DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Angkuhnya Dhev


Malam ini, Nindy dan Doni menjadi semakin dekat bahkan Doni sudah berani menggandeng tangan istrinya.


Keduanya sedang membeli martabak terang bulan.


Nindy dan Doni menjadi perhatian para pembeli yang lain, mereka mengira kalau keduanya bukan sepasang suami dan istri, banyak yang mengira kalau keduanya masih pacaran dan belum merasakan pahit manisnya hidup berumah tangga.


Tetapi, memang betul yang orang kira, Nindy dan Doni baru saja akan memulai kisahnya.


Setelah mendapatkan martabak yang diinginkan, sekarang, Doni dan Nindy sudah duduk kembali di atas motor matic Doni, Doni kembali menarik tangan Nindy.


"Pegangan!" kata Doni dan Nindy pun hanya tersenyum, ia tersipu malu menyembunyikan wajahnya di punggung Doni.


Sekarang, keduanya sudah sampai di apartemen, terlihat kalau Fakhri sudah tertidur di kamar.


"Ini, Buk, Pak. Silahkan," kata Nindy seraya menyajikan martabak tersebut.


Semua orang bercengkrama di ruang tengah. Setelah itu, Nindy mendengar suara rengekan Fakhri dan harus menyusulnya ke kamar.


"Sudah larut, kalian istirahatlah, Bu... Pak," kata Doni.


"Iya, mari... Buk!" ajak bapak dan ibu pun bangun mengikuti bapak ke kamar.


Sekarang, Doni menyusul Nindy ke kamarnya, terlihat Nindy berbaring dengan memegangi botol susu Fakhri.


Nindy memberi isyarat supaya Doni tidak berisik, Nindy tidak mau anaknya terganggu lalu kembali terbangun.


Doni yang terbiasa tidur di sofa kamar itu melihat kalau anak dan istrinya sudah terlelap.


Doni turun dari sofa, memperhatikan wajah Nindy yang cantik natural tanpa make up.


"Cium, Don. Dia istri mu!" kata hati Doni yang sekarang berjongkok di tepi ranjang, masih memperhatikan wajah yang selalu ia rindukan bila tak melihatnya.


Doni pun memberanikan diri, ia memajukan wajahnya lalu mengecup kening Nindy.


Nindy yang merasakan itu pun membuka mata bulat sempurna. Melihat itu Doni mengira kalau Nindy akan marah. Doni jatuh terduduk.


"Ma-maaf!" kata Doni dengan terbata, matanya memperhatikan Nindy yang sekarang sudah duduk.


"Astaga, apa yang ku lakukan, dia adalah adik dari bos ku!" batin Doni yang merasa tidak enak hati.


"Kenapa minta maaf, Don? Aku istrimu, bukan?" tanya Nindy seraya mengulurkan tangan, membantu Doni untuk bangun.


"Iya, kamu istriku, apa aku boleh... itu... em... anu," kata Doni yang malu-malu untuk meminta haknya.


"Anu apa, Don? Aku enggak ngerti maksud kamu!" kata Nindy seraya memperhatikan wajah Doni yang terlihat tegang.


"Enggak jadi, aku bisa bikin sendiri!" Doni mencari alasan.


"Bikin apa? Malam-malam begini?" tanya Nindy.


"Itu, aku mau kopi!" kata Doni seraya berjalan ke arah pintu.


Tetapi, langkahnya terhenti saat Doni merasakan pelukan Nindy dari belakang.


"Don, kalau kamu mau hak mu sebagai suami, aku ikhlas, apalah arti pernikahan ini, Don. Kita saling perhatian dan menyayangi satu sama lain, aku sudah lama jatuh hati semenjak kamu menjadi teman baikku!" lirih Nindy.


Ia memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya, tidak ingin menunggu lama untuk menundanya lagi.


"Maafkan aku, bukan aku lancang, tapi aku udah enggak tahan nunggu kamu ngungkapin duluan!" kata Nindy dan Doni pun melepaskan tangan Nindy yang melingkar di pinggangnya.


Doni berbalik badan, ia menatap Nindy dengan tatapan sayu, tanpa mengatakan apapun, Doni mengecup bibir tipis istrinya.


Kemudian, keduanya melepaskan segala rasa dengan diam-diam, supaya tidak mengganggu Fakhri yang masih tertidur pulas.


Malam ini, hubungan Doni dan Nindy sudah lebih dari teman, keduanya menjadi sepasang suami dan istri sungguhan.


Keesokan paginya, Nindy dan Doni bangun dengan wajah yang ceria, lebih ceria dari biasanya.


****


Hari berlalu begitu cepat, Doni bekerja semakin giat untuk menafkahi anak dan istrinya.


