DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Kembali Menghasut


"Lain kali apa?" tanya Dhev dengan wajah datarnya.


"Lain kali dengarkan aku bicara lebih dulu!" jawab Nala, ia merasa kecewa karena Dhev tak mau mendengarkan.


Nala pun segera menarik selimut sampai batas dadanya.


Membelakangi Dhev yang masih menatapnya.


Dhev menarik nafas dalam lalu membuangnya dengan kasar.


****


Keesokan paginya, Dhev membuka mata dan Nala sudah tidak ada di sampingnya.


"Kemana anak itu?" tanyanya pada diri sendiri. Dhev keluar dari kamar, melihat pintu kamar Ken sudah terbuka.


Nala berada di dalam, menemani Ken membereskan buku sekolah.


Walau Ken masih diam, tetapi Nala terus mengajaknya berbicara.


"Ibu, pagi-pagi berisik banget, Ken masih mengantuk!" Akhirnya Ken mengeluarkan suaranya, pria kecil itu duduk di kursi meja belajar dengan mengucek mata dan menguap.


"Kalau ibu diam, nanti Ken kangen sama ibu, kangen enggak?" tanya Nala.


Sekarang, Nala bangun untuk mengambil seragam Ken yang sudah disiapkan oleh Resa dan saat itu juga Nala kembali merasa mual dan ingin ke kamar mandi.


Nala segera ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya yang hanya berisi cairan karena Nala belum makan atau minum pagi ini.


"Ibu sakit?" tanya Ken yang berdiri di pintu kamar mandi.


Nala menganggukkan kepala, mengelap mulutnya menggunakan tisu yang tersedia.


"Ayo, cepat siap-siap. Anak ibu udah besar, jagoan pasti bisa mandiri," kata Nala seraya mengucap pucuk kepala Ken.


Ken pun menganggukkan kepala, Ken mengantarkan Nala untuk kembali ke kamar dan di sama rupanya sudah ada Dhev sedang duduk di tepi ranjang.


"Ayah ngapain, Ken enggak mau sama ayah!" kata Ken, pria kecil itu mengambil handuk lalu pergi mandi.


Nala menggelengkan kepala.


Dhev hanya diam saja, pria itu mengajak Nala untuk kembali ke kamar, sementara, Resa dan Winda sedang menyiapkan bekal untuk Ken dak Dhev tidak mau membawa bekal selama itu bukan buatan istrinya, tetapi Dhev juga tidak memaksa Nala untuk menyiapkan.


Setelah siap, sekarang, semua orang sudah berada di meja makan.


Amira terlihat sedih karena baru saja mendapatkan kabar kalau ibunya sakit.


"Dhev, Nenek kamu sakit, Mamah harus terbang ke Semarang," kata Amira.


"Kamu di sini saja, jaga anak dan istrimu, nanti setelah sarapan mamah akan bersiap!" kata Amira seraya menatap Dhev.


"Semoga enggak ada hal buruk yang terjadi," jawab Dhev.


****


Pagi ini, Dhev yang ingin memperbaiki hubungan dengan Ken itu mengantarkan ken sekolah, tetapi, selama perjalanan, Ken hanya diam, berpikir pasti di kelasnya akan ramai membicarakan soal berkuda kemarin.


"Ken," lirih Dhev seraya terus fokus mengemudi.


"Ken sayang adik, enggak?" tanya Dhev.


Ken pun menjawab dengan menganggukkan kepala.


"Kalau begitu, kita sama-sama jaga adik yang masih ada di dalam perut ibu kamu, dia saudara kamu, bukan berarti ayah lebih memikirkan dia, tetapi dia masih sangat kecil, kecil sekali!" kata Dhev.


Ken hanya mendengarkan.


Setelah sampai, Ken yang akan turun dari mobil itu tertahan karena Dhev masih mengunci pintunya.


"Nanti sepulang sekolah kita lihat adik kamu, mau?" tanya Dhev dan Ken terlihat berpikir.


Bagaimana lihat, kan masih berada di dalam perut, begitu lah pikir Kenzo.


"Baiklah!" jawab Ken, setelah itu Ken turun dari mobil.


****


Pergerakan Ken, Dhev dan Nala tidak lepas dari pengawasan Mika yang selalu ingin mengambil kesempatan.


