
Hari ini, untuk pertama kali, Dhev melihat wajah anak Nindy. Memperhatikan wajah itu dengan mata yang berkaca.
Dan Fakhri hanya bisa menangis mencari mama dan papanya, suster Fakhri memeluk anak malang itu, air matanya tak berhenti, teringat dengan kebaikan Nindy dan Doni.
Sekarang, Dhev meminta bayi itu dari suster, untuk pertama kalinya ia menggendong keponakannya sendiri.
"Maafkan Pakde!" batin Dhev, ia mengusap air mata yang menetes.
Dan Fakhri yang tidak terbiasa dengan Dhev itu menolak untuk digendongnya.
Ia merengek meminta kembali pada suster.
Tetapi Dhev memeluk anak itu.
"Mulai sekarang, kamu tinggal sama Pakde, ya!" ucapnya seraya mengusap punggung Fakhri yang sedang menangis.
Selesai memindahkan Nindy ke rumah sakit Jakarta, Dhev membawa keponakannya itu pulang ke rumah.
Walau Dhev tidak lupa siapa ayah dari anak tersebut, tetapi ia berfikir untuk menyampingkan egonya, demi masa depan anak yang hampir menjadi yatim dan piatu itu.
Sesampainya di rumah, di sana sudah ada nenek dan kakek Fakhri yang ingin membawa Fakhri bersamanya.
Dhev pun duduk bersama orang tua Doni, mengajak mereka untuk membahas masa depan cucunya.
"Fakhri harus tinggal di sini, bersama kami, demi kebaikannya," ucap Dhev seraya menatap mata Bapak Doni.
"Dia adalah putra Doni, keturunan satu-satunya di keluarga kami, Nak Dhev. Kami berjanji akan merawat anak Doni dan Nak Nindy dengan baik!" kata Ibu Doni, terdengar sangat mengiba.
"Fakhri masih memiliki ibu, saya yakin Nindy akan bangun!" kata Dhev. Pria itu tak bisa dibantah.
"Saya permisi, saya harap ibu dan bapak mengerti, saat Nindy membuka mata yang pertama dicari adalah Fakhri!" ucapnya. Setelah itu Dhev bangun dari duduk, pergi meninggalkan Ibu dan Bapak Doni.
"Benar kata Doni, Bu. Apapun yang keluar dari mulutnya tidak dapat dibantah!" kata Bapak Doni seraya menatap istrinya yang masih terlihat sembab.
"Kalau kita tinggal di apartemen Doni, bagaimana dengan sawah dan usaha kita yang di sana, Pak? Sedangkan Ibu juga enggak mau jauh dari cucu, ibu juga pasti akan merindukan Doni!" tangis Ibu Doni, wanita yang mengenakan kebaya kuno itu mengusap air matanya menggunakan ujung selendang yang ada di lengannya.
"Ya sudah, untuk beberapa hari kita di sini dulu, kita pikirkan untuk kedepannya!" kata Bapak Doni.
Setelah itu, keduanya pamit dari kediaman Amira dan Nala mengantarkan mereka sampai ke depan.
"Ibu, Bapak. Mohon maafkan watak suami saya yang keras, tapi saya yakin apapun yang dipikirkannya adalah yang terbaik, Pak, Bu," kata Nala seraya membukakan pintu mobil untuk keduanya, Dadang yang mengantarkan mereka ke apartemen Doni.
Dari jendela kamarnya, Dhev memperhatikan mobil yang membawa Ibu dan Bapak Doni.
"Fakhri bukan cucu kalian, apa yang akan terjadi apabila kalian mengetahui kalau Fakhri bukanlah darah daging Doni?" tanya Dhev, matanya memperhatikan sampai mobil Dadang tak terlihat.
****
Di rumah sakit, Mika yang menjenguk Nindy itu membawakan makan malam untuk Amira.
"Tante, makan dulu, Mika bawakan makan malam untuk tante," kata Mika yang ikut duduk di sofa ruang rawat Nindy.
"Tante enggak lapar, nanti saja."
"Tan, jangan bohong. Kalau terjadi apa-apa sama tante, Nindy pasti makin sedih," bujuk Mika.
Amira pun menerima makanan dari Mika.
"Terimakasih," kata Amira dan Mika pun merasa senang karena makanannya diterima oleh Amira.
"Memangnya menantu tante enggak bawakan makanan?" tanya Mika seraya menatap Nindy yang berbaring di atas brangkar.
"Kamu ke sini mau jenguk Nindy atau ada niat lain?" tanya Amira seraya menatap Mika.
Kali ini, Amira seperti tidak dapat lagi bersikap baik pada Mika.
"Ma-maaf, tan," lirih Mika seraya tersenyum kikuk, menganggukkan kepala pada Amira yang menatapnya tajam.
