
Malam harinya, Nala membawa bayi itu ke kamar, menidurkannya di ranjang.
"Sayang, kan udah ada suster, ada kamar bayi juga," kata Dhev yang ikut duduk di tepi ranjang.
"Kenapa memangnya? Aku mau selalu lihat dia," jawab Nala seraya gemas pada bayinya.
"Sayang, kapan kamu ada waktu untukku! Aku udah bayar suster buat jagain anak kita, biar kamu enggak kecapean buat ngurus aku," rengek Dhev yang sekarang sudah berdiri di belakang Nala, memeluknya penuh kerinduan.
"Iya, sayang. Sabar, ya." kata Nala seraya mengusap wajah suaminya yang berada di bahunya.
"Lihat, dia lucu sekali, mulutnya gerak-gerak!" kata Nala seraya menunjuk wajah putrinya.
"Kamu tau enggak dia lagi ngapain?" tanya Dhev dengan posisi yang masih sama.
"Dia lagi pengen nyusu, kalau mulutnya begitu dia lagi nyari ****** ibunya," kata Dhev.
"Gitu, ya?"
"Iya, aku kan pengalaman waktu Ken masih bayi!"
Setelah itu, Nala segera memberikan ASI untuk Fai, Dhev yang melihat menjadi ingin juga. Sekarang, juniornya sudah bangun dan ingin segera memuntahkan laharnya.
Setelah Fai kembali tertidur, Dhev meminta pada Nala agar bayi itu di tidurkan di ruang bayi.
Nala pun menurut karena apa yang diucapkan oleh suaminya tidak boleh dibantah, itu lah yang Nala ingat.
Sekarang, Dhev meminta pada Nala untuk membantunya menuntaskan hasrat yang sudah beberapa hari terpendam.
****
Di apartemen Doni, pria itu menemani Nindy berjaga karena bayinya selalu menangis.
"Kenapa, ya? Apa karena dia mau ASI?" tanya Nindy pada Doni.
"Entah, tapi kalau lapar atau haus kan udah dikasih susu," jawab Doni seraya menepuk pelan kaki Fakhri.
"Kamu istirahat aja, biar aku yang timang Fakhri, kita gantian, ya!" kata Doni dan Nindy pun menganggukkan kepala.
Bayi itu diam setelah digendong oleh Doni.
"Harus ada suster, kalau aku udah masuk kerja, kasian Nindy harus berjaga sendiri," kata Doni seraya memperhatikan wajah bayinya.
Sementara itu, di rumah kecil dan sempit, seorang wanita muda yang mungkin usianya berusia 28th sedang menangis. Memberikan ASI untuk bayinya dengan berderai air mata.
Membayangkan kalau yang dipangkuannya itu adalah putranya sendiri.
Kemudian terdengar suara gebrakan pintu dari luar kamar.
"Kenapa makan malam belum siap?" tanya seorang pria dengan penampilan seperti preman. Pria itu adalah suaminya.
"Apa kamu enggak lihat, aku sibuk mengurus bayi dan aku baru pulang dari rumah sakit!" jawabnya seraya menenangkan bayi yang digendongnya, bayi itu terkejut mendengar suara gebrakan pintu dari ayahnya yang tidak bertanggung jawab.
"Kamu yang milih punya bayi kenapa aku harus tanggung akibatnya!" pria itu menendang pintu kamarnya lalu pergi dari sana.
"Jangan mau enaknya aja kamu! Giliran punya bayi enggak mau terima!" ucapnya.
Wanita itu yang bernama Mae pun kembali menangis, menangis karena rindu dengan anaknya dan sedih dengan perlakuan dari suaminya yang semena-mena.
****
"Mungkin kalian harus bulan madu! Ingat, Mamih mau cucu, kamu juga kan udah berumur Jim, lihat, anak Dhev saja udah dua!" kata Mamih Jimin yang sedang duduk di kursi ruang kerja Jimin.
Tentu saja, perdebatan itu di dengar oleh Ririn yang sengaja menguping di luar ruangan.
Setelah itu, Ririn kembali ke kamar, di sana Ririn merenung, keduanya sehat tetapi kenapa sampai sekarang belum bisa hamil.
Itu lah yang Ririn pikirkan.
