
Arnold sedang duduk di kursi kayunya, seraya menatap penghasilan kemarin itu lalu berdecak.
"Ck! Gimana gue enggak diejek sama Jim sialan itu!"
Apakah persahabatan ketiga pria ini akan kembali terjalin dengan baik?
****
Arnold ingat betul saat kemarin sore Jimin mendatanginya dengan mengatai kalau dirinya adalah perebut istri orang.
"Punya apa lo mau ngerebut istri gue, hah!" cibir Jim seraya menarik kerah kaos oblong yang dikenakan oleh Arnold.
Ucapan itu seolah terngiang di telinganya, membuatnya merasa gerah dan ingin bangkit lagi.
"Tapi... apa harus kerja sama Dhev? Jadi jongosnya? Udah pasti gue diejek habis-habisan sama dia! Terus perjanjian itu gimana?"
Arnold melemparkan kain lap yang berada di bahunya ke meja, lalu, ibu Arnold yang melihat itu dari pintu rumahnya pun menghampiri anaknya yang terlihat sedang galau.
"Anak ibu kenapa?" tanya wanita tua yang berada di kursi roda.
"Enggak apa-apa!" jawab Arnold, ia ingin menyembunyikan masalahnya.
"Masalah Jimin atau Dhev? Kalian dulu sahabatan kental, kenapa sekarang tidak ada yang mau mengalah satupun, cobalah mengalah, karena menunggu Dhev berubah itu seperti tidak mungkin. Demi persahabatan itu, bisa jadi kita yang harus mengalah, tidak ada orang yang sempurna apalagi dalam menerima kekurangan orang lain kita harus berlapang dada!" ucap ibunya seraya mengusap lengan Arnold, pria itu terdiam.
"Kita harus bisa memposisikan dimana diri kita, nak!" lanjut ibunya seraya tersenyum.
"Benar, posisi gue emang orang susah sekarang dan dari dulu emang gue selalu ada di bawah Dhev, kenapa gue masih aja jual mahal! Seharusnya gue sadar diri!" ucap Arnold dalam hati.
Apakah Arnold akan menurunkan gengsinya? Dan mulai kembali memahami Dhev si kepala batu?
****
Di apartemen Jimin, pria itu sedang meminta Ririn untuk mengancingkan kancing kemejanya, Ririn yang masih diam itu hanya menjawab iya dan selalu iya.
Jimin pun tau kalau istrinya masih belum sepenuhnya kembali.
"Sayang, senyumnya mana?" tanya Jimin yang berdiri di depan Ririn, tangannya berada di pinggang istrinya.
Ririn pun memberi senyum yang dipaksakan.
Melihat itu, Jimin hanya bisa menarik nafas, sebelum berangkat ke kantor, Jimin mengecup kening istrinya.
"Hati-hati!" ucap Ririn dan Jimin pun menganggukkan kepala, setelah itu pergi dengan mengendarai motor kesayangannya.
Setelah kepergian Jimin, Ririn mendapatkan tamu, tamu itu adalah pria botak yang berstatus sebagai papahnya.
"Papah, dari mana papah tau Ririn tinggal di sini?" tanya Ririn yang masih berdiri di pintu.
"Bukannya tawarin masuk, malah nanya yang enggak sopan!" ketus Papah Ririn seraya menerobos masuk ke apartemen.
"Pah, kalau ada perlu bisa telpon Ririn, nomor Ririn masih yang sama, enggak kaya kalian, udah ganti semua," ucap Ririn sedikit menyindir.
"Papah tau, apa yang kamu lakukan di sini, kamu udah nikah sama orang kaya terus lupa sama orang tua sendiri?" jawab pria botak itu seraya duduk di sofa ruang tamu.
Belum sempat Ririn menjawab perkataan papahnya sudah datang kurir yang mengantarkan amplop coklat untuknya.
Ririn pun membuka amplop tersebut dan papahnya itu ikut melihat.
Ririn sangat terkejut dengan apa yang dilihat, itu adalah foto kemarin malam saat Jimin telat pulang karena harus bertemu dengan Siti di kediaman orang tuanya.
Lain halnya dengan Papah Ririn, pria itu mengambil foto-foto mesra Jimin yang sedang dipeluk oleh Siti, pria itu merebut foto tersebut lalu merobeknya.
"Papah yakin, siapapun yang mengirim ini, pasti dia enggak pengen lihat anak papah bahagia!" ucapnya.
"Jangan sedih! Udah jelas di foto itu Jimin yang dipeluk! Bukan yang memeluk! Semoga kamu paham dengan apa yang papah ucapkan!" kata Papah Ririn. Pria botak yang terdengar sudah sedikit benar itu kembali duduk seraya memperhatikan ruangan tamu Jimin.
"Siti!" geram Ririn dalam hati.