Hari-hari telah berlalu, Nindy masih belum sadarkan diri dan baru kali ini Arnold mendapatkan kesempatan untuk menjenguk gadis yang dulu pernah ia permainkan.
Arnold berdiri di tepi brangkar, memasukkan dua tangannya ke kantong celana jeansnya.
"Nin, maafin gue, gue pernah berbuat salah sama lo! Gue cuma mau bilang, semoga lo kuat demi anak kita, siapa lagi yang menjaganya dengan baik selain lo? Cepat bangun, Nin!" kata Arnold. Pria itu ingin menyentuh Nindy tetapi ia tahan, ia sudah berjanji tidak akan mendekat pada keluarga Dhev, tetapi, hari ini ia mengingkari janji itu.
****
Di rumah Dhev, beruntung ada suster yang mengurus Fakhri dan sekarang, suster itu diminta menginap di rumah mewah Dhev, untuk menjaga anak itu, karena Fakhri hanya mau dengan susternya.
Dhev menyadari, mungkin Fakhri menjadi seperti itu karena dulu dirinya tidak pernah perduli dengannya.
"Sabar, nanti lama-lama pasti mengerti kalau kita juga keluarganya, menyentuh hati anak-anak harus penuh dengan kesabaran," kata Nala pada Dhev. Keduanya sedang memperhatikan Fai dan Fakhri yang sedang bermain di ruang tengah, ruangan yang menjelma menjadi taman kanak-kanak karena penuh dengan mainan Fai.
"Kasian Fakhri, harus mainan boneka dan masak-masakkan!" kata Dhev.
Nala senang mendengar itu, akhirnya Dhev mengakui Fakhri sebagai keponakan, tetapi Nala tetap bersedih karena kepedulian Dhev berawal dari kesedihan yang mendalam.
Nala pun memeluk lengan suaminya, menyenderkan kepalanya di lengan Dhev.
"Kamu tau, kalau waktu itu kita berangkat ke Bandung, mungkin saja, Fai yang tidak memiliki orang tua," kata Dhev, walau air matanya sudah tak menetes, tetapi hatinya masih merasa luka, dirinya merasa telah menukar nyawanya dengan Doni.
"Semua sudah takdir, kamu harus kuat, kita sama-sama jalani ini, kita rawat Fakhri dengan baik seperti merawat anak sendiri, sampai Nindy bangun."
Dhev pun mengecup kening istrinya.
"Iya, sayang!"
Nala mendongak menatap suaminya lalu tersenyum.
****
Di luar pagar, Mae yang baru saja pulang bekerja itu sengaja ingin melihat Fakhri dari jauh, tetapi, sekarang dirinya tidak dapat lagi masuk ke komplek mewah itu.
Dhev sudah beberapa kali melihat Mae yang mencurigakan, Dhev berpikir kalau Mae adalah penculik anak.
Dhev meminta pada rt setempat untuk menjaga keamanan lebih ketat di pagar utama, tidak diijinkan masuk bagi penghuni komplek.
Mae pun merasa kesal, memonyongkan bibirnya lalu pergi membawa Alif yang ada di gendongannya.
Sebagai manusia, jangan lah sesekali menyalahi takdir, apa yang menjadi milikmu maka terimalah! Itulah yah Mae tidak tau, Mae mengira kalau anaknya akan mendapatkan kasih sayang dari Doni dan Nindy, mengira memberikan yang terbaik untuk anaknya, padahal, sekarang, Anak Mae seperti hidup sebatang kara, tidak seperti harapannya.
Fakhri tidak mendapatkan kasih sayang yang seperti Mae berikan pada Alif, walau bagaimana pun, Fakhri tetap lah membutuhkan kasih sayang orang tuanya. Tetapi, yang dianggap ayahnya kini telah tiada dan ibunya masih tak mau membuka mata.
Sesampainya di rumah, Andra menunggu Mae seraya menonton televisi.
"Kenapa lama banget, sih?" gerutunya.
"Iya, tadi macet, terus angkotnya pada penuh," jawab Mae seraya melepaskan gendongan Fakhri. Mae menurunkan Fakhri ke lantai supaya bebas bergerak.
"Mana makan malam ku?" ketus suami Mae yang duduk lesehan di lantai dan Alif mulai merambat pada yang dipanggil Bapak.
"Ini, singkirkan anakmu!" kata Andra seraya meletakkan Alif supaya jauh dirinya.
"Tandanya, dia mau main sama bapaknya," jawab Mae dari dapur yang sedang mengambilkan nasi semetara lauknya ia membeli di warteg depan gang.
Bersambung.
like, komen dan difavoritkan, ya. Terimakasih sudah membaca^^.
Jangan lupa juga untuk dukung karya ini dengan cara Vote/giftnya, ya. Sampai jumpa di episode selanjutnya.