
Di Jakarta, Mamih Jimin mengajak Ririn untuk makan malam supaya tidak mengganggu rencananya.
Ririn pasti akan sibuk menelepon Jimin apabila tidak disibukkan olehnya.
Sementara itu, di rumah Mamih Jimin, Jimin sedang berperang dengan hawa nafsunya, ia merasa gerah saat terkurung di dalam rumah hanya bersama dengan seorang wanita seksi.
"Kenapa? Gerah, ya?" tanya Siti seraya bangun dari duduknya. Ia berjalan mendekat ke arah Jimin berdiri, Jimin sendiri sedang berdiri di tepi jendela, membuka jendela ruang tengah, berteriak meminta tolong tetapi entah kemana semua orang rumah, tidak ada satupun yang membalas.
Merasa lelah telah bersabar menunggu Jimin melihat kearahnya membuat Siti mulai frustasi dan akan menggunakan cara apapun untuk mendapatkan Jimin, apalagi dirinya mendapatkan dukungan dari Mamih Jimin.
"Jim, kita udah lama dijodohkan, tapi kenapa kamu milih gadis kota itu? Aku tau dulu aku jelek, tapi sekarang, lihat aku, Aku enggak kalah sama gadis kota itu!" kata Siti yang sudah kembali memeluk Jimin dari belakang.
"Lepas!" kata Jimin seraya berusaha melepaskan tangan Siti yang melingkar di perutnya.
"Astaga! Ada ya perempuan modelan gini! Lo mau hamil? Terus kalau lo hamil lo bisa dapetin gue?" tanya Jimin seraya menutup matanya, ia tak mau melihat yang menggoda di depan mata.
Tetapi, Siti Aisyah tidak kehabisan akal, dalam pikirannya, ia harus berhasil mendapatkan Jimin.
Siti Aisyah menurunkan tangan Jimin dari wajahnya.
"Ai!" teriak Jimin seraya mendorong bahu wanita iblis itu.
"Aakhh!" pekik Siti yang jatuh terduduk di meja sampai gaun malamnya itu tersingkap dan menampakkan dalaman yang ia kenakan dan kunci yang ia simpan di dalam gaun itu pun terjatuh.
Jimin mengambil kunci itu lalu pergi meninggalkan Siti Aisyah yang berada di ruang tengah, tetapi Jimin berhenti saat Siti Aisyah mengancam kalau dirinya akan berteriak dan membuat Jimin dalam kesulitan.
"Mau lo apa sih! Lo tau banget kalau gue enggak mau sama lo!" kata Jimin, pria itu tak lagi menghiraukan penampilan gadis itu yang semakin menggoda.
"Nikahin gue, siri juga enggak papa, yang penting pernikahan kita sah! Kita punya anak buat mamih kamu! Apa lagi!"
"Benar-benar gila! Mata duitan lo!" kata Jimin yang kemudian pergi berlalu dari tempatnya berdiri.
Melihat Jimin yang sama sekali tak mau menyentuhnya walau sudah berpenampilan sangat seksi membuat Siti menghentakkan kakinya.
Siti pun memberitahu kalau rencananya gagal dan Mamih Jimin menyalahkannya yang sudah diberi kesempatan dan waktu tetapi malah tak mendapatkan hasil.
Mamih Jimin yang sekarang sedang menonton televisi bersama Ririn itu lain pergi ke kamarnya, meninggalkan Ririn yang masih menunggu Jimin.
Malam ini, Jimin pulang larut malam, sesampainya di apartemen, Jimin mendapati istrinya yang menunggu di sofa ruang tengah.
Jimin segera mencari mamihnya, ia membuka paksa pintu kamar Mamih Jimin sampai mamih dan Ririn terkejut saat mendengar suara pintu terbanting.
"Mih, maksud mamih apa? Mamih mau jebak anak sendiri?" serah Jimin yang berdiri di pintu.
"Ada apa? Salah mamih mau punya cucu?" tanya mamihnya seraya bangun dari tidur, merubah posisinya menjadi duduk.
Mamih Jimin pun bangun dan berjalan ke arah Ririn yang sedang memperhatikannya.
"Kamu liat, wanita ini enggak bisa kasih mamih cucu! Dari dulu Jim! Kamu enggak pernah sayang sama mamih, enggak mau berusaha buat bikin mamih bahagia, dari sekolah SMA kamu pergi dari rumah, mamih kesepian dan sekarang sampai mamih hampir mati termakan usia pun harus kesepian!" ucap Mamih Jimin seraya mengambil vas bunga yang berada di meja ruang tengah, wanita yang mengenakan baju malam tanpa lengan itu membanting vas tersebut.
"Suruh siapa mamih jodohin Jim sama Siti!"
Melihat pertengkaran di depan mata dan membawa namanya, tentu saja Ririn merasa telah menjadi penyebab pertengkaran itu.
