
Nala terkekeh mendapati putrinya sudah mengerti apa itu jatuh cinta dan yang Nala khawatirkan adalah ketika nanti Fai akan merasakan patah hati, karena Nala mengerti tidak semua orang akan seberuntung dirinya yang mendapatkan suami baik hati dan pengertian.
Nala menjadi teringat waktu seusia Fai, dirinya sudah menikah dengan om-om karena digrebek.
Mengingat itu Nala menjadi sendiri, ia pun tersenyum-senyum membuat Fai bertanya.
"Ibu, kenapa?"
Nala pun segera tersadar dan merasa sangat rindu dengan suaminya. Nala pun mengajak Fai untuk pulang.
"Ayo, kita pulang!" ajak Nala dan Fai tidak menjawab. Fai ingin diantarkan oleh Alif, apalagi sekarang sudah ketahuan kalau dirinya sedang dekat dengan Alif, Fai merasa kalau dirinya tidak perlu lagi menutupinya.
"Boleh ya, bu!" rengek Fai seraya menggenggam lengan Nala.
"Iya sudah, tapi hati-hati. Jangan ngebut bawa motornya! Dari sini langsung pulang!" perintah Nala, Alif dan Fai pun mengangguk mengerti.
Selesai dengan pekerjaannya, Alif segera membereskan tempat kerjanya bersama dengan karyawan lain, Alif membereskan dengan cepat karena tidak ingin membuat Fai menunggu terlalu lama.
Baru saja Alif dan Fai menaiki motor sudah datang Arnold yang baru saja tiba.
"Fai, kamu di sini?" tanya Arnold seraya turun dari mobilnya.
"Iya, paman," jawab Fai seraya mengangguk.
"Ada kemajuan ya, Fai!" ledek Arnold dan Fai pun mengedipkan mata, gadis tomboi itu juga mengucapkan terimakasih.
"Iya sudah, hati-hati! Antar Fai dengan selamat!" kata Arnold dan Alif pun mengangguk mengerti.
Setelah Arnold masuk ke salon mobil untuk mengecek pekerjaan semua karyawannya itu Alif pun bertanya, terimakasih untuk apa pada Fai.
"Gue dapat nomor lo dari paman!" Jawa Fai, ia tersenyum dan Alif melihat senyum itu dari kaca spionnya.
"Oh, udah gue duga sih!" jawab Alif yang kemudian melajukan motornya.
Di perjalanan, Fai mengajak Alif untuk mampir ke kafe lebih dulu, tetapi, Alif menolak karena ingat dengan pesan Nala yang menyuruhnya untuk langsung pulang.
Fai pun hanya bisa menurut.
"Nurut banget sih lo, Fai!" batin Alif, pria itu semakin menyukai gadis itu, tetapi, belum berani mengungkapkan perasaannya karena teringat dengan perbedaan kasta.
****
Di restoran, selesai dengan makan, Ken langsung mengantarkan Bila untuk pulang dan di parkiran Ken melihat Adila sedang berjalan bersama seorang pria.
Sekarang, Adila mengantarkan pria itu karena Adila yang membawa mobil dan Ken yang melihat itu merasa kalau Adila tidak pantas bersama pria itu.
"Ken, kamu liat apa?" tanya Bila seraya mengikuti arah mata Ken.
"Bukan apa-apa," jawab Ken seraya membukakan pintu untuk Bila.
Bila pun masuk, duduk manis di tempatnya dan begitu Ken duduk di bangkunya, Bila memanggil Ken yang dipanggil pun menoleh.
Cup! Bila mengecup bibir Ken sekilas dan tingkah Bila tentunya membuat Ken pusing, Ken merasa kalau Bila terus menggodanya keimanan dalam dirinya bisa goyah.
Sementara itu, seorang pria yang terus memperhatikan Bila itu semakin tergila-gila dengan Bila yang agresif. Melihat Bila mencium Ken saja membuat dirinya teringat dengan malam itu bersama Bila.
Pria itu terus berdoa dalam hati, meminta agar Bila akan secepatnya menghubunginya.
Di perjalanan, Bila masih berusaha untuk menggoda Ken dengan meletakkan tangannya di paha Ken.
Ken pun meraih tangan itu, menggenggam tangan Bila.
"Bila, kamu mau nikah sama aku?" tanya Ken seraya melirik Bila.
"Kamu melamar aku, Ken?" tanya Bila seraya menatap Ken dengan begitu dekatnya.
Ken mengangguk dan Bila pun melingkarkan lengannya di lengan Ken, menyenderkan kepala di sana.
"Aku mau, Ken!" jawab Bila.
"Siapa sih yang enggak mau nikah sama cowok tampan, tajir lagi!" batin Bila seraya tersenyum.
