
Mobil melaju ke rumah Sindi. Sindi akhirnya sampai dirumahnya. Tinggal aku dan Raka di mobil. Hening, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut kami. Saat mengantar Sindi mobil melaju dengan cepat, tetapi ketika akan mengantarku pulang Raka mengendarainya dengan sangat pelan. Entah kecepatan berapa mobil ini. Aku semakin risih dan canggung dengan situasi seperti ini. Biasanya dari Rumah sindi hanya 15 menit kenapa ini jadi berasa satu jam.
"Bisa gak bawa mobilnya cepetan dikit." Ucapku.
"Jalan ke rumahmu sempit entar mobil gue gores dan lecet." Jawabnya cuek.
Didepan gang rumah Raka memakirkan mobilnya, mengikutiku pulang.
"Lu mau kemana?." Tanyaku melihatnya dibelakangku.
"Mau kerumah calon mertua." Ketusnya.
"Udah pulang aja ini udah mau maghrib gue gak nerima tamu loh yah." Aku meninggalkannya. Dia menarik tanganku dengan erat. Hobi banget kayaknya dia narik-narik tanganku sampai tangan ini hampir lepas dari tubuhku.
"Megan, gak bisakah kita berteman, aku memang fans kamu loh. Dan gak nyangka pula akan jadi atasan kamu. Mungkin kita jodoh." Tawanya membuatku terpana. Ganteng banget, apalagi lesung pipitnya itu menarik daya pikatnya. Aku semakin lupa diri.
"Gue gak mau berteman sama cowok brengsek kayak lu, belum apa-apa udah berani hampir nyium gue." Tiba-tiba aku berhenti dengan ucapanku. Duh kenapa sih aku harus berkata begitu. Mukaku pasti merah seperti kepiting rebus. Aku gak berani melihat wajah Raka hanya tertunduk
"Oke maafkan aku , aku gakkan melakukan hal itu lagi, mulai sekarang aku akan menjadi teman seperti sahabat -sahabat diband kamu itu." Raka meminta maaf dengan tulus.
"Oke baik, kamu harus bersikap layaknya teman, kalau mau bertamu ke rumah jangan seenaknya harus izin dulu sama aku. Jangan datang kayak jelangkung lagi." Jawabku.
"Oke anak manis, aku pulang dulu." Raka menghampiriku kemudian membisikkan sesuatu ditelingaku.
"Jangan sampai kamu jatuh cinta sama aku karena aku gak tau jika kamu sudah mencintaiku aku bisa lupa diri, bahkan aku tidak akan melepaskanmu." Dia meninggalkanku yang sedang mematung.
Aku menelan salivaku. Aku tak menyangka hatiku bisa segelisah ini mendengar ucapannya. Baru pertama kali ada seorang pria mengungkapkan hal-hal seperti itu padaku. Walaupun aku sudah berumur 18 tahun aku belum pernah berpacaran. Aku selalu minder mungkin karena aku tidak secantik gadis di luar sana. Aku pernah jatuh cinta, namun bertepuk sebelah tangan. Dari sanalah aku enggan membuka hati lagi. Sampai saat ini merasakan Jatuh Cinta Kedua.
Belum ada lagi seseorang yang bisa membuatku seperti sekarang. Perasaan bahagia, perasaan gelisah, resah, sepertinya aku sedang menari-nari. Perasaan luar biasa yang sulit aku deskripsikan lagi. Apakah ini awal bermula aku akan jatuh cinta lagi. Aku tidak mengerti dengan perasaanku.
Hari senin depan aku akan mengikuti UAN disekolah. Aku harus bisa membagi waktu belajar dan kerjaku.Karena disekolah sedang masa tenang, Aku bisa mengulang pelajaran di sekolah. Karena IQ ku diatas rata-rata aku yakin bisa mengerjakan soal-soal ujian, aku yakin dengan kemampuanku.
"Megan makan malam sudah siap nak." Mamah meneriakiku dari dapur.
"Oke mamah." Aku beranjak dari meja belajarku.
"Mah sekarang aku sudah sangat dewasa boleh aku tanya sesuatu mah." Aku menatap mamah.
"Tanyakan saja apa yang ingin kamu tanyakan." Mamah melahap makan malamnya. Wajah mamah sudah menua, hampir 55 tahun. Sudah terlihat keriput di wajahnya. Wajahnya selalu teduh. Ada damai disana.
"Apakah mamah bahagia?." Tanyaku dengan serius.
"Mamah bahagia nak punya anak seperti kamu dan kakak-kakakmu, kalian anak mamah yang mamah banggakan. Kenapa mamah harus merasa tidak bahagia." Jawaban mamah sama sekali tidak sedang berbohong.
"Bukan itu, maksud Megan apa mamah bahagia menikah dengan ayah. Menjadi istri ayah?." Kembali aku menatap mama. Tetapi ekspresi mamah tetap seperti itu.
"Kalau mamah tidak bahagia, mamah tidak akan melahirkan anak sampai dengan kamu." Mamah kembali melahap makanan yang ada di piringnya.
"Mah, Kenapa mamah mau dipoligami dengan 3 wanita lainnya. Mengapa mamah tidak menolak? dan bercerai saja dari ayah."
