
Ririn mendapatkan pesan dari mertuanya yang mengatakan kalau ditunggu di salah satu restoran mewah yang berada di Jakarta.
Dalam hati, Ririn bertanya, mengapa mertuanya itu menyiapkan makan malam, sempat berpikir kalau mertuanya itu merencanakan sesuatu.
Dan rupanya, bukan hanya Ririn, tetapi juga dengan Jimin.
Mamih Jimin memberitahu kalau Jimin juga akan datang.
Membuat Ririn berpikir mungkin mertuanya akan menyatukannya kembali dengan suaminya.
Ririn yang sedang menyetrika baju itu melihat ke arah jam di dinding.
Hari hampir sore dan Ririn pun menyudahi pekerjaannya. Ia segera mandi dan berdandan dengan cantik untuk pergi makan malam bersama.
****
Di rumah Papah Ririn, lelaki itu juga sedang bersiap untuk ke acara reality show yang mengundangnya bersama dengan Adelia.
"Pah. Masa sih jaman sekarang masih ada acara reality show," tanya Mamah Ririn seraya mencari bagus baju paling bagus yang dimilikinya.
"Katanya buat acara konten youtubenya, enggak papalah! Yang penting kita dapat uang tambahan!" kata Papah Ririn.
Pria botak itu sedang memakai jas miliknya, jas itu ia beli saat dirinya masih menjadi mandor.
"Jasnya sekarang kegedean, Mah!" ucapnya.
"Bukan jasnya kegedean! Papah yang makin kurus!" jawab Adelia. Sekarang, Adelia sudah rapih dengan dress panjang di atas lutut dengan lengan sampai siku, Adelia kembali terlihat cantik setelah mengenakan pakaian lamanya.
Setelah siap, keduanya berangkat, mereka masuk ke mobil yang sudah menjemputnya. Dan di dalam hati, Adelia masih merasa ragu.
Wanita itu takut kalau ternyata mereka di culik. Lalu diambil organ dalamnya untuk dijual.
"Pah, mamah takut! Lebih baik kita batalkan saja!" ucap Adelia yang terdengar oleh sopir yang diperintah oleh Mamih Jimin.
"Kenapa mesti takut, Bu. Kan cuma makan malam aja acaranya!"
"Beneran, ini cuma makan malam?" tanya Adelia yang duduk di bangku tengah.
"Iya, ibu enggak usah khawatir, kami bukan orang jahat, kok!"
"Mana ada orang jahat ngaku!" batin Papah Ririn dan begitu juga dengan Adelia.
Tidak lama kemudian, keduanya sudah sampai di restoran yang dituju.
Sopir pun membawa mereka ke atap gedung karena makan malam itu ada di sana.
"Kenapa di atas gedung?" Mamah Ririn bertanya-tanya, dan terlihat ada lima kursi yang tersedia dan baru mereka yang hadir.
Tidak lama kemudian, Ririn pun sampai, ia baru saja turun dari mobilnya, melihat jam di tangannya.
"Enggak telat sih, semoga mamih enggak nunggu lama," ucapnya.
Ririn pun berjalan dengan santai, menuju ketempat yang sudah disiapkan oleh Mamih Jimin.
****
Sementara itu, di kantor, Jimin hanya diberi tahu kalau mamihnya sedang menunggu di restoran yang alamatnya sudah ia kirim.
"Ini kesempatan gue buat bilang sama mamih, berenti urusin rumah tangga gue!" batin Jimin. Pria itu pun datang paling belakangan.
Sesampainya di resto itu, Jimin melihat ada mobil Ririn yang terparkir di area parkir.
"Ada Ririn juga? Apa cuma kebetulan? Atau mamih bikin kejutan?" tanyanya pada diri sendiri.
Jimin pun melanjutkan langkah kakinya, ia menuju ke atas karena mamihnya mengatakan kalau dirinya sudah menunggu.
Sesampainya di atas gedung, Jimin hanya mematung, wajahnya menatap datar tanpa ekspresi.
Jimin sudah tau betul apa yang mamihnya itu rencanakan.
"Kenapa berdiri di sana, sayang? Kemarilah! Kita makan bersama layaknya keluarga besar!" ucap mamihnya dan Jimin tau kalau mamihnya itu sebenarnya sedang kecewa.
Mau tak mau, Jimin akhirnya ikut bergabung. "Minumlah! Kamu pasti lelah!" perintah mamihnya seraya memberikan minuman berwarna untuk anaknya.
Tak menanggapi, Jimin ingin langsung ke intinya.
"Apa yang mamih mau sekarang?" Jimin bertanya seraya menatap tajam mamihnya yang terlihat mengejek.
"Bercerai dari gadis ini dan menikahlah dengan Siti!"
Mendengar itu membuat Adelia tak terima, seolah anaknya dipermainkan di depan matanya.
