DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Diam-Diam Mengagumi


Seiring berjalannya waktu, sekarang, perlahan Fai sudah bisa mengobati luka hatinya, walau belum sepenuhnya. Sesekali ia masih ingat dan mungkin tidak akan melupakan Alif, hanya saja perasaan dan hatinya yang sekarang sudah berdamai membuat senyumnya kembali hadir di hidupnya.


Ia juga mengambil pekerjaan paruh waktu untuk mengisi waktu luangnya.


Dhev merasa bangga pada putrinya yang berhasil mandiri di luar sana.


Dan sekarang, lima tahun berlalu, Fai yang bekerja di restoran Ruri sebagai manajer itu menolak untuk pulang ke Indonesia.


Ruri yang sekarang berteman baik dengan Fai itu membujuknya.


"Ayolah, udah lama enggak balik! Emang enggak kangen sama bakso? Sate, nasi goreng? Jagung bakar?"


"Apaan sih, Kak! Udah biasa makan di sini, kan restoran kakak banyak menu dari sana!" jawab Fai yang sekarang sudah berusia 23 tahun, gaya bicara dan pakaian pun sudah semakin dewasa.


Dan Ruri yang diminta oleh Dhev untuk menjaga putrinya itu diam-diam menyimpan rasa kagum yang semakin lama menjadi rasa suka dan cinta.


Tapi, Ruri tidak pernah berani untuk menyatakannya. Ia takut di tolak oleh Fai, Ruri sendiri tau kalau selama ini Fai tidak menerima cinta dari pria mana pun yang menyatakan cintanya.


Ruri tak ingin bernasib sama dengan para pria malang itu.


Fai pun pamit pada Ruri yang mengajaknya bersantai di sudut restoran, saat Fai berbalik badan, ia sangat terkejut dengan kedatangan Adila dan Kenzo.


Terlihat keponakan kecilnya yang begitu menggemaskan, Fai pun langsung histeris dan memeluk keponakannya itu lalu memeluk Adila.


"Lo ke sini enggak ngabarin?" protes Fai.


"Kalau ngabarin bukan kejutan namanya!" jawab Kenzo seraya meletakkan 2 koper yang dibawanya.


"Kakak, gimana kabarnya? Ngerti aja Fai lagi kangen kalian!" Fai pun memeluk Kenzo.


Setelah itu, Fai meminta ijin pada Ruri untuk membawa Adila dan keponakannya itu pulang ke apartemen.


"Buat kamu, apa sih yang enggak!" kata Ruri dan Kenzo pun berdehem.


Seketika, Ruri menjadi salah tingkah, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Dan Ruri pun mengambil kesempatan untuk bicara pada Ken.


"Eemm, anu... Ken. Itu, gue...," kata Ruri yang ingin bercerita tetapi malu.


"Apa? Ngomong yang jelas, kaya orang gagu aja lo!" kata Ken seraya menepuk bahu Ruri, lalu Ruri pun mengajak Ken untuk duduk.


"Gue naksir ade lo!"


"Serius? Gue kira lama di LN lo sukanya sama bule!"


"Serius, gue udah lama suka, tapi enggak berani bilang!"


"Mau sampai kapan lo pendem? Keburu ada yang ngembat nanti! Umur lo juga udah tua, kasian ade gue ntar! Dia masih muda lo uda jompo!" ledek Ken.


"Tega banget lo! Umur gue masih 31 tahun, belum tua-tua amat! Liat tuh bokap sama nyokap lo! Tante masih cantik eh suaminya udah sepuh!"


"Parah lo! Orang tua diomongin!" kata Ken seraya menunjuk wajah Ruri.


"Siapa yang sepuh?" suara yang tidak asing itu membuat Ruri seketika menjadi pucat, Ruri tau betul siapa pemilik suara itu.


Ternyata, tidak hanya Ken dan Adila yang datang, tetapi ada Dhev dan Nala.


"Nenek dan kakek saya, om!" jawab Ruri dan sebenarnya mereka sudah tidak ada di dunia ini.


"Awas kamu ya ngatain om, om enggak akan kasih restu!" ledek Dhev yang ikut duduk.


