawakan Arnold.


"Bangun! Kata lo mau kerja sama gue!" ketus Dhev seraya membuka berkas yang harus ditanda-tanganinya.


"Jadi kerjaan gue cuma kaya gini aja?" tanya Arnold seraya bangun dari duduknya.


"Kerja sama gue syarat cuma satu! Harus kuat dan nurut! Itu aja!"


"Hah!" Arnold pun berlalu dari hadapan Dhev.


Pria itu turun ke lantai bawah untuk mencari Serena, tetapi pria itu yang belum mengetahui di mana ruangan Serena harus mencarinya kemana-mana.


"Lama banget sih, manggil orang aja lama! Jangan-jangan dia godain cewek dulu di bawah!" gumam Dhev seraya menekan tombol telepon yang langsung terhubung dengan Serena.


Serena menerima panggilan itu, ada rasa takut di hatinya, takut kalau ternyata Arnold juga tidak cocok dengan bosnya, Serena takut dipecat kali ini.


Gadis itu pun keluar dari ruangannya dan bertepatan dengan Arnold yang baru saja akan mengetuk pintu ruangan Serena.


"Mbak, kamu dipanggil sama Dhev!" kata Arnold.


"Astaga, Tuan, Pak... Tuan!"


Kata Serena mengingatkan supaya Arnold bisa lebih sopan pada bosnya.


"Iya... iya!" jawab Arnold yang kemudian mengikuti Serena kembali ke ruangan Dhev.


Serena berdiri di depan pintu ruangan Dhev. Ia sudah pasrah apabila Dhev akan memecatnya.


Gadis itu pun mengetuk pintu menggunakan sisa kekuatannya.


"Masuk!"


Serena pun membuka pintu dan meminta Arnold untuk menunggu di luar. Arnold pun menunggu di luar seraya menyenderkan punggungnya di dinding samping pintu ruangan Dhev.


"Iya, saya, Tuan."


"Terimakasih kamu sudah membuat hari saya bahagia! Kamu membawa orang yang tepat!" kata Dhev seraya menatap Serena.


Mendengar itu Serena merasa sedang beruntung dan menarik nafas penuh kelegaan.


Dhev pun memerintahkan Serena untuk menunjukkan ruangan untuk Arnold, tidak lupa juga untuk memberitahu apa pekerjaannya selama menjadi asisten Dhev.


Serena pun pamit keluar undur diri dari hadapan Dhev.


"Gimana? Gue enggak diterima?" tanya Arnold dan Serena tersenyum.


"Selamat, anda diterima, saya harap anda cocok untuk Tuan Dhev dan bisa menjadi asisten pribadinya. Mari ikuti saya!" kata Serena yang membawa Arnold ke ruangan bekas Doni yang berada di lantai tersebut.


"Pak, tugas anda hanya perlu bersabar dan menuruti semua ucapannya dengan baik," ucap Serena seraya membuka pintu ruangan asisten pribadi Dhev.


"Ok," jawab Arnold seraya masuk ke ruangan itu.


Baru saja Arnold duduk di kursi empuknya, telepon di ruangan itu sudah berbunyi.


Arnold pun menerima telepon tersebut yang ternyata dari Dhev.


"Transfer uang bonus untuk Serena!" perintah Dhev.


"Gue masih baru, gimana tau nomor rekening Serena?"


"Buka semua berkas yang ada di meja! Cari!" perintah Dhev.


Arnold pun menutup telepon itu.


"Enggak sopan, haha!" kata Dhev yang masih ingin terus menertawakan Arnold, tentu saja Dhev sudah menyiapkan pekerjaan untuknya, ingin menguji mentalnya lebih dulu, kesetiaannya, apakah masih perlu diragukan atau tidak.


Di ruangan Arnold, beruntung, Doni menyimpan data dengan rapi, membuat Arnold sedikit merasa lega dan dengan cepat dapat menemukan data itu.


Tetapi, Arnold bingung, ia harus mentransfer berapa banyak uang untuk Serena.


Arnold pun keluar dari ruangannya, ia pergi ke ruangan Dhev tanpa mengetuk pintu.


Arnold langsung mendapatkan lemparan gelas kosong dari Dhev. Dengan sigap, Arnold menangkap gelas itu.


