DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Ayah Yang Sangat Manja


Setibanya di rumah, Dhev yang terlihat sangat cuek itu ternyata masih perduli dengan Nindy.


Ia menanyakan keadaan adiknya pada istrinya.


"Bagaimana keadaan dia?" tanya Dhev, pria itu sedang menatap laptopnya, di atas ranjang.


Sementara Nala sedang memakai skincarenya sebelum tidur.


"Baik, walaupun terlihat masih canggung, jadi inget waktu awal kita menikah, aku canggung banget bahkan enggak tau juga, masih enggak percaya kalau jadi istri kamu, Mas," kata Nala seraya menatap Dhev dari cermin riasnya.


"Haha, sudah lah, itu pengalaman tak terlupakan, malu-maluin, nikah gara-gara digerebek, sama ibu sendiri lagi!" Dhev terkekeh saat mengingat semuanya.


"Loh, kok Ibu?" tanya Nala seraya memutar balikkan badannya, menatap Dhev yang juga menatapnya.


"Iya, waktu kita keluar malam itu, ternyata Mamah ngikutin kita, gerebek itu juga rencana Mamah, enggak nyangka juga sih Mamah bisa seiseng itu, tapi aku suka, kita jadi nikah," kata Dhev seraya bangun dan berdiri di depan istrinya, Nala memeluk Dhev yang berdiri didepannya.


Dhev mengusap rambut hitam istri kecilnya.


"Sudah tidur! Sudah malam!" kata Dhev seraya melepaskan pelukan Nala, pria tampan itu membopong istrinya dan membawanya ke ranjang.


"Sayang," lirih Nala yang masih melingkarkan lengannya di leher Dhev.


"Hmm," jawab Dhev, keduanya saling menatap penuh cinta, kasih dan sayang.


"Aku...," lirih Nala sengaja menggantungkan ujung kalimatnya.


"Aku apa? Bicara yang jelas!"


"Enggak jadi," jawab Nala seraya melepaskan pelukan itu, bersedekap dada mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa? Uang belanja kurang?" tanya Dhev yang kembali menarik tangan Nala supaya kembali ke lehernya.


Nala menggelengkan kepala.


"Uang yang kamu kasih masih banyak, aku bingung caranya menghabiskan uang itu dan takutnya suatu saat kita butuh uang mendadak, jadi harus bijak menggunakan uang, kan?" tanya Nala.


"Istri siapa, sih. Pinter banget!" kata Dhev seraya mengacak pucuk rambut Nala dan Nala tersenyum.


"Terus tadi mau ngomong apa?" tanya Dhev yang masih penasaran.


"Itu, aku mau... itu!" kata Nala seraya melepaskan tangan dan secepat kilat mengecup bibir Dhev yang sedari tadi menggodanya, berada di depan mata.


Setelah mengecup, Nala yang malu-malu itu membalikkan badan. Menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya.


"Astaga, istriku genit sekali!" kata Dhev seraya segera melepaskan kaos oblongnya dengan semangat.


Malam ini pertempuran panas itu terjadi dan Dhev merasa senang karena istrinya berani berterus terang bahkan dalam hal bercinta.


****


Di apartemen, Doni sedang menonton televisi, merasa ingin bersantai apalagi otak dan hatinya membutuhkan hiburan, selain penat bekerja sebagai asisten pribadi Dhev, Doni juga sekarang sudah menyandang status baru sebagai suami dari gadis yang sama sekali tak dicintainya.


Tetapi, apa bedanya dengan gadis desa itu, bahkan Doni juga tak mencintainya, hanya menurut saja pada ibu dan bapak.


Tetapi yang membuat Doni sedikit sesak adalah karena menjadi tumbal untuk menutupi aib keluarga bosnya.


Doni menarik nafas dalam, mencoba mengikhlaskan semua.


Pria yang memakai kacamatanya itu memasukkan pilus ke dalam mulutnya, matanya menatap lurus pada layar televisi, tak sadar kalau sedang di perhatikan oleh ibu dan bapaknya.


"Pak, kok anak kita cuek aja, istrinya lagi hamil bukannya di temenin malah nonton TV sampai larut!" kata ibu seraya menatap bapak yang sedang menyeruput teh hangatnya.


"Biarkan lah, Bu. Mungkin butuh waktu untuk sendiri," jawab bapak.


"Aneh aja loh, Pak. Kaya enggak ada raut bahagia gitu! Kan dia yang berbuat sudah seharusnya dia bertanggung jawab dan jangan cuek seperti itu!" protes ibu seraya bangun dari duduknya, ibu meninggalkan bapak yang masih duduk di kursi meja makan.


Ibu Doni ikut duduk di samping putranya.