Keesokan paginya, Ririn sudah menyiapkan sarapan tetapi kali ini ia mendapatkan tatapan sinis dari mamih mertuanya.
Jimin pun menghibur Ririn yang terlihat menjadi sedih.
"Sayang, nanti kita ke maldives mau? Kita rencanakan liburan!" kata Jimin seraya meraih tangan Ririn.
"Aku ikut saja," jawab Ririn.
"Ya memang harus ikut, memangnya kalau enggak ikut suami mau ikut siapa?" cibir Mamih Jimin seraya mengambilkan nasi untuk suaminya.
Dalam hati, Ririn membatin, bertanya kapan orang tua Jimin akan kembali pulang, terlalu lama berada di apartemen hanya membuat pusing.
"Mih, sudah. Kasihan dia, anak juga pemberian Tuhan," kata Papih Jimin yang merasa tidak tega.
Karena suasana sudah tidak enak, sekarang, Jimin mengajak Ririn untuk makan di luar.
"Sayang, ayo kita cari udara pagi," kata Jimin yang sudah siap dengan pakaian kerjanya.
Pria itu bangun dari duduk dan membawa istrinya itu ikut bersamanya.
"Kamu yang sabar, ya. Sebenarnya mamih itu baik, cuma kalau ada keinginan yang belum kesampean jadi gitu!" ucap Jimin dan sekarang keduanya sudah berada di mobil.
Ririn pun merasa beruntung memiliki suami seperti Jimin, walau menyebalkan tetapi dia selalu bisa menghibur hatinya disaat sedang sedih.
Ririn menatap Jimin dan menganggukkan kepala.
Singkat cerita, selesai dengan sarapannya, Jimin ingin mengajak Ririn ke kantor karena tidak akan tega kali dibiarkan di rumah bersama orang tuanya, tetapi Ririn menolak, ia ingin melihat bayi Nala.
"Aku ke rumah Nala aja, ya. Katanya kalau kita suka dan ngajak main bayi nanti kita juga ketularan punya bayi," kata Ririn seraya memakai sabuk pengaman.
"Mitos itu!" jawab Jimin seraya memarkirkan mobilnya keluar dari restoran dan ternyata penjaga parkiran di sana adalah Papah Ririn.
Keduanya hanya saling menatap tajam, tetapi ada rasa tidak rela melihat kehidupan Ririn yang sekarang, terlihat enak dan tidak mengajak orang tuanya.
Pagi berjaga di depan parkiran resto dan siang berjaga di parkiran minimarket, itulah pekerjaan Papah Ririn sekarang.
****
Benar saja, Jimin mengantarkan Ririn ke rumah Nala, di sana Ririn disambut hangat oleh Nala. Dirinya mengerti kalau Ririn sangat menginginkan hadirnya bayi di tengah keluarganya.
"Kamu bisa anggap anak aku seperti anak kamu juga, Rin!" kata Nala dan Ririn tersenyum, keduanya berada di ruang tengah dan Fai sedang berada di ayunan bayi. Ririn terus memperhatikan wajah bayi itu.
"Cantik, seperti ibunya," puji Ririn.
"Kamu mau gendong juga?" tanya Nala dengan sangat antusias.
"Boleh aku gendong?" tanya Ririn seraya menatap Nala.
"Boleh, kenapa enggak, boleh panggil kamu mamih juga kalau kamu mau," kata Nala seraya mengangkat bayinya lalu Ririn pun dengan senang hati untuk menggendong bayi itu.
Ririn menangis teringat dengan semua ucapan Mamih Jimin.
"Sabar, anggap aja semua ucapan mertua kamu itu buat menguatkan pribadi kamu, semoga juga kamu cepat hamil dan bisa kasih cucu buat mamih kamu," kata Nala seraya mengusap lengan Ririn.
Ririn hanya menganggukkan kepala.
Keduanya di perhatikan oleh Dhev dari pintu ruang kerjanya.
"Kasian dia, untung gue enggak jadi misahin mereka, persahabatan mereka sangat dekat walau sempat bermusuhan sekarang kembali hangat dan selalu ada satu sama lain," kata Dhev.
Pria itu tidak ingin mengganggu keduanya dan memilih kembali ke ruangan untuk bekerja dari rumah.
Bersambung.
Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya. Terimakasih sudah membaca^^.
Ingat, like dan Rate itu geratis 😁