
Tentu saja, Ken sangat senang saat mendengar pertanyaan Nala.
"Jadi, Ken boleh panggil ibu?" tanya Ken seraya menatap dengan mata berbinar.
Nala menganggukkan kepala, tersenyum seraya mengusap rambut Ken.
Sesampainya di sekolah, Ken mencium punggung tangan Nala dan Nala mengingatkan Ken untuk salim pada ayahnya juga.
"Belajar yang rajin, Ken. Dengarkan kata guru," seru Nala dan Ken yang sudah turun dari mobil itu menganggukkan kepala, melambaikan tangan pada Nala yang tersenyum padanya.
Setelah itu, Nala yang tidak ingin salah di mata suaminya bertanya.
"Aku pulang naik taksi atau bagaimana?"
"Kita harus ke makam lebih dulu, hari ini kamu ikut aku ke kantor!" jawab Dhev seraya memarkirkan mobilnya.
Dhev mengajak Nala ke makam Ana lebih dulu.
"Ini makam Bundanya Ken," kata dhev seraya berjongkok di samping batu nisan Ana.
Nala pun ikut berjongkok, di samping Dhev.
"Ana, aku mohon restu dari kamu, doakan kami bahagia dan menjadi keluarga yang samawa," pinta Dhev, pria itu kemudian melihat ke sisi kanannya dan Nala pun menatap Dhev yang sedang menatapnya.
"Sekarang, kamu adalah masa depanku!" kata Dhev dan Nala merasa sangat terkesan, walaupun pun Dhev tidak menyatakan cintanya tetapi Nala merasa kalau Dhev sangat serius dengan ucapannya.
Nala hanya diam mendengar itu. Setelahnya, Dhev menggandeng tangan Nala, bangun dari jongkoknya.
Sekarang, Dhev mengajak Nala ke makam ayahnya. "Di mana makam ayah kamu?" tanya Dhev, masih dengan menggandeng tangan Nala.
"Di dekat makam Pak Abraham," jawab Nala dengan tetap memperhatikan langkah kakinya.
Sementara itu, di kantor Dhev. Mika membawa spanduk besar. Bertuliskan untuk menghadiri haul Ana (Almarhumah istri Pak Dhevano) di rumahnya, lengkap bertuliskan dengan alamat Mika tinggal karena akan diselenggarakan di sana.
Semua orang memperhatikan spanduk itu.
Mika yang merasa kalau yang dikerjakan itu benar tentu saja memasang senyum yang sumringah. Berharap Dhev akan menolak perjodohan yang Amira katakan tempo hari lalu, niat Mika membuat Dhev tak bisa melupakan Ana.
Nana juga tidak ingin kehilangan Dhev sebagai menantunya, maka Nana menyetujui apa saja yang akan Mika lakukan.
Dhev yang baru saja datang itu melihat spanduk di depan gerbang kantornya.
"astaga, kerjaan siapa ini?" geram Dhev.
Dhev bukan akan melupakan Ana, tetapi, baginya tidak perlu untuk memasang spanduk seperti itu. Dhev juga harus menjaga perasaan Nala yang sekarang menjadi istrinya.
Dhev kemudian memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Turun dan menghampiri satpam yang berjaga.
"Lepas semua spanduk itu!" perintah Dhev. Satpam pun mengiyakannya.
Para satpam itu menggulung spanduk yang baru saja terpasang.
"Tadi disuruh pasang, sekarang suruh lepas," gumam salah satu satpam pada rekan kerjanya.
"Kita nurut aja sama Pak Dhev!" jawab rekan sesama satpam itu.
Selesai dengan melepaskan spanduk, Dhev bertanya siapa yang melakukan itu.
"Non Mika, Pak," jawab salah satu satpam.
"Anak itu, kapan dia akan berhenti mengganggu ku!" geram Dhev dalam hati.
Setelah itu, Dhev kembali menggandeng Nala dan Nala merasa kalau Dhev seperti sedang menyeretnya.
"Tunggu!" kata Nala seraya menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa?" tanya Dhev. Pria itu menatap pada istri kecilnya.
Nala tidak menjawab, melainkan menautkan jari-jemarinya di tangan Dhev.
Dan Dhev merasa kalau Nala memang dapat menghiburnya di saat sedang kesal. Dhev mengira kalau Nala akan cemburu setelah melihat spanduk itu.
