
Raka membuka seatbeltnya. Merapikan sedikit baju dan rambutnya,kemudian keluar dari mobil. Parkiran mall sangat lengang karena mungkin hari ini bukan weekend jadi mall nampak sepi. Raka berjalan menuju pintu masuk dari tempat parkir. Raka melangkahkan kakinya terburu-buru, namun dengan tak sengaja dia menabrak anak kecil yang baru belajar berjalan. Anak itu menumpahkan es krim ke celana Raka. Seketika terdengar suara tangisan anak kecil itu. Raka menunduk melihat anak perempuan itu.
Sementara Jimmy tidak begitu memperhatikan dengan kejadian yang terjadi saat itu.
" anak manis. maafin om yah. jangan nangis lagi nanti om ganti es krimnya oke?" Raka mengelus rambut ikal anak itu, tapi anak kecil menangis dengan histeris. Raka kebingungan melihat anak kecil itu. Dia berusaha menggendong anak itu, namun anak lucu itu menolaknya.
"tasya sayang kenapa kamu nangis?"
terdengar suara yang Raka kenal. Ketika ada perempuan berbicara menghampiri nya. Raka menoleh ke belakang melihat siapa pemilik suara itu. Jimmy pun refleks membalikan badannya.
" megan!" ucap Raka dan Jimmy bersamaan. Raka menatap lekat perempuan yang berjalan ke arahnya. Mata Raka membulat . Pupil mata Raka hampir keluar dari matanya .
Perempuan itu berlalu melewati Raka dan Jimmy. Segera menggendong anak kecil tadi. Perempuan itu mengelus rambut dan menenangkan anak itu. Sangat keibuan. Walaupun tubuhnya kecil, tapi dia mampu menggendong anak kecil yang gembul itu.
" es krim nya jatuh yah sayang, kita beli lagi yah" bujuknya sehingga anak kecil itu berhenti menangis.
Raka masih mematung melihat kejadian yang ada di depannya. Dia tak bergerak dan tak berkata sedikitpun hanya menatap dengan tajam perempuan yang ada di depannya. Tanpa Raka sadari ,perempuan itu melewatinya memasuki mall itu. Raka setengah berlari mengejar perempuan itu
" megan tunggu" ditariknya lengan perempuan itu. Raka sungguh yakin , perempuan yang ada dihadapannya adalah megan kekasihnya dulu. Hanya saja rambutnya tidak ikal. Rambutnya lurus sepinggang. Wajahnya dipolesi riasan . Megan tidak terlihat polos lagi. Dia terlihat sedikit dewasa.
Megan tampak meringis kesakitan. Tangan Raka memegangnya dengan sangat erat.
"pak tolong lepaskan tangan saya" ucap perempuan itu, dan anak yang ada dipangkuaannya hanya melihat kepada Raka . Kemudian mengedip-ngedipkan matanya berulang kali. Nampak jelas bulu matanya yang lentik. Anak kecil itu sangatlah lucu dan menggemaskan.
" apa dia anakmu?" tanya Raka dengan terbata, tak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Perempuan itu mengangguk pelan.
" bisakah kita bicara " Raka berusaha menetralkan suasana, berusaha menahan diri untuk tidak mengeluarkan emosinya secara berlebihan.
" baiklah" Katanya dengan wajah sendu. Wajahnya selalu menunduk . Tanpa ekspresi sedikitpun.
" anak manis mau om gendong, kayaknya mamah kelelahan , sini om gendong" tangan Raka terbuka menatap anak kecil yang masih enggan menyambutnya.
" nanti om belikan tasya es krim, apa tasya mau?" Raka masih membujuk anak kecil bernama tasya itu. Namun anak kecil itu semakin mengeratkan pelukan pada megan .
" tasya suka es krim coklat yah nanti om belikan tasya , tapi tasya om gendong yah " Raka tak menyerah membujuk tasya. Dengan perlahan Tasya mengulurkan tangannya. Dan segera Raka menggendong anak kecil itu . Raka berjalan sambil menggendong tasya , sementara megan masih menunduk mengikuti Raka dari belakang. Raka memperlambat jalannya, sehingga megan berjalan sejajar dengannya.
" kamu sudah makan?" tanya Raka menatap megan yang masih diam tanpa berkata apapun.
