DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Sedikit Gombal


"Sekarang, lo mau kemana?" tanya Fakhri yang masih berada di atas motor.


"Gue mau ke rumah Adila!" jawab Fai.


"Yuk, gue antar!"


"Ojeknya udah datang, enggak enak gue!" kata Fai seraya menunjuk ojek yang berada di belakang Fakhri.


Fakhri pun turun dari motor, menanyakan berapa ongkos untuk Fai, setelah itu, Fakhri memberikannya uang tidak lupa dengan tips.


Setelahnya, Fakhri meminta pada ojek itu untuk pergi karena Fakhri yang akan mengantarkan.


Fai pun hanya bisa pasrah, kemudian ia naik membonceng motor Fakhri.


Setelah sampai di rumah Adila, Fai melihat temannya itu sedang berlatih yoga dengan Ririn.


Adila mengajak Fai untuk ikut bergabung tetapi, Fai yang kekenyangan itu menjadi malas bergerak, Fai hanya memperhatikan Ririn dan Adila dari sofa ruang tengah yang dapat melihat langsung ke area taman di mana Adila dan Ririn sedang yoga.


Fai yang duduk di sofa itu lama-lama merubah posisinya menjadi rebahan. Kemudian Fai mengeluarkan suara kencang dari mulutnya yaitu sendawa.


Fai juga mengusap perutnya.


"Besok lagi kalau mau sarapan bareng Alif enggak usah sarapan dulu di rumah, begah perut gue!" gerutunya.


Sementara di salon mobil, Alif yang sedang bekerja itu terus teringat dengan Fai. Bayangan Fai yang berkuncir kuda, senyumnya, cara makannya, Alif tak dapat melupakan itu.


****


Setelah kelas selesai, Fakhri mendapatkan pesan dari Arnold yang sudah menunggunya di restoran, ia ingin mengajak Alif untuk makan siang bersama.


Ya, begitulah Arnold, siang makan bersama dengan Fakhri dan malam makan malam bersama Alif.


Arnold juga memberikan uang jajan untuk Fakhri. "Enggak usah, Paman. Enggak enak Fakhri terus-terusan di kasih uang sama paman."


"Enggak papa, ambil aja, anggap ini pemberian dari papah kamu!" kata Arnold seraya memasukkan amplop ke tas Fakhri yang berada di kursi.


"Terimakasih, Paman. Walaupun Fakhri enggak punya papah, tapi Fakhri punya paman," ucap Fakhri dan Arnold sudah sering mengatakan kalau dirinya tidak keberatan jika Fakhri ingin menganggapnya sebagai ayah.


****


Selesai dengan makan siang, sekarang Fakhri pulang menuju ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya.


Sesampainya di sana, Amira dan Nala baru saja keluar dari ruangan Nindy.


Fakhri mencium punggung tangan omah dan budenya.


"Gimana kuliahnya?" tanya Nala seraya mengusap rambut hitam Fakhri.


"Lancar, bude. Makasih udah temenin mamah," kata Fakhri, ia tersenyum pada Nala dan Nala pun membalasnya dengan senyum.


Setelah itu, Nala pamit karena Amira sudah harus istirahat di rumah.


"Iya, hati-hati, Bude, omah," kata Fakhri.


Setelah itu, Fakhri segera membuka pintu ruangan Nindy. Ia duduk di kursi samping brangkar. Mencium punggung tangan Nindy tidak lupa mengucapkan salam.


Siang ini Fakhri kembali menceritakan tentang kebaikan Arnold pada Nindy.


Dan Nindy hanya mendengar tetapi tidak dapat menjawab.


Di jalan, Amira dan Nala melihat Alif yang sedang memboncengkan Fai. Amira pun bertanya dalam hati, siapa anak muda itu dan ada hubungan apa.


Terlihat, Fai dan Alif sedang berada di toko helm tepi jalan. Ya, Alif ingin membeli satu helm lagi untuk Fai.


