
Dhev pun memberikan bukti beberapa lembar foto Bila yang sedang tidur dengan pria lain.
Ken sempat sakit hati, tetapi pria itu teringat dengan cerita Bila kemarin siang.
Ken menjadi bingung dan merasa kalau foto itu bisa saja editan.
"Enggak, Yah. Ke yakin ini cuma editan!" ucap Ken seraya bangun dari duduk.
Pria itu kembali ke kamar dan mengambil ponselnya yang ternyata sedang berdering.
Ken menerima panggilan itu dan segera bertanya apa yang terjadi, Ken merasa khawatir karena Bila menghubunginya dengan menangis.
"Ada apa, Bil?"
"Ken, aku dijebak!" kata Bila yang kemudian mematikan sambungan ponselnya.
Di kos, Bila berharap kalau Ken akan cepat mendatanginya.
Benar saja, Ken yang belum sempat sarapan itu segera bergegas keluar dan Dhev menahannya.
"Kemana kamu, Ken?"
"Urusan," jawab Ken yang kemudian menerobos Dhev.
"Anak itu, kenapa jadi susah untuk dinasehati!" gerutu Dhev dan Nala datang untuk menenangkannya.
"Sabar, kita harus pelan-pelan buat Ken percaya sama kita," kata Nala dan Dhev pun merasa kesal dengan putranya yang ia anggap bodoh.
Dhev ke kamarnya, membayangkan pernikahannya dulu dengan Ana.
"Beda, Dhev! Dulu ana adalah korban pemerkosaan! Kalau Bila, dia anak enggak bener! Jangan sampai anakmu jatuh di tangan buaya betina!" kata batin Dhev. Dhev sedang berdiri di tepi jendela dan memikirkan cara bagaimana menyadarkan Ken.
****
Di taman kota, Fakhri yang diam-diam mengikuti Fai dan Alif itu merasa kesal dan kecewa pada Fai yang tidak melihat ke arahnya.
"Bodoh, udah pasti Fai liat gue sebagai adiknya! Bukan sebagai pria!" batin Fakhri.
Setelah mengikuti untuk beberapa saat, sekarang, Fakhri merasa kalau dirinya harus mengambil tindakan.
Setidaknya Fai tidak berpacaran dengan gembel seperti Alif, begitulah pikir Fakhri.
Apa yang Fakhri rencanakan? Berhasilkah?
"Alif, kemaren lo kemana, kenapa seharian itu lo enggak chat gue?" tanya Fai yang sedang berdiri di depan gerobak bakso bakar.
"Gue malu, Fai. Takut enggak tau diri!"
Mendengar itu Fai segera mencubit lengan Alif.
"Bodoh! Gue nungguin tau!"
"Kenapa enggak chat aja?"
"Gue kan cewek! Masa mulai duluan mulu! protes Fai seraya mendengus sebal.
Keduanya seolah menjadi pemilik taman kotak pagi itu dan pelanggan yang sedang ikut mengantri bakso bakar itu seolah menjadi penonton.
Dan penjual bakso itu meledek Fai dengan mengatakan kalau zaman sekarang sudah terbalik, cewek lebih dulu mengutarakan perasaannya.
"Gitu ya, Bang?"
"Iya, Neng! Coba aja, pasti diterima kok, iya kan, Mas?" Si penjual bakso melihat kearah Alif yang menggaruk tengkuknya.
Alif pun menjadi malu.
"Beneran, Lif?" tanya Fai seraya menatap Alif.
"Beneran apanya?" tanya Alif yang tiba-tiba menjadi lola.
"Lo mau jadi pacar gue?" tanya Fai dengan begitu beraninya.
Alif pun melihat ke sekitar yang bersorak untuk menerima Fai sebagai pacarnya.
"Terima... terima!" begitulah seru penghuni taman pagi ini.
Dengan malu-malu Alif pun menjawab iya.
"Iya apa, Lif?" tanya Fai, tentunya gadis itu sudah merona dan ingin mendengar dengan jelas jawaban Alif.
"Iya, gue mau jadi pacar lo!"
Dan pagi ini bakso bakar itu diborong oleh Fai, semua yang membeli dapat dengan gratis untuk merayakan jadiannya dengan Alif.
Fai pun terus menempel di lengan Alif yang sekarang sudah menjadi pacarnya.
"Lah, harusnya saya yang terimakasih, kalau enggak diborong saya bisa pulang sore, Neng!"