" sudah" ucap megan ketus
Jimmy tidak percaya dengan kejadian yang ada di depannya. Megan yang selama ini dia cari berada di hadapannya dengan seorang anak. Tapi melihat ekspresi senang di wajah Raka jimmy sedikit lega .
" pak saya pamit ke foodcourt " Jimmy berucap sambil membungkukkan badannya.
Jimmy berlalu meninggalkan mereka
Layaknya sebuah keluarga mereka memasuki arena play ground. Raka mendaftar kan tasya di kasir.
" mbak bisakah menjaga anak saya sebentar, saya dan istri saya ada urusan yang harus diselesaikan " Raka berbicara dengan nada lembut. Sifat arogan nya menghilang seketika.
" bapak tidak usah khawatir kami sudah menyiapkan pengasuh anak disini, disini disediakan tempat tidur yang nyaman jika anak anda kelelahan bermain" ucapnya ramah
" baiklah, jaga dengan baik mbak" katanya
Ada seorang pengasuh yang menggendong tasya. Kemudian membawanya ke arena bermain anak. Megan nampak khawatir melihat anaknya dibawah pengasuhan orang lain. Karena megan tidak pernah sama sekali melepas pengasuhan Tasya kecuali dengan ibunya. Megan menarik tangan Raka.
" kenapa kamu bilang kita suami istri, dan lagi aku tidak bisa membiarkan tasya bersama orang yang tidak dia kenal" megan nampak cemas , sesekali melihat tasya yang nampak bermain dengan gembira dengan beberapa anak lainnya. Megan sesekali menggigit bibir bawahnya.
" apa kamu mau orang menganggap kita pasangan selingkuh?" nada suara Raka terdengar dingin. Perasaan megan merasa sakit mendengar suara Raka yang sedikit meninggi
" tapi aku belum bisa meninggalkan tasya bersama orang lain" Megan masih menatap tasya dengan sendu.
" ikut aku" Raka menarik tangan megan menuju area cafe di dekat arena Playground .
Dengan gontai megan mengikuti Raka dengan berjalan sedikit diseret karena jalan Raka terlalu cepat. Raka menemukan tempat duduk yang mengarah langsung ke arah Playground dengan begitu megan leluasa bisa memperhatikan tasya dari jauh.
" mau pesan apa?" tanya Raka yang masih menatap megan dengan tajam . Rasa yang dulu terkubur dalam hatinya sekarang menemui sedikit celahnya. Walaupun keadaan megan sudah berbeda tidak seperti dulu tapi Raka senang melihat megan baik-baik saja.
" terserah " hanya itu yang megan ucapkan. Mata megan masih tertuju pada tasya. Membuat Raka emosi.
" tidak bisakah kita berbicara dengan nyaman, tasya akan aman disana. Tidak akan terjadi sesuatu" Raka nampak kesal dan akhirnya megan menundukan wajahnya. Dia tak berani menatap Raka.
Raka memanggil pelayan yang ada di cafe itu.
" Mbak saya pesan 2 capuchino latte tanpa cream" ucapnya pada pelayan cafe.
" baik pak silahkan tunggu sebentar kami akan membuat pesanan bapak" pelayan itu pergi meninggalkan meja.
" bagaimana keadaanmu" Raka membuka keheningan diantara mereka. Sekarang bahkan ingin memeluk megan . Namun dia sadar akan status megan.
" seperti yang kamu lihat " Megan masih menunduk tak berani menatap Raka.
" ketika berbicara tataplah mukaku" Raka kesal dengan sikap megan. Megan mengangkat wajahnya. Menatap Raka. Matanya memerah entah dia sedang menahan air matanya . Namun terbesit rasa bersalahnya pada Raka.
" maafin aku" megan berkata lirih. Air matanya terjatuh dengan sendirinya. Megan tak kuasa lagi membendung air matanya.
Melihat Megan menangis Raka mendekat dan memeluknya. Ada kehangatan dalam pelukan ini. Pelukan hangat ini tak pernah megan dapatkan selama ini. Hanya Raka yang mampu memberikan kehangatan ini. Megan semakin menangis menjadi . Namun dengan sadar dia mendorong tubuh Raka.