"Sepertinya, Ken belum terpengaruh," batin Mika yang sedang berada di atas motornya, bersembunyi, memperhatikan Ken dan Dhev.


"Ok, kalau Dhev mungkin bukan lawanku, tapi aku enggak suka liat Nala bahagia!" Setelah itu, Mika pergi dari tempatnya bersembunyi.


Dan pagi ini, Dhev pergi ke makam Ana.


Di sana, Dhev menceritakan kekhawatirannya.


"Ana, jujur saja, aku takut mengulang masa lalu, takut kehilangan orang yang ku sayang untuk ke dua kali, mungkin kali ini aku enggak bisa memaafkan diri sendiri atau mungkin bisa mati, salahkah aku dengan kekhawatiran ini?"


Dhev menghapus air mata yang hampir menetes itu dan saat itu juga, Mika mengambil gambar Dhev.


Mika mengirimkan pada Nala, mengatakan kalau Dhev hanya mencintai Ana, buktinya, Dhev menangis di depan makan Ana.


Nala yang sedang duduk santai berbalas chat dengan Ririn itu tak ingin menanggapi pesan dari nomor tak dikenal itu, tetapi, Nala yang sedang sensitif itu tidak dapat melupakan begitu saja.


Menjadi beban pikiran bagi Nala.


Nala menjadi bertanya-tanya, apakah Dhev benar mencintainya atau tidak.


"Kenapa aku berpikiran seperti itu, aku enggak perlu cemburu sama orang yang udah meninggal! Aku yakin, Aku dan Mbak Ana memiliki tempat masing-masing di hati Mas Dhev!" batin Nala.


Nala memilih menghapus pesan itu.


"Iya, aku enggak boleh cemburu!" ucapnya dengan yakin!


Waktu berlalu, sekarang, Dhev menjemput Nala dan setelahnya menjemput Ken untuk ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Nala.


Di sana, Nala melakukan USG untuk memastikan kesehatan anaknya dan saat itu juga semua orang merasa senang setelah melihat janin itu.


"Lihat, Ken. Itu adik kamu, masih kecil kan, bahkan sangat kecil, kita jaga sama-sama, ya!" kata Dhev dan Ken pun menganggukkan kepala.


Ada kebahagiaan setelah melihat perkembangan janin itu dan Nala melihat raut bahagia itu dari Dhev, semakin yakin kalau cinta suaminya itu tidak perlu diragukan.


****


Begitu juga dengan Nindy, gadis itu sedang menunggu sore hari untuk ke rumah sakit, karena Doni sudah berjanji akan mengantarkan dan melakukan USG.


Siang ini, seraya menunggu waktu berlalu, Nindy pergi untuk mengunjungi Arnold di lapas.


Sesampainya di sana, Nindy yang sudah duduk di bangku panjang, berhadapan dengan Arnold langsung mengutarakan niatnya.


"Gue hamil dan gue harap suatu saat nanti jangan pernah lo temui anak ini atau mengusik kehidupan gue di masa depan, cukup lo ada di masa lalu gue aja! Gue sekarang udah hidup bahagia!" kata Nindy dengan menatap Arnold yang juga menatapnya.


"Kalian boleh bahagia untuk sekarang! Tapi setelah gue bebas, gue bakal balas semua perlakuan kalian semua!" ancam Arnold.


"Lo gila ya, harusnya kakak masukin lo ke rumah sakit jiwa, bukan penjara! Lo yang jahat kenapa lo yang enggak terima!" celetuk Nindy dengan ketusnya.


"Cukup Arnold! Gue peringatkan sebelum tangan gue sendiri yang habisin lo!" ancam Nindy.


Mendengar ancaman dari gadis yang dianggapnya lemah itu, Arnold menertawakannya.


"Hahahaaa!"


"Dasar gila!" kata Nindy seraya pergi meninggalkan Arnold.


"Mudah-mudahan, dia enggak ngusik kehidupan gue sama Doni nanti!" batin Nindy yang sekarang sudah berada di luar lapas.


Bersambung, apakah benar kekhawatiran Nindy akan terjadi?


Akankah Nala dan Ken termakan hasutan Mika?


Jagan lupa like, komen dan difavoritkan ya. Terimakasih^^