
Baru saja Nala selesai menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya, suster Fakhri mengetuk pintu kamarnya.
Nala membuka pintu itu, menanyakan keperluan suster.
"Den Fakhri demam, bu," kata suster yang kemudian pergi dari hadapan Nala.
"Ada apa?" tanya Dhev yang baru saja keluar dari kamar mandi, masih dengan handuk yang melilit di pinggang.
"Fakhri demam, aku mau bawa Fakhri berobat dulu," kata Nala yang kemudian keluar dari kamar.
"Tunggu!" kata Dhev dan Nala pun menghentikan langkah kakinya.
"Biar ku antar!" Dhev pun segera mengenakan pakaiannya lalu membawa Fakhri ke rumah sakit di mana ibunya di rawat.
Di rumah sakit, Fakhri bertemu dengan omahnya yang baru saja keluar dari ruangan Nindy.
"Loh, kalian di sini?" tanya Amira seraya meminta Fakhri dari gendongan Dhev.
"Fakhri habis berobat, demam," jawab Dhev.
"Kasian, anak malang, cepat sembuh ya sayang," kata Amira seraya mengecup kening Fakhri.
"Mah, mamah sepertinya kelelahan," kata Dhev yang memperhatikan Amira.
"Enggak papa, Nak. Mamah mau menunggu adik kamu bangun, jangan larang mamah untuk di sini," jawab Amira seraya tersenyum.
Dhev hanya menarik nafas dalam, bukan melarang maksud hati Dhev, tetapi, untuk tidak sepanjang hari di rumah sakit, itulah yang ingin Dhev katakan.
"Kalau Fakhri lagi demam, jangan dekat-dekat dulu sama Fai, ya. Takut nular sakitnya," kata Amira seraya mengembalikan Fakhri ke gendongan Dhev.
Setelah itu, Amira pun pamit karena harus mengisi perutnya.
"Maafin Nala, bu. Karena buru-buru tadi sampai lupa bawakan makan malam," kata Nala yang berdiri di samping Dhev.
"Enggak papa, ibu makasih kamu udah mau merawat Fakhri."
"Banyak yang merawat Fakhri, Bu. Bukan cuma Nala," jawab Nala dan Amira pun membelai rambut hitam menantunya.
"Kalau gitu, gimana kita makan malam bersama?" tanya Dhev.
"Kalian pulang saja, kasihan Fakhri lagi enggak badan," kata Amira dan Dhev pun mengiyakan perintah ibunya.
****
Di Apartemen Jimin.
Baru saja selesai makan malam, Jimin mendapatkan pertanyaan dari Ririn.
Ririn menanyakan kemana Jimin pergi saat telat pulang.
"Gue lembur," jawab Jimin seraya mengambil gelas air minumnya.
"Yakin? Apa lo udah terbiasa bohong sekarang?" tanya Ririn yang berada di depan Jimin, menatapnya tajam seraya melipat tangannya di dada.
"Bohong apa?" tanya Jimin, ia tidak tau maksud Ririn.
Kemudian Ririn pun bangun untuk mengambil selembar foto yang kembali ia rangkai setelah dirobek oleh papahnya.
Ririn memperlihatkan foto itu, foto di mana Siti terlihat sangat menggoda, menggunakan gaun malam yang tipis sedang memeluk suaminya dari belakang.
Jimin pun mengerti, ia mengambil foto itu, sudah ketahuan merasa tidak ada lagi yang perlu ditutupi.
"Gue dapat kabar kalau papih sakit, ternyata itu jebakan," jawab Jimin seraya memperhatikan foto tersebut.
"Jujur, lo ngapain aja sama Siti?"
"Gue enggak ngapa-ngapain. Gue pergi dari sana tanpa melakukan apapun sama Ai." Jimin berbicara dengan nada yang sedikit tinggi, berharap kalau Ririn akan percaya dengannya.
"Kalau ada gue ngelakuin apa-apa sama Ai. Gue yakin, bukan foto kaya gini yang lo terima!" kata Jimin seraya bangun dari duduk.
Ia pergi meninggalkan Ririn yang masih terdiam, merasa bimbang harus percaya pada suaminya atau tidak.
Jimin menjatuhkan dirinya di ranjang.
Mengambil ponsel, mengajak Dhev untuk ke gym besok hari. Ia merasa penat dengan kesehariannya yang selalu dengan masalah.
Dhev pun mengiyakan ajakan Jimin.
****
Malam ini, Ririn memilih untuk tidur di kamar lain, itu membuat Jimin merasa jengkel.
