DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Canggung


Dalam perjalanannya, Ririn mengirim pesan pada bandot tua yang dikencaninya.


Ririn mengatakan putus karena malu harus dilabrak oleh istri dan anaknya.


Sedangkan uang yang didapat tidak sepadan dengan rasa malu yang didapat.


"Nala, kenapa gue enggak bisa sekuat lo!" batin Ririn. Gadis itu tau betul bagaimana dulu susahnya Nala dan berpikir kalau kebahagiaan Nala sekarang adalah buah dari kesabarannya.


Sedangkan apa yang didapatkan oleh dirinya sendiri adalah karma. Hukuman karena tidak menjadi manusia yang benar.


Ririn yang baru sampai itu turun dari taksi, berjalan pulang dengan lemas, berusaha menyembunyikan susahnya di hadapan orang tuanya.


Sesampainya di rumah, ternyata barang-barang Ririn dan keluarganya sudah berada di luar.


Ririn bertanya apa yang terjadi tetapi bukan jawaban yang didapatkan melainkan tamparan dari Adelia yang merasa malu.


Plak!


Ririn hanya mengusap pipinya yang terasa panas, hatinya sedang sakit dan ditambah lagi mendapatkan tamparan, berpikir apakah di dunia ini tidak ada yang mengerti dirinya.


Rasanya ingin mati saja, bahkan tempat untuk bersandar pun Ririn tak punya.


"Ada apa?" tanya Ririn yang sudah menangis.


"Mamah itu nyuruhnya, kamu cari pria singgel, kaya, bukan jadi pelakor! Bikin malu aja!" bentak Adelia dan sekarang keluarga kecil itu sudah menjadi tontonan para tetangga yang mengusir. Mereka takut kalau suatu saat Ririn akan menggoda suami tetangga.


"Sudah, ayo kita pergi, malu dilihat orang!" kata Papah Ririn seraya mengangkut tasnya dan menggandeng tangan Adelia.


Adelia dan suaminya itu memilih untuk mengabaikan anaknya yang sudah susah payah berjuang untuk keluarganya walau dengan cara yang salah.


"Seandainya kalian orang tua yang benar, enggak akan mungkin membiarkan anaknya yang tersesat!" batin Ririn. Gadis itu memilih untuk pergi dari hidup orang tuanya.


Pergi ke arah yang berlawanan. Adelia menyadari itu tetapi tak menghiraukannya.


****


Selesai dengan resepsi, semua orang sekarang sudah kembali ke rumah masing-masing, kecuali pengantin baru tersebut.


Sekarang, Nala sedang menemani Amira di kamar. Amira menghawatirkan pernikahan Nindy yang tanpa di dasari rasa cinta sama sekali. Amira menangis mengungkapkan itu.


Nala pun menguatkan dan meyakinkan Amira untuk percaya pada Doni seperti Dhev percaya padanya.


"Nala yakin, keputusan Mas Dhev sudah tepat, Pak Doni adalah orang yang tepat untuk Nindy, Ibu jangan khawatir, semua pasti akan baik-baik saja, kita doakan, semoga dengan berjalannya waktu keduanya akan saling mencintai karena terbiasa bersama," kata Nala dan Amira pun memeluk menantunya itu.


Dan Dhev yang menguping pembicaraan mereka semakin merasa benar dengan keputusannya. Walau bagaimana pun, Dhev tidak akan tega kalau Nindy harus menderita bersama orang yang tidak tepat dan Dhev yakin kalau Doni adalah orang yang tepat.


Dhev kembali ke kamar, sebelum itu, pria yang sudah mengenakan baju santainya menyempatkan untuk melihat Ken yang sudah tertidur di kamarnya.


"Ibumu masih kecil tapi dewasa, Ken!" gumam Dhev, setelah itu menutup kembali pintu kamar Ken.


Dhev pun melanjutkan langkah kaki, masuk ke kamar, berbaring di ranjang menunggu istrinya untuk datang.


Seraya menunggu, Dhev sempat memikirkan ucapan Jimin yang sedari tadi mengganggu pikirannya.


"Entah lah, Jim. Mungkin karena kita kenal udah lama, dari SMP kita bersama, gue bisa menerima semua buruk, kurang dan lebihnya lo!" batin Dhev, pria itu memejamkan mata sampai tak menyadari kalau Nala sudah berada di sisinya.


