DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Pertarungan Sengit


Sesampainya di sekolah, Doni terlambat satu langkah, ternyata Arnold memakai nama Doni untuk menjemput Ken.


Doni yang sedang berada di ruangan guru itu memarahi wali kelas Ken.


"Saya sudah bilang, kalau hanya saya dan ayahnya yang akan menjemput, kenapa kamu biarkan orang lain membawa Tuan Ken pergi?"


"Maaf, jangan-jangan anda yang menyamar sebagai Tuan Doni. Mana mungkin seorang sekretaris memakai kolor seperti ini untuk bertugas?"


"astaga!" geram Doni.


Doni memilih keluar dan tidak ingin berdebat. Tidak ingin membuang waktu demi keselamatan Ken.


Doni kembali membuka ponselnya, melacak pergerakan Arnold dan ternyata Arnold membawa Ken ke arah luar Jakarta.


"Sial!" Doni menggerutu dan menghubungi Dhev. Dhev yang sedang bermanja dengan istri kecilnya itu tidak mendengar ada suara panggilan di ponselnya yang tertinggal di meja kerjanya.


Doni memutuskan untuk meminta bala bantuan dari teman-temannya, ada juga yang seorang polisi.


Arnold yang sedang mengendarai mobilnya itu menggerutu saat tiba-tiba melihat ada operasi di depan matanya.


Pria itu memutar balik arah perjalanannya.


Arnold menatap Ken yang tertidur di sampingnya, entah apa yang Arnold lakukan pada anak kecil itu.


Arnold tersenyum smirk.


"Tidurlah, sebentar lagi kamu akan menemui bunda kamu!" kata Arnold.


****


Di kantor Dhev.


Pria itu tidak menyangka kalau Arnold akan bergerak secepat itu. Sehingga ingin menuntaskan hasratnya yang setelah sekian lama tidak tersalurkan lebih dulu. Pikirnya sudah ada Doni yang selalu bisa diandalkan.


Dhev yang sudah berhasil membuat Nala tidak mengenakan apapun lagi itu sangat bersemangat.


Sementara Doni dan teman-temannya sedang melakukan aksi kejar-kejaran demi menyelamatkan anak tuannya.


Kembali ke ranjang panas Dhev.


Nala yang berada di bawah selimut putih itu menutup wajahnya menggunakan dua telapak tangannya saat melihat Dhev menurunkan celana.


Nala merasa matanya kini telah ternoda, dada bidang seperti roti sobek itu sekarang dapat dilihat secara nyata di depan matanya, bukan lagi di layar ponselnya saat menonton drama kesukaannya.


Dhev yang sudah polos itu menyusul Nala, ikut masuk ke bawah selimut. Menuntun tangan Nala untuk menyentuh sesuatu yang tegak, sesuatu itu mampu membuat Nala sedikit menjerit dan berusaha menjauhkan tangannya dari benda yang baru dipegangnya. Tetapi Dhev menahan tangan itu.


"Untung enggak di rumah, kalau di rumah repot, dia jerit mulu!" batin Dhev.


"Udah jeritnya?" tanya Dhev dengan wajah datar, sementara Nala menarik tangannya dari benda tegak itu.


"Keras!" lirih Nala dengan malu-malu. Memalingkan wajahnya dari tatapan Dhev. Menyembunyikan wajah merahnya.


"Takut," kata Nala seraya menaikkan selimut sampai menutupi dadanya.


"Justru itu yang enak, sekali coba pasti ketagihan!" kata Dhev seraya bermain di leher Nala dengan tangan yang sudah tidak bisa diam.


Terlihat dari leher Nala sampai dadanya banyak memiliki stempel kepemilikan yang diberikan oleh Dhev.


"Jangan takut, jangan tegang, aku akan melakukannya dengan lembut," bisik Dhev di telinga Nala.


Nala menganggukkan kepala, percaya pada suaminya.


****


Di jalannya, Arnold dibuat geram oleh Nindy yang tiba-tiba berada di depan mobilnya.


Nindy yang berada di dalam mobil itu menatap Arnold tajam.


Sekarang, Arnold kembali memutar mobilnya, membawa Ken dan Nindy yang terus mengikutinya sampai ke gedung kosong yang sudah Arnold dan anak buahnya itu siapkan.


Sesampainya di gedung itu, Arnold di kepung oleh orang Doni dan beberapa polisi yang ikut mengejarnya.