Ririn pun tau kalau itu adalah ulah mamih mertuanya dan Siti yang ingin memisahkan dirinya dari Jimin.
Kembali fokus ke papahnya, Ririn menanyakan tujuannya datang ke apartemen.
"Apalagi, papah hidup susah sekarang, mamah kamu juga jadi buruh nyuci, gosok di laundry! Kamu hidup enak enggak bagi-bagi!"
"Hmm!" jawab papahnya seraya membuang wajahnya.
Ririn pun mengambilkan uang sebanyak 10 juta untuk papahnya.
"Tolong jangan sering-sering kemari, ini cukup kalau untuk biaya makan, jangan sampai kedatangan papah bikin masalah baru di rumah tangga Ririn," ucap Ririn seraya memberikan uang itu.
"Tergantung, kalau kamu lancar ngasihnya ya papah bakal diem, bakal dukung kamu dari belakang!" jawabnya seraya menerima uang itu lalu pergi dari apartemen Jimin.
"Astaga, papah meres anak sendiri!"
"Bukan meres, kamu kenapa nikah diam-diam? Anggap aja ini uang tutup mulut!" jawab papahnya yang baru saja sampai pintu.
"Ririn kira papah berubah, ternyata semakin mata duitan!" batin Ririn, gadis yang mengenakan celana dan kaos pendek itu memperhatikan papahnya sampai tidak terlihat lagi.
****
Di kantor Dhev.
Serena mengetuk pintu ruangan Dhev.
"Masuk!" kata Dhev seraya melihat ke arah pintu.
"Tuan, saya membawakan calon asisten pribadi untuk anda," kata Serena yang menundukkan kepala.
Dalam hatinya, ia sudah merasa pasrah kalau sampai Dhev menjadi murka setelah melihat siapa yang datang.
"Suruh masuk! Saya harap kali ini kamu membawa orang yang tepat!" ucap Dhev.
"Maaf... Tuan, saya minta anda berjanji dulu untuk tidak marah, karena saya merasa orang yang saya bawa sekarang adalah orang yang tepat untuk anda!" Serena memberanikan diri untuk meminta itu pada Dhev dan Dhev pun terkekeh saat mendengarnya.
"Kalau kamu tidak salah, kenapa saya harus marah! Paling kerjaan kamu aja yang makin menumpuk!" ucap Dhev yang kemudian berdiri dari duduknya.
"Suruh dia masuk!" perintah Dhev yang kemudian berjalan ke arah jendela, memperhatikan jalanan kota yang terlihat padat merayap.
Serena pun undur diri dan mempersilahkan Arnold yang datang ke kantor Dhev untuk masuk.
"Anda disuruh masuk," kata Serena dan Arnold pun segera masuk ke ruangan Dhev.
"Selamat siang."
Dhev yang masih berdiri di tepi jendela itu merasa tak asing saat mendengar suara itu.
Dhev segera melihat ke arah pintu, terlihat Arnold yang rapih dengan kemejanya itu berdiri di sana, menatapnya dingin.
Dhev merasa bingung, Serena mengatakan kalau dirinya membawa orang yang tepat, tetapi, kenapa justru Arnold yang ada di hadapannya.
"Ngapain lo?" tanya Dhev, kedua pasang mata itu saling menatap.
"Saya melamar kerja sebagai asisten anda," jawab Arnold, ia berusaha se-sopan mungkin walau dalam hatinya ingin sekali mencekik Dhev.
"Hah?" Dhev mengucek telinganya menggunakan jari kelingkingnya.
"Coba ulangi!" perintah Dhev, Kemudian Dhev menertawakan Arnold, tangannya berkacak pinggang dengan kepala yang menggeleng.
"Gue ngelamar kerja jadi jongos lo! puas!" Seru Arnold dan Dhev pun tertawa terpingkal-pingkal setelah mendengar itu.
Arnold yang ditertawakan oleh Dhev itu mulai kesal dan mengendurkan dasinya.
"Udah gue bilang! Jangan datang, kenapa lo masih datang!" batin Arnold. Pria itu pun semakin kesal saat Dhev tak berhenti menertawakannya.
Arnold melangkah maju dan menahan leher Dhev menggunakan lengannya.
"Gue serius! Gue mau kerja!" ucap Arnold seraya menatap mata Dhev.
Mendapatkan perlakuan yang seperti itu Dhev pun berhenti tertawa.
Dhev segera menurunkan lengan Arnold dari lehernya.
Apakah Dhev akan menerima Arnold? Anak dari seseorang yang dulunya korupsi, pria yang dulu menghancurkan kebahagiaannya?
Bersambung.
Like dan komen ya bestie, jangan lupa difavoritkan juga, terimakasih sudah membaca.
Sampai jumpa di episode selanjutnya.