Nala yang kelelahan itu langsung tertidur ketika mencium bantalnya.


****


Di hotel, Doni dan Nindy saling diam, merasa sama-sama canggung dan menganggap pernikahan ini semata untuk menutup aib.


Nindy yang baru saja selesai mengganti pakaiannya itu masih berdiri di depan pintu kamar mandi, merasa bingung bahkan untuk sekedar menyapa, Doni yang sedang berada di ranjang dengan memainkan ponsel itu menoleh kearah gadis yang sekarang sudah menjadi istrinya. Mengerti kalau dirinya harus mengalah.


"Biar saya yang tidur di sofa." Doni bangun seraya membawa bantal dan pindah ke sofa panjang.


Nindy hanya diam saja, tidak mau berdebat, membiarkan Doni pada pilihannya.


****


"Nyaman sih, tapi mahal, gue pengen jadi orang bener, jangan ngikutin gaya, semoga aku bisa kuat! Semoga setelah ini dapat kerjaan yang bisa menghidupi diri sendiri!" batin Ririn, gadis itu merebahkan badan, menatap langit-langit kamarnya.


Merasa lelah, Ririn pun memutuskan untuk tidur, melupakan sejenak masalah hidupnya.


****


Keesokan harinya, Dhev tidak membiarkan Nala beranjak dari ranjang, dipeluknya dengan lembut.


"Sayang, aku harus siapkan sarapan," kata Nala seraya mendongakkan kepala, memperhatikan suaminya yang memejamkan mata.


"Untuk hari ini, biarkan seperti ini agak lama! Libur dulu masaknya!"


"Baiklah, tapi lama-lama aku enggak bisa nafas," kata Nala.


"Ada aku, bisa ku kasih nafas buatan!" jawab Dhev dan Nala mencubit pinggang suaminya.


Dhev hanya tersenyum dan menyingkirkan tangan Nala dari pinggangnya, membawanya ke pangkal paha.


Tetapi, pagi ini, Dhev hanya ingin bermanja-manja, bukan untuk bermain kuda-kudaan bersama dengan istrinya.


"Sayang," panggil Dhev. Masih memejamkan mata.


"Iya," lirih Nala.


"Bulan madu ke Bali, mau? Setelah resepsi, kita bulan madu yang lain kita suruh pulang, bikin dedek buat Ken."


"Bali, aku mau. Aku belum pernah ke Bali!" jawab Nala dengan antusias.


"Iya udah, nanti Doni yang akan menyiapkan semua! Jangan lupa undang semua teman kamu!" kata Dhev.


Mendengar itu, Nala mengeratkan pelukannya.


"Uhuk-uhuk! Aku enggak bisa nafas!" kata Dhev seraya menirukan gaya Nala saat bicara tadi.


Cup! Nala mengecup bibir suaminya, lalu Nala melepaskan pelukan itu, bangun untuk mandi


Dhev merasa senang saat melihat istrinya bahagia.


Terlihat Nala sangat bersemangat walau belum tau kapan acara itu di gelar.


****


Pagi ini, Ririn berangkat bekerja dan sesampainya di sana, Ririn dipanggil ke ruangan manajer, Ririn dipecat karena sering bolos bekerja.


"Saya janji, setelah ini akan bekerja dengan giat, tolong beri saya kesempatan satu kali lagi!" pinta Ririn dengan mengiba.


"Maaf, di luar sana sudah banyak yang mengantri untuk bekerja dengan serius!" jawab manajer yang berjenis kelamin perempuan tersebut.


Ririn pun dipersilahkan untuk keluar dari ruangan.


Dengan lemas Ririn keluar dan mulai membereskan barangnya di loker.


****


Sementara itu, di apartemen, Jimin diminta untuk segera menikah kalau memang serius dengan kekasihnya.


Jimin yang sedang bersantai di ruang tengah itu hanya diam.


"Gimana mau nikah, orang pacaran boongan, kok!" batin Jimin.


Apakah Jimin akan melakukan nikah palsu agar dirinya tetap tidak terikat dengan tali pernikahan?


Bersambung.


Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya. Terimakasih sudah membaca dan mendukung karya author 🤗