Sekarang, Ken dan Bila sudah sampai di depan pagar kos, Ken pun membukakan pintu mobil untuk calon istrinya itu.
"Jaga kesehatan, jangan lelah-lelah!" kata Ken dan Bila pun mengiyakan.
Malam ini, Bila merasa senang karena akhirnya kekasihnya melamarnya.
****
Ken pun ingin menyampaikan niat biaknya pada keluarganya dan sesampainya di rumah Ken melihat Fai yang baru saja turun dari motor butut Alif.
"Astaga, mereka kayanya makin dekat!" gumam Ken, Alif hanya menganggukkan kepala pada Ken dan Ken hanya menatapnya datar.
Sementara itu, di balkon ada Fakhri yang memperhatikan Fai dan Alif.
"Jadi sama dia lo deket, Fai!" ucap Fakhri dengan mata terus menatap ke bawah.
Setelah Fai memberikan helmnya pada Alif, Alif pun menyuruh Fai untuk segera masuk.
"Lo hati-hati!" kata Fai seraya membuka pintu pagar rumahnya yang tinggi.
Alif pun segera pergi dari sana.
Sebelum pulang, Alif menyempatkan dirinya untuk menemui teman-temannya.
Di sana, Alif menceritakan tentang Fai yang begitu baik dan teman-temannya itu mendukung kalau Alif berkencan dengan gadis itu.
"Gue enggak berani buat nembak dia! Dia begitu sempurna, sedangkan gue cuma anak tukang cuci." Alif terdengar pasrah atas perasaannya.
"Iya kali aja lewat cewek itu derajat lo bisa naik, nanti jangan lupa lo sama kita-kita!" sahut temannya.
"Udahlah, gue mau balik!" kata Alif dan temannya itu meminta untuk di traktir.
"Enggak ada, duit gue buat masa depan! Makanya lo pada kerja dong!" kata Alif seraya turun dari tempat duduk yang terbuat dari bambu itu, tempat duduk itu berada di pertigaan jalan yang mengarah ke arah rumahnya.
Alif pun segera pulang dan di rumah ia mendapatkan pertanyaan dari Mae.
"Malam banget, Lif? Lembur?"
"Enggak, bu. Alif tadi nganter temen dulu," jawab Alif seraya mencium punggung tangan ibunya.
"Siapa? Perempuan?" tanya Mae.
"Hehe, iya bu." Alif tersenyum.
"Siapa? Kenalin dong sama ibu!" kata Mae seraya kembali mengunci pintu rumahnya.
Belum sempat Alif menjawab pertanyaan Mae sudah terdengar suara Andra yang mengejek anaknya.
"Alah, baru dapat duit sedikit aja kecil-kecil udah pacaran!"
"Dari pada situ! Emang pernah berjuang buat anak dan istri?"
Brak! Andra merasa kalau dirinya sedang direndahkan oleh Alif. Andra pun bangun dari duduknya lalu membanting gelas kopi yang berada di meja.
"Baru digituin aja udah emosi! Apalagi gue yang lo ejek terus, lo pukulin, lo jatuhin mentalnya berkali-kali!" Setelah mengatakan itu Alif pun segera masuk ke kamar.
Mae menahan Andra yang akan menyusul ke kamar Alif.
"Sudah, Mas. Kalau ucapan Alif enggak benar, jangan emosi!"
"Belain terus anak lu!" gerutu Andra yang kemudian masuk ke kamarnya, menutup pintu dengan keras.
Mae hanya bisa mengelus dada.
****
Ken mencari keberadaan Dhev yang ternyata sedang berada di ruang kerjanya.
Tok... tok... tok.
"Masuk!"
Ken pun membuka pintu.
"Ada apa, Ken?"
Ken yang sekarang sudah duduk di depan Dhev itu segera menyampaikan niatnya.
"Begini, Ayah. Ken mau melamar Bila."
"Melamar? Sudah yakin dengan keputusan mu, Ken?" tanya Dhev seraya menatap anaknya.
"Yakin, kami saling mencintai, yah," jawab Ken.
"Kami udah enggak bisa nunggu, yah, udah sama-sama dewasa, apalagi yang dicari," ucap Ken.
"Kamu enggak melakukan hal aneh sama dia, kan?" tanya Dhev yang merasa kalau Ken terburu-buru dalam mengambil keputusan.
"Enggak, yah. Justru sebelum terjadi apa-apa," jawab Ken dengan jujur.
"Astaga!" Dhev kemudian terkekeh saat mendengar jawab putranya.
"Jadi kamu udah ngebet kawin, Ken?"
"Ayah!" Ken merasa malu saat Dhev seolah meledeknya.
Bersambung.
Like dan komen ya all 🤗.
Terimakasih untuk dukungan berupa vote dan giftnya 🙏