
"Saya kira Tuan sedang menghabiskan hari bersama istri baru," kata Doni yang sedang meminta tanda tangan Dhev di ruangan bosnya itu.
Dhev hanya menjawab dengan senyum, entah mengapa dirinya yang selalu menolak untuk dijodohkan atau diminta untuk menikah lagi kali ini merasa bahagia dengan pernikahan dadakannya itu.
"Entahlah, aku merasa ada yang salah dengan diriku, aku tidak seperti biasanya, apalagi kalau di dekatnya, aku selalu ingin menggodanya." Dhev terkekeh dengan ucapannya sendiri.
"Apa lagi, Tuan jatuh cinta," jawab Doni dan Doni mendapatkan tatapan menyelidik dari Dhev.
"Benarkah? Kamu pernah jatuh cinta?" tanya Dhev, masih menatap Doni.
"Tidak sempat," jawab Doni seraya menggaruk tengkuknya.
"Kenapa?"
"Karena Tuan dan Ibu besar," batin Doni, pria tampan berusia sudah matang itu tak berani berterus-terang.
"Karena pekerjaan, saya mencintai pekerjaan," jawab Doni kemudian.
"Haha, aku juga mencintai pekerjaan, tapi tidak menyangka kalau gadis itu kecil berhasil menari-nari di pikiranku! Ck!" decak Dhev, pria itu menggelengkan kepala. Dan Dhev teringat dengan pertanyaan Ken yang dirasa memiliki kejanggalan.
"Aku heran, kenapa Ken tau kalau ayahnya mau menikah lagi, dari mana dia tau, seolah pernikahan ini sudah diatur," kata Dhev seraya bangun dari duduknya, Dhev berjalan ke tepi jendela, melihat padatnya ibu kota dari ketinggian gedung miliknya.
"Selidiki! Jangan lupa ucapkan terimakasih."
"Baik, Tuan."
"Oh, iya. Bagaimana dengan Nindy? Apa dia bekerja dengan benar?"
"Maaf, Tuan."
"Kenapa maaf? Memangnya apa yang dia lakukan?" Dhev menatap Doni, berdiri dengan memasukkan dua tangannya ke dalam saku celana.
"Harus di kerjakan berulang kali, mungkin karena baru bekerja, jadi masih belum banyak mengertinya," jawab Doni, pria itu seolah melindungi Nindy dari amarah Dhev.
"Bukan karena baru bekerja, tapi karena isi otaknya itu hanya main, hanya bermain-main!" kata Dhev.
Dari nada suara Dhev yang berubah saat membicarakan Nindy, Doni tau kalau Dhev sudah emosi.
"Apa yang kamu temukan dari Nindy?" tanya Dhev, pria itu kembali duduk ke kursinya.
"Adik Tuan menjalin hubungan dengan Arnold dan...," jawab Doni yang tak berani untuk berterus terang.
"Apa? Arnold!" geram Dhev. Pria itu mulai mengeluarkan lagi tanduknya yang beberapa menit lalu ia sembunyikan.
Dengan diamnya Doni, Dhev sudah tau apa jawabannya.
Tak perlu diragukan lagi, Doni adalah peretas handal dan sangat mudah bagi Doni yang hanya mencari tau dengan siapa Nindy dekat.
"Dan apa? Lanjutkan!" Dhev menatap dingin Doni yang masih berdiri di depannya.
"Sudah keluar masuk hotel, saya permisi, Tuan!" Doni pun undur diri sebelum ada benda melayang yang mengenai kepalanya.
Dhev yang geram dan mengetahui kalau Arnold sudah merusak hidup adiknya itu tidak menunggu lama lagi, pria itu mengambil ponsel dan kunci mobilnya.
Berjalan cepat ke ruang HRD, di mana adiknya itu tempatkan. Dhev membuka kasar pintu ruangan tersebut.
Terlihat Nindy sedang mengoleskan lipstik supaya tidak terlihat pucat.
Dhev menarik lengan Nindy begitu saja sehingga membuat lipstik Nindy itu menjadi keluar jalur dari bibirnya.
Semua staf HRD hanya melihatnya saja tanpa berani melerai. Tetapi bisik-bisik dari mereka yang ingin tau terdengar.
Dhev terus menyeret Nindy yang meminta Dhev untuk melepaskannya.
Tetapi tangan Dhev sangat kuat menarik lengan Nindy.
"Kak, Nindy malu, lepasin!" kata Nindy seraya berusaha melepaskan lengannya.
Tetapi, Dhev yang sedang marah besar itu terus berjalan dengan menyeret adiknya ke lantai bawah, dengan pandangan tetap lurus ke depan tanpa menghiraukan perasaan malu Nindy.
Bagi Dhev, Nindy sudah kehilangan rasa malunya.
Sekarang, Dhev yang sudah sampai di parkiran itu mendorong Nindy masuk ke mobil. Nindy yang tidak tau apa penyebab Dhev murka itu mengira kalau hanya masalah pekerjaan saja.
