
Megan menarik nafas panjang, sungguh Megan tidak ingin mengingat tentang semua hal itu. Kecuali Tasya, satu-satunya masa lalu yang tidak pernah dia sesali hanya Tasya.
"Pernikahanku dengan Rizal bukanlah sebuah pernikahan. Aku pernah berusaha mencintainya sekuat hatiku untuk melupakanmu memulainya dengan Rizal." Raka masih menyimak semua ucapan Megan.
"Kenapa kau ingin melupakanku?." Tanya Raka sewot.
"Fikiranku hanya satu saat itu, hanya ingin memberikan keluarga utuh untuk calon anakku." Megan terdiam karena Raka menyela.
"Hei kamu melupakan cerita bagaimana malam pertamamu." Raka menatap lekat Megan.
"Haruskah aku menceritakannya?." Megan melotot dengan heran kearah Raka.
"Tentu saja aku ingin mendengar bagaimana kamu melakukannya dengan orang yang sama sekali tidak kamu mencintai." Raka mengusap puncuk kepala Megan yang bersandar di dada bidangnya.
"Setelah 2 bulan menikah pun aku selalu menolak permintaan Rizal untuk melayaninya. Sampai suatu saat, aku menghadiri acara pesta undangan dari teman kantor Rizal di sebuah cafe. Saat itu kami pulang sampai larut entah mengapa tubuhku panas setelah meminum bir ketika pesta."
"Apa kamu minum bir?." Raka melotot ke arah Megan.
"Ayolah Raka itu hanya bir. Ketika aku manggung bersama Patriot Idiot akupun sesekali meminumnya." ujar Megan
"Hei kamu tak pernah meminta izinku?." Raka kembali bicara dengan sewotnya.
"Apakah kamu masih ingin mendengar ceritaku. Atau akan terus membahas masalah bir?." Tanya Megan kesal.
"Baiklah lanjutkan ceritamu."
"Saat itu kepalaku pening. Aku tidak mengingat apapun sampai aku tersadar aku sudah berada dalam kamar hotel bersama Rizal. Aku sudah telanjang saat itu. Rizal bilang dia sudah mengambil haknya sebagai suami. Aku tidak ingat apapun, tapi ketika aku bangun aku tau aku telah memenuhi kewajibanku sebagai istrinya. Setelah itu aku melakukannya hanya dua kali bersama Rizal karena bulan selanjutnya aku mengandung Tasya." Megan menjeda ceritanya.
"Aku pun tidak merasakan kenikmatan itu, aku berusaha melayaninya sebagai istri. Kamu tau tidak ada rasa cinta di hatiku sama sekali saat itu."
"Jadi kamu hanya merasakan kenikmatan bercinta hanya denganku saja?." Mata Raka berbinar mendengar penuturan Megan. Terlihat semburat merah di pipi Megan.
"Stop aku tidak ingin membahasnya. Selama menikah dengannya, aku tidak merasakan kasih sayang dari seorang mertua aku tidak mengerti mengapa orang tua Rizal tidak menyukaiku padahal jelas merekalah yang pertama meminta perjodohan kami kepada ayah. Sampai aku tahu mami Veronica yang ada dibalik rencana pernikahanku dengan Rizal. Aku seperti menginjak bara api. Aku harus bertahan dalam kesakitan pernikahan ini. Dan ketika aku akan melangkah menjauh sakit bara api itu akan selamanya terasa. Aku pernah pergi keluar rumah bersama mamah dan Tasya tapi Rizal selalu berhasil menemukan kami. Rizal sangat mengacuhkanku sebagai istri ataupun sebagai seorang ayah untuk Tasya. Aku berada dalam dilema saat itu sampai kamu datang mengubah segalanya Raka." Megan berusaha menahan air matanya. Nada suaranya bergetar karena menahan rasa sakit yang menghimpit dadanya selama ini.
"Maafkan aku karena aku terlambat menemukanmu." Raka menghela nafasnya mendengar cerita Megan.
"Aku selalu menangis setiap malam. Menahan segala sakit selama pernikahan itu. Hanya Tasya dan mamah sebagai penguat dan penyemangat hidupku. Aku bahkan sudah sangat putus asa dengan kehidupanku. Ketika aku melihat Tasya dan Mamah aku sadar mereka membutuhkanku." Tak terasa buliran air mata Megan menetes di pipinya.
