DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Bisa Cantik Juga


Fai dan Alif berhasil melarikan diri, setelah merasa aman, Alif menepikan motornya.


"Turun lo! Bikin ribet aja!"


"Anterin gue balik!" rengek Fai.


"Gue bukan tukang ojek!"


Belum sempat Fai kembali merengek sudah datang mobil mewah, mobil itu adalah milik Kenzo.


Ken membunyikan klaksonnya, Fai dan Alif pun melihat kearah mobil tersebut.


Fai terlihat masih kesal dengan pemilik mobil itu, tangannya ia lingkarkan di lengan Alif dan Alif pun melihat kearah gadis cantik yang sekarang berdiri di sampingnya.


"Maksud lo apa?" tanya Alif, netranya saling bertemu dengan milik Fai.


Fai membalasnya dengan senyum.


Lalu, Ken memisahkan Fai dengan Alif. Ken tidak suka melihat penampilan Alif yang seperti anak jalanan, Ken juga memperhatikan motor bebek Alif yang usang. Motor bebek itu adalah motor bekas yang tak terpakai, motor itu ia temukan di gudang Arnold lalu Alif meminjamnya.


"Siapa dia?" tanya Ken pada Fai seraya menarik tangan adiknya.


Sementara Alif mengira kalau Ken adalah kekasih Fai. Alif hanya memperhatikan keduanya.


Tersadar kalau itu bukan urusannya membuat Alif berniat untuk pergi dari tempatnya berdiri.


Baru saja Alif duduk di motornya, Ke sudah memanggilnya.


"Heh! Kamu! Jauhi adik saya!" kata Ken seraya menunjuk Alif.


"Dih, kenal juga enggak!" balas Alif yang kemudian pergi meninggalkan Ken dan Fai.


"Fai masih sebel sama kakak!" gerutu Fai seraya masuk ke mobil. Ia membanting pintu mobil tersebut dengan sedikit keras.


"Salah siapa enggak sabaran! Contoh tuh ibu, ibu sabar banget, masa anaknya enggak sabar!"


"Bukan masalah sabarnya, tapi kakak udah enggak sayang sama Fai!" setelah itu Fai pun menangis, ia pindah duduk ke kursi belakang dan Kenzo hanya menggelengkan kepala.


"Apa benar kata Bila, kalau aku terlalu manjain Fai?" batin Kenzo seraya mengitari mobilnya, setelah itu, ia pun segera membuka pintu mobil dan duduk di bangku kemudinya.


Fai dan Kenzo memilih untuk saling diam. Sesampainya di rumah, Fai masuk dengan berlari seraya mengatakan kalau kakaknya jahat.


"Kakak jahat!"


Kenzo hanya menggelengkan kepala.


"Lebay banget sih, Fai!" gerutu Ken.


Mendengar itu, Fai pun menghentikan langkah. Ia memutar balikan badannya.


"Apa? Lebay? Kakak mau adik kesayangan kakak yang paling imut ini kenapa-napa di jalan? Untung ada dia loh tadi yang nolongin Fai dari kejaran preman!" ucap Fai yang kemudian berlari masuk ke kamar.


Fai melemparkan tasnya ke sofa dengan kesal.


"Apa, lebay? Dia bilang aku lebay?" geram Fai seraya melepaskan jaketnya dan melemparkannya ke keranjang baju kotor.


Sementara Kenzo masih berada di ruang tengah, sedikit terkejut dan merasa masih untung karena adiknya masih selamat.


"Ada apa, Ken?" tanya Dhev yang ternyata memperhatikan keduanya dari pintu ruang kerjanya.


"Biasa, Yah. Bermula dari cemburu jadinya merembet kemana-mana."


"Saran ayah, Ken. Lebih baik kamu pacaran diam-diam! Kalau adik kamu udah punya pacar dan perhatian sama dia, ayah yakin dia akan menerima dan mulai sibuk dengan dirinya sendiri!"


"Gitu ya, yah?" tanya Ken dan Dhev pun menganggukkan kepala.


Setelahnya, Dhev yang baru saja mengambil sesuatu yang tertinggal di ruang kerjanya itu kembali ke kamar.


"Payah kamu, Ken! Dulu waktu seumuran kamu ayah udah nikah loh! Ini pacaran aja ribet!" Dhev terkekeh saat mengingat tingkah anak-anaknya.


****


Keesokan harinya.


Arnold pagi-pagi sekali sudah berada di salon mobilnya. Tiada hari libur baginya, akhir pekannya ia gunakan untuk mengurus salonnya.


Tetapi, tidak dengan hari ini karena Dhev memerintahkan Arnold untuk membuatkan kejutan ulang tahun.


