DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Tanggung Jawab


Pulang dari bekerja, Doni pun memikirkan bagaimana baiknya.


Pria itu duduk di sofa, memikirkan orang tuanya. Lalu, Doni pun menghubungi ibunya.


"Bu, maafkan Doni. Doni membatalkan pernikahan ini, Doni harus tanggung jawab di sini, Bu," lirih Doni.


"Tanggung jawab apa maksud mu, le?" tanya Ibu Doni dari sambungan teleponnya.


"Begini saja, Doni menyuruh orang buat ibu, bapak berangkat ke Jakarta, ya."


"Ini ada apa, ngomong yang jelas, le!" Ibu Doni mulai penasaran, terlebih lagi merasa tidak enak untuk membatalkan pernikahan yang sudah disiapkan oleh pihaknya dan pihak perempuannya.


"Doni membatalkan perjodohannya, Doni akan menikahi gadis lain," lirih Doni.


"Ya Tuhan, jangan bilang kamu di kota bikin hamil anak orang, le!" teriak Ibu Doni seraya menangis.


"Maafkan Doni, Bu."


"Pak, Bapak!" teriak Ibu Doni yang terdengar dan Doni merasa bersalah telah membuat orang tuanya menjadi panik.


"Anak kita, pak. Anak kita!" kata Ibu Doni dan karena panggilan itu belum diakhiri, Doni dapat mendengar dengan jelas apa yang orang tuanya bicarakan.


"Kurang ajar! Ajaran siapa ini! Doni!" geram Bapak Doni.


Dan Doni pun segera mengakhiri panggilan itu, takut dimarahi oleh ayahnya.


"Maafkan Doni, Pak, Bu. Kalau Doni bicara jujur, kalian pasti enggak akan ngerti, enggak akan mau punya menantu seperti Nindy!" kata Doni seraya meraupkan tangannya ke wajah.


Doni pun menarik nafas dan mengirim pesan pada Dhev.


"Baik, Tuan. Apapun untuk anda, akan saya lakukan, tapi tolong, untuk kali ini jangan memberi saya bonus," isi pesan Doni untuk Dhev.


****


Setelah mengetahui siapa calon Nindy, Amira merasa sedikit lega, tetapi Amira juga merasa tidak enak pada keluarga Doni.


Setelah kedatangan orang tuanya dari kampung, Doni mendapatkan tinju dari bapaknya.


"Kamu disekolahkan di kota, kerja di kota, tapi kelakuan tidak boleh terbawa anak kota!" kata Bapak Doni yang baru sampai ke apartemen anaknya.


"Ampun, Pak!" kata Doni seraya mengusap pipinya yang memar karena terkena tonjokan dari bapak.


"Bikin malu saja," kata Ibu Doni seraya memukuli lengan anaknya.


"Ampun, Bu." Doni mengusap lengannya.


Doni pun pasrah, berlutut di depan orang tuanya dengan wajah yang memelas.


"Ampun, Pak, Bu. Doni salah, tapi kalau di kampung enggak ribut pasti kalian enggak akan malu, cukup jaga rahasia saja," lirih Doni seraya menatap kedua orang tuanya.


"Bagaimana enggak tersebar gosipnya, pernikahan kamu sama Ajeng dibatalkan udah pasti ngundang pertanyaan dari tetangga!" kata Ibu Doni seraya berkacak pinggang.


Merasa gatel dan ingin menampar anaknya, Ibu Doni pun menoyor kepala putranya.


"Dasar anak kurang ajar!" kata Bapak Doni.


"Anak siapa yang kamu hamili?" tanya Ibu Doni.


"Dia adik Tuan Dhev," lirih Doni dengan menundukkan kepala.


Mendengar itu Ibu Doni langsung jatuh pingsan. Bapak Doni menangkap istrinya yang berbadan mungil, memindahkannya ke sofa.


"Ya Tuhan, ada apa dengan anakku, dia menodai adik dari majikannya sendiri, orang yang mengangkat derajat kami," tangis Bapak Doni.


Dalam hati, Doni sangat tidak tega, tetapi mau bagaimana lagi. Doni tidak ingin mengecewakan Dhev.


Juga harus mendapatkan restu dari orang tuanya dan inilah caranya supaya orang tua Doni dapat menerima Nindy.


****


Di rumah Amira.


Wanita itu sedang menyiapkan aneka makanan untuk menyambut keluarga calon besan. Walau bagaimana pun, Amira sangat berterimakasih pada Doni yang mau menikahi Nindy.