"Terimakasih udah bikin kami jadian!" kata Fai, setelah itu, Fai dan Alif segera mencari bangku taman yang masih kosong, keduanya makan bakso bakar pedas itu dengan saling bergantian menyuapi.
"Fai, emang lo enggak malu punya pacar miskin kaya gue?"
"Lo itu nanya apa, sih? Gue tulus suka sama lo, Lif!"
"Gue juga tulus, tapi gue takut enggak bisa bahagiain lo!"
"Udah, enggak usah pikirin itu, kita jalanin aja seperti biasa! Aaaa!" perintah Fai dan Alif pun membuka mulut, bakso bakar itu masuk ke dalam kegelapan lalu terkunyah.
"Cukup lo selalu ada buat gue! Jangan tinggalin gue, gue udah bahagia!" kata Fai.
"Gue enggak akan tinggalin lo selagi lo mau sama gue, Fai! Tapi kalau lo udah enggak mau sama gue, gue bisa apa?"
"Kok lo bilangnya gitu, sih. Kaya enggak mau pertahanin gue!" Fai pun memonyongkan bibirnya.
"Bukan gitu, Fai. Tapi perbedaan diantara kita!"
"Jangan bahas perbedaan atau siapa gue, siapa lo lagi, ya! Kita adalah satu!" kata Fai dan Alif pun mengiyakan.
Pagi ini, Fai dan Alif akhirnya saling mengutarakan perasaannya berharap kedepannya akan terus bersama, harus bisa melewati susah dan senang bersama.
****
Sementara itu, di kamar kos Bila gadis itu seolah menjadi korban. Ia menangis dan menyalahkan Ken yang semalam pergi meninggalkannya.
"Aku juga enggak tau, kenapa tiba-tiba aku ada di rumah, kurang ajar! Siapa pria itu yang udah jebak kamu?" tanya Ken yang masih memeluk Bila.
"Aku enggak terima, Ken. Aku di jebak biar tidur sama cowok lain! Dan setelah ini pasti kamu pergi meninggalkan aku, kan?"
"Enggak, Bil. Aku enggak akan pergi tinggalkan kamu! Aku cinta sama kamu!" ucap Ken.
"Benar? Apa kamu bisa ku percaya, Ken?" tanya Bila seraya mendongakkan kepala, menatap mata Ken dan Ken menjawab dengan iya.
Dalam hati, Ken mengira kalau ayahnya yang telah menjebak Bila supaya Ken mau membatalkan pertunangan itu.
Ken pun pamit pada Bila, ia mengatakan kalau ada urusan penting yang harus ia kerjakan.
Bila mengucapkan terimakasih pada Ken karena sudah datang dan memenangkannya.
****
Sesampainya di rumah, Ken memanggil ayahnya dengan suara sedikit keras.
"Ayah!"
Dhev yang sedang berenang bersama Nala itu menjawab dengan suara keras.
"Ayah di belakang, berenang!"
Ketika Dhev naik ke darat, Nala pun mengikutinya, ia masih takut tenggelam apabila berenang sendiri.
Ken yang sedang marah itu mengatakan kalau dirinya tidak menyukai cara Dhev.
"Ayah tau? Caramu itu sangat menjijikkan, Ken akan keluar dari rumah dan perusahaan!" ucap Ken yang kemudian berbalik badan dan Dhev meraih bahunya.
"Apa maksudmu!"
"Masih bertanya? Ayah lebih tau dari Ken! Ayah menjebak Bila supaya tidur dengan pria lain lalu mengatakan kalau Bila adalah gadis kotor!"
"Ken, jaga ucapan mu! Ayahmu bukan orang seperti itu!" kata Nala yang membela suaminya.
"Enggak usah ikut campur!" jawab Ken pada Nala dan Dhev mengangkat tangannya bersiap untuk menampar mulut Ken yang sudah tidak sopan pada istrinya, pada ibu sambungnya.
Nala menahan tangan itu, meminta pada Dhev untuk bersabar.
Setelah mengatakan itu, Ken benar-benar pergi dari rumah.
Ia lebih percaya pada Bila dan akan mempertahankan hubungannya dengan Bila.
Bersambung.
Like dan komen ya all 🤗🤗
Terimakasih sudah membaca, dukung karya ini dengan gift atau votenya, ya.
Sampai jumpa di episode selanjutnya.
Maafkeun typo bertebaran di mana-mana 🙈