"Ayah kemana? Apakah bercerai dengan mamah?." Raka memberanikan bertanya yang sudah ingin dia tanyakan dari dulu.
"Aku melarang ayah untuk menemui mamah lagi, setelah rumah kami ayah gadaikan. Entah aku tidak pernah menanyakan keberadaan ayah lagi. Aku tidak ingin lagi mengetahui apapun tentangnya." Megan menghapus air matanya secara kasar.
"Siapa yang akan menjadi wali pada pernikahan kita nanti sayang?." ucap Raka ragu.
"Ayah akan datang aku telah mengundangnya dan dia bersedia menjadi wali nikah." Raka menghela nafas lega.
"Apakah abang dan tetehnu akan datang?." Tanya Raka lagi
"Tentu saja mereka datang. Aku sudah menyiapkan kamar hotel untuk mereka. Oh ya, apa kamu mengundang sahabat-sahabatku?." Tanya Megan dengan mata sembap.
"Wah kamu berhasil menemukan mereka. Terima kasih senang mendengarnya." Megan mencium pipi Raka sekilas.
"Megan aku berjanji aku akan membahagiakanmu mulai detik ini dan selamanya sampai kamu tidak akan lagi menitikkan air matamu itu. Aku akan menghilangkan semua penderitaanmu selama ini. Aku akan membahagiakan kalian. Kamu, Tasya dan mamah. Mulai detik ini dan seterusnya tidak akan ada lagi yang akan menyakitimu." Raka mengecup puncuk kepala Megan dengan lembut.
"..." Megan tertegun tak mengeluarkan sepatah katapun.
"Kenapa kamu diam. Apa kamu tidak mempercayaiku?." Raka menatap Megan bingung.
"Tentu saja aku percaya. Tapi." Megan menghentikan ucapannya.
"Apa yang membuatmu ragu padaku sampai detik ini?."
"Mami Veronica."
Hening. Hanya terdengar helaan nafas Raka yang terlihat jengah. Raka mengerti mengapa Megan masih meragukan maminya. Karena yang menghancurkan kehidupan Megan di masa lalu adalah ibu kandungnya sendiri.
"Percayalah sayang, sekalipun mami aku tidak akan membiarkannya sedikit saja untuk menyakitimu lagi. Aku sudah berjanji padamu. Jadi percayalah."
"Aku percaya. Kamu tidak akan mengecewakanku. Raka sepertinya aku hamil." Ucap Megan ragu. Sebenarnya Megan ragu untuk mengatakan ini. Tapi mengingat sebentar lagi mereka akan melaksanakan pernikahannya jadi Megan mengatakannya.
"Seriously? Kamu sudah memeriksanya.?"
Pancaran kebahagiaan terlihat di wajah Raka. Raka memeluk Megan dengan erat. Tentu saja Megan bahagia melihat reaksi Raka seperti itu.
"Aku belum memeriksakannya. Tapi jadwal menstruasiku sudah telat 10hari" ucap Megan.
"Kenapa baru bicara sekarang?." Raka mebelakakan matanya tak percaya kenapa sampai hati Megan baru memberi tahunya hari ini.
"Ya sudah kamu belikan aku testpack sekarang ke apotek di depan sana."
"Baiklah sekarang aku berangkat. Kamu jangan kemana-mana."
Raka mengambil jaket dan kunci motor. Dengan tergesa-gesa dia menyalakan kunci motor dan melajukannya ke jalan menuju apotek. Tak lama Raka membawa 2 buah testpack.
"Sayang cepat periksa sekarang." Raka memberikan testpack kepada Megan.
"Besok pagi saja sayang biar akurat." Ucap Megan malas.
"Apa kamu tidak mengalami gejala tanda kehamilan?." Tanya Raka penasaran .
"Tidak makanya aku baru sadar kalau menstruasiku sudah telat. Besok kita test sekarang aku sudah lelah ingin istirahat."
"Baiklah cepat tidur. Selamat tidur sayang. Mimpi indah" Raka mengecup dahi Megan lembut.
"Selamat malam. Kamu juga cepatlah tidur jangan terlalu lelah bekerja." Megan memasuki kamarnya yang berada di lantai bawah disamping kamar Tasya.