DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Menikah Dadakan Part Dua


Tidak tau harus berbuat apa, berkata apa, itu lah Dhev saat ini. Pria itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sementara Nala, Gadis itu memilih untuk memejamkan mata, berpura-pura tidur.


"Aku udah jadi istri sekarang," batin Nala, "apa aku bisa jadi istri yang baik? Bisa berbakti sama suami?" Nala masih membatin.


"Tunggu! Apakah ini pernikahan sungguhan? Kenapa cepat sekali, tiba-tiba saja aku menjadi seorang istri dari om duda yang nyebelin!" Nala seolah berperang dengan hatinya.


Banyak bertanya dan hatinya lah yang menjawab.


Setibanya di rumah, ternyata Amira sudah sampai lebih dulu.


Amira menunggu Dhev dan Nala dan ruang kerjanya.


Dadang yang memberitahu.


Dhev berjalan lebih cepat sementara Nala mengekor di belakangnya.


Dhev mengetuk pintu dan terdengar suara Amira yang menyuruhnya masuk.


Amira mempersilahkan anak dan menantu barunya itu untuk duduk.


Dhev dan Nala sekarang duduk di depan Amira.


"Dengar, kalian sudah menikah, mamah enggak mau lihat kamar kalian terpisah! Dhev, walaupun ini pernikahan dadakan, mamah yakin, kalau kamu tau statusmu sekarang adalah suami dari Nala, hanya itu saja, mamah mengingatkan kalau kalian adalah suami istri! Lakukan kewajiban kalian masing-masing!" Setelah mengatakan itu Amira keluar meninggalkan Dhev dan Nala.


Nala yang semula menunduk itu menatap Dhev dan rupanya pria itu sedang menatap datar Nala.


"Mulai besok apa yang kamu lakukan untuk Ken berlaku untukku juga, termasuk urusan mandi!" kata Dhev, pria itu terkekeh dalam hati, dan sebenarnya Dhev mengatakan itu dengan niat utama yaitu menggoda Nala.


Seketika wajah Nala menjadi merah merona karena membayangkan itu semua.


Dhev yakin kalau Nala gadis yang masih polos dan sepertinya tidak akan berhenti menggodanya.


"Cepat tidur!" kata Dhev. Pria itu bangun dari duduk dan Nala mengikutinya.


"Ya ampun, jalan aja lama banget," lagi-lagi Dhev menggerutu.


"Susah, om. Pakai rok dan kebaya mana bisa lari," jawab Nala.


Dhev terus berjalan tidak menghiraukan Nala. Dan saat Nala membuka pintu kamarnya itu Dhev menghentikan langkah tepat di depan kamarnya.


"Kau enggak dengar apa yang mamah bilang tadi?" tanya Dhev tanpa melihat ke arah Nala.


Nala merasa sebal karena lagi-lagi Dhev berbicara tanpa melihat kearahnya, Nala tidak menjawab. "Emangnya dia lagi ngomong sama tembok apa," gerutu Nala seraya memilih baju tidurnya.


Nala mengambil piyama dan segera menggantinya.


Sementara Dhev, ia sedang duduk di sofa.


"Ana, malam ini aku menikah," batin Dhev.


"Apa aku mengkhianati kamu?" tanya Dhev yang sekarang berbaring di sofa dengan lengan yang menutupi wajahnya.


"Tidak, aku tidak mengkhianati Ana, seandainya dia masih ada, mana mungkin aku berani dan tega untuk menduakannya," lanjut Dhev, ia masih berbicara sendiri dalam hati.


"Seandainya Ana masih ada, mungkin kami hidup bahagia berempat bersama adik Ken." Tanpa terasa Dhev menitikkan air matanya.


Teringat dengan kejadian dua tahun lalu di taman. "Maafkan aku, Ana. Aku tidak menjaga mu dengan baik."


Dhev yang sedang berperang dengan hatinya itu mendengar suara ketukan pintu.


Dari suara ketukan yang terdengar itu, Dhev yakin kalau orang berada di balik pintu adalah Nala.


"Masuk," kata Dhev.


Nala pun membuka pintu yang tidak terkunci. Nala melihat Dhev berbaring di sofa, belum mengganti pakaiannya, terlihat Dhev masih menutupi wajah menggunakan lengannya.


Nala pun menutup pintu kamar itu.


Nala berpikir kalau Dhev tidak menginginkan pernikahan ini membuat dirinya merasa tidak yakin untuk menjadi istri Dhev.


"Om," lirih Nala.


"Hm," jawab Dhev. Masih dengan posisi yang sama.


"Kalau om enggak suka sama pernikahan ini biar Nala pergi aja, Nala enggak mau buat om sedih atau merasa tertekan, atau keberatan," lirih Nala. Gadis itu masih berdiri di depan pintu.