Ririn memilih pergi ke kamar, tidak lupa menguncinya. Jimin pun mengejarnya, mengetuk pintu seraya memanggil Ririn.
"Rin, buka!" perintah Jimin, tetapi Ririn yang sedang berjongkok di balik pintu itu menutup telinganya.
Malam ini Ririn membiarkan Jimin tidur di luar. Dan saat pagi datang setelah Ririn membuka pintu, ia sudah tidak melihat keberadaan mamihnya.
Ia hanya melihat Jimin yang tertidur di sofa ruang tengah.
"Aku harus gimana, Jim?" tanya Ririn dalam hati.
Dhev sendiri sudah mengerti kenapa pagi-pagi sekali gadis itu sudah berada di sana.
Selesai sarapan, seperti biasa, Nala mengantarkan suaminya ke depan.
Dhev mengecup kening istrinya, tidak tertinggal menciumi gemas putrinya.
"Kalau Ken udah enggak enak dicium ya, yah?" tanya Kenzo yang sedang mengantri untuk mencium adiknya sebelum berangkat.
Dhev terkekeh mendengar pertanyaan itu, ia mengacak pucuk rambut putranya yang sudah semakin tinggi.
"Ayah, nanti gantengnya ilang, ish!" protes Ken seraya membetulkan rambutnya yang sudah berantakan.
"Anak sama ayah, sama-sama narsisnya!" kata Nala seraya membelai pipi Kenzo.
Setelah itu, Dhev mengecup pucuk kepala Kenzo.
Kebahagiaan itu diperhatikan oleh Ririn dari dalam, ia mengerti mengapa mamihnya ingin cucu, pasti kebahagiaan yang sedang dilihatnya itulah yang sangat diinginkan oleh mamih mertuanya.
Setelah Dhev tak terlihat, Nala mengajak Ririn untuk menemani Fai dan Fakhri mandi pagi.
Di sana, Ririn menceritakan apa yang baru saja terjadi semalam.
"Kalau menurut aku, sabar. Toh, Om Jim juga enggak tergoda sama perempuan itu, kan?"
"Memang enggak tergoda, tapi egois enggak sih aku ini?" tanya Ririn yang sedang memegangi Fakhri dalam bak mandinya.
"Kenapa egois? Kan Om Jim suami kamu, sudah seharusnya kamu menjaga suami, udah, kamu enggak usah mikirin itu terus, kalau kamu stres terus gimana mau hamil? Lagian, jodoh, anak, maut dan rejeki itu semua udah Tuhan yang mengatur! Aku lama-lama kesel sama mertua kamu!" kata Nala yang sedang mengusapkan sabun di tubuh Fai.
Dan Nala berhenti mengoceh saat mulutnya kemasukan air karena Fai tak bisa diam, tangannya terus bergerak menepak-nepak air dalam bak mandinya.
"Ngomong jangan pikirin mah gampang, La! Tapi buat menerimanya itu yang susah! Setiap ketemu mertua selalu anak yang dibahas, lama-lama rasanya pengen nyerah!" jawab Ririn.
"Udah, mandinya jangan lama-lama, takut masuk angin!" kata Ririn seraya meminta handuk pada suster Fakhri dan mengangkat Fakhri dari bak mandinya.
Begitu juga dengan Nala, sekarang, Nala dan Ririn membawa Fai dan Fakhri masuk ke dalam untuk digantikan pakaiannya.
"Mereka kaya kembar, ya! Lahir barengan, di rumah sakit yang sama, terus di gedein juga barengan gini, semoga Nindy cepet bangun, kasian Fakhri, dia pasti pengen kaya Fai yang dirawat sama ibunya sendiri!" kata Ririn.
"Iya, semoga. Alhamdulillahnya enggak habis orang yang sayang sama Fakhri, kaya kamu ini, pagi-pagi udah mandiin dia!" jawab Nala seraya tersenyum pada Ririn.
"Semoga aku cepet mandiin anak sendiri!" Ririn tersenyum setelah mengatakan itu.
"Aamiin," jawab Nala, keduanya pun tersenyum.
Dan di pintu kamar Fai yang berada di lantai bawah itu ada Amira yang sedang memperhatikan, ia selalu kagum pada ketulusan Nala yang mampu menyayangi anak tiri dan keponakannya itu.
"Sayang! Ibu mau ke rumah sakit, ya!" kata Amira, Nala dan Ririn pun melihat kearah pintu.
Nala turun dari ranjang dan menyalami ibu mertuanya itu.
"Iya, Ibu hati-hati di jalan. Kalau butuh apa-apa kabarin Nala!" kata Nala seraya tersenyum.
"Iya, sayang!" Amira pun pergi dari sana.
"Beruntung banget sih hidup lo, La!" batin Ririn.
Bersambung.
Jangan lupa like, komen dan difavoritkan juga ya.
Yang masih punya vote gratisnya, yuk di vote, dukung karya ini. Terimakasih banyak☺