"Ketuk pintu dulu!" jawab Dhev.


Dan Arnold pun kembali keluar, ia yang berdiri di depan ruangan Dhev itu menarik nafas dalam.


Arnold mengetuk pintu itu, mengulang kembali untuk masuk keruangan Dhev.


"Masuk!" kata Dhev.


Arnold pun membuka pintu apa. "Astaga, gue jadi kaya orang bodoh!" gumam Arnold dalam hati.


"Ada apa?" tanya Dhev seraya menatap Arnold yang meletakkan gelas di tangannya itu ke meja Dhev.


"Gue harus transfer berapa?" tanya Arnold.


Dan Dhev pun memberitahu berapa banyak yang harus di transfer. Dhev juga memberikan ponsel untuk urusan kantor pada Arnold.


****


Di apartemen Jimin, Ririn masih memikirkan foto yang ia lihat tadi pagi.


Ririn pun menceritakan semua itu pada Nala melalui chat.


Nala pun menyarankan untuk menanyakannya langsung pada Jimin.


"Sakit hati aku, La! Aku takut terima kenyataannya kalau Jimin emang beneran mau madu aku."


"Kalau Om Jim mau madu kamu, pasti dia udah lakuin itu," balas Nala.


"Jangan-jangan dia udah nikah siri sama Siti? Makanya dia pulang ke rumah mamihnya."


"Pikiran kamu tuh yang jelek, pikiran yang jelek cuma bisa bikin kita gelisah! Mending cari tau jawabannya, tanya langsung ke Om Jim!" perintah Nala.


"Iya, aku harus percaya sama suamiku!" balas Ririn, setelah itu Ririn menyimpan ponselnya di ranjang.


Ia pun pergi untuk mandi sore, sudah seharian ini Ririn tidak mandi karena malas, terlebih lagi memikirkan rumah tangganya yang terasa berat untuk dijalani.


Ririn yang sudah berada di bawah shower itu bertanya pada dirinya sendiri, "Apa gue harus bertahan walau berat? Mau dibawa kemana rumah tangga ini kalau selalu masalah yang datang lama-lama gue bisa gila!"


****


Sementara itu, di kantor Jimin, ia kedatangan tamu yang membuatnya merasa kesal. Tamu itu adalah Siti.


"Aku datang ke sini mau minta maaf, maaf udah jadi duri di dalam rumah tangga kamu!" kata Siti yang masih berdiri di pintu ruangan Jim.


"Iya udah gue maafin! Sekarang pergi dan jangan ganggu gue lagi! Kalau mamih nyuruh yang enggak bener jangan dituruti!" kata Jimin seraya bangun dari duduk, ia mengambil jaketnya, bersiap untuk pulang.


"Iya," jawab Siti seraya memperhatikan Jim.


"Tapi aku enggak janji buat berenti dapetin kamu!" batin Siti.


Gadis itu pun keluar dari ruangan Jim.


****


Di rumah Dhev.


Pria itu yang baru saja sampai di halaman rumahnya turun dari mobilnya dengan tersenyum. Berjalan cepat ke arah Nala dan anak-anaknya berdiri.


Memeluk Nala dan menciumi anak-anaknya.


"Ayah kayanya lagi seneng banget," ucap Nala dan Dhev pun mengecup kening istrinya.


Tidak menjawab ucapan istrinya, Dhev juga tidak memberitahu apa yang membuatnya senang hari ini, ia tidak ingin orang rumah tau kalau Arnold telah bergabung di perusahaannya.


Ia ingin melihat kinerja Arnold lebih dulu sebelum orang rumah menyalahkannya karena telah menerima Arnold bekerja di perusahaan.


Sementara itu, Arnold sedang mempelajari berkas-berkas di ruangannya. Ia merasa merinding dan merasa kalau ruangan itu sangat dingin.


"Apa karena ruangan ini lama enggak ditempati?" tanya Arnold pada dirinya sendiri.


"Apa karena Doni belum ikhlas meninggalkan ruangan ini?"


Bersambung.


Apakah ruangan Doni sekarang berhantu, tentu tidak, itu cuma perasaan Arnold saja karena mengingat kematian Doni yang tragis.


Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya. Terimakasih sudah membaca^^