Dan Dhev ikut senang memperhatikan kehidupan Doni yang ia percayakan untuk menjaga adiknya.


Dhev berpikir, kalau dirinya meminta tanggung jawab Arnold tidak mungkin Nindy akan bahagia seperti sekarang ini.


Teringat dengan Arnold membuat Dhev ingin melihat keadaannya, apalagi kalau bukan untuk mengejek dan menertawakan.


Setelah jam kerja selesai, Dhev kembali menemui Arnold.


Kali ini, Arnold tidak terpancing oleh ejekan Dhev.


"Lo tau, kenapa gue masih ke sini?" tanya Dhev yang melipat tangannya di dadanya, menatap Arnold yang menatapnya datar.


"Lo masih nunggu gue sujud di kaki lo! Lo mau gue mengakui semua kesalahan gue! Apa lagi, itu lah seorang Dhev. Enggak pernah berubah sebelum orang itu mengakui kesalahannya," jawab Arnold. Dan Sebenarnya, Arnold sangat ingin memukul kepala Dhev yang dianggapnya sombong.


"Ternyata lo masih kenal baik siapa gue!" kata Dhev.


"Pergilah! Gue enggak akan pernah sujud di kaki lo!" kata Arnold seraya bangun dari duduk, berniat untuk meninggalkan Dhev, tidak ingin meladeninya.


"Lo yakin masih mau ada di sini? Apa lo enggak ingat sama keadaan nyokap lo yang lumpuh?" tanya Dhev dan sebenarnya Dhev memang sengaja, selain ingin mendapatkan sujud dari Arnold, ia merasa tidak tega pada wanita tua itu yang hidup sebatang kara.


Mendengar itu, Arnold menghentikan langkah kakinya, sejenak memikirkan ibunya, tetapi, dalam hati juga tidak sudi untuk bersujud.


Arnold berlalu begitu saja.


"Enggak mungkin gratis, pasti akan ada perjanjian setelah ini!" batin Arnold, pria itu benar-benar meninggalkan Dhev yang masih duduk, menatap kepergian Arnold.


"Udah susah aja masih enggak tau diri!" gumam Dhev seraya bangun dari duduk.


Di dalam sel, Arnold terdiam dan temannya yang agamis itu bertanya ada apa dengannya.


"Begini, gue punya ibu tapi udah duduk di kursi roda, sekarang, gue enggak punya apa-apa yang gue denger sekarang ibu hidup sendiri!"


"Ikut sedih, apa enggak ada teman abang yang bisa dimintai tolong? Kasian beliau, aku enggak bayangin, Bang. Gimana beliau susahnya ke kamar mandi, buat balik ke kasur kalau mau tidur, terus cuciannya juga gimana?"


Mendengar itu, hati Arnold yang mulai melunak itu sedikit berpikir tentang ibunya.


"Gue bisa keluar dari sini, mantan temen gue orang kaya, dia juga yang jeblosin gue ke penjara, emang semua salah gue, tapi gue merasa enggak sudi buat sujud di kakinya!"


"Astaghfirullah, kalau saya demi bebas dari penjara pasti mau menurunkan gengsi, memang salah, karena tidak seharusnya kita manusia bersujud di kaki manusia! Hmm... jadi serba salah!" kata pemuda itu.


Mendengar itu, Arnold merasa jengkel karena pembicaraannya tidak menemukan jalan keluar.


"Jadi, gue harus gimana?" bentak Arnold.


"Sabar, Bang. Jangan emosi!" kata pemuda itu yang duduk di samping Arnold.


Lalu, tahanan lainnya menyarankan pada Arnold untuk melakukan apa yang temannya itu minta asalkan benar Arnold bisa keluar.


Arnold seperti menimbang saran dari teman-temannya.


****


Di rumah, Dhev pulang terlambat dan Nala mempertanyakan itu.


"Kamu telat, Mas?" tanya Nala yang menyambut di pintu utama.


"Iya, kenapa, kamu udah kangen?" tanya Dhev seraya memberikan tas kerjanya lalu mencium kening Nala.


"Ayo kita siap-siap. Setelah ini kita pergi ke undangan," kata Dhev.


Nala pun melingkarkan lengannya di pinggang Dhev, keduanya berjalan sangat mesra.


Sesampainya di kamar, Dhev mendapatkan panggilan dari kantor polisi.


"Baiklah," jawab Dhev setelah mematikan telepon tersebut.


Dhev tersenyum dan tertawa terbahak-bahak saat mengetahui kalau Arnold ingin bertemu dengannya.


Melihat tawa suaminya yang menggelegar membuat Nala merasa merinding.


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan like, komen dan difavoritkan, ya. Terimakasih sudah membaca^^