Arnold yang baru saja mengecek berkas-berkas penting itu keluar dari ruangan khusus karyawan bertepatan dengan Alif yang datang pagi-pagi.


"Bosan di rumah, liat tua bangka enggak ada gunanya, ibu juga udah mulai kerja, mau ngapain lagi Alif, om?"


"Emang udah sembuh ibu kamu?"


"Udah om, makasih ya obatnya," Alif tersenyum lalu mulai memakai seragam kerjanya.


"Loh, kamu mau ngapain?" tanya Arnold seraya memperhatikan Alif.


"Kerja lah om. Lembur, ya!"


"Ikut om aja, ayo!" ajak Arnold seraya berjalan meninggalkan Alif.


"Kemana om?" tanya Alif yang melepaskan seragamnya lagi lalu memakai jaketnya.


Alif pun mengejar Arnold dan menyusulnya masuk ke mobil.


"Mewah banget om mobilnya," puji Alif setiap kali melihat mobil Arnold.


"Suka?" tanya Arnold seraya melihat ke arah Alif duduk.


"Bukan suka lagi ini mah, tapi cuma mimpi bagi Alif mah, om!"


"Yang rajin, jangan banyak mengeluh! Pasti bisa!" Arnold pun mulai menyalakan mobilnya dan perlahan mulai meninggalkan salon mobil.


"Emang orang yang enggak kuliah kaya Alif bisa sukses kaya om?" tanya Alif seraya menatap Arnold, mencari jawaban.


"Kamu kira om kuliah? Om. kuliah enggak sampai lulus! Masa muda om berantakan, kamu jangan tiru, ya! Nanti menyesal di hari tua kaya om!"


Alif pun tersenyum. Entah mengapa ia selalu merasa nyaman dan setiap ucapan Arnold bagaikan nasehat dari ayah untuk anaknya. Alif pun menjadi semangat menjalani kehidupannya.


Ia tak lagi mau pusing memikirkan bapaknya yang tidak tau diri itu, Alif ingin membuat Mae dan Arnold bangga.


Sebelum sampai ke tujuannya, Arnold membawa Alif ke makam lebih dulu, ya, ibu Arnold sudah lama meninggal dunia. Ibu Arnold meninggal dengan perasaan lega dan tenang karena anaknya sudah kembali pulang.


Setelahnya, Arnold membawa Alif ke hotel mewah, di sana pesta ulang tahun untuk Nala akan di gelar.


"Wah, Om biasa ke tempat seperti ini, ya?" tanya Alif yang terus mengikuti Arnold.


"Iya dan ini adalah pesta kejutan untuk istri bos, kamu harus hadir juga nanti bersama om!"


"Emang boleh om? Alif engga punya baju bagus loh, nanti malu-maluin om kan enggak lucu!"


"Tenang aja, om kamu ini orang kaya!" ucap Arnold seraya menepuk bahu Alif.


Arnold pun menemui pihak hotel dan segera mengurus semua biayanya, Arnold mengawasi sendiri bagaimana karyawan hotel bekerja, ia tak ingin Dhev kecewa dengan hotel pilihannya.


Apalagi pesta ini akan dihadiri oleh orang-orang penting.


Singkat cerita, selesai urusan dengan hotel, Arnold membawa Alif berbelanja jas dan keperluan lainnya.


Alif merasa bahagia hari ini, ini adalah pertama kali baginya berbelanja pakaian mahal.


Setelah itu, Alif terus mengikuti Arnold yang kembali ke hotel, di sana Alif melihat bidadari tak bersayap.


Bidadari itu adalah Fai yang menjelma menjadi gadis cantik jelita.


Fai dan Adila dengan sengaja hadir lebih dulu.


Tentu saja, Fai tidak lepas menggosipkan Bila yang malam ini akan dikenalkan pada kedua orang tuanya.


"Kalau dia jodoh kakak lo!" tanya Adila yang berdiri di samping Fai dengan tangan yang membawa gelas berisikan air minum berwarna coklat kehitaman.


"Gue enggak setuju, dia itu enggak bener!" kata Fai.


"Tau dari mana?"


"Perasaan seorang adik tidak pernah meleset!" ucap Fai dengan yakin. Tanpa Fai dan Adila tau, sebenarnya keduanya sedang diperhatikan oleh Alif yang terpesona.


"Ternyata, bisa cantik juga dia!" gumam Alif yang berdiri di belakang pilar, sementara Arnold mengikuti arah mata Alif memandang.


"Siapa? Nona Fai atau Adila?" tanya Arnold dan pertanyaan itu membuat Alif tersadar dari kekagumannya.


Alif merasa malu dan bersambung.


Like dan komen ya bestie ☺.


Sampai jumpa di episode selanjutnya 🤗