"Nala sadar, siapa Nala di rumah ini dan-" Nala tidak melanjutkan ucapannya karena Dhev menatapnya, Dhev menganggap Nala terlalu bawel.


"Dan umur kita terlalu jauh," batin Nala, gadis itu selalu takut dengan tatapan mata Dhev yang tajam, setajam mata burung hantu.


Nala menurutinya, mengambilkan piyama untuk Dhev.


"Aku enggak suka piyama, ambilkan kolor sama kaos," kata Dhev, pria itu sudah merubah posisinya menjadi duduk. Memperhatikan Nala yang terlihat canggung.


Nala hanya mengambilkan apa yang disuruh oleh suaminya.


"****** ***** ku ada di laci bawah," kata Dhev dan Nala tersenyum kikuk pada Dhev.


"Enggak usah malu, nanti juga terbiasa, bahkan akan terbiasa melihat isi dari celana itu!"


"om, ish, pikirannya omes mulu," protes Nala, ia masih belum mau membuka laci itu. Sekarang menatap Dhev tanpa ekspresi.


"Dikasih tau juga." Dhev bangun untuk mengambil ****** ***** itu sendiri.


"Mantan duda ini, udah pro," kata Dhev, setelah mengambil salah satu ****** ***** itu Dhev pun pergi ke kamar mandi yang ada di kamarnya.


****


Amira yang ingin memberitahu status Nala di rumahnya itu mengetuk pintu kamar Nindy dan tidak ada jawaban.


Amira membuka pintu itu dan ternyata terkunci dari dalam.


"Udah tidur mungkin," kata Amira. Wanita yang sudah berganti pakaian tidur itu melihat jam dinding di ruang tengah.


Amira merasa curiga karena tidak ada jawaban. Biasanya Nindy akan menjawab atau membuka pintu walau dengan menguap lebar.


Amira mengintip dari lubang kunci dan terlihat kamar yang gelap.


"Kalau begitu besok aja," kata Amira yang kemudian pergi dari kamar Nindy, ia kembali ke kamarnya yang berada di seberang kamar Nindy.


****


"Tengah malam gini, tolong jangan kemana-mana, aku kedinginan, Ar!" lirih manja Nindy yang baru saja berolahraga di ranjang bersama dengan Arnold.


"Gue harus pergi, ada janji, lo mau balik apa masih mau di sini?" tanya Arnold seraya memakai kaosnya.


"Ar, beberapa hari enggak ketemu emangnya lo enggak kangen sama gue?" tanya Nindy, gadis itu bangun dan mengenakan pakaiannya.


"Kan udah lepas kangen tadi," jawab Arnold yang sekarang sedang mengenakan sepatunya, duduk di tepi ranjang.


"Ar, gue pengen lo temuin keluarga gue, kita harus menikah, emangnya mau sampai kapan kita kaya gini terus?" tanya Nindy, gadis itu memeluk Arnold dari belakang.


"Sampai lo hamil!" batin Arnold.


"Gue belum siap untuk berkomitmen," jawab Arnold seraya melepaskan pelukan Nindy.


Yang ada di otak Arnold adalah Ririn, gadis yang ia penjara di rumahnya.


"Pulang sekarang gue antar atau mau gue tinggal?" tanya Arnold seraya berkacak pinggang menatap Nindy yang masih berantakan.


"Eemm, pulang, gue enggak mau besok pagi kena ceramah mamah," jawab Nindy, gadis itu mulai merapikan rambutnya dengan cara menguncirnya.


****


Dhev menatap Nala yang sudah berbaring di ranjangnya, setelah drama siapa yang akan tidur di ranjang.


"Di suruh tidur di kasur empuk aja rewel!" kata Dhev.


"Bukan rewel, aku kan penghuni baru di kamar ini, mana tau om enggak bisa tidur di sofa," jawab Nala yang ternyata mendengar ucapan Dhev.


"Aku enggak suka dibantah, apapun yang aku katakan! Ngerti?"


"Ngerti," jawab Nala, gadis itu tidur dengan posisi membelakangi Dhev.


Dhev yang belum dapat memejamkan mata itu berjalan ke arah jendela, ingin menutup gorden kamarnya dan tanpa sengaja Dhev melihat seorang perempuan yang sedang memanjat pagar rumahnya dari samping. Dhev memperhatikan itu dan menyadari kalau itu adalah Nindy.


"Dari mana dia, lewat tengah malam seperti ini baru kembali!" geram Dhev.


Dhev mengambil ponselnya untuk menghubungi Doni.


****


"Astaga, tadi emaknya, minta dibikin surat kawin, sekarang anaknya!" keluh Doni saat melihat layar ponselnya.


Tidak berani mengabaikan panggilan itu, Doni pun menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Awasi Nindy, dengan siapa dia dekat," kata Dhev dari sambungan teleponnya.


Bersambung.