Aku memberanikan diri bertanya seperti itu. Sebenarnya aku tidak pernah ingin menanyakannya. Tapi aku ingin tahu kenapa ada hati wanita seperti mamah didunia ini.
"Mah,bagaimana hukum poligami itu? seharusnya kan ayah berlaku adil." Ucapku dengan nada masih penuh pertanyaan.
"Kamu searching google deh nak, sekarang kan ada youtube banyak ceramah disana. Ada juga kajian online. Atau kamu bisa menanyakan kepada ustadz ikut mamah kajian mingguan." Mamah tetap menjawab dengan santai, tidak ada raut kesedihan. Hanya ada kedamaian dalam setiap sorot matanya.
"Tapi aku ingin melihat dari pandangan mamah sebagai ibuku mah." Aku semakin mendesak mamah.
"Nak apakah ayahmu tidak berlaku adil?." Mamah mulai menanyai dan membalikan pertanyaannya padaku.
"Iyah, ayah tidak ada adil mah kelima anak dari ibu tiri semuanya sukses disekolahkan , sedangkan anak dari mamah semuanya harus bersusah payah hanya untuk sekolah SMA. Apakah itu adil mah?." Tanyaku yang hampir meneteskan air mata.
"Nak apakah anak dari mantan istri ke 3 dan ke empat ayah mu ada yang sekolah tinggi? mungkin mereka lebih kesusahan daripada kita. Semuanya tidak semata-mata kesalahan ayahmu. Maafkan mamah tidak bisa membahagiakan anak-anak mamah. Mamah tidak bisa membuat kalian bahagia seperti anak lain."
Ada buliran air mata di ujung mata mamah. suara mamah terdengar parau. Aku memeluk mamah. Terdengar suara isakan mamah. Pelukan ku semakin erat. Aku mencium pipi mamah.
"Maafkan aku mah, aku terlalu banyak menuntut. Mamah adalah ibu terbaik didunia ini, hati mamah seperti malaikat, aku salah telah membuat mamah sedih, mulai sekarang aku akan menerima semua keadaan ini. Aku akan berusaha sekuat tenaga aku untuk mamah bahagia. Aku janji tidak akan mengecewakan mamah." Aku pun mulai menitikkan air mataku.
"Nak, jalanilah hidupmu dengan bahagia . Jangan hiraukan masa lalumu. Itu adalah kesalahan mamah sepenuhnya. Berbahagialah dengan dirimu. cintaimu dirimu. Sebaiknya kamu istrahat sekarang besok kan sekolah." Mamah beranjak dari tempat duduknya
"Oh yah mah besok aku sudah mulai kerja . Sepulang sekolah aku kerja sampai jam 10 malam." Aku menyeka air mataku.
"Apa tidak apa-apa kamu bekerja sementara sebentar lagi kamu ujian? Untuk masalah uang spp kamu mamah sudah meminta tolong sama abangmu. Kamu tidak usah bersusah payah bekerja." Raut khawatir terlihat di wajah mamah
"Gak apa apa mah, aku bisa membagi waktuku, ini kesempatan mah jadi ketika aku lulus aku tidak perlu susah payah mencari pekerjaan." Aku meyakinkan mamah agar jangan terlalu mencemaskanku.
"Baiklah tapi jaga kesehatan jangan telat makan, masuk lah dan beristirahat." Mamah pun meninggalkan ruang makan.
Fikiranku masih bertanya, kenapa mamah begitu kuat. Mamah bisa membagi semuanya dengan begitu kuat. Aku tau seberat apa beban mamah.
Bagiku poligami tidak sama sekali sangat menguntungkan . Menurut pandanganku poligami tidak hanya berlaku adil kepada istri saja. Tetapi kepada anak-anak pun harus memperlakukan adil dan sama. Apakah di dunia ini ada keadilan. Selain Rosullulloh sangat sulit untuk bersikap adil. Hanya Alloh yang tahu keadilan seperti apa. Sampai sekarang aku masih sangat membenci ayahku. Dia tidak seperti ayah yang seharusnya . Dia hanya pelantara aku lahir di dunia bukan ayah yang memberikan kehidupan, bahkan kasih sayang.
Tapi aku masih bersyukur aku masih mempunyai ibu dan kakak yang sangat aku cintai, mereka juga mencintaiku. Tidak adil untuk bersedih dengan satu hal padahal masih banyak hal lain yang harus aku syukuri.
Coretan novel risau
Bersama malam ,
Jika sebuah kata akhir adalah pergi maka biarkanlah semuanya terlepas.
Terlebih nanti bagaimana Tuhan memberikan cara terbaik.
Hidup itu adalah untuk bahagia seutuhnya. Terlebih ada banyak hal dari yang harus d korbankan.
Seorang ibu menginjak bara mengais anaknya agar dia sendirilah yang merasakan sakit agar anaknya bisa terselamatkan.
Anaknya tersenyum, disaat itu terselip bahagia.
TUHAN adil tanpa kita meminta keadilan. Jangan jadi manusia hina dimata Tuhan meminta keadilan untuk kebahagiaan tapi tak mengindahkan Tuhan.
Kita sudah hina sebagai manusia. Tau dirilah .