"Istri kamu udah tidur, le?" tanyanya berbasa-basi.


"Sudah... mungkin, Bu," jawab Doni masih dengan fokus menonton dan terus memasukkan pilus ke dalam mulutnya.


Pluk! Ibu memukul lengan Doni sehingga membuat pilus yang ada di toples sedikit terguncang.


"Ibu, tidur sana, udah malam, besok katanya mau pulang, nanti kecapean di jalan, kasian ibu udah tua," kata Doni seraya menatap ibunya.


Ibu Doni pun bangun dari duduk.


Sementara Nindy, gadis itu sedikit mengintip dan menguping.


"Kasian Doni, dia harus berpura-pura, tapi... untung besok ibu dan Bapak udah balik kampung, kalau masih di sini kan kasian Doni!" batin Nindy.


Setelah itu Nindy pun menjatuhkan dirinya di ranjang.


****


Keesokan harinya, seperti biasa, setelah selesai memasak dan mengurus bekal, Nala memakaikan dasi suaminya yang menyusul ke dapur. Belum selesai, Ken sudah mengganggunya.


"Ibu, kenapa pakaikan dasi Ayah setiap hari? Kan Ayah udah besar, Ken aja di suruh mandiri, semua harus bisa sendiri," protesnya, Ken menarik kursi meja makan dan menatap sandwich buatan Nala.


"Ken kan anak pintar, enggak manja, kalau Ayah kamu efek kelamaan jomblo, Ken," jawab Nala dan Dhev mencubit pinggang ramping istrinya.


"Aduh!" pekik Nala seraya menarik dasi Dhev sehingga membuat suaminya sedikit tercekik.


"Maaf, sayang!" kata Nala seraya membenarkan dasi tersebut.


Melihat orang tuanya yang sedang dimabuk cinta, Ken hanya tersenyum, merasa senang karena rumahnya kini penuh dengan tawa dan kehangatan.


Ken kembali fokus ke piringnya.


"Bu, Ken mau nasi goreng," rengeknya seraya menatap sandwich tersebut.


"Nasi gorengnya ada di sini, sayang!" kata Nala seraya menunjukkan bekal Ken. Kemudian, Nala segera duduk di kursinya.


Melihat itu Kenzo pun kembali semangat.


Sekarang, Amira juga sudah ikut bergabung. "Terimakasih, sayang!" kata Amira seraya menatap Nala yang duduk di depannya.


"Sudah seharusnya, Bu," lirih Nala.


Singkat cerita...


Sekarang, semua setelah selesai dengan sarapan, aktivitas pun dimulai.


Nala mengantarkan Dhev sampai ke depan pintu, kali ini bukan hanya Nala yang dicium, tetapi Ken juga, Dhev mencium pucuk kepala Ken.


Dan di saat itu, Dhev merasa kalau kasih sayang yang dulu pernah hilang kini ia rasakan kembali.


****


Di apartemen Doni, pria itu makan masakan Nindy yang baru pertama kali belajar memasak.


Nindy membuat nasi goreng spesial tetapi rasanya aneh. Semua orang yang sudah merasakan itu hanya menatap nasi goreng itu seraya tersenyum.


"Enggak apa-apa, kan masih belajar, nanti lama-lama juga bisa," kata ibu mertua Nindy


Nindy hanya tersenyum yang dipaksakan.


"Sudah, begini saja, untuk yang di rumah biar Doni pesankan makanan, sekarang, Doni harus segera bekerja," kata Doni seraya bangun dari duduk. Mengambil tas kerjanya yang berada di sofa ruang tengah.


"Enggak usah, Don. Sayang uangnya, mending ibu aja masak nanti," kata Ibu Doni seraya mengikuti anaknya bangun.


"Tapi di kulkas enggak ada apa-apa, Bu. Doni belum belanja," kata Doni seraya meraih punggung tangan ibu dan bapaknya.


"Nanti ada yang menjemput Ibu dan Bapak," ucap Doni mengingatkan.


"Hati-hati di jalan nanti, kabarin Doni kalau sudah sampai!" kata Doni yang masih berdiri di pintu.


Seolah melupakan Nindy sebagai istrinya, Doni memberikan tangannya untuk dicium istrinya layaknya sepasang suami dan istri sungguhan.


"Iya, Don. Kamu melupakan sesuatu!" kata Ibu Doni.


"Apa itu?" tanya Doni seraya mengerutkan dahinya.


"Istri dan anakmu!" kata Ibu Doni.


"Astaga!" batin Doni.


Ia pun mencium kening Nindy dan membisikkan kata maaf.


Bersambung.


Jangan lupa, like, komen dan difavoritkan, ya. Terimakasih sudah membaca^^