"Gini nih malesnya nikah! Ribet!" ucap Jimin yang berdiri di pintu kamar. Matanya menatap kamar yang biasa ditempati oleh mamihnya.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Jimin tidak melihat keberadaan Ririn, gadis itu sedang berlari pagi di taman belakang apartemen.
"Ngapain ke gym, mending di rumah gue aja!" kata Dhev.
"Ya udah lah, ayo!" kata Jimin yang mengajak Dhev ke ruangan gymnya.
Di ruanga itu, keduanya berolahraga dan keringat pun sudah bercucuran.
"Lo tau enggak gimana kabarnya Arnold?" tanya Dhev, pria itu tak tau kalau Jimin sedang sensi kalau mendengar nama pria itu.
"Males, jangan bahas dia!" kata Jimin seraya mengelap keringat di lehernya menggunakan handuk kecil.
Dhev pun mengurungkan niatnya untuk memberitahu Jimin kalau Arnold telah menjadi asisten pribadinya.
Tidak lama kemudian, Nala datang dengan membawakan jus segar untuk keduanya.
"Terimakasih, sayang!" kata Dhev seraya mengambil jus itu dari nampan.
Nala membalas dengan senyuman.
Baru seteguk Dhev meminum jus itu, ia sudah merasa ingin buang air kecil dan harus meninggalkan Nala berdua bersama dengan Jimin.
Nala merasa kalau ini adalah kesempatan untuk bertanya pada Jimin.
"Emm... Om. Nala boleh nanya sesuatu enggak?"
"Nanya apa? Soal Ririn?"
"Iya apalagi, kan aku sahabat Ririn." Nala tersenyum padanya.
"Om, Om enggak bakal duain Ririn, kan? Ririn takut diduain sama Om."
"Engga salah, bukannya dia yang diam-diam ketemu sama mantan," ucap Jimin, ia merasa sebal harus kembali teringat dengan pertemuan Ririn dan Arnold.
"Udah enggak usah bahas dia, kamu temennya pasti belain dia!" lanjut Jimin.
Nala pun memilih untuk pergi dari tempatnya duduk sekarang.
Nala berpapasan dengan Dhev yang baru saja kembali dari toilet.
"Kamu kenapa?" tanya Dhev yang melihat istrinya cemberut.
"Tuh, temen kamu nyebelin!" jawab Nala dan Dhev pun melemparkan handuk kecil yang ada tangannya ke arah Jimin.
"Kenapa gue!" protes Jimin.
"Gue lebih percaya istri, emang lo!"
"Gue lebih percaya sama apa yang gue lihat!" jawab Jimin seraya mengembalikan handuk itu pada Dhev.
****
Di Dieng, Mamih Jimin yang merasa penat itu mengajak Siti berkeliling kota, tak sengaja, di sana ia melihat orang tua sewaan Ririn.
"Loh, itu kan besan?" tanyanya pada diri sendiri, terlihat besannya itu sedang berjualan bunga.
Mamih Jimin pun menghampiri.
"Halo Jeng, apa kabar?" sapa Mamih Jimin, tentu saja wanita yang disapanya itu sedikit bingung, merasa tidak kenal dengan wanita yang baru saja menyapa.
"Maaf, anda siapa ya?" tanyanya seraya memperhatikan wanita gemoy yang berpenampilan glamor tersebut.
"Aduh, Jeng. Masa lupa? Apa karena efek baru kembali dari LN? Kenapa enggak kabarin? Banyak hal yang ingin saya bahas sama Jeng mengenai anak kita!"
"Anak?" gumamnya, wanita penjual bunga itu merasa bingung, pasalnya, dirinya tidak memiliki anak, berjualan di tempat itu pun baru beberapa minggu lalu.
"Ririn, anak Jeng! Jim anak saya!" ucap Mamih Jimin, ia sudah mulai merasa kesal karena besannya melupakan.
Sudah setahun lebih tak bertemu dengan Ririn membuat wanita penjualan bunga itu melupakannya.
Apakah akan ketahuan kalau Ririn dan Jim telah menipu keluarga?
"Maaf, saya tidak memiliki anak!" jawabnya.
Tak ingin membuang waktu, Mamih Jimin pun pergi dari sana tanpa permisi. Membawa banyak pertanyaan untuk anak dan menantunya.
Mamih Jimin pun mengajak Siti yang senantiasa selalu berada di dekatnya itu untuk segera pulang ke Jakarta.
"Aku merasa ditipu!" batin Mamih Jimin.
Bersambung.
Like dan komen ya, Terimakasih.