RISAU

RISAU
DRAMA (poligami?)


Aku membuka kedua mataku, setelah kejadian semalam mataku sembap. Aku terlalu banyak menangis. Ku buka puntu kamarku melihat sekeliling rumah, ternyata mamah belum bangun . Aku menghampiri kamar mamah, mencoba mengetuk pintu kamar mamah .


tok...tok...tok


" mah bangun mah sudah shubuh" namun tidak ada jawaban. Aku mencoba membuka pintu kamar mamah. Mamah tidak ada di kamarnya


" kemana mamah pergi" batinku


Aku melangkahkan kaki ke kamar mandi , mengambil air wudhu, karena hari ini masa tenang setelah ujian jadi aku tidak perlu repot ke sekolah. Aku ingin bermalas-malasan di rumah sebelum siangnya berangkat kerja .


Setelah sholat aku membuka pintu utama rumah, seperti biasa setiap pagi aku melakukan peregangan pada kaki dan tanganku. Melakukan olahraga kecil. Setelah selesai aku pergi ke dapur membuat susu coklat panas. Aku duduk di meja makan yang tidak jauh dari dapur. Diatas meja ada note kecil.


megan , mamah pergi ke pasar karena ayahmu akan pulang siang ini.


Ternyata pagi sekali mamah sudah berangkat ke pasar. Aku mengambil note itu dan membuangnya. Selalu saja setiap ayah pulang mamah berbelanja sangat pagi. Ayahku jarang pulang, dia hanya pulang 2 minggu sekali dan hanya beberapa hari tinggal di rumah ini. Seperti nya dia lebih betah tinggal di rumah istri keduanya. Istri ke 3 dan ke 4 sudah sejak lama di cerai ayah, sehingga dia hanya berkunjung ke rumah ini dan rumah ibu tiriku.Karena disana lebih dekat dengan usaha yang ayah jalankan. Aku bersyukur, karena ketika ada ayah aku bahkan tidak merasa senang. Entahlah. Tapi itu lah yang aku rasakan saat ini.


Aku tidak pernah merasakan hangatnya kasih sayang dari seorang ayah, dulu ayahku adalah seorang pebisnis hebat, dia pensiun dini dari tentara karena ingin fokus dengan bisnisnya. Dan entah kenapa ayah bisa pensiun dini . Sekarang usaha nya banyak diambil alih oleh kakak tiriku dari istri kedua ayah. Ayah sudah sepuh, itulah sebab nya dia menyerahkan beberapa perusahaan kecilnya


Ayah termasuk orang berkecukupan, tapi entah mengapa aku begitu kesusahan dalam hal materi. Untuk biaya sekolah saja aku dan mamah harus banting tulang. Terkadang aku iri melihat sindi, ayahnya begitu perhatian. Jangankan urusan sekolah, urusan percintaan sindi ayahnya selalu ikut campur.


Sedangkan ayahku berbanding terbalik, dia tak pernah menanyakan keadaanku ketika pulang, bahkan ia tidak pernah memperhatikan aku selayaknya seorang ayah pada anaknya. Tak terasa air mataku terjatuh.


Dilubuk hati aku sayang pada ayah, tapi karena sikap ayah yang sangat acuh membuatku sangat membencinya. Mamah selalu menasehatiku agar aku bisa berdamai dengan keadaan yang sudah menjadi takdirku, namun aku tak bisa.


Poligami dari sudut pandangku adalah sebuah penderitaan, ketidakadilan seorang ayah membagi kasih sayang pada anaknya. Poligami memang tidak diharamkan oleh agamaku, namun terkadang manusia salah kaprah tentang hukum dari poligami. Mereka menggunakan agama untuk kesenangan dan nafsu mereka. Mereka tidak tau dampak apa yang ditimbulkan dari poligami yang tidak benar . Seperti apa yang aku rasakan saat ini.


Keadilan poligami bukan hanya untuk seorang istri, tapi bagi anak-anak yang dihasilkan dari istri tersebut. Padahal rosul kami mencontohkan bagaimana poligami yang adil dalam agama kami. Tapi keyakinan disalah artikan oleh kesenangan. Mereka bisa melakukan poligami tanpa mengindahkan keadilannya. Apakah aku bahagia mempunyai ayah seorang poligami? jawabannya tidak, karena sampai saat ini aku belum bisa merasakan kehangatan dan perhatian dari seorang ayah.