Nindy teringat dengan almarhum papahnya, Dhev sangat mirip dengan beliau, apalagi ketika sedang marah, tidak banyak bicara, diam, tetapi sekali bicara semua benda akan pecah dibuatnya.
Doni memperhatikan Dhev dan Nindy dari kaca jendelanya, menggelengkan kepala.
"Apalagi kalau bos tau apa pekerjaan Arnold," kata Doni yang sudah mengetahui semua tentang Arnold yang ternyata seorang pengedar barang haram.
****
Dhev mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sedangkan Nindy merasa kalau nyawanya sudah di ujung tanduk.
"Kak, Kakak pengen kita mati, iya?" teriak Nindy yang duduk di bangku belakang, mengencangkan sabuk pengamannya.
Dhev tidak menghiraukan itu, yang ia tau ingin segera memberi pelajaran pada Nindy setibanya di rumah.
"Diam kamu, bodoh!" teriak Dhev saat sudah tidak tahan mendengar ocehan Nindy.
Setibanya di depan gerbang, semua orang dikagetkan dengan suara klakson mobil Dhev.
Satpam segera membukakan gerbang dan Dhev masuk ke halaman rumah, memarkirkan mobilnya dengan sembarangan.
Dhev kembali menyeret lengan Nindy.
Amira dan Nala yang sedang berjalan keluar hendak berbelanja itu sangat terkejut dengan apa yang dilihat.
"Ada apa ini, Dhev?" kata Amira yang berjalan cepat ke arah Dhev.
Dhev tidak menjawab, terus menyeret Nindy, membawanya masuk ke rumah.
"Astaga, om kenapa? Keliatannya marah besar," batin Nala, gadis itu mengikuti Amira yang juga mengikuti Dhev dan Nindy.
Sesampainya di ruang tengah, Dhev melempar Nindy sampai kepala gadis itu membentur meja.
"Aaauu!" pekik Nindy seraya menyentuh kepalanya yang memar.
Terlihat Dhev mengendurkan dasinya, berkacak pinggang, menarik nafas.
"Diam!" teriak Dhev pada Amira dan Nala yang menanyakan ada apa.
Amira dan Nala berdiri di depan pintu kamar Amira dan Amira merasakan kalau tangan Nala yang berada di lengannya itu sangat dingin, Nala sangat ketakutan saat melihat beruang Amazon mulai mengamuk.
"Bodoh, apa yang kamu lakukan dengan Arnold? Hah!" bentak Dhev seraya menendang meja yang berada di depan Nindy.
Sebenarnya, Dhev ingin sekali menendang kepala Nindy, berharap setelah itu akan kembali waras. Tetapi Dhev sadar kalau Nindy adalah adiknya yang sekali bodoh akan tetap bodoh. Dan Dhev melampiaskan pada meja.
"Dari mana dia tau? Apa dia tau kalau aku udah tidur sama Arnold, makanya sangat marah?" batin Nindy, gadis itu menundukkan kepala, tak berani menatap Sang Kakak.
"Jawab!" bentak Dhev. Pria itu memijit kepalanya, merasa kalau darah tingginya itu kembali datang.
"Kami pacaran," jawab Nindy, masih menundukkan kepala.
"Hahaa, kamu tau siapa Arnold? Yakin kamu pacaran sama dia?" cibir Dhev, Dhev yakin kalau Nindy hanya dijadikan mainan oleh mantan sahabatnya itu.
Nindy membalas dengan menganggukkan kepala. Sementara Amira dan Nala menutup mulutnya setelah mengetahui apa yang membuat Dhev murka.
"Astaga, Nindy, kamu tau siapa Arnold? Apa kamu lupa siapa Arnold?" tanya Amira seraya mendekati Nindy, berniat membantu Nindy untuk bangun.
"Jangan ada yang menyentuhnya! Dia gadis kotor! Bahkan untuk dimandikan saja tidak akan cukup!" kata Dhev. Pria itu pergi ke kamarnya.
Amira menatap Nindy, mencari tau apa maksud ucapan dari anak lelakinya.
Amira melihat pada Nala yang masih berdiri. "Ikuti suami kamu," perintah Amira dan Nala menganggukkan kepala.
Nala menyusul Dhev dengan membawakan air sejuk, Nala berpikir kalau Dhev akan membutuhkan air minum, seperti ayahnya yang selalu disediakan air minum oleh ibunya ketika sedang lelah.
Nala melihat pintu kamar yang tidak terkunci, ia masuk dan melihat Dhev sedang duduk di lantai, bersandar pada ranjangnya.
Dhev melihat ke arah pintu, menatap tanpa ekspresi pada istrinya yang semakin hari semakin cantik.
Bersambung.
Dapatkah Nala meredam amarah suaminya?
Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya. Dukungan kalian adalah semangat ku.
Terimakasih^^
Bagi yang masih punya vote gratis, yuk di vote Dhev dan Nalanya ☺