Arnold mengeluarkan senjata apinya, mengarahkannya pada Kenzo yang sekarang sedang menangis ketakutan.


Walau bagaimana pun, Arnold ingin tetap selamat dan dapat melarikan diri setelah menghabisi nyawa anak kecil itu.


"Maju kalian dan anak ini akan mati!" kata Arnold seraya menarik pelatuknya.


Melihat keadaan yang ada, Arnold yakin kalau dirinya tidak akan dapat melarikan diri.


Arnold memberikan perintah pada anak buahnya yang sudah menunggu di gedung itu untuk menyerang orang Doni dan Arnold akan membawa kabur Kenzo.


Perkelahian sengit pun tidak dapat dihindari. Arnold mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri, tetapi Arnold melupakan Nindy yang sedari tadi mengintainya.


Arnold menyeret seraya membekap mulut Kenzo dan dari arah belakang, Arnold merasakan benda keras yang mendarat di tengkuknya.


Ya, Nindy memukul Arnold dari belakang, menggunakan kayu yang tergeletak di gedung, tetapi pukulan itu tidak melumpuhkan Arnold.


Pria itu hanya sedikit tersungkur dan membawa Kenzo ikut jatuh bersamanya. Dan Arnold merasakan ada yang aneh dengan senjatanya, seharusnya saat Arnold tersungkur, dengan tidak sengaja pistol itu sudah membunuh Kenzo.


Tetapi tidak dengan kenyataannya, Kenzo baik-baik saja. Ken pun mengambil kesempatan untuk bangun dan berlari ke arah Nindy.


Nindy menggandeng tangan Ken, membawa lari Kenzo.


"Bagus, sekali bergerak dapat dua!" kata Arnold. Pria itu membuang senjatanya, menyadari kalau senjata itu ternyata tidak berpeluru.


Ya, Ibu Arnold lah yang melakukan itu di saat Arnold tidur. Wanita tua itu menukar senjata Arnold dengan senjata milik suaminya yang tak berpeluru.


Ia tidak ingin Arnold melakukan kejahatan lebih jauh lagi.


Sengitnya pertarungan di gedung terbengkalai itu tidak dapat dihindari, suara tembakan yang saling bersahutan pun terdengar, bahkan Doni sudah memiliki luka di wajahnya saat baku hantam dengan anak buah Arnold.


Lalu, Doni yang sedang melindungi diri dari tembakan musuh itu harus berlari ketika melihat Arnold menarik rambut Nindy dari belakang.


Doni berlari lalu menendang punggung Arnold sampai pria itu tersungkur, jatuh, wajahnya mencium debu.


Nindy dan Ken yang ikut terbawa jatuh itu segera bagun dan mencari tempat untuk berlindung. Nindy membawa Ken untuk bersembunyi.


Perkelahian antara Doni dan Arnold tidak kalah panas dengan pertempuran yang sedang di lakukan oleh Dhev.


Dhev yang sedang berada di atas Nala itu menikmati suara jerit kenikmatan dari Nala yang juga mencengkram erat rambutnya, beruntung Nala yang tidak memiliki kuku panjang itu tidak memberikan luka cakaran yang serius di punggung Dhev.


Suara jeritan itu tak menggema lagi karena Dhev segera menutupnya dengan mencium Nala.


Sampai pada Puncaknya, Dhev berhasil memuntahkan lahar panas di rahim istri kecilnya itu.


Dhev merasa lega saat kebutuhannya sudah tersalurkan, sekarang, sepasang suami, istri yang masih tersengal itu saling memeluk, Nala terengah dan merasa sakit di bawah sana.


"Maaf, aku terlalu bersemangat, sakit?"


Nala menganggukkan kepala pelan, matanya basah karena tadi sempat menitikkan air mata saat benda keras itu menerobos miliknya.


Dhev mengecup kening Nala.


"Sakit tapi enak, kan?" tanya Dhev membuat Nala kembali malu. Nala mencubit dada suaminya.


"Jangan mancing, nanti aku pengen nambah, kasian kamu!" kata Dhev, pria itu memahami kalau ini adalah pertama bagi Nala dan ingin memberikan jeda waktu untuk lanjut ke sesi berikutnya.


Bersambung.


Jangan lupa dilike, komen dan difavoritkan juga, ya.


Menerima vote gratis/gift juga, terimakasih sudah membaca^^