Nala pun meminta pada Dadang untuk melanjutkan perjalanannya, Nala ingin menayangkan itu pada Fai nanti di rumah.


"Maaf ya, Fai. Helmnya bukan helm mahal!" kata Alif seraya memberikan helm itu pada Fai.


Fai pun segera memakai helm itu dan membonceng motor Alif.


"Enggak papa, kok. Yang pentingkan kegunaannya sama, selagi itu pemberian lo, gue tetep suka," kata Fai yang sedikit menggombal.


Alif merasa senang dan semakin mengagumi Fai yang tak pandang status.


Selesai dengan itu, Alif mengantarkan Fai untuk pulang lebih dulu, setelahnya Alif kembali bekerja.


****


Sekarang, Alif sedang berkemas, membereskan tempat kerjanya sebelum pulang.


Apa yang Alif kerjakan itu di perhatikan oleh Arnold yang baru kembali bekerja.


Arnold merasa senang dengan semangat Alif.


Arnold pun menghampiri Alif.


"Om suka semangat kamu!" kata Arnold yang tiba-tiba berdiri di samping Alif.


Alif yang sedang menyimpan peralatan bekerjanya itu melihat kearahnya.


"Terimakasih, om," jawabnya seraya tersenyum.


"Udah makan?"


"Belum, tapi Alif udah janji sama ibu, mau makan ketoprak bareng," jawab Alif seraya melanjutkan aktivitasnya.


"Ok, jadi om makan malam sendiri?"


"Cari istri, om," jawab Alif seraya sedikit tersenyum.


"Kalau kamu yang carikan, om mau!"


"Serius, om? Alif malah takut mau jodohin om. Takut enggak cocok," jawab Alif yang sekarang sedang memakai jaketnya.


"Alif pulang, om!" kata Alif dan Arnold hanya mengiyakan dan mengingatkan untuk hati-hati.


Sebelum sampai rumah, Alif mampir ke abang ketoprak yang tidak jauh dari rumahnya. Ia membeli dua bungkus ketoprak. Sempat terpikirkan untuk membeli tiga bungkus, tapi mengingatkan kelakuan bapaknya membuat Alif malas untuk membelikannya.


Setelah mendapatkan makan malamnya, Alif pun segera pulang dan memberikan bungkusan itu pada Mae.


"Bapak enggak dibelikan, lif?"


"Enggak, cari duit dulu buat ibu, baru Alif mau mengakui bapak!"


"Jangan begitu, walau begitu juga bapak mu ada sedikit jasanya," kata Mae mengingatkan sedikit kebaikan Andra.


"Iya, Alif tau, bapak yang antar ibu ke puskesmas saat Alif demam, kan? Itu sudah beberapa tahun yang lalu dan itu juga kan udah tanggung jawab bapak, bu!" kata Alif seraya melepaskan jaketnya dan menggantungkannya di balik pintu.


Mae hanya mendengarkan dan menang benar kalau itu adalah tanggung jawab Andra untuk menjaga anaknya.


Mae dan Alif pun makan berdua, sementara itu, Andra sedang bermain gaple bersama teman-temannya.


****


Tok...tok...tok, Nala mengetuk pintu kamar Fai.


Fai pun membukakan pintu untuknya.


"Boleh ibu masuk?" tanya Nala yang masih berdiri di depan kamar Fai.


"Boleh dong, kenapa enggak?" tanya Fai yang sedang mendengarkan musik di telinganya.


"Anak ibu sepertinya udah dewasa, makanya ibu lebih baik bertanya dulu," jawab Nala seraya masuk ke kamar Fai.


"Masa kecil terus, bu!"


Nala tersenyum pada Fai dan sekarang Nala duduk di tepi ranjang, Fai pun menyusul.


"Siapa cowok yang tadi, Fai?" tanya Nala dan Fai pun langsung mengerti.


Apakah Fai akan bercerita tentang perasaannya pada Nala?


Bersambung.


Like dan komentar, ya.


Difavoritkan juga, terimakasih sudah membaca 🤗