Dan setelah keadaan tenang, sekarang, Doni mengajak Ibu dan Bapaknya ke rumah Amira.


Dengan meminta maafnya mereka membuat Amira dan Dhev mengerti kalau Doni menyembunyikan cerita yang sebenarnya.


Terlihat mata sembab dari Ibu Doni dan Doni hanya diam saja, diam seribu bahasa, begitu juga dengan Nindy.


Gadis yang berpenampilan rapih, dengan dress A line berbahan brokat itu hanya menundukkan kepala, sedangkan Dhev, pria itu sudah lama sekali tak berbicara pada adiknya.


Tidak lama kemudian, Nala keluar dengan membawakan minuman hangat untuk tamunya.


Penampilan Nala pun tidak kalah cantik dari Nindy.


Dan setelah berbincang, menetapkan hari pernikahan semua orang sekarang berada di meja makan.


"Ini masakan istri saya, kalian harus mencoba," kata Dhev seraya menunjukkan ayam goreng yang tersaji.


Nala pun tersenyum pada tamunya yang juga tersenyum pada Nala.


"Sudah cantik, pandai masak lagi," puji Ibu Doni.


"Terimakasih," jawab Nala seraya menganggukkan kepala.


****


Beberapa hari telah berlalu, sekarang, Nala yang baru saja mengantar Ken ke sekolah itu meminta ijin pada Dhev untuk berbelanja.


"Sayang, aku minta ijin buat belanja, ya. Sama Ririn, aku pengen nraktir dia enggak papa, kan?" tanya Nala dari sambungan teleponnya.


"Iya, enggak papa, jaga diri!" jawab Dhev.


"Hah! Suruh jauh sama Ririn aja susah amat!" gerutu Dhev yang sedang bekerja.


Ya, Dhev sudah pernah meminta pada Nala untuk menjauhi Ririn, tetapi Nala menceritakan kalau dulu disaat dirinya susah hanya ada Ririn di dekatnya.


Nala tidak akan mungkin melupakan Ririn, kalau Ririn bersalah maka bukan persahabatannya yang berakhir. Begitu lah kata Nala.


Sekarang, Nala menjemput Ririn yang sudah menunggu di depan gang.


Sesampainya di sana, Nala membukakan pintu dari dalam.


"Ayo masuk!" kata Nala dan Ririn pun masuk. Memberikan senyum pada sahabatnya.


"Enak banget sih kamu, Nala. Udah jadi nyonya sekarang!" batin Ririn seraya memperhatikan Nala.


Sekarang, Nala sangat berbeda, sudah cantik dari sananya di tambah punya suami kaya dan penyayang, penampilan Nala semakin memukau.


Sekarang, Nala mengajak Ririn untuk berbelanja lebih dulu.


Sesampainya di butik langganan Nala dan Ririn memilih baju untuk menghadiri pesta pernikahan Nindy.


Nala juga mengundang Ririn dan Ririn dengan senang hati mengiyakan, berharap di pesta itu akan mendapatkan pria tajir dan berakhir di pelaminan.


Tetapi, siapa sangka, saat keduanya sedang memilih gaun, tiba-tiba saja ada seorang wanita yang menarik rambut Ririn dari belakang.


"Perempuan murahan! Masih muda aja mau sama bandot!" kata wanita itu seraya terus menarik rambut Ririn yang terurai.


Nala membantu melepaskan tangan wanita itu.


"Bukan salah saya kalau suami Ibu tergoda sama saya yang cantik dan seksi ini, suruh saja bandot yang imp**oten itu ngerem di rumah, sana kekepin suamimu!" jawab Ririn.


"Astaga!" Nala sangat terkejut, terlepas dari Arnold sekarang Ririn menjalin hubungan dengan bandot.


Dadang yang mengikuti Nala kemana pergi itu sudah pasti membantu dan sekarang wanita itu sudah pergi. Merasa puas karena telah menarik rambut Ririn dengan keras.


Ririn pun mengeluh kesakitan dan orang-orang di butik itu mulai memperhatikan Nala dan Ririn. Bahkan ada yang merekamnya, sudah pasti siap beredar di dunia maya.


Dan sudah pasti semua orang yang melihat itu mengira kalau Nala salah satu seperti Ririn.


Keduanya mendapatkan tatapan sinis dari pengunjung butik.


Tetapi Nala tidak menghiraukannya.


Bersambung.


Jangan lupa like, komen dan juga difavoritkan, ya. Terimakasih^^