Sementara, bagi Nala, dirinya tidak perlu cemburu pada orang yang telah meninggal. Apalagi dirinya mendengar sendiri kalau Dhev akan menjaga Nala, Dhev mengatakan itu didepan makam Bobi.
Sekarang, Dhev mengajak Nala untuk melihat kantornya, semua mata yang melihat kedatangan Dhev itu bertanya-tanya, siapa yang bersama dengan bosnya.
Dhev mengajak Nala naik lift khusus CEO. di dalam lift, Dhev melihat leher jenjang Nala yang berdiri di depannya.
Dhev mengecup leher itu membuat Nala geli dan sedikit menggelinjang.
"Om...," lirih Nala yang kegelian.
"Tolong berhenti memanggil ku om!" kata Dhev, masih bermain dengan leher Nala, tangannya memeluk pinggang istrinya.
Tak terasa, sekarang pintu lift sudah terbuka dan Dhev menghentikan aktivitasnya.
Setelah itu, Dhev segera membopong Nala, membawanya ke ruangannya.
Di lantai atas adalah milik Dhev dan Doni saja, Dhev merasa aman dan tidak akan ada yang mengganggunya.
Dhev masuk ke ruangannya dan sangat terkejut karena di sana sudah ada Jimin.
"Aaaaaa!" teriak Dhev dan Nala yang terkejut saat mendapatkan tatapan menyelidik dari Jimin.
Jimin bangun dari duduknya. Menunjuk wajah Dhev dan Nala, sementara Nala, kakinya tidak dapat diam, meminta untuk turun dari gendongan Dhev.
Dhev menurunkan Nala dan mengusir Jimin.
"Ngapain lo, pergi sana, ganggu aja!" kata Dhev seraya membuka pintu ruangannya.
"Wah, gue enggak nyangka, ternyata lo doyan juga ya sama anak kecil," kata Jimin seraya keluar dari ruangan Dhev.
"Dhev, nanti ceritakan, gue pengen denger, setelah sekian lama lo enggak itu!" kata Jimin yang kembali ke ruangan Dhev dengan melongokkan kepalanya saja.
Sementara Nala, gadis itu merasa malu, wajahnya memerah seperti udang rebus.
Setelah itu, Dhev mengunci pintu ruangannya dan menelepon asistennya selain Doni. Mengatakan jangan sampai ada yang ke ruangannya, jangan sampai ada yang mengganggunya.
Setelah itu, Dhev menunjukkan ruangan khusus Dhev, ruangan yang biasa ia gunakan untuk istirahat kala kelelahan atau tidak ingin pulang ke rumah.
"Ruangannya keren banget, ada kamarnya juga," batin Nala seraya memperhatikan kamar Dhev.
Masihkah Nala belum menyadari tujuan Dhev membawanya ke kamar itu? Ya, Dhev ingin bekerja tetapi juga ingin melakukan itu dengan istrinya yang selalu membuatnya penasaran dengan kepolosannya, keluguannya, kebodohannya.
Nala berbalik badan dan terlihat Dhev sudah berdiri di sana. Nala terkejut, di tambah lagi Dhev menatapnya seolah akan memakannya hidup-hidup.
****
Doni yang sedang memantau Arnold itu mendapati pergerakan Arnold yang mengarah ke sekolah Ken.
"Apa yang akan dia lakukan di sekolah Ken?" tanya Arnold seraya meletakkan cangkir kopi yang sedang diseruputnya.
Doni yang mengerti kalau Arnold memiliki dendam itu segera menghubungi wali kelas Ken.
Doni meminta pada wali kelas itu untuk tetap menjaga Ken, Doni mengatakan dirinya akan menjemput Ken. Melarang Ken untuk bertemu selain dengan Doni atau ayahnya. Itu lah pesan Doni.
"Apa dia menginginkan anak Tuan Dhev?" geram Doni seraya bangun dari duduknya.
Pria yang masih mengenakan kolor dan kaos oblong itu bergegas, berlari keluar dari kamar apartemennya.
"Orang yang memiliki dendam bisa melakukan apapun, apalagi dia jelas mendekati sekolah Tuan Ken!" batin Doni, pria itu sangat khawatir dengan keselamatan anak tuannya.
Doni melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, berharap kalau dirinya bisa sampai lebih dulu.
Bersambung.
Jangan lupa terus dukung author dengan like, komen dan difavoritkan, ya. Like itu geratis 😚.