Papah Ririn menahan tangan Adelia yang berada di bawah meja, matanya berkedip, meminta Adelia untuk diam, sementara Ririn, ia sudah meneteskan air mata, merasa semua akan berakhir.
Ririn merasa kalau pada akhirnya Jimin akan memilih orang tuanya, karena memang kebanyakan anak akan memilih orang tuanya, begitulah pikir Ririn.
Ririn pun bangun, ia melangkahkan kakinya, tetapi Jimin menahan tangan Ririn yang berjalan melewatinya.
"Memang, awalnya kami menikah hanya untuk status, karena Jim enggak tahan didesak mamih untuk menikah, Jim enggak mau terikat karena itu hanya membuat Jim repot! Jim tidak ingin mencintai dan merasakan sakitnya lika-liku berumah tangga! Tapi... semua terasa dan terjadi membuat Jim berubah pikiran, Jim akan mempertahankan pernikahan ini!" kata Jimin seraya menatap Ririn yang menundukkan kepala.
Mendengar itu Ririn pun menatap Jimin, tak mengira kalau Jimin akan mempertahankan pernikahannya.
Papah dan Mamah Ririn pun merasa senang dan bahkan sekarang tanpa ada yang perlu ditutupi lagi.
"Dasar bodoh! Kamu pikir mamih enggak tau siapa gadis ini? Dia mantan dari sahabat kamu yang bajingan itu! Mamih yakin dia udah enggak virgin pas kalian menikah! Jangan-jangan ini karma untuk Ririn, kenapa dia enggak cepet punya anak?"
"Cukup! Enggak semua apa yang mamih mau harus dituruti! Lagian ini rumah tangga Jim! Punya anak atau tidak, Jim akan menerima!" ucap Jim dengan nada tinggi, pria itu bangun dari duduknya lalu membawa Ririn untuk pergi bersamanya.
Jimin pun menggenggam erat tangan istrinya.
Melihat itu dan rencananya gagal membuat Mamih Jimin geram, ia pergi meninggalkan orang tua Ririn tanpa sepatah kata pun.
"Pah! Ayo kita pergi!" ajak Adelia pada pria botak yang ada di sampingnya.
"Kenapa pergi, makanan ini belum tersentuh!" jawab suaminya yang terlihat bahagia, ia tersenyum pada Adelia, mengajaknya untuk makan malam berdua saja dengan hidangan yang sudah tersedia.
"Kita harus merayakan kemenangan anak kita!" ucap pria itu yang mengambil satu gelas minuman berwarna merah.
"Kalau semua ini belum dibayar, mampus kita, mau bayar pakai apa?" tanya Adelia.
"Tunggu di sini!" perintah suaminya dan Adelia pun menurut. Suaminya itu menanyakan pada pelayan, apakah semua sudah dibayar dan ternyata semua sudah dibayar dimuka oleh Mamih Jimin.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba!" kata Papah Ririn. Sekarang, keduanya menikmati makan malam romantis yang dibuatkan oleh besannya.
****
Merasa tak terima telah kalah oleh menantunya, Mamih Jim tak akan tinggal diam, dia yang sudah terlanjur membenci Ririn itu akan berbuat apa saja untuk memisahkan keduanya.
****
Di apartemen, Jimin dan Ririn baru saja sampai, Jimin pulang dengan menggunakan motornya, sementara mobilnya tertinggal di area parkir dan meminta salah satu karyawannya itu untuk mengambil dan membawakannya pulang.
"Gue harap dengan semua ini lo jadi tau, kalau gue cinta sama lo! Gue pilih pertahanin rumah tangga ini! Jangan ada dusta diantara kita, gue terima apapun yang akan kita lewati bersama kedepannya!" ucap Jimin dan Ririn pun menganggukkan kepala.
Jimin segera menutup pintu apartemennya, kemudian pria itu mengecup bibir mungil istrinya. Membopongnya, membawa ke sofa ruang tengah, keduanya melakukan hubungan di sana.
Sesekali Ririn berada di atas dan Jimin begitu menikmati permainan istrinya.
Tangan Jimin pun tak tinggal diam, selesai dengan ronde pertama, Jimin membawa Ririn ke kamar mandi, mereka kembali melakukannya di sana dan setelah babak kedua selesai, keduanya mandi dengan berendam bersama. Ririn menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Kalau kita enggak punya anak? Sampai tua nanti, apa lo bakal tetap setia sama gue?" tanya Ririn, gadis itu masih memikirkan nasib pernikahannya walau Jimin sudah mengatakan dengan jelas kalau akan menerima semua takdirnya.
Bersambung.
Jangan lupa like dan komen ya bestie. Difavoritkan juga. Terimakasih sudah membaca sampai sejauh ini 🤗.
Sampai jumpa di episode selanjutnya.