Ya, Dhev sempat mendengar pembicaraan Ruri dan Ken.


Ruri pun menjadi malu, ia bangun dari duduk untuk menyalami Dhev dan Nala lalu mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Kalau suka katakan! Jangan dipendam!" kata Dhev seraya menepuk bahu Ruri dan Ruri pun seolah mendapatkan dukungan dari keluarga Fai.


Tetapi, Ruri takut ditolak. Itu saja.


Dhev dan Ken pun memberi semangat pada Ruri.


****


Malam pun tiba, Ruri mengajak Fai untuk makan malam romantis, di sana keduanya saling diam.


Ruri mencoba untuk menenangkan hatinya lebih dulu lalu membuka pembicaraan.


"Fai," lirih Ruri seraya menatap Fai yang selalu cantik di matanya.


"Iya, Fai pun menatap Ruri dan itu membuat Ruri semakin grogi.


"Ada apa?" tanyanya.


"Kamu punya pacar?"


"Enggak, kenapa?"


"Enggak kenapa-napa, tapi di hati kamu ada seseorang yang kamu sukai?"


"Ada," jawab Fai singkat.


"Siapa?" tanya Ruri, ia ingin tau siapa pria beruntung itu.


Fai pun menyangga dagunya menggunakan tangan kanannya, matanya menatap ke atas membayangkan si pria itu yang selama ini menjaga dan menemani.


"Dia tampan, baik, selalu menjaga aku! Umurnya lebih dewasa dari aku, tutur katanya lembut, bikin aku terus memikirkannya!" jawab Fai, setelah itu Fai kembali menyantap makan malamnya.


Mendengar itu, Ruri pun merasa kalah saing, ia merasa jauh berbeda dari apa yang dikatakan oleh Fai.


"Siapa orangnya? Aku harus mengenalnya lebih dulu, harus ku selidiki dulu layar belakangnya! Aku enggak mau kamu dipermainkan!?" kata Ruri, padahal dalam hatinya terasa cekat-cekit saat mendengar Fai memuji pria lain.


"Kenapa harus mengenalnya, orangnya udah ada di sini," jawab Fai, ia tersenyum malu karena akhirnya Ruri bertanya tentang perasaannya.


Ruri pun melihat ke kanan dan kiri. Mencari keberadaan pria itu dan Fai pun hanya tersenyum.


"Fai mulai suka sama dia dari tiga tahun lalu, makanya Fai selalu menolak setiap cinta yang datang, itu karena dia!" ucap Fai dan Ruri pun semakin menciut, tidak berani menyatakan cintanya.


"Selamat ya, aku dukung apapun keputusan kamu! Demi kebahagiaan kamu!"


"Is, dasar enggak peka banget!" kata Fai dalam hati.


Sekarang, giliran Fai yang bertanya pada Ruri. Mengapa sampai dewasa Ruri belum juga menikah.


"Aku naksir sama adik temen aku, tapi dia enggak peka, kayanya dia udah punya tambatan hati."


"Siapa? Jangan bilang aku?" ledek Fai.


Dan Ruri pun tersedak makanannya.


Fai bangun untuk menepuk punggung Ruri.


Setelah makanan itu berhasil keluar, Ruri mengucapkan terimakasih.


Makan malam romantis pun gagal, Ruri mengajak Fai untuk pulang.


Di apartemen Ruri, ia yang berbaring di ranjang dan menatap langit-langit kamarnya memikirkan ucapan Fai yang memuji si pria itu.


"Dewasa, selalu menjaganya, tampan dan selalu ada buat dia? Kok gue merasa kalau itu gue, ya!" gumam Ruri.


Ia merasa kesal pada dirinya sendiri yang tidak memiliki keberanian.


Sementara Fai, gadis itu sedang menatap pantulan dirinya di cermin, menghapus make-up seraya tersenyum, ia menganggap kalau ekspresi Ruri sangat menggemaskan.


"Kak, kapan sih kamu sadar, kalau Fai nunggu kakak ungkapin duluan!" gumam Fai.


Bersambung.


Fai sudah menemukan kebahagiaannya lalu bagaimana dengan Alif?