Dan mamah adalah seorang berhati malaikat ,perempuan yang rela hati dan cintanya terbagi. Cinta itu bukan sumbangan dan sedekah yang setiap orang bisa menerimanya. Tapi mamah perempuan kuat dia menyedekahkan cintanya untuk beberapa wanita lain . Mamah tau balasan apa yang akan dia dapat ketika keridhoannya mau di poligami. Surga yang telah Tuhan janjikan. Semoga mamah bisa mendapatkan surga-Nya kelak atas pengorbannya selama ini. Itu adalah sudut pandangku, betapa poligami menghancurkan hati anak seperti aku.


" megan" mamah meneriakiku dari dari luar. Aku menghampiri mamah yang sudah berada di teras rumah.


" banyak banget mah belanjanya" aku membawa sebagian belanjaan yang mamah beli ke dapur. Mamah mengikutiku dari belakang.


" abangmu Yusuf mau pulang sama anak istrinya jadi mamah mau masak dan bikin beberapa cemilan" mamah mengeluarkan bahan-bahan yang ada dalam kantong belanjaannya. Aku membantu membereskannya di kulkas.


"mamah mau bikin apa , aku bantuin, kebetulan aku libur sekolah" aku membawa peralatan membuat kue , dari mulai kue basah dan kue kering.


" mamah mau bikin cemilan kesukaan ponakanmu. " mamah memulai aksi masaknya . Aku membantu beberapa yang aku bisa. Masakan mamah memang enak


mamah jago membuat cemilan tradisional, atau jajanan pasar. Tak heran jika mamah bisa bekerja di catering tante nur. Cita rasa mamah dalam mengolah masakan tidak perlu di ragukan kelezatannya.


" hari ini kamu kerja nak?" tanya mamah membuka percakapan


" iyah mah, masuk shift 2, abang kira-kira nyampe jam berapa mah?" tanyaku


"abang nginep mah?" tanyaku lagi.


" katanya mau menginap beberapa hari, abang mau membeli beberapa mesin jahit untuk menambah usaha konveksinya" jawab mamah


" wahh , abang hebat yah mah, baru beberapa tahun usahanya berkembang pesat". aku menatap mamah senang


" abangmu pandai berbisnis wajar saja dia bisa mencapainya, apalagi dia seorang pekerja keras" mamah memasukan beberapa adonan kue yang dia buat kedalam loyang.


Setelah berjam-jam di dapur akhirnya kami selesai. Waktu menunjukan pukul 10 pagi. mamah selonjoran di ruang tv , tapi kulihat mamah tertidur pulas. Mungkin mamah kecapean. Semalam mamah pulang larut dan tadi harus terbangun pagi sekali. Aku masuk ke dalam kamar, merebahkan badanku di kasur. Akupun mengantuk karena semalam tidurku tidak nyenyak. Ketika aku akan memejamkan mataku, hapeku berdering .


fans Gila memanggil


"ada apa sih raka" batinku


"assalamualaikum" aku menjawab telepon Raka.


" waalaikum salam, megan kamu lagi apa?" tanyanya basa basi


" aku ngantuk mau tidur " jawabku ketus


" masih pagi masa udah ngantuk" tanya Raka


"udah gak usah basa basi ada apa menelponku?" tanyaku kasar


" galak amat neng, ntar siang berangkat kerja aku jemput yah? kita berangkat bareng" ajaknya.


"gak mau" aku menjawab datar.


" kenapa ?" tanyanya


" aku gak mau ngerepotin , aku bisa naik angkot " jawabku


" gak ngerepotin kok beneran" ucapnya lembut


"aku gak mau aja" aku berusaha menolak ajakan Raka


" ya sudah kalau gak mau, sampai ketemu nanti yah" ucapnya


"iya" jawabku simpel


"ya udah selamat bobo megan , assalamualaikum"


"waalaikumsalam" aku menutup teleponnya. Aku menutup mataku yang sudah sangat mengantuk