
Ririn semakin bertanya dalam hati, pasalnya, gadis itu dibawa ke restoran mewah oleh anak buah si bos.
"Cepat, jalan!" kata si badan kekar pada Ririn seraya mendorong bahu gadis itu yang sudah mengenakan seragam kerjanya yang bekerja di toko ponsel mall Jakarta.
Ririn diarahkan ke tempat di mana si bos sudah menunggu, private room, karena ingin memberikan kesan mewah pada Ririn.
sesampainya di depan pintu ruangan khusus itu, salah satu anak buah si bos mengetuk pintu.
"Masuk," jawab si bos yang sudah menunggu kedatangan Ririn, terlihat di meja bundar sudah terdapat aneka makanan yang enak dengan tampilan yang mewah dan unik.
Anak buah pun membukakan pintu untuk Ririn.
"Ini kan bosnya Naomi dan Nala? Apa jangan-jangan gue mau dijual!" batin Ririn yang masih berdiri di pintu.
Dan si badan kekar kembali mendorong bahu gadis imut itu.
"Jangan kasar-kasar!" kata si bos seraya menatap anak buahnya.
"Duduk, tenang saja, kita akan mengobrol santai!" kata si bos seraya meraih bungkus rokok yang tersedia di meja.
"Jangan-jangan kalian mau jual gue? Gue bisa lapor polisi!" kata Ririn yang masih berdiri di depan si bos.
"Lo sama Nala seharusnya emang masuk penjara!"
"Apa? Kenapa Nala? Hey... sayang. Nala tidak ada hubungannya dengan kita, justru Naomi lah yang memberikan kamu untuk saya! CK, dasar licik seperti kancil!" ucap si bos yang semakin geregetan dengan Naomi, dia yang berbuat dia yang menuduh orang lain.
"Dengar, biar saya mencari uang tidak halal, tapi saya tidak mau menambah dosa dengan memfitnah orang!" kata si bos seraya mematikan rokoknya, menekan batang rokok itu dengan kesal ke dalam asbak.
"Apa? Jadi bukan Nala?" Ririn sedikit terkejut, teringat dengan serangan yang selalu ia berikan pada Nala.
"Bukan!" jawab singkat si bos.
"Mau sampai kapan kamu berdiri?" Si bos menatap Ririn yang juga menatapnya.
"Lalu, buat apa gue di sini?"
"Berapa gajimu bekerja di toko ponsel?"
"Itu urusan gue, itu juga kerjaan gue kenapa lo ngurusin gue!"
"Ck, dengar, aku tau gimana kehidupan kamu, kamu bebas sama pacar kamu, kenapa tidak kamu jual saja pada Om Arnold, dia tergila-gila sama kamu, aku yakin kamu akan mendapatkan banyak uang dan tidak perlu susah payah lagi bekerja, lagi pula sudah tidak ada kesucian yang perlu kamu jaga, kan?"
"Kurang ajar, dia tau semua tentang gue!" batin Ririn, gadis itu merasa dipermalukan dan sekarang pipinya memerah menahan malu dan marah.
"Hanya melayani satu pelanggan, aku janji tidak akan memberikan kamu pada pria lain, hanya Arnold saja!" Si bos kembali membujuk Ririn yang terlihat berkaca dan mengunci mulutnya.
Sementara Ririn yang dalam masa suburnya itu merasa rindu pada setiap sentuhan Arnold, bahkan Ririn sendiri sulit melupakan pria tua itu.
Apakah Ririn akan terpengaruh oleh ucapan si bos dan memuaskan hasratnya sendiri yang sedang menggelora?
****
Di rumah Amira, siang ini Kenzo mengajak Nala untuk berenang tetapi Nala menolaknya.
"Tante tunggu di sini aja," kata Nala seraya memeluk handuk milik Ken, duduk di kursi yang tersedia tepi kolam, Nala juga sudah menyiapkan minuman segar untuk anak asuhnya.
"Jangan terlalu lama, Ken!" kata Nala yang merasa khawatir apabila Ken terlalu lama dalam air.
Terlihat, Kenzo sudah pandai berenang dan Nala merasa kalah karena dirinya sama sekali tidak dapat berenang.
Tanpa sadar, Dhev selalu mencuri perhatian pada Nala membuat Jimin yang berada di sebelahnya itu ikut menatap Nala yang sedang bersantai, bukan seperti pengasuh dan anak asuh, tetapi seperti ibu yang sedang menunggu putranya, itu lah yang Jimin lihat.
"Cantik," ucap Jimin seraya menganggukkan kepala.
"Gue khawatir mata lo lepas, Dhev!" lanjut Jimin dan Dhev menyikut lengan Jimin membuat ponsel yang ada di tangan sahabatnya itu terjatuh.
Dhev pun mengambilkan untuknya, tanpa sengaja Dhev melihat layar ponsel Jimin dan Dhev sangat terkejut dengan apa yang sedang Jimin putar di layar ponselnya.
"Astaga, lo nonton ginian?" tanya Dhev seraya mengembalikan ponsel tersebut.
"Ya elah, biasa aja kali, kaya kita dulu enggak biasa nonton rame-rame aja!" kata Jimin seraya menunjukkan vidio panas pada Dhev.
"Biar lo ngebet lagi, Dhev. Terus kawin dah!" kata Jimin seraya tertawa.
"Pikiran lo tu kotor, perlu di kasih deterjen!" kata Dhev seraya menyingkirkan ponsel itu dari depan matanya. Dhev tidak menghiraukan vidio yang sempat di lihatnya. Vidio dewasa tanpa sensor.
Dan Dhev kembali memperhatikan Nala dan Kenzo, terlihat Nala sudah tenggelam di kolam, entah apa yang dilakukan oleh Kenzo, sedangkan Ken sedang menertawakan Nala yang melambaikan tangannya meminta tolong.
Melihat itu Dhev segera berlari turun untuk menyelamatkan Nala.
Byur! Dhev menceburkan dirinya dan segera membawa Nala naik ke atas kolam. Nala sudah keadaan pingsan dan Dhev memberikan pertolongan pertama dengan menekan dadanya, mengeluarkan air yang tertelan tetapi Nala belum juga membuka matanya membuat Dhev mau tidak mau memberikan nafas buatan.
Uhuk! Nala mengeluarkan air dari dalam mulutnya lalu kembali terbatuk, nafasnya kembali dan Nala melihat wajah Dhev yang begitu dekat, terlihat raut wajah khawatir dari pria galak itu.
Setelah sadar, Nala pun mengubah posisinya menjadi duduk. Memperhatikan Dhev yang sedang memarahi putranya.
"Apa yang kamu lakukan, Ken?" bentak Dhev pada Kenzo yang berjongkok di samping Nala, Ken tidak mengira kalau kejailannya akan berakibat fatal.
"Ken cuma ngajak tante main," lirih Kenzo yang hampir menangis.
"Udah, aku enggak papa," lirih Nala, gadis itu merasa tidak tega melihat Ken dimarahi, Nala yakin kalau Ken tau dirinya tidak dapat berenang, Ken tidak akan menariknya ke kolam dengan sengaja.
"Kalau salah tetap harus di kasih tau! Jangan dibela!" ucap Dhev dengan tegas. Pria itu bangun dari berjongkoknya.
Dan Jimin membantu Nala untuk bangun.
"Udah, sana ganti baju, dingin, nanti masuk angin!" kata Jimin pada Nala dan Kenzo.
Setelah Ken dan Nala masuk melalui pintu belakang, Jimin mendorong Dhev supaya kembali ke kolam, dengan sengaja Dhev menarik lengan Jimin dan membawanya ikut masuk ke kolam.
Jimin menggerutu karena ponselnya masih di dalam saku celananya.
"Gue nggak mau tau, pokoknya lo ganti rugi, Dhev!" teriak Jimin seraya mengeluarkan ponselnya.
"Hahaa." Dhev menertawakan Jimin. Ingin mengerjai temannya tetapi sendirinya kena batu.
"Makanya, beli hape itu kaya punya gue, tahan air!" kata Dhev seraya berenang ke tepi dan meninggal Jimin yang menangis di tengah kolam.
****
Di bawah guyuran air shower, Dhev kembali teringat dengan vidio panas yang sempat dilihatnya, ditambah lagi dengan nafas buatan yang dibuat olehnya, semakin mengganggu otak dan kejantanannya.
"Arrrggghhh!" geram Dhev seraya menarik rambut basahnya.
Bersambung.
Dukung author dengan like, komen, vote dan juga jangan lupa